Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 69 ~


__ADS_3

Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada yang terlewat tentang aktivitas yang biasa aku dan Lala lakukan. Lala ke sekolah, sementara aku ke kantor.


Yang membedakan adalah tak ada mas Bima yang menemani kegiatan kami selama hampir satu minggu ini.


Karena kesibukannya pula, mas Bima pun jarang sekali menelfon, membuatku setiap hari harus mempersiapkan kalimat terjitu untuk memberikan pengertian pada anak gadisku.


"Ayah nggak telfon lagi bun?" Lala bertanya sesaat setelah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Belum nak"


"Ayah kok sekarang telfonnya jarang-jarang, ayah udah nggak sayang sama Lala ya?"


"Loh, kok Lala ngomong gitu?"


"Habisnya ayah telfonnya pas Lala udah bubuk"


"Ayahnya sibuk nak, Lala yang sabar ya, doain ayah terus biar cepat pulang. Kan Lala dengar sendiri, kemarin ayah kasih pesan ke Lala sambil nangis. Ayah sayang banget sama Lala, ayah juga kangen, tapi ayah harus cari uang biar Lala bisa sekolah terus" Ku raih gelas karakter milik Lala lalu mendekatkan ke mulutnya. "Minum dulu nak"


Anak itupun menurut, mulai meneguk pelan air di dalam gelas.


"Lala harus sayang sama ayah ya, jadi anak baik yang nurut sama ayah"


Lala mengangguk sambil terus meneguk air minum.


Sejujurnya aku kasihan sama Lala, tapi mau bagaimana lagi, mas Bima tidak bisa memprioritaskan kami saat ini.


Aku sendiri merasa harap-harap cemas dengan keselamatannya. Meski berusaha tenang, tapi tetap saja rasa takut tersisip di benakku.


Beberapa menit berlalu begitu saja, aku masih meratapi kesedihan Lala sambil terus menghabiskan sarapanku.


"Maemnya sudah bun"


"Sudah kenyang?"


"Sudah" sahut Lala singkat, kemudian meraih gelas dan meminum isinya.


"Lala tunggu di ruang tengah, bunda ambil tas sama kunci mobil di kamar"


"Iya"


"Satu lagi, nak"


Lala menatapku penuh serius. "Apa?"


"Nanti bunda nggak bisa jenguk Lala ke sekolah"


"Kenapa?"


"Bunda sibuk di kantor, tapi bunda janji, nanti bunda datang lebih awal jemput Lalanya, terus malamnya kita main"


"Ayah sibuk, bunda juga sibuk" Lirihnya sendu.


"Tapi ayah sama bunda sayang Lala"


"Iya bun, Lala ngerti" Anak itu lantas turun dari kursi dan melangkah meninggalkan area meja makan.


Aku yakin, mood Lala pasti memburuk. Tapi hari ini aku memang benar-benar tidak bisa jenguk Lala, aku akan datang ke pengadilan untuk mewakili mas Bima. Mendengarkan alasan mbak Hana ingin mengambil Lala dari


kami.


Mbak Nining yang ikut sarapan dengan kami hanya diam menyimak.


"Ning, saya berangkat dulu, jagain rumah ya, nanti kalau jamnya makan siang tolong kamu siapkan makan siang buat mas Jim, biar aku nanti nggak perlu order makanan dari luar"


"Baik bu"


Ku rasa Nining cukup paham, dia belajar dari bik Nani yang sudah bekerja pada mami sejak mas Bima kecil.

__ADS_1


"Makasih Ning. Saya tinggal dulu"


"Iya bu sama-sama. Hati-hati di jalan"


****


Aku janjian dengan kak Rosa beserta timnya di pengadilan negri.


Setelah mengantar Lala ke sekolah, aku akan ke kantor sebentar setelah itu ijin untuk menghadiri sidang.


Karena sidang akan di laksanakan pada pukul sepuluh, aku bisa menuntaskan pekerjaan kantor terlebih dulu. Tapi alih-alih pekerjaanku berkurang, justru aku tak bisa menyelesaikan secepatnya, sebab pikiranku benar-benar kacau. Otakku terus saja memikirkan kemungkinan terburuk mengenai hasil sidang nanti.


Sampai waktu menunjukkan pukul 9:40 AM, aku menyudahi pekerjaanku dan ku limpahkan pada Riska. Kami memang terbiasa melimpahkan pekerjaan kami dengan maksud saling membantu. Meski tidak sepenuhnya bisa terselesaikan, setidaknya ada yang mewakili mengerjakan tugas kami. Begitu juga dengan Riska, seandainya dia ada keperluan, akulah yang di mintai pertolongan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan karena kami sudah terbiasa melakukan pekerjaan mengenai laporan keuangan negara, kami tidak merasa kesulitan ataupun merasa tidak bisa. Ibarat sesuatu yang di lakukan setiap hari, membuat kami mahir melakukannya.


Jarak pengadilan dengan kantorku hanya di tempuh sekitar sepuluh menit, sebab hampir kantor-kantor negara berada di lingkup kabupaten. Mulai dari kantor pajak tanah, Samsat, kantor kabupaten, polres, rumah sakit umum, dan juga pengadilan agama serta pengadilan negri.


Dan saat ini aku sedang duduk di dalam sebuah ruangan yang membuatku sedikit gugup dan was-was. Ruangan sidang untuk mewakili mas Bima mempertahankan Lala agar tetap berada dalam genggaman kami.


Disini, aku hanya bersaksi atas tuduhan dari pihak mbak Hana yang di dampingi oleh pengacara serta adiknya.


Dari raut wajah mbak Hana dan Gesya, justru Gesyalah yang lebih ngotot agar Lala beralih di asuh oleh mbak Hana.


Tapi entahlah, itu hanya dugaanku saja.


"Saya keberatan jika anak saya di asuh oleh sepasang suami istri yang kerjaannya hampir setiap hari bertengkar, pak Hakim"


Aku tercengang mendengar penuturan mbak Hana. Bagaimana bisa dia bilang seperti itu padahal selama ini dia tinggal di luar negri.


"Bahkan selama dua tahun menikah, mereka tidur terpisah, apa jadinya anak saya kalau di asuh oleh orang tua yang memiliki hubungan tidak sehat, jelas pasti akan berpengaruh buruk pada psikis anak saya kedepannya"


"Bagaimana anda tahu mengenai hubungan rumah tangga klien saya, sedangkan anda tinggal di luar negri, mbak Hana?" pertanyaan kak Rosa mewakili pertanyaanku tadi.


"Saya dengar sendiri dari anak saya, adik sayalah yang sudah di ajak bicara sama Lala, adik saya juga merekam pembicaraan antara adik saya dengan anak saya"


Jantungku mendadak meronta-ronta. Benar, ternyata selama ini Gesya memanfaatkan Lala untuk di mintai keterangan. Menggali informasi tentang rumah tangga kami.


Apakah dia merasa senang dengan keadaan rumah tanggaku yang buruk?


Apa dia khawatir jika hubunganku dengan mas Bima ada perubahan ke arah yang lebih baik?


"Saya minta rekaman itu di putar" Ujar hakim perempuan bernama Andara. Aku tahu dari nickname yang terpampang di dada sebelah kanan.


Selang satu menit, kami sama-sama mendengar suara Lala.


"Iya onty, Lala sedih ayah sama bunda berantem, jadinya Lala sakit"


"Memangnya bunda sama ayah berantem kenapa?"


"Lala nggak tahu, tapi Lala dengar kalau bunda mau pergi. Lala takut onty"


"Lala jangan takut kan ada onty. Oh ya, apa ayah sama bunda bubuknya masih pisah-pisah?"


"Masih onty"


"Ya sudah nggak apa-apa, Lala jangan sedih lagi, ada onty yang akan temani Lala"


Cuplikan rekaman itu, seolah memberatkan kami untuk mempertahankan putri kami.


Setelah selesai mendengar cerita Lala melalui rekaman suara, aku di minta oleh hakim untuk menjelaskan kondisi di rumah kami.


"Tidak ada kekerasan dalam rumah tangga kami, pak" ungkapku. Memang pada kenyataannya seperti itu. "Suami istri itu wajar dengan pertengkaran, tapi kami selalu bisa menutupinya dari putri kami. Kami sendiri tidak ingin membuat psikis anak kami tergoncang. Meski kami berusaha keras agar pertengkaran tak di ketahui oleh anak-anak, tapi apa daya kami jika mereka mendadak memergokinya. Dan saya rasa tidak hanya rumah tangga saya yang pernah mengalami ini, pasangan lain pasti juga pernah mengalami apa yang kami alami. Tapi setelah itu, kami pun berusaha menenangkan putri kami bahwa apa yang dia lihat, tidak sepenuhnya mengarah pada kekerasan"


"Tapi jika itu berlarut-larut" potong mbak Hana kilat. "Apalagi sampai dua tahun, lama-lama anak saya pasti trauma"


"Tapi itu tidak benar, pak. Saya dan suami berusaha membuat putri kami merasa terlindungi dan bahagia"


"Tapi kenapa anak saya bisa sampai masuk rumah sakit?" Tatapan mbak Hana begitu murka. Matanya bahkan memerah dan berkaca-kaca, sudah siap meluncurkan lelehan bening dari pelupuk matanya yang di hiasi bulu mata palsu.

__ADS_1


"Saya sebagai ibu yang melahirkannya, merasa miris mendengar cerita itu dari adik saya" Sorotnya kian tajam, seperti tengah membendung kebencian padaku.


"Saya tidak terima pak hakim" tambahnya di iringi terjangan air yang meluncur membasahi pipinya.


"Tapi rumah tangga klien saya baik-baik saja, pak hakim. Sejauh ini tidak ada rasa trauma dalam diri anak itu, dia bahkan sangat menyayangi ibu sambungnya, menikmati kebersamaannya bersama ayah dan bundanya" Kak Rosa berusaha mengeluarkan pendapatnya.


"Dia memang menyayanginya, tapi bagaimana kalau hubungannya dengan suaminya terus memburuk? Itu sudah pasti akan membawa dampak yang tidak baik untuk putri dari klien saya" Pengacara mbak Hana berusaha menangkis pembelaan dari kak Rosa.


"Sudah saya katakan rumah tangga klien saya baik-baik saja"


"Lalu bagaimana dengan kalimat anak itu yang mengatakan ayah bundanya tidur di kamar yang berbeda? Anda juga tadi mendengarnya, bukan?"


"Itu hanya sebuah narasi dari anak kecil" sergah kak Rosa menguatkan argumennya. "Pada kenyataannya klien saya tidur di kamar yang sama, hubungan mereka sama seperti suami istri pada umumnya"


"Bisa saja itu hanya pura-pura, karena kami berniat mengambil alih hak asuhnya"


"Pura-pura anda bilang?" Kak Rosa seperti kehabisan kesabaran, tampak sekali dari gurat wajahnya yang memanas. "Sebuah hubungan yang sakral, apa pantas, tuntuk di buat main-main?"


"Ya, tentu hanya pak Bima dan bu Arimbi yang tahu seberapa buruknya pernikahan mereka"


Jujur, aku pusing mendengar kalimat-kalimat mereka.


Aku pun merasa malu. Aib yang seharusnya hanya aku dan mas Bima yang tahu, aib yang sudah berusaha ku tutup serapat mungkin dari mata publik, hari ini telinga mereka justru mendengarnya. Dan bagaimana bisa mereka dengan tanpa malu mengumbar aib rumah tangga orang lain demi sebuah misi? Misi untuk merebut seorang anak kecil?


Aku sendiri merasa tersudut dengan argumentasi mereka. Ternyata pihak mbak Hana menjadikan rumah tanggaku yang toxic dua tahun lalu sebagai alasan merebut Lala dari kami


Sebuah ketukan palu membuat kami terdiam, aku yang tengah melamun langsung tersadar dan kembali berkonsentrasi.


"Mendengar semua yang sudah di sampaikan pada sidang hari ini" Kata hakim ketua dengan nada tegas. "Kami akan mengevaluasi untuk memberikan putusan terbaik. Dan untuk sidang selanjutnya, akan di adakan tujuh hari mendatang dengan agenda menghadirkan anak yang di sengketakan"


Satu persatu kami keluar dari ruang sidang, aku yang merasa pusing dan mual, langsung mengarahkan kaki munuju toilet.


Aku berusaha memuntahkan isi dalam perutku namun tak bisa, hanya cairan yang mampu ku keluarkan.


Banyaknya pikiran yang terus bergelayut manja dalam diriku, sekaligus mampu memporak-porandakan isi kepala, membuat perutku seakan menolak makannan yang masuk.


Menghela napas panjang, aku mengelap mulutku menggunakan tisu. Tiba-tiba dari pantulan cermin, aku mendapati sosok Gesya berada di balik punggungku tengah tersenyum mengejek.


Wanita itu berdiri di sampingku, kemudian membuka kran air dan mencuci tangannya.


"Ini baru cuplikannya, Arimbi!! Film yang sebenarnya belum di mulai" Pungkasnya Sarkas dan terdengar mengancam.


"Aku pasti bisa merebut kembali perhatian Lala dan mas Bima"


Usai mengatakan itu, dia menghadapku, lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Aku pasti akan membuat mas Bima menikahiku" Bisiknya.


Reflek tubuhku ku putar menghadap ke samping kanan.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku tanpa basa-basi.


Wanita yang masih menampilkan raut sinis tersenyum penuh arti.


"Tidak seru kalau ku beri tahu sekarang. Yang pasti aku dan mas Bima akan berbagi keringat dan saling memberikan kepuasan"


Hilang kendali, secara spontan aku menampar pipi kirinya. Wanita itu otomatis menoleh ke samping, sementara dadaku bergerak naik turun, nafasku juga berembus tak teratur.


"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang akan kamu rasakan nanti" ucapnya tajam, sambil memegangi pipinya yang ku tampar tadi. "Akan ku anggap tamparanmu ini adalah sebuah pelampiasan atas ketidakmampuanmu melawanku"


Dia tersenyum smirk sebelum kemudian melangkah meninggalkanku yang di buat mematung.


Sambil berusaha mengatur nafas dan detak jantungku, aku berjalan dengan tertatih keluar dari toilet. Namun di tengah-tengah langkahku yang kian dekat dengan kak Rosa, tiba-tiba pandanganku mengabur.


Sepersekian detik aku menghentikan kakiku untuk berpegangan pada dinding.


Mengerjapkan mata, tiba-tiba semua tampak menyala terang kemerahan dengan setengah kesadaranku yang tidak bisa lagi ku kendalikan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2