
"Mas"
"Hmm" Gumamnya lalu mengecupi ceruk leherku berkali-kali.
"Benar, mbak Hana pernah meminta mas buat bilang ke Lala kalau Gesya ibunya?" Tanyaku dengan kedua tangan berada di atas lengan mas Bima yang melingkari perutku.
"Iya, tapi nggak ku turuti"
"Kenapa?"
"Nggak suka aja sama Gesya" Mas Bima mengusap perutku dengan lembut. "Dia nggak pantas jadi ibu buat Lala"
"Emang mas tahu, pantas enggaknya? Bisa saja dia menjadi ibu yang baik buat Lala kan?"
"Jelas tahu, niat dia itu mengharapkan imbalan. Dan imbalannya menikah denganku, aku nggak pernah suka sama orang yang berbuat baiknya itu nggak tulus"
Jawaban yang aneh menurutku, karena itu aku tak meresponnya lagi dan malah menikmati sentuhan tangan kiri mas Bima yang masih mengusapi perutku, sementara tangan kanannya bergerak naik, bermain-main di area dadaku dengan sesekali meremasnya lembut.
Saat ini mas Bima memang tengah memelukku dari arah belakang. Selain tangannya yang bergerak nakal, dia juga bermain-main di tengkukku menggunakan bibirnya yang membuatku sepersekian detik seperti tersengat listrik.
"Hal seperti itu nggak perlu di pikirkan, Bi" Ujarnya, kembali menggigit kecil leherku bagian belakang lalu menyesapnya kuat-kuat.
Kemudian hening, aku masih belum membuka mulutku sampai beberapa detik berlalu.
"M-mas"
"Hmm"
"Apa mas semanis ini dengan mbak Hana dulu?"
"Enggak begitu manis"
"Bohong"
"Kami jarang ada waktu, aku sering tugas hingga berbulan-bulan, bahkan di saat kehamilannya aku jarang sekali di rumah, mami sama papilah yang justru kerepotan mengatasi mood Hana tentang ngidamnya"
"Oh ya?"
"Hmm"
Aku agak sedikit mende**sah. Kewalahan dengan sentuhan-sentuhan lembut dari tangan serta bibir mas Bima.
Entahlah, di bagian manapun pria ini menyentuhku, seketika tubuhku meregang tapi juga melemas secara bersamaan. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku mendapat satu pelepasan, tapi hasratku sontak kembali naik berkali-kali lipat hanya dengan sentuhan kecil yang ia ciptakan.
Tanpa mengatakan apapun, sentuhan itu tak lagi kurasakan, sebab mas Bima melakukan pergerakan besar, ia melompati atas tubuhku, merebahkan diri dengan posisi miring menghadapku.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya mas Bima, salah satu tangannya menyentuh daguku, sementara sorotnya tertuju lekat ke manik hitamku.
"Mungkin nggak, mbak Hana atau Gesya mengatakan ke Lala kalau Hana itu sebenarnya ibunya?"
Tak langsung menjawab, mas Bima malah mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Kalau iya" Aku kembali bersuara karena mas Bima tak kunjung meresponku. "Bagaimana reaksi Lala kira-kira?"
"Dia nggak akan berani, Bi. Dia seorang ibu, pasti akan berfikir dua kali. Lagi pula kita sudah sepakat untuk diam dan akan ada waktu yang tepat buat Lala mengetahui semuanya"
"Ya semoga saja begitu" Balasku melempar pandangan ke arah lain.
__ADS_1
"Dari pada kamu terus-terusan mikirin Lala, kita keluar saja gimana?"
"Kemana?"
"Ya jalan-jalan, kamu maunya kemana?"
"Aku nggak mau kemana-mana, nggak ada Lala nggak seru"
"Atau ke rumah ibu, mau?"
"Ke rumah ibu?" Mas Bima mengangguk, sementara aku berfikir sejenak sebelum kemudian kembali bersuara.
"Enggak ah, nanti ibu nanyain Lala"
"Ya nggak apa-apa"
"Nggak mau"
Pria di depanku lagi-lagi menyalurkan udara ke dalam paru-parunya.
***
Tepat pukul 13:00 Wib, usai kami makan siang, aku dan mas Bima duduk di sofa ruang tengah, aku bisa menyebut ruangan ini sebagai ruang keluarga, dan juga ruang untuk berkumpul sambil menonton televisi. Ruangan ini juga bisa berfungsi untuk Lala bermain atau belajar.
Mas Bima duduk sembari main game di ponselnya, sesekali pandangannya ia arahkan ke layar tv. Aku sendiri rebahan di sofa lain dengan gestur tubuhku yang tentunya tak tenang.
Entahlah, aku merasa hari ini waktu berjalan begitu lama, segalanya terasa seperti melambat luar biasa.
Tak ada Lala, hariku benar-benar tak ada warna. Padahal baru beberapa jam, tapi seakan sudah berhari-hari aku berpisah dengan putriku.
Tidak habis pikir sebenarnya pada pria yang mengenakan setelan rumahan ini, kenapa bisa setenang itu, ia bahkan dengan santainya bermain ponsel.
"Mas" Merasa kesal sebab sudah bersikap acuh padaku, aku memanggilnya dengan nada sedikit ketus.
"Hmm"
"Mas nggak mikirin anak?"
"Kenapa di pikirin, dia sedang bersenang-senang dengan ibunya. Putrimu pasti baik-baik saja, jika Gesya atau Hana menghasutnya, dia nggak akan percaya begitu saja" Mas Bima mengatakan itu tanpa menatapku. "Sekarang kan sudah lewat pukul satu, jamnya Lala bobo siang kan? Nah anggap saja kalau dia lagi bobo di kamarnya, dan kamu bisa relax sebentar"
"Nggak bisa!"
Mendengar jawaban ketusku, mas Bima langsung melirikku, kemudian tersenyum.
Aneh padahal nggak ada yang lucu, tapi dia tersenyum tanpa dosa. Mungkin wajahku yang masam merupakan sebuah hiburan untuknya.
Mengabaikannya, aku memiilih memejamkan mata, dan mungkin karena terlalu lelah dengan pikiranku yang carut marut, setelah beberapa menit kesadaranku tahu-tahu menghilang.
Hingga sebuah goncangan membuatku akhirnya terbangun.
"Lala pulang, Bi!" Kata mas Bima.
Aku menggeliat, sambil mengumpulkan puing-puing kesadaranku yang masih belum sepenuhnya terkumpul.
"Anakmu pulang"
"Lala pulang?" Terkesiap, aku langsung duduk berhadapan dengan mas Bima yang duduk di tepian sofa yang ku tiduri.
__ADS_1
Secara spontan aku melirik jam yang menggantung di dinding.
14:57.
"Kok sudah pulang? Dari mana mas tahu?"
Belum sempat mas Bima menjawab terdengar suara klakson sampai dua kali.
Sepasang netraku langsung melirik ke arah jendela.
"Mereka sudah berkali-kali memencet bel, tapi karena kita sama-sama tidur, jadi nggak dengar, terus Gesya menelfonku katanya sudah di depan gerbang"
Tangan kami yang saling bergandengan seketika terlepas saat ia hendak melanjutkan langkah ke arah pintu gerbang.
"Tunggu di sini" ucapnya kemudian setengah berlari menjauh dariku.
Saat pintu gerbang sudah terbuka lebar, mobil itu tak menerobosnya, mereka tetap memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Sekian detik berlalu, sosok Lala keluar, lalu berlari kencang ke arahku.
Di susul Hana berlari di belakang Lala, kemudian Gesya membawakan beberapa mainan baru dan tas mungil Lala.
"Maafin onty ya, nak" Teriak Hana.
Aku bingung, mas Bima juga sepertinya tampak heran sebab Lala melewatinya begitu saja dan terus berlari.
Saat Lala kian dekat denganku, ku sadari wajah dia yang sedikit memerah dan mata sembab. Di tambah nafasnya yang tersengal karena sesenggukkan.
Aku berlutut, sementara Lala langsung menghambur ke pelukanku dan tangisnya seketika pecah.
Mendengarnya menangis histeris seperti ini, sungguh hatiku mencelos dan seakan terasa sesak. Kedua mataku otomatis berkaca-kaca seolah turut merasakan kesedihannya. Jika berkedip sekali saja, maka buliran yang menghiasi pelupuk mataku akan meluncur bebas. Dan benar, ketika aku mengerjap, air mataku jatuh begitu saja.
Lala terus menangis di pelukanku, pundakku juga terasa basah akibat air mata Lala yang jatuh begitu derasnya.
Meski di rundung rasa penasaran, tapi aku menahan diri untuk tidak memberikan rentetan pertanyaan. Ku biarkan putri kecilku mengeluarkan sedihnya sampai dia benar-benar tenang.
Tanganku tak berhenti mengusap punggungnya. Beberapa menit berlalu, pandanganku mengedar.
Ku temukan wajah mas Bima yang menyorot tak mengerti, wajah mbak Hana yang menyiratkan sebuah penyesalan serta ketakutan. Sementara Gesya, dia menatapku penuh benci, aku juga menyadari kemana arah pandangan Gesya jatuh.
"Sudah nangisnya?" Kataku saat tangis Lala mulai reda.
"Lala mau sama bunda" Ucapnya parau.
Aku bangkit, sambil mengangkat tubuh Lala.
Dia yang masih belum mau menunjukkan raut sedihnya, menyerukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. Kedua tangannya langsung melingkari pundakku.
"Maafin onty, ya La" Ulang mbak Hana sendu.
Lala tak menyahut.
"Bawa Lala masuk, bun" mas Bima bersuara.
Tak ingin meladeni basa-basi dua wanita itu, akupun permisi masuk karena Lala merengek ingin ke kamarnya.
Ada banyak pertanyaan yang menggangguku sebenarnya, tapi tidak akan aku tanyakan sebelum gadis kecil dalam gendonganku benar-benar berhenti menangis.
Bersambung.
__ADS_1