Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 57 ~


__ADS_3

Kedua wanita itu menatapku dengan sorot tak suka, bahkan bisa di katakan sebuah tatapan yang sarat akan kebencian mendalam.


Aku sendiri tak peduli dengan tatapan mereka. Mau setajam apa mereka memicingkan mata, aku tak takut, sebab aku memiliki perisai. Perisaiku adalah cintanya Lala dan mas Bima.


Selama cinta mereka kuat, maka akan ku pastikan akupun akan bisa menerjang segala macam badai yang menerpaku.


"Hai sayangnya onty" Wajah Gesya yang tadinya sinis, persekian detik berubah riang ketika ia mengalihkan pandangan ke wajah Lala. Wanita itu lantas menciumi pipi keponakannya penuh gemas.


"Hai juga onty"


"Salim dulu, nak" sambarku menginterupsi kecupan Gesya.


Lalapun langsung menuruti perintahku, dia mengecup punggung tangan Gesya sekaligus mbak Hana.


"Apa kabar sayang?" Tanya mbak Hana lembut, lengkap dengan senyum terkembang.


Aku yang sudah duduk berseberangan dengan kedua wanita itu, hanya bisa diam sambil menatap putri kecilku yang saat ini duduk di atas pangkuan ibu yang melahirkannya.


Cemburu?


Entah kenapa seakan aku tak terima kalau Lala semakin dekat dengan mbak Hana. Padahal dia adalah ibu kandungnya, tapi aku justru merasa tak suka dengan pemandangan di hadapanku ini.


"Hari ini onty mau ajak Lala jalan-jalan, dan Lala harus mau. Kita bersenang-senang dengan Naura juga, okay sayang"


Setelah mendengar ucapan Gesya, pandangan Lala langsung terlempar ke arahku.

__ADS_1


Aku tersenyum begitu membalas tatapan Lala.


"Boleh bun?"


"Tanya ke ayah ya" jawabku. Sejujurnya aku tak ingin Lala di bawa oleh onty dan ibunya, tapi biar bagaimanapun, tak ada hak bagiku untuk melarangnya.


Salah satu dari wanita itu adalah ibunya, rasanya aneh jika aku tak mengijinkan Lala ikut mereka.


"Kenapa harus ijin ke mas Bima, Lala keponakanku, disini juga ada ibunya, apa seorang ibu harus meminta ijin untuk membawa putrinya sendiri?"


"Ibunya siapa onty?"


Gesya tersenyum sambil memindai pandangannya ke wajah imut Lala.


"Ibunya Naura sayang"


"Lala, ajak Naura main dulu ya nak, bunda mau bicara sama onty Gesya"


"Bicara orang dewasa ya bun?"


"Iya sayang"


Sesaat setelah aku menyahutnya, Lala turun dari pangkuan Hana.


Takut kalau Lala akan mendengar hal yang tidak aku inginkan, akupun meminta Lala dan Naura untuk main di ruang tengah. Apalagi jika melihat raut tak bersahabat dari Gesya, aku khawatir kalau Lala akan berfikir aku dan Gesya sedang bertengkar.

__ADS_1


Setelah Lala dan Naura tak lagi terlihat, aku kembali bersuara.


"Maaf, apapun itu harus seijin mas Bima. Karena beliau yang menentukan Lala akan pergi atau tidak"


"Tapi ingat, Arimbi" Kata Hana lirih, tapi penuh penekanan. "Jika kalian tak mengijinkanku mengajak Lala, itu artinya kalian mempersulitku menemui putriku"


"Maaf, kami tidak bermaksud mempersulit kalian untuk membawa Lala, tapi ada ayahnya yang berhak memberinya ijin, ada etika karena selama ini Lala dalam pengawasan mas Bima"


"Ingat loh Bi, jangan mentang-mentang statusmu itu istri mas Bima, lantas kamu seenaknya bicara seperti itu padaku terlebih pada mbak Hana. Kamu itu istri di atas kertas, jika Lala tidak bersama kalian lagi, maka tamatlah pernikahan pura-pura kalian"


Sabar, aku harus bisa lebih tenang menghadapi Gesya yang memiliki seabrek kalimat untuk mengolokku.


"Akan ku panggilkan mas Bima. Kalian bisa meminta ijin sendiri padanya"


Usai mengatakan itu, aku bangkit lalu melangkah tanpa menunggu respon dari kedua wanita yang memasang wajah masam.


Selang sekitar dua menit, aku kembali dengan membawa mas Bima yang menggandeng tanganku.


Canggung karena mas Bima tak melepas gandengan tanganku saat langkah kami di ruang tamu, Gesya jelas tak akan suka jika melihat jemari kami yang saling menyatu.


Dia tersenyum menatap mas Bima, senyum yang ku rasakan begitu tulus. Senyum yang tak pernah ia tunjukkan padaku.


Hingga kemudian senyumnya memudar bersamaan dengan kedua matanya yang menatap tanganku dan tangan mas Bima.


Gesya ... ku yakini dia tengah kesusahan menelan ludahnya sendiri, sementara tatapannya nanar penuh dengan amarah yang meletup-letup.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2