
Keesokan paginya, aku, Lala serta mas Bima sudah siap dengan seragam kita masing-masing.
Mas Bima masih menjadi pria gagah nomor satu di hatiku. Meski aku bukan yang pertama, tapi aku yakin akan menjadi yang terakhir untuknya, menjadi satu-satunya wanita dalam hidup mas Bima.
"Sudah siap anak ayah yang cantik?" Mas Bima agak sedikit mendongak, sebab langkahku dan Lala masih di tengah-tengah tangga, sementara mas Bima sendiri ada di lantai bawah tepatnya di depan kamar kami.
"Sudah" Sahut Lala. Kami terus menuruni anak tangga satu persatu.
"Lala di antar ayah ya, bunda ada meeting pagi, harus siap-siap buat presentasi soalnya" Kataku saat sudah berdiri di depan mas Bima.
"Iya, tapi nanti bunda jenguk Lala ke sekolah"
"Okay, nanti bunda sempatin buat jenguk Lala"
"Janji ya!"
"Iya, sayang" Aku mengusap rambut Lala lembut.
"Ayo" Ajak mas Bima sembari menerbitkan senyum. Lala langsung menerima gandengan tangan ayahnya, tangan mas Bima yang lain memegang topi Pet PDU.
Kamipun melangkah keluar rumah. Ketika melewati ruang tengah, mas Bima memintaku untuk membawakan tas kerjanya yang tadi malam sudah dia siapkan dan di letakkan di sofa depan televisi.
Di pos satpam, ku lihat ada mas Jim yang sudah kembali bekerja untuk menjaga rumah kami.
Sebelum masuk mobil, mas Bima menghampiri mas Jim dan berbincang sejenak dengannya. Aku membantu Lala memasang sabuk pengaman selagi menunggu mas Bima.
Begitu aku menutup pintu mobil setelah puas menciumi pipi Lala, pria ini tahu-tahu sudah berdiri di sampingku. Aku mengulurkan tangan untuk mengecup punggung tangan mas Bima.
"Kamu hati-hati!" Mas Bima mengingatkanku.
"Mas juga"
"Hmm"
Meskipun jawabannya datar, tapi aku tahu pria hebatku ini tak sedingin dan semenakutkan saat dulu. Dengan mesra ia mengecup keningku sebelum kemudian melangkah memasuki mobilnya lalu duduk di kursi kemudi. Mas Bima menurukan kaca jendela di sebelah kiri Lala.
"Lala berangkat ya bun"
__ADS_1
"Hati-hati ya, kalau ayah ngebut bilang bunda, nanti bunda tegur ayah"
"Iya"
"Assalamu'alaikum, bunda!"
"Wa'alaikumsalam, have fun ya nak, bahagia selalu! Bunda sayang Lala"
"Lala juga sayang bunda"
"Assalamu'alaikum, bun" pamit mas Bima yang sudah siap dengan kemudinya.
"Wa'alaikumsalam"
Begitu mobil perlahan bergerak jalan, Lala melambaikan tangan yang kemudian ku balas dengan kissbye.
Setelah kepergian mas Bima dan juga Lala, aku segera memasuki mobilku dan melajukannya menuju kantor.
Di kantor, aku bergegas ke arah ruang meeting, mempersiapkan segalanya untuk presentasi mengenai hasil rapat di kantor kabupaten beberapa hari lalu bersama para pejabat pemerintahan dan para ASN lain. Karena aku yang datang mewakilinya, jadi aku harus presentasi untuk memberitahukan pada rekan kerjaku.
"Perfect" Ucap Riska setelah kami selesai meeting. "Bisa semudah itu di pahami presentasimu, Bi"
"Sepertinya suamimu sudah siuman"
"Hust.. Kamu ngomong apa Ris?"
Wanita seusiaku malah tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Jelmaan es kutub sudah meleleh"
"Tapi masih dingin si, raut mukanya juga kadang masih suka jutek dan datar"
"Kayaknya mukanya emang kaku dari sananya, Bi. Jadi sudah nggak bisa di rubah"
"Nggak juga kalau lagi di ranjang" sahutku tersenyum penuh arti dan tanpa malu, lantas mematikan sambungan proyektor yang tadi ku pakai untuk presentasi.
Aku melipat laptopku. "Balik ke ruangan yuk" Ajakku.
__ADS_1
"Sudah beres semua memangnya?"
"Sudah"
Setelah mendengar sahutanku, aku dan Riska sama-sama melangkahkan kaki menuju ruangan kami.
Setibanya di meja kerjaku, aku mendapati sebuah sticky notes berwarna kuning tergeletak di atas meja.
Mengerutkan kening, tanganku terulur meraih kertas bebentuk persegi.
Pukul 13:00, saya tunggu di Harritage coffee & eatery sebelah taman kota.
GESYA.
Mau apa dia?
Mau mengolokku? Atau ... Menghinaku?
Aku tersenyum smirk.
Setelah jenguk Lala, akan ku temui dia.
Dia yang sudah membuat putriku meneteskan air mata, aku tidak akan pernah membiarkannya membuat anak gadisku menangis lagi.
****
Aku duduk di sebuah bangku cafetaria, berhadapan langsung dengan wanita yang menampilkan raut sinis.
Menahan geram, apalagi ketika mengingat cerita Lala tadi malam, ingin rasanya aku melempar vas bunga yang ada di depanku ini ke wajahnya.
Tadi pagi pas Lala mau masuk kelas di panggil sama onty Gesya bun, onty tanya kenapa bukan bunda yang antar Lala ke sekolah. Terus Lala jawab kalau bunda mau ada sibuk.
Setelah makan siang, aku memang pergi ke sekolah Lala karena sudah janji akan datang saat jam istirahat. Lala mengadu padaku kalau tadi pagi Gesya datang ke sekolahnya saat mas Bima mengantarnya.
Ketika ku tanyakan pada mas Bima perihal kedatangan Gesya ke sekolah melalui sambungan telfon, mas Bima justru tak tahu karena dia memang tidak bertemu dengan Gesya. Mungkin saja Gesya mau menemuiku sebab biasanya akulah yang mengantar Lala.
"Kebetulan sekali anda mengajak saya bertemu" Kataku datar, tanpa ekspresi "Tapi maaf, karena saya tidak memiliki banyak waktu, lebih baik kita langsung ke intinya"
__ADS_1
Wanita itu mengangkat salah satu sudut bibirnya, wajahnya memerah seperti menahan marah, sementara tatapannya begitu menerkam.
Bersambung