Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 86 ~


__ADS_3

Aku terduduk di lantai dengan kening menempel pada lengan yang ku daratkan di lutut yang terlipat.


Menahan isak yang terasa kian menyesakkan. Aku tak habis fikir dengan Hana dan juga mas Bima.


Hana yang terlalu memaksa, sementara mas Bima hanya diam saja melihat putrinya menangis kejer. Seharusnya mereka bisa lebih sabar dan tak terburu-buru membawa Lala.


Biar bagaimanapun Lala perlu waktu, perlu pendekatan lebih dulu.


Tapi mereka seakan tak memahami derita seorang anak kecil.


Mas Bima, Hana dan Gesya, mereka sama saja.


Aku kembali terisak, mengingat bagaimana putriku menangis, namun tak ada satupun dari mereka yang mengasihaninya.


"Bi"


Aku menepis tangan mas Bima yang tiba-tiba menyentuh pundakku. Sepertinya mas Bima sudah turut berjongkok di depanku.


"Sudah, Lala akan baik-baik saja" Ucapnya berusaha menghiburku.


Entahlah, ini pertama kalinya aku merasa semarah ini pada mas Bima. Aku bahkan tak berniat merespon ucapannya.


Berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenagaku, aku melangkah terseok menuju kamar, mengabaikan panggilan dari pria yang saat ini ku benci.


"Arimbi!" Panggilnya ke sekian kali.


Aku yakin dia pasti mengikuti langkahku.


"Bi, kamu juga marah sama aku?" Tanyanya sambil meraih pergelangan tanganku.


Aku diam tak menjawab. Tanganku yang lain berusaha melepas cekalan tangan mas Bima.


Setelah berhasil terlepas, aku berjalan ke arah lemari, meraih koper lalu mengemasi pakaianku. Masih dengan tangisku yang belum reda.


"Apa-apaan kamu, Bi" Mas Bima kembali mencengkram tanganku. Kali ini dengan agak sedikit memaksa. Detik berikutnya, dia menarikku dan otomatis tubuhku menubruk dada mas Bima.


"Lala sudah marah ke aku, Bi. Kamu juga ikutan marah?"


"Aku dan Lala memang pantas marah ke mas" Mataku terasa menghangat ketika menyebut nama Lala. Pandanganku mengabur karena air mata sudah menggenang di kelopak mata.


"Apa mas sama sekali nggak kasihan sama anak mas Sendiri? Dia memohon, dia minta tolong tapi mas sama sekali nggak peduli. Mas lihat bagaimana tadi sedihnya Lala, matanya, wajahnya, hidungnya? Semua memerah, dia bahkan kesulitan menarik napas karena isakannya yang begitu hebat"

__ADS_1


"Aku lihat, dan aku tahu Bi... Tapi apa yang bisa ku lakukan, ibunya dengan tanpa iba terus memaksa Lala, bahkan ketika aku mau mengambil Lala dari gendongannya, dia dengan tangkas berpaling dan mengingatkanku agar jangan mencegahnya"


"Setidaknya mas bilang untuk menundanya sehari atau dua hari" Bantahku dengan intonasi tinggi. Punggung tanganku mengusap pipiku yang sudah di banjiri air mata.


"Mas bisa bilang ke Hana untuk kita merayu Lala pelan-pelan"


"Okay aku salah, aku minta maaf"


"Percuma, sudah terlambat"


Aku melepas tangan mas Bima, lalu kembali meraih pakaianku dari lemari untuk ku pindahkan ke koper.


"Kamu mau kemana, Bi?"


"Aku di sini karena Lala, dan Lala nggak ada, jadi untuk apa aku disini"


"Apa maksudmu? jangan bercanda sayang"


"Aku nggak bercanda, aku mau pulang. Aku mau Lala, sampai Lala belum kembali" Ucapanku ini, seakan menjadi pemicu tumpahnya air mataku yang kian berjatuhan dengan begitu derasnya. "Aku nggak mau pulang"


"Jangan kekanak-kanakkan, Bi"


"Lalu kenapa kamu nggak mencegahnya tadi?"


"Kenapa bukan mas yang mencegah? mas lebih berhak dari pada aku yang hanya sebatas ibu sambung. Seharusnya kalianlah yang mengerti psikis anak kalian sendiri. Kalau kalian sama-sama berinisiatif" Aku menjeda kalimatku sejenak demi untuk menyalurkan udara ke paru-paru. "Hana mengalah sebentar, sementara mas tegas meminta Hana menunda membawa Lala, kita nggak akan lihat Lala seperti itu. Kalau terjadi sesuatu pada Lala bagaimana? Apa mas berfikir sampai ke sana?"


Mas Bima tak menjawab, pria di depanku hanya diam dengan sorot mata yang kian sulit ku pahami.


"Aku nggak keberatan Hana membawa Lala menginap di rumahnya, karena bagiku, sampai kapanpun Hana memang layak ada di hati Lala. Tapi melihat bagaimana penolakan Lala, isakan, dan teriakan histerisnya..." Susah payah aku menarik napas dalam-dalam sebab tiba-tiba ada sesak yang begitu menghimpit. Sakit. "Apa hati kalian sama sekali nggak tersentuh?"


"Kamu lebih berat berpisah dengan Lala dari pada denganku, Bi?"


"Iya" Sahutku cepat. "Sudah pernah ku katakan bukan?" Aku lagi-lagi tersengal ketika menarik napas panjang.


"Lala pergi, kalau kamu pulang ke rumah ibu, bagaimana denganku? Kamu tega membiarkan aku sendiri? Tetap di sini ya, kita bersabar untuk dua minggu"


"Kalau aku sabar, terus tiba-tiba mereka menghasut Lala, dan Lala nggak mau kembali ke sini, sabarku nggak ada gunanya, bukan? Lantas apa yang akan mas lakukan kalau itu kejadian?"


"Lala anak yang pintar, dia tidak mudah terpengaruh oleh hasutan Hana"


"Lalu Gesya? Dia pasti nggak akan tinggal diam. Dua minggu itu waktu yang sangat lama buatku, dan wanita licik itu pasti akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin"

__ADS_1


"Itu nggak akan terjadi, Bi. Kamu nggak perlu khawatir, percaya sama anak kita. Dia bahkan nggak terima jika ada yang menjelek-jelekkan bundanya"


"Ya, semoga saja" jawabku acuh.


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. Aku dan mas Bima kompak mengarahkan pandangan ke arah pintu yang tak tertutup. Sosok mas Jim tahu-tahu berdiri di luar pintu dengan membawa amplop coklat di tangan kanannya.


"Maaf pak, bu, menganggu. Ini ada kiriman surat dari kantor bu Arimbi"


Ada surat untukku, pasti konfirmasi mengenai pengajuan cuti tahunanku. Biasanya isinya tentang jangka waktu libur, dan tanggal masuk kerja setelah cuti.


Mas Bima menerimanya, lalu menyerahkan padaku.


Aku langsung membukanya karena ingin tahu kapan bisa masuk kerja. Tapi menurut perkiraanku, aku kembali bekerja di tanggal muda pada bulan depan.


Dahiku mengernyit begitu mendapati ada dua lembar kertas yang terlipat secara terpisah. Satu lembar berisi konfirmasi pengajuanku, dan satu lembar lainnya berisi sebuah ancaman.


Aku acungi jempol karena kamu selamat dari maut. Satu hal yang perlu kamu tahu ...


Aku tidak akan berhenti sampai di sini.


Selamat bermain-main dengan prasangkamu, Bu Arimbi....


Salam penggemarmu!


Kakiku kembali melemas, dengan rasa panik dan takut yang menyerangku di waktu yang sama.


"S-siapa kamu?" Gumamku dengan pandangan kosong.


"Ada apa, Bi?" tanya mas Bima kemudian merampas kertas dari tanganku.


"Astaghfirullah?" Kini giiliran mas Bima yang beristighfar usai membaca pesan yang tertulis dengan ketikan komputer. Aku yakin dia sama terkejutnya denganku.


Tanpa sadar aku terduduk di tepian ranjang, mengusap pipi yang di luncuri satu titik bening.


Menelan ludah, tahu-tahu mas Bima menarik kepalaku agar menempel di perutnya.


Aku terisak, dengan pikiran carut marut yang terus mengusik ketenanganku.


Belum tuntas soal si pengirim jajanan beracun, Hana yang membawa paksa Lala, kini ada surat ancaman yang di tujukan untukku...


Kehidupan macam apa ini??

__ADS_1


__ADS_2