Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 100 ~


__ADS_3

Sesaat setelah mendengar kabar baik bahwa Arimbi dan bayinya selamat, aku yang ingin langsung pergi ke rumah sakit di cegah oleh ayah, Beliau menahanku dan memintaku untuk mengalahkannya dalam permainan catur, karena aku masih belum bisa mengendalikan emosiku. Baru setelah itu aku di ijinkan ke rumah sakit untuk melihat keluarga baruku.


"Sambil nunggu mbak Za selesai masak, ayo kalahkan ayah dulu"


"Tapi yah, aku harus mengadzani putraku, bukan?"


"Papi sudah mengadzaninya, kamu bisa melakukan lagi nanti, tapi kalahkan ayah dulu, dan pergilah setelah makan malam"


"Please yah, dulu aku nggak bisa mengadzani Lala, dan sekarang juga nggak bisa mengadzani putraku?"


"Ini salahmu, Bima. Karena kamu tidak bisa mengontrol emosi dan tidak bisa menahan sabar, jadilah kamu kehilangan kesempatan untuk mengadzani anak keduamu"


"Yah_"


"Jangan banyak komplain" potong Ayah menarik tanganku lalu menekan tubuhku agar segera duduk di posisiku.


"Inilah hukuman orang yang tidak bisa menahan marah. Apa perlu ayah ingatkan" kata ayah menata pion-pion catur ke posisinya masing-masing. "Ada dua hal yang di sukai Allah"


"Lemah lembut dan tidak mudah marah" jawabku spontan.


"Kalau tahu kenapa harus marah? Andai saja kamu bisa menahan amarahmu dan memilih menunggu Arimbi selesai operasi, kamu pasti tidak akan kehilangan kesempatan itu"


"Lagian bayimu harus di observasi dan Arimbi masih belum sadar dari pengaruh anestasi, jadi untuk apa kamu kesana" tiba-tiba ku dengar suara wanita paruh baya yang sudah seperti bundaku sendiri.


Aku dan ayah langsung memalingkan wajah ke arahnya.


"Bunda!"


"Kamu menyiksa bunda, Bim. Gara-gara kamu, bunda harus naik motormu yang jengit-jengit gitu, hijab bunda jadi berantakan"


"Lagian kenapa bunda nggak naik taksi?"


"Mas Ken tuh, yang maksa bunda buat bonceng dia"


"Berarti itu gara-gara mas Ken bun, bukan gara-gara aku"


"Gara-gara kalian berdua" jawab bunda sambil berlalu menuju dapur. "Kamu mandi dulu terus makan, bunda tahu kamu belum makan dari siang, setelah makan kamu boleh ke rumah sakit"


Sial memang, semua menahanku dengan sengaja. Padahal aku ingin menemui istri dan anakku sendiri, tapi mereka seakan menutup aksesku untuk pergi menemui mereka.


Ngomong-ngomong soal catur, bagaimana aku bisa mengalahkan ayah jika konsentrasiku terbagi antara Arimbi, Lala dan juga putra kami. Sebagian pikiranku yang lain pun terus mengingat bagaimana Gesya berkata jujur tentang apa yang sudah dia lakukan selama ini pada keluargaku.


Sungguh, rasanya aku ingin sekali menyingkirkannya dari hidupku dan Arimbi.


Dan setelah di permainan ke empat kalinya, aku baru bisa menang melawan ayah. Adu catur yang selalu membuatku terkalahkan baik oleh papi, ayah Danu dan juga mas Ken.


Karena aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri dan bayiku, mbak Za akhirnya membuatku makanan agar aku bisa makan lebih awal.


Selesai mandi dan makan malam, aku bergegas menuju rumah sakit di waktu ba'da maghrib.


Ku pikir setelah aku melihat putraku kemudian menemui Arimbi, dia akan langsung memelukku, tapi tidak.


Arimbi justru memalingkan wajahnya dariku, setelah mengecup punggung tanganku. Dia terus menghadap sang ibu dan menerima suapan ibunya yang tengah menyuapinya makan.


"Sayang" Panggilku tanpa malu di depan ibu mertuaku. Sayangnya panggilanku tak di respon oleh wanita tercantikku di dunia.


"Mau minum bu"


Arimbi menerima gelas dari tangan ibunya lalu meneguk isinya.


"Bi, gimana kondisimu sekarang?" tanyaku masih berusaha membujuk agar mau bicara. Aku duduk di kursi sebelah ranjang bagian kanan sementara ibu di samping kirinya.

__ADS_1


"Sayang, maaf tadi aku nggak cepat-cepat kesini karena_"


"Mbak Za sudah mengobati luka mas?"


"Sudah sayang"


Lalu hening sampai sekian detik.


"Sudah, bu. Arimbi sudah kenyang" Kata Arimbi menolak suapan terakhirnya.


"Tinggal satu lagi nak, tanggung ini. Di habisin sekalian ya"


"Dari tadi sudah Arimbi paksakan bu, tapi ini benar-benar sudah nggak bisa masuk"


"Ya sudah"


Ibu akhirnya mengalah.


"Lala gimana bu?" tanya Arimbi.


"Lala sudah pulang tadi sama bu Irma, dia bersikeras menunggumu, tapi kamu tak kunjung sadar, akhirnya di bawa pulang sama opa omanya. Nanti kesini lagi setelah mandi dan makan malam"


"Makasih bu, suduh bantu Arimbi merewat Lala"


"Kenapa bilang makasih?" balas ibu. Aku hanya diam menyimak sebab Arimbi sepertinya marah gara-gara aku pergi begitu saja dan tidak menemaninya selagi dokter mengambil tindakan operasi tadi siang.


"Ibu pulang dulu ya, sudah ada suamimu yang gantian menjagamu, besok ibu datang lagi bawakan makanan rumahan buat kamu"


"Iya bu"


"Ibu pulang dulu Bim, titip Arimbi ya!"


"Iya bu"


"Sayang, aku minta maaf" Ucapku tulus sambil meraih tangan kanannya lalu ku kecup lembut.


"Apa yang mas lakukan pada Gesya?" tanyanya tanpa melihatku sebab pandangannya ia alihkan ke samping kiri.


"Mas nggak mikirin aku dan anak-anak saat menghajarnya?"


"Aku khilaf Bi, maaf"


"Apa mas puas sudah memukuli seorang perempuan?"


"Aku memukulinya bukan tanpa alasan, dia sudah mengusik hidup keluarga kecil kita Bi, aku nggak bisa diam saja"


"Tapi nggak harus memukulinya sampai babak belur dan di rawat kan?"


"Iya-ya aku minta maaf, aku hilang kendali"


"Apa jadinya kalau mas Ken dan ayah nggak datang menyusul mas?"


"Sudah bi, jangan ingatkan lagi. Aku mengaku salah"


"Dari dulu kenapa selalu terlambat mengakui kesalahan?" Wanitaku masih belum mau menatapku. "Pertama mas mengaku salah karena sudah terlambat menyadari cintaku, terus mas mengaku salah karena sudah menyerahkan Lala ke mbak Hana, dan sekarang mas juga terlambat mengakui kesalahan mas karena sudah memukuli Gesya"


"Apa akan ada kesalahan yang ke empat kalinya?" tambah Arimbi dengan nada datar.


"Insya Allah nggak ada, Bi"


"Yakin?"

__ADS_1


"Yakin" jawabku tegas.


Baru setelah itu Arimbi menoleh ke kanan dan pandangan kami langsung bertali.


"Kenapa nggak bisa ngendaliin diri?"


"Aku nggak bisa menerima perbuatannya, Bi"


"Setidaknya hargai kejujurannya, keberaniannya mengakui semua perbuatannya sangat luar biasa, bisa di katakan dia seorang pahlawan. Jarang loh ada orang yang langsung mengakui kejahatannya"


"Iya tapi_"


"Janji ya harus bisa ngontrol emosi mas yang tinggi-tinggi itu"


"Iya"


"Demi aku dan anak-anak"


"Iya" Aku kembali mengecup tangan Arimbi.


"Terlepas dari semuanya, apa yang akan mas lakukan terhadap Gesya?" Tanya Arimbi dengan fokus lekat menatapku.


"Apa maksudmu, Bi? Jelas aku akan membuat laporan ke polisi"


"Tapi kalau menurutku nggak usah mas?"


Aku tercengang begitu mendengar kalimatnya


"Maksud kamu?" tanyaku tak paham.


"Jangan laporkan ke polisi, kita maafkan perbuatannya. Lagi pula aku dan anak kita baik-baik saja"


"Tapi, Bi_"


"Please mas, jangan melakukan kesalahan yang nantinya akan membuat kejadian mbak Za terulang pada anak-anak?"


"Kamu ngomong apa Bi?"


"Aku tahu bunda Nina nggak pernah salah ke mama Sinta, tapi jika mas melaporkannya ke polisi, aku yakin hukuman itu paling lama hanya sepuluh sampai lima belas tahun. Di saat Gesya keluar dari penjara, bagaimana kalau dia membalas rasa sakit hatinya dengan menculik anak-anak kita sementara usia anak kita masih kecil-kecil?"


"Nggak bisa gitu, Bi. Yang salah harus di hukum supaya jera"


"Iya kalau jera, mas tahu kan gimana Gesya? Okay sekarang dia menyesal, bagaimana kalau nanti dia nekad? Hati bisa berubah kan?"


Ketika aku hendak mengutarakan keberatanku, tiba-tiba suster menyela dengan membuka pintu bangsal Arimbi, lalu mendorong masuk trolly bayi berisi putraku.


"Maaf mengganggu pak, bu"


"Iya sust" Aku bangkit dari dudukku. Lalu membantu Arimbi duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Apa ada keluhan bu Arimbi?"


"Nggak ada suster"


"Baiklah, di usahakan untuk coba tidur miring ya bu, pelan-pelan saja nggak apa-apa"


"Iya suster"


"Dan silakan beri Asi untuk debaynya" katanya kemudian membopong tubuh mungil putraku yang terbalut kain bedong lantas menyerahkannya ke tangan Arimbi.


Sejujurnya, aku masih belum bisa menerima keputusan Arimbi.

__ADS_1


Enak saja sudah mengacaukan hidup orang, tapi malah di maafkan begitu saja. Untung saja tadi aku sempat menghajarnya, setidaknya jika Arimbi bersikukuh ingin membebaskan wanita ular itu aku sudah setengah puas memberikan pelajaran padanya.


__ADS_2