Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
Epilogue


__ADS_3

Satu minggu pasca caesar, aku sudah bisa melakukan aktivitas ringan. Jelas mas Bima melarangku untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mami yang memang tidak bekerja selalu datang setiap dua hari sekali untuk mengecek kondisiku, sementara ibuku yang sengaja mengambil cuti tahunan selama dua minggu, menginap di rumahku untuk membantu merawat bayiku.


Ada juga mbak Nining yang sudah di tarik oleh mas Bima untuk membantuku mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mas Bima terlalu was-was jika harus mengambil ART baru dari Agency, jadi atas saran papi dan juga mami, mbak Nining pun di oper untuk bekerja di rumah kami.


"Bi, kata mas Jim ada Gesya di luar gerbang" ucap ibu. Aku yang sedang berjemur di samping kolam renang dengan bayiku reflek mendongak, memindai wajah ibu yang sudah berdiri di depanku. "Suruh masuk apa gimana?"


"Suruh masuk aja bu"


"Tapi nak, gimana kalau dia berbuat jahat"


"Insya Allah enggak bu" Ada senyum tersungging di bibirku saat mengatakan itu.


"Ya sudah ibu ke mas Jim suruh bukain gerbang"


"Makasih ya bu" Senyumku kembali terkembang, itu supaya ibuku semakin yakin kalau kedatangan Gesya memang ada niat tulus.


Selang sekitar sepuluh menit, ibu datang bersama wanita yang selalu tampil cantik di usianya yang menginjak dua puluh sembilan tahun. Dia begitu elegan dengan busana selutut, di padukan dengan cardigan berwarna coklat muda. Rambutnya yang panjang dan di buat agak ikal, menambah auranya semakin terpancar jelas.


"Assalamu'alaikum" Ucapnya sedikit agak ragu.


"Wa'alaikumsalam" Jawabku lengkap dengan sulas senyum. Bayiku yang berada di atas pangkuanku langsung menggeliat mungkin dia respek dengan kehadiran seseorang.


"Duduk Gey"


"Makasih Bi"


Lagi-lagi aku tersenyum untuk mengiyakan.


Wanita ini duduk di depanku. Di kursi yang tadi ku pakai untuk menselonjorkan kakiku, dua kursi tanpa meja sebab ibu tadi yang menggesernya sementara mejanya ada di sebelah kursi santai yang biasa di gunakan mas Bima untuk selonjoran ketika selesai berenang. Aku biasa menyebutnya kursi jemur.


"Apa kabar, Bi?"


"Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri? Gimana lukamu?"


"Sudah sembuh Bi, hanya kakiku yang masih sedikit pincang karena masih terasa nyeri sedikit"


"Maaf atas sikap mas Bima ya"


"Kenapa minta maaf, aku yang justru harus minta maaf padamu. Maafkan aku ya Bi, aku menyesal, aku di kuasai api amarah, api cemburu, dan juga dendam. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan aku siap masuk penjara"


"Aku sudah memaafkanmu, Gey! Sekarang giliranku meminta maaf atas sikapku dan mas Bima yang nggak ku sengaja, yang membuat kamu merasa sakit hati. Aku minta maaf karena mas Bima sudah membuatmu terluka hingga masuk rumah sakit"


"Nggak apa-apa Bi, wajar kalau mas Bima melakukan itu, aku orang yang nyaris membuat wanita yang ia cintai hancur"


"Baiklah, mari kita saling memaafkan, kita lupakan kejadian di masa lalu, dan menjalin pertemanan yang indah" Kataku tulus.


"Makasih Bi, dan sebagai janjiku, aku akan memperbaiki diri selagi aku tinggal di dalam penjara, aku akan keluar dari sana dengan Gesya yang lebih baik"


"Iya"


Mas Bima memang sudah melaporkannya ke polisi sekitar dua hari lalu, dan Gesya sudah menerima surat laporannya. Dia hanya menunggu hari untuk pemeriksaan polisi.


"Aku bawa banyak barang buat bayimu Bi, tolong di terima ya, tadi aku sudah minta mas Jim buat ngeluarin dari mobilku"


"Kenapa repot-repot, Gey?"


"Nggak repot kok, aku senang bisa membelikan sesuatu buat putramu dan mas Bima" Ujarnya dengan wajah berbinar. "By the way, Lala sekolah?"


"Iya, Gey"


"Sekolah dimana dia, aku sempat tanya ke bunda Lisa pas antar Naura, katanya Lala sudah naik kelas dan harus masuk TK"


"Iya, mas Bima mendaftarkannya di RA milik kakeknya, kebetulan RAnya kan dekat dengan tempat kerja mas Bima, dan masih di lingkungan rumah nenek serta ponpesnya, jadi kalau mas Bima terlambat jemput, dia bisa main-main dulu sama mbak Cia atau sama cucunya pak dhe Haidar"


"Kalau nggak salah, salah satu nama cucunya pak Haidar Lentera kan Bi?"


"Iya Gey"


"Dulu mbak Hana pernah ajak aku ke sana, saat itu dia berusia tiga tahun, sekarang pasti sudah gede"


"Sudah kelas empat" Sahutku, sementara wanita di depanku mengangguk anggukan kepalanya.


"Anteng banget dede?" Gesya menundukkan pandangan menatap putraku, tangannya menyentuh tangan mungil bayi yang ku beri nama Ryusang Juna Anggara.


Bayi yang secara tidak langsung membuat Gesya mengakui kesalahannya dan menyesali perbuatannya.


Sosok bayi laki-laki yang mampu merubah wanita yang membenci ibunya.


Aku yakin, Ryu akan membawa kebaikan dan kebahagiaan untuk keluarga kami.


Hampir satu jam aku dan Gesya bercengkrama dan mengobrol sampai-sampai, kami sudah berpindah tempat duduk karena sesi berjemur sudah cukup lama, akhirnya Gesya pamit. Dia memelukku sebelum pergi dari rumahku.


Pelukan haru yang nggak pernah ada dalam khayalanku. Ku pikir kami akan terus bermusuhan, tapi dugaanku keliru sebab dia memutuskan ingin menjalin hubungan baik denganku. Hubungan yang memang sudah dia lakukan sejak usia kandunganku baru empat bulan. Mas Bima mengira saat itu Gesya hanya pura-pura, tapi aku tak pernah menganggapnya begitu. Kini, aku sudah benar-benar yakin kalau dia tidak pernah berpura-pura.


Wanita itu tulus, dan benar-benar sudah berubah.


****


Baru satu jam yang lalu Gesya pergi, aku sudah kedatangan tamu lagi.


Nggak heran si, semenjak aku keluar dari sumah sakit dua hari lalu, tamu memang datang silih berganti. Baik rekan kerjaku, dan juga rekan kerja mas Bima atau bisa ku sebut Ardhya Garini, nggota istri para TNI khususnya AU. Tujuan mereka tentu saja menengok bayiku yang baru lahir ke dunia.


"Bu Hana datang bu" pungkas mas Jim. "di bukain apa enggak?"

__ADS_1


"Bukain aja mas, nanti langsung suruh masuk ke ruang tengah"


"Baik bu" Mas Jim segera keluar dari ruang keluarga.


Beberapa menit kemudian, sosok mbak Hana muncul bersama dua anak kembar laki-lakinya yang usianya sekitar tiga tahun.


Wanita itu tersenyum selagi melangkah memasuki ruang tengah.


"Mbak Hana!"


Aku bangkit dan kami langsung berpelukan.


"Sejak kapan berada di sini, mbak?"


"Tadi pagi Bi, istirahat sejenak di hotel terus langsung kemari"


"Kenapa menginap di hotel? Nggak di rumah Gesya?"


"Enggak Bi, aku lagi marah sama dia karena kelakuannya padamu dan juga Bima. Maafin adikku ya Bi"


"Nggak apa-apa mbak, tadi juga dia datang. Kalau mbak Hana datang sekitar satu jam lalu, kemungkinan ketemu di sini"


Wanita yang sudah ku persilahkan duduk sejak beberapa detik lalu mendengkus kasar sambil menggelengkan kepalanya. Ku lirik kedua putranya tengah melihat-lihat Ryu yang berada di box bayi.


"Aku nggak habis fikir sama Gesya Bi. Senekad itu, dia ke kamu"


Tersenyum, aku kembali melirik anak-anak.


"Tapi aku bangga padanya mbak, nyalinya mengakui perbuatannya di depan ayahnya Lala sungguh luar biasa. Dia siap dengan konsekuensi atas kejujurannya, aku juga bersyukur mbak" Kataku menundukkan pandangan menatap kukuku yang ku warnai dengan warna abu-abu. Iseng aja mewarnai kuku selagi aku nggak sholat. "Kejadian ini, membuatnya berubah dan mengakhiri permusuhan kami"


"Sekali lagi maafkan adikku ya Bi"


"Aku sudah memaafkannya kok mbak, aku juga sudah melupakan perbuatannya"


Ada hening setelah aku mengatakan itu, dia lantas bangkit dan berjalan beberapa langkah menuju box bayi.


"Ganteng banget Bi"


"Iya mbak, sama seperti Lala yang mirip sekali dengan ayahnya"


"Benar Bi, hidung sama matanya mas Bima banget. Lala banget. Orang yang nggak tahu, pasti mengira kalau mereka satu ibu"


Aku tersenyum merespon mbak Hana. Meski dia tidak tahu senyumku ini sebab pandangannya terus fokus menatap bayiku.


"Oh ya, Bi" Wanita itu kembali menghampiriku dan duduk di tempat tadi.


"Kedatanganku ke sini, selain untuk meminta maaf atas ulah adikku dan membesuk bayimu, aku juga ingin mengatakan sesuatu"


Mendengar kalimat mbak Hana yang tampak serius, reflek keningku mengernyit.


"Lusa aku akan menyusul suamiku ke Eropa, dia mendirikan bisnis di sana" Dia menjeda kalimatnya lalu menunduk.


Sikapnya itu persekian detik membuat jantungku meronta-ronta.


"Kami akan menetap di sana, Bi"


"Apa mbak Hana akan mengajak Lala?" tanyaku gamang.


Alih-alih langsung menjawab, mbak Hana malah melempar senyum yang membuatnya terlihat semakin cantik.


"Justru aku akan menyerahkan Lala ke kamu"


"Maksud mbak Hana?" Raut wajahku mungkin sudah berubah.


Tatapannya lekat menatapku, sementara jantungku makin ribut di dalam sana.


"Meski aku sosok yang melahirkan Lala, tapi kamu sudah berkorban banyak untuk dia. Kamu mengorbankan waktu, tenaga serta curahan kasih sayangmu untuk putriku. Mulai saat ini jangan pernah menganggap dirimu ibu sambung, karena mulai detik ini, ku tegaskan dan aku serahkan sepenuhnya tanggung jawabku sebagai ibu kandung Lala padamu. Dia anakmu Bi, anak kandungmu. Sayangmu bahkan melebihi ibu kandungnya sendiri"


Aku tertegun dengan kalimatnya.


"Aku percayakan Lala sama kamu, aku yakin dia akan bahagia karena kamu selalu memberikan kebahagiaan untuknya"


"Dia prioritasku mbak, aku bahkan lebih mementingkan Lala ketimbang diriku sendiri"


"Aku percaya Bi. Terimakasih sudah memberikan kasih sayang yang nggak pernah aku beri buat Lala"


"Jangan berterimakasih mbak, Lala putriku. Sudah menjadi kewajiban seorang ibu buat memberikan kasih sayang pada anak-anaknya"


"Kamu benar Bi"


"Tapi aku pesan mbak" Kataku serius. "jangan pernah memutus silahturahmi dengan Lala, biar bagaimanapun, kalian memiliki hubungan darah yang kuat, nggak ada mantan anak, atau mantan ibu, jadi meski kalian berjauhan, setidaknya saling berkomunikasi lewat telfon"


"Itu pasti Bi, aku akan sering menghubungi ponselmu untuk menanyakan kabar Lala. Tapi mengingat bagaimana Lala seperti malas bicara denganku, aku minta maaf karena tak pernah lama jika menelfon Lala"


"Ku harap mbak maklum ya, dia masih anak-anak, nanti kalau sudah dewasa pasti tahu kok"


"Tentu Bi" Kami sama-sama tersenyum.


"Aku yakin didikanmu pasti sangat bagus, jadi aku nggak perlu mengkhawatirkan Lala. Dia sudah berada di bawah asuhan tangan yang tepat"


"Insya Allah mbak"


Lagi-lagi kami saling berbalas senyum.

__ADS_1


Panjang lebar kami bicara, mbak Hana pun pamit.


**


Malam harinya, mas Bima yang mengurung diri di kamar karena marah, aku terus membujuknya untuk makan.


Dia marah karena aku telfon mas Bagas untuk mencabut semua laporan mas Bima pada Gesya. Mas Bima masih belum terima kalau Gesya di bebaskan dari hukuman. Tapi karena priaku tak ada pilihan lain, diapun menyetujui permintaanku sebab memang tak ada pilihan lain.


"Mas makan dulu, ini sudah lewat pukul delapan"


"Aku nggak lapar Bi" Jawabnya datar dari dalam kamar tamu yang pintunya ia kunci dari dalam.


"Mas boleh marah ke aku, tapi nggak bisa marah ke makanan. Mas harus makan"


"Sudah ku bilang aku nggak lapar"


Entah apa yang dia lakukan di dalam kamar tamu, kamar yang dia tempati selagi ibuku tidur di kamar kami untuk menemaniku begadang.


"Sedikit aja mas"


Enggak, Bi. Lebih baik kamu diam"


Menghela napas panjang, aku meletakkan nampan di atas lemari yang tingginya sebatas perutku. Aku meraih tisu kemudian menulis pesan di sana.


Sayang, makan ya!


Setelah menulis pesan aku memanggil Nining yang sedang melintasiku.


"Ning"


"Iya bu" sahutnya ramah.


"Tolong masukan tisu ini ke kamar lewat celah di bawah pintu. Aku belum bisa jongkok soalnya"


"Baik bu" Nining pun segera memasukkan tisu yang sudah ku lipat dengan agak sedikit melempar.


Selang lima detik, kertas itu justru kambali di lempar dari dalam oleh mas Bima.


"Di balikin sama pak Bima bu"


"Nggak apa-apa, aku akan tulis lagi"


Hening, beberapa detik.


"Masukan lagi ya Ning"


Niningpun kembali menurutiku. Aku yakin mas Bima sedang membaca pesanku.


I love you ayahnya Lala dan Ryu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.


Tapi aku kembali menelan kecewa karena tisu itu lagi-lagi kembali padaku.


"Yah, balik lagi Bu" Sepertinya selain aku, Nining juga kecewa. "Tulis lagi bu, semangat"


"Huff.. Baiklah"


Aku dengan cepat menuliskan pesan ke tiga.


Kalau mas nggak mau buka pintu, baiklah, aku akan meminta ibu buat mengemasi pakaianku, aku akan ikut ibu tinggal di rumahnya. Satu hal yang perlu mas tahu. Aku selalu mencintai mas.


Sampai jumpa mas, aku pergi....


"Lempar lagi Ning" perintahku sambil melipat tisunya.


"Siap bu" jawab Nining.


"Kamu bisa langsung pergi Ning"


"Iya iya bu"


Satu menit kemudian, mas Bima langsung membukakan pintu, aku yang berdiri di samping pintu tidak di sadari oleh mas Bima. Dia langsung nyelonong saja sambil meneriaki namaku, tapi dengan tangkas aku meraih pergelangan tangannya dan membalikkan badannya.


"Aku di sini, mas"


Pria yang kini menempel begitu rapat di tubuhku menghembuskan napas lega.


"Kamu tahu aku juga nggak bisa hidup tanpamu? Jangan katakan lagi akan pergi, aku bisa gila nanti"


"Kita masuk ke kamar"


Aku langsung membawa mas Bima memasuki kamar tamu yang tadi di buka olehnya, tak lupa menutupnya kembali.


"I love you" katakku mendongakkan kepala sambil melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Jangan ngerayu deh Bi"


Mengabaikannya aku kembali mengucapkan tiga kata itu tapi kali ini dalam bahasa Indonesia.


"Aku cinta mas"


"Kamu tahu aku juga mencintaimu" Aku mengangguk tanpa ragu.


"I love you too Bi" Balasnya dan kami sama-sama tersenyum sebelum kemudian kami berciuman.

__ADS_1


Pria hebatku, aku tahu kalau dia tak pernah bisa marah padaku.


...🌷End🌷...


__ADS_2