
Baru saja keluar dari kamar mandi, aku di suguhi oleh pemandangan indah dari wanitaku.
Arimbi...
Tak pernah ku bayangkan dia bisa semungil itu memakai kemejaku yang kedodoran. Tanpa mengenakan pakaian dalam, memperlihatkan kulit mulusnya bagian atas lutut.
Benar-benar wanita itu memiliki daya tarik tersendiri.
Segalanya, baik sifat malunya, diamnya, serta kedewasaannya yang terlambat ku sadari.
Bahkan aku lemah jika membayangkan wajahnya. Aku harus benar-benar menahan diri sejak merenggut ciuman pertamanya.
Dia begitu cantik jika di lihat dari jarak dekat.
Dan saat ku ingat bagaimana percintaan pertama kami, sungguh betapa indahnya dia melakukannya.
Rintihannya, tetesan air mata, serta noda merahnya membuatku tak ingin menyingkirkan kenangan itu dalam otakku.
Ngomong-ngomong soal noda merah, aku sempat merasa takut saat cairan itu menetes dari kewa*nitaan Arimbi, pikiranku sempat kalut sebab saat melalukannya dengan ibu kandungnya Lala, aku tak mendapati cairan itu keluar dari salah satu bagian tubuh Hana. Tapi aku tahu kalau dia masih Vir*gin, karena aku juga merasa kesulitan menembus kehormatannya saat itu.
Empat tahun tak pernah memikirkan tentang s*x, aku bahkan melupakan seperti apa rasanya. Tapi malam ini, aku kembali merasakannya. Dan Arimbi, dia memberikan kenikmatan itu beberapa menit lalu dengan sangat sempurna.
Sekali lagi, aku terlambat menyadari segala sesuatu tentang dirinya. Terutama tentang ketulusannya pada putri kecilku.
Kembali ke Arimbi yang saat ini sedang menciumi ponsel, karena ku yakin dia sedang bicara dengan putri kami menggunakan ponselku. Dia tak menyadari bahwa aku sudah selesai membersihkan diri.
Tubuhnya sontak berjengit ketika ku sentuh lembut pundaknya.
Bersamaan dengan itu kalimat istighfar meluncur dari mulutnya.
Aku langsung melangkah ke arah ranjang setelah bertanya siapa yang menelfon.
'Lala' jawaban dari Arimbi.
Menarik sprei yang terkena noda, Aku menggantinya dengan yang baru. Sementara Arimbi, ku biarkan dia bicara dengan putri tercintanya.
Sembari melakukan pekerjaanku, aku menguping percakapan mereka dari balik telfon yang di keraskan suaranya. Aku sangat suka itu.
Pembicaraan banyak hal antara ibu dan anak, yang kerap sekali di sisipi candaan serta gelak tawa.
Hingga beberapa menit, tepat ketika aku selesai memasang sprei dan sarung bantal aku mendengar suara Arimbi.
"Ayah sudah selesai sibuknya, Lala bisa ngomong sama ayah"
Sesaat setelah mengatakan itu, dia menghampiriku kemudian menyodorkan ponsel ke tanganku.
"Ini mas"
Aku menerimanya, dan berniat bicara di dapur. Sebelum benar-benar keluar kamar, aku berpesan padanya untuk tidur, sebab aku tahu dia masih merasakan nyeri di salah satu bagian sensitivenya.
Ku akui dia cukup tegar, tidak seperti Hana yang terus merengek dengan begitu manjanya, dia bahkan bagaikan ratu yang hanya jalan beberapa langkah saja harus ku gendong.
Arimbi, kamu adalah sesuatu yang tak pernah berhenti untuk ku syukuri.
Sambil bicara dengan putriku, aku menggoreng frenchfries dari so good.
__ADS_1
"Ayah nggak boleh lupa ya, besok jemput Lala"
"Kalau ayah lupa gimana?"
"Pokoknya nggak boleh lupa"
"Okay, nak! Ayah janji besok jemput Lala"
"Benar ya"
"Iya sayang ... Oh ya, kemarin Lala bobo sama siapa?"
"Sama mbak Cia, tapi sekarang mbak Cianya udah pulang ke rumah oma Nina, mau bobo di sana katanya, soalnya oma sama opa Danu kangen banyak sama mbak Cia"
"Terus malam ini bobo sama siapa?"
"Bobo sama opa sama oma"
"Sekarang Lala bobo ya! ini sudah malam"
"Iya yah"
"Jangan nakal sama opa oma, nggak boleh ngrepotin oma, dan harus nurut apa kata oma"
"Iya ayah"
"Ya sudah, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam ayah, salam buat bunda ya, Lala sayang bunda"
"Dada ayah"
"Dada"
Selesai bicara dengan Lala, aku juga selesai menggoreng stik kentang.
Aku membawanya ke kamar, lengkap dengan air mineral.
Saat tiba di kamar, aku mendapati Arimbi tengah melamun. Wanita itu duduk bersandar pada headboard, dengan kaki terjulur dan tatapan kosong.
Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dugaanku sementara, dia teringat kejadian kemarin sore. Jelas, kejadian itu pasti sangat mengganggu mentalnya, tapi dia cukup pintar mengendalikan diri serta emosinya.
Aku benar-benar di buat kagum oleh sifatnya.
"Sayang" Aku sengaja memanggilnya dengan sebutan itu supaya dia merasa di cintai oleh suaminya.
"M-mas"
"Kerjaan kamu kok melamun terus. Apa kalau di kantor kamu juga seperti ini?"
"Enggak" Sangkalnya.
Saat pandangan kami bertemu, matanya tampak sembab. Tapi aku nggak mau membahasnya, aku lebih memilih membahas hal yang membuatnya lupa dengan apa yang dia alami.
"Tadi ada salam dari Lala, katanya Lala sayang bunda"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" Sahutnya dengan senyum yang ku rasa sangat terpaksa.
Aku menggeser kursi kerjaku ke sebelah ranjang, lalu duduk sambil menikmati kentang goreng.
"Mas bohong sama Lala kan?" Tanyanya menyelidik, sambil meraih satu stick kentang.
"Bohong gimana?"
"Mas bilang ke Lala kalau aku sibuk sampai nggak pulang dan sibuknya sampai malam, itu sebabnya ayah menitipkan Lala di rumah opanya"
"Loh, kamu memang beneran sibuk kan?"
"Sibuk apa, aku bahkan nggak masuk kantor pagi ini"
"Bukan hanya kamu, kita sama-sama sibuk, jadi akan lebih baik kalau Lala di rumah mami"
"Tapi nggak harus bohongin putri kita juga kan" Balasnya dengan nada yang sangat lucu. "Kasihan dia"
"Tapi keputusanku tepat kan? Kalau ada Lala pasti kita nggak bisa melakukan itu"
"Melakukan apa?" Wanita imut ini memasukkan kentang ke mulutnya dengan gugup.
"Malam pertama yang tertunda" Bisikku seraya mendekatkan wajah hingga jarak wajah kami kian terkikis.
Sementara aksiku ini membuat kentang goreng yang sempat di makan Arimbi belum sepenuhnya masuk.
Dia pasti nervous dan jantungnya pasti berdegup kencang.
Aku menatapnya dalam-dalam.
"A-apa?" cicitnya dengan wajah yang bersemu merah.
Pipinya memang selalu bersemburat merah tiap kali dia merasa malu. Baik ketika aku menggodanya, atau ketika bersikap manis padanya.
Sungguh ekspresi yang membuatku gemas dan ingin memakan bibirnya habis-habis.
Satu detik, dua detik, aku kembali mengikis jarak kali ini lebih mendekatkan mulutku ke mulutnya.
Wanita yang jaraknya tak terkikis ini seperti menahan napas kemudian memejamkan matanya.
Ingin sekali aku tertawa, tapi ku tahan. Aku ingin mengerjainya.
Kemudian ku ulurkan tanganku menyentuh batang lehenya. Detik itu juga aku menggigit kentang goreng yang terselip di bibirnya.
"Jangan netting Bi" ucapku sambil menjentikkan jariku di bibirnya. Persekian detik dia langsung membuka matanya.
Aku yakin wanitaku kembali di sergap perasaan gerogi.
Aku sendiri, tersenyum penuh kemenangan, karena lagi-lagi berhasil membuatnya kalah telak.
Haha asik aja mengerjainya.
Arimbiku, daun mudaku, istriku dunia akherat,
Yang saat ini memasang wajah cemberut dengan mulut mengerucut sambil mencebik dalam hati.
__ADS_1
Bersambung