Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 81 ~


__ADS_3

Setelah termangu hingga beberapa detik, mas Bima kembali menyembunyikan wajahnya di dadaku.


Aku yang sedikit heran dan masih di posisi bertumpu pada siku untuk menopang kepala, reflek tanganku yang lain mengusap kepala mas Bima lalu mengecup puncaknya.


"Kok nggak terkejut? Apa mas sudah tahu?"


"Aku nggak tahu Bi"


"Terus kenapa ekspresinya biasa aja?"


Tak langsung menjawab, mas Bima mengangkat tubuhnya lalu menata bantal di headboard untuk bersandar.


"Memangnya kenapa kalau itu rencana Gesya?" Tangannya menariku agar turut bangun dan menyandarkan kepalaku di dadanya.


"Gesya sama Hana itu sama saja, kalau memang dia yang membuat Hana selingkuh dengan pria itu_"


"Yudha?" potongku cepat.


"Kamu tahu?"


"Tahu dari Gesya"


"Oh"


"Berarti si Gesya benar-benar jahat sama kakaknya sendiri, mas. Masa iya tega membuat sang kakak berselingkuh dengan kakak dari temannya"


"Ya bisa aja kan, ujian memang datangnya dari siapa saja. Dari saudara, teman, atau orang tua. Tinggal kita aja, kuat ngga ngadepinnya"


"Maksudku, setelah mas dengar kalau Gesya yang merusak rumah tangga mas dan mbak Hana, mas nggak marah sama Gesya, atau nyalahin gitu?"


"Ngapain nyalahin orang lain. Lah wong Hananya juga salah, coba kalau otaknya bisa berfikir jernih, dia pasti nggak akan pernah melakukan perselingkuhan itu, dasar dianya aja yang bodoh, nggak bisa setia. Sudah tahu suami kerja berbulan-bulan nggak pulang, harusnya dia sabar dong nungguin suaminya. Biar bagaimanapun, kan saat nikah dan upacara pedang pora, dia sudah tahu resiko menjadi istri seorang abdi negara, dia janji sendiri mau menerima apapun pekerjaanku, dia juga yang melanggar janjinya. Berarti bukan hanya salah Gesya, tapi salah dia juga, aku benar apa benar, Bi"


"Hmm, benar si"


"Apapun yang menimpa kita, atau apapun yang terjadi pada kita, itu semua tergantung dari diri kita sendiri" Lanjut mas Bima, aku diam menyimak kalimatnya baik-baik. Ini seperti sebuah petuah buatku. "Kalau iman kita lemah, kita memberi kesempatan pada keadaan untuk melakukan hal yang melanggar, tentu kita akan terpengaruh, tapi kalau iman kita kuat, ujian apapun itu akan bisa kita lewati"

__ADS_1


"Terus mas udah nggak cinta kan sama mbak Hana?"


Mas Bima menjentikkan jarinya di keningku.


"Aku nggak pernah main-main sama hati, Bi. Perasaanku ke Hana benar-benar sudah nggak ada"


"Sedikitpun nggak ada?" sambarku bertanya. Aku mendongak mendaratkan daguku di dadanya. Setidaknya, dengan membalas tatapannya aku bisa tahu jawaban jujur lewat sorot matanya.


"Nggak ada"


"Barang sedikitpun nggak ada?"


"Barang sedikitpun" Mas Bima mengulang kalimatku seraya menggeleng "Aku sudah cinta sama kamu, aku nggak akan mengkhianatimu. Hanya ada kamu di sini" dia membawa tanganku menunjuk pelipisnya. "Dan disini" lalu menunjuk dadanya. "Jangan kamu tanyakan lagi, okay"


"Terus gimana dengan Gesya, dia sangat mencintai mas"


"Itu bukan cinta, Bi. Itu obsesi" jawab mas Bima dengan nada konstan. "Dia hanya berfikir bahwa akulah satu-satunya pria yang ada di depan matanya, coba kalau dia melihat dunia yang membentang luas, pasti dia akan melihat ada begitu banyak pria tampan, mapan, dan lebih baik dariku, dia akan melupakanku, iya kan?"


"Tapi aku pernah merasakannya mas"


"Dulu, di hati dan pikiranku hanya ada nama mas Bima, tanpa sadar aku sudah mencintai pria yang sudah beristri. Aku sudah berusaha melupakan dan menyingkirkan mas dari pikiranku, aku juga sudah menyelami dunia. Mencari, mengenal dan membuka hati untuk lelaki selain mas, tapi tetap saja aku nggak bisa mengalihkan pikiranku dari mas. Apa yang ku rasakan ini juga obsesiku terhadap mas?"


"Kalau itu obsesimu" mas Bima membawaku untuk duduk, dia juga merubah posisinya menjadi duduk bersila menghadapku.


"Kamu pasti akan merusak rumah tanggaku dan ngejar-ngejar aku, sama seperti yang Gesya lakukan. Kalau itu obsesi, kamu nggak akan pernah tulus merawat Lala. Meski aku memperlakukanmu begitu buruk, kamu tetap mau bertahan, iya kan? Dan kalau itu obsesimu, kamu nggak akan pernah menyuruhku menceraikanmu"


"Tapi Bi, obsesimu itu sudah berhasil membuatku mencintaimu" Tambah mas Bima, aku menggigit bibir bawahku ketika menangkap raut tulus dari wajahnya.


"Jangan berfikir yang macam-macam. Ini rumah tangga kita, nggak cuma untuk sehari dua hari, tapi untuk selamanya, seumur hidup kita. Jadi apapun masalah dalam rumah tangga, kita hadapi sama-sama"


"Tapi Gesya mengancamku akan menghancurkan rumah tangga kita"


"Terus kamu takut sama ancamannya?"


"Takut jelas ada, tapi lebih ke khawatir, bukan pada mas, tapi pada anak-anak kita. Pada Lala dan juga calon adek"

__ADS_1


"Ada aku, percaya padaku. Aku akan melindungi kalian dari mata jahat seperti Gesya"


"Mas juga harus hati-hati, jangan beri kesempatan pada Gesya melancarkan strateginya"


"Strategi?" tanya mas Bima memicingkan mata.


"Hmm.. Dia bilang memiliki rencana jahat pada keluarga kita"


"Okay, aku akan waspada. Kamu sendiri harus hati-hati juga, ya"


Aku mengangguk meresponnya.


"Kita istirahat?" Ajak mas Bima. Sorotnya yang lembut, membuatku berani mengunci netranya.


"Iya"


Sebelum merebahkan diri, mas Bima mengecup kening, mata, lalu bergeser ke bibir.


****


Paginya, aku berangkat ke kantor seperti biasa, di antar oleh mas Bima karena nanti sore kami akan langsung ke rumah ibu.


Setibanya di ruang kerjaku, aku terdiam dengan raut heran. Sepasang irisku tak teralihkan menatap sebuah kartu yang berada di atas sekotak jajanan, jajanan pasar ala-ala pedesaan.


Selamat menikmati jajanan pasar kesukaanmu!


Hanya itu yang tertulis di kartu ucapan.


Saat ku buka, isinya ada klepon, lemper, kue bikang, dan ote-ote porong. Jajanan ini adalah jajanan yang sering ku makan saat di pagi hari. Ibu selalu membelikannya untukku, Yunus dan juga ayah.


Tapi siapa yang mengirimnya? Kartu ucapannya tak ada nama si pengirim.


Aku mengedarkan pandangan berharap ada seseorang yang tahu tentang kejutan di pagi ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2