
Gesya's pov.
Aku tiba di lapas tempat si bodoh menginap.
Ya, aku katakan pria itu bodoh karena baru saja melakukan kejahatan sekali, dia langsung dengan mudah bisa di jebloskan ke penjara oleh mas Bima. Padahal dia adalah seorang pengacara, tapi cerobohnya benar-benar nggak ketulungan.
Mas Bima, pria yang dari dulu ingin aku miliki bahkan sejak menjadi suaminya kakakku sendiri tapi tak bisa, hingga keinginan itu kini berubah menjadi tidak ingin sama sekali dan justru keinginanku saat ini adalah memporak-porandakan hati istrinya.
Dewi Arimbi, wanita yang berani merendahkanku dan juga merebut hati keponakanku dengan sangat sempurna. Karena perasaanku terhadap mas Bima tak terbalaskan, maka aku sendiri yang akan membalas perasaanku ini dengan mengacaukan hidup orang yang mas Bima cintai.
"Ada apa kamu menemuiku?" Tanya Yoga sarkas.
Kami duduk di kursi tempat biasa untuk membesuk para tahanan.
"Kapan kamu bebas?" tanyaku balik, alih-alih menjawab pertanyaannya.
"Ssttt... Jangan keras-keras!" timpal pria itu melirik ke arah kiri, otomatis membuat alisku menukik tajam. "Aku merasa kalau polisi di sini mengawasiku, jadi berhati-hatilah Gey!"
"Apa?"
"Ssttt,,, please Gesya, kontrol nada suaramu"
"Jadi mas Bima juga menyuruh rekannya untuk mengawasi gerak-gerikmu, mas?"
'Hmm" responnya untukku. Di detik berikutnya, Yoga malah memasang raut penuh tanya. Tahu maksud dari ekspresi wajahnya, aku kembali bersuara.
"Aku juga merasa gerak gerikku di awasi oleh orang suruhan Bima"
"Bima pasti mencurigaiku Gey, jadi dia mengawasiku. Hati-hati kamu, jika terbukti Bima pasti akan menghajarmu tanpa ampun"
"Hey! Aku nggak ceroboh sepertimu, nggak ada yang tahu kalau akulah yang sudah meneror Arimbi. Aku sama sekali enggak meninggalkan jejak meski ada cctv yang terpasang di rumahnya"
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Yoga menatapku curiga.
"Tentu saja merubah strategi?"
"Apalagi strategimu?"
"Untuk sementara ini aku akan diam dan nggak melakukan apapun, aku akan mencoba baik-baikin Arimbi, setelah berhasil aku akan kembali mengobrak-abrik hati dan perasaannya, juga pikirannya"
"Caranya?"
"Aku butuh bantuanmu, kamu juga pasti sakit hati sama Bima dan Arimbi kan, dengan kamu membantuku, maka sakit hatimu akan tuntas"
"Bagaimana aku membantumu, aku saja ada disini"
"Tunggu kamu keluar dong"
Setelah ada hening sebentar sebab Yoga tengah berfikir, akhirnya dia setuju. "Okay, aku bantu, tapi jika rencanamu sampai menghilangkan nyawa seperti jebakanmu kemarin, maaf aku nggak bisa. Aku seorang pengacara, aku nggak mau ambil resiko terlalu tinggi"
__ADS_1
"Tenang saja, aku juga nggak mau ambil resiko itu, tapi setidaknya aku nggak gegabah melakukan hal konyol seperti yang kamu lakukan"
"Memangnya apa rencanamu?" Tanya Yoga penasaran.
"Tepat pas kamu keluar kan pas Arimbi lahiran tuh, nah kita buat kesalah pahaman antara Arimbi dengan Bima yang nantinya mampu memantik emosionalnya Arimbi, atau akan membuat Arimbi ngamuk, sedih, juga kecewa. Kamu tahu sendiri kan orang kalau habis melahirkan otaknya gampang di racuni, contohnya mbak Hana. Tahulah gimana dulu aku mengacaukan isi kepala kakakku sampai-sampai dia kemakan omonganku, dan akhirnya selingkuh deh sama kakakmu"
"Dan selain kamu mempengaruhi serta menghasut kakakmu, kamu juga sering merencanakan pertemuan mas Yudha dengan Hana. Otomatislah mereka terjebak cinta. Apalagi Hana yang haus belaian Bima, jelas bisa dengan mudah terkontaminasi"
"Itu memang bagian dari rencanaku. Dan rencanaku untuk Arimbi kali ini akan ku buat pikirannya kacau"
Yoga mengerutkan dahi sepertinya dia belum memahami penjelasanku.
"Orang kalau habis melahirkan, hati dan fikirannya menjadi sangat sensitive, dia juga mengalami perubahan mood yang sangat drastis, jika tidak bisa mengendalikannya, mereka pasti akan mengalami baby bloes, di situlah kita nanti akan menggoncang hati dan pikirannya, dan akhirnya stres deh,"
"Gila kamu Gey, segitunya ingin dapatkan Bima"
"Asal kamu tahu" potongku cepat. "Aku sudah nggak minat sama sersan itu"
"Masa?" Yoga memicingkan matanya. "Apa sudah ada pria lain yang membuatmu klepek-klepek?"
"Belum ada, dan nggak lama lagi aku pasti akan dapatkan pria yang lebih segalanya dari Bima"
"Kalau rencanamu gagal? Maksudku, menurut kacamataku Arimbi bukan wanita yang mudah terhasut, pendiriannya benar-benar kuat dan tegas, nggak mudah goyah"
"Kamu belum tahu kelemahan Arimbi, jadi kamu bisa bilang begitu, karena yang kamu lihat adalah sepintas dari apa yang ada pada wanita itu. Kamu nggak tahu kalau dia suka sekali berspekulasi negatif, menerka-nerka hal yang belum tentu kebenarannya serta dia mudah menyimpulkan sesuatu tanpa berfikir" Kataku dengan seringai licik. "Contohnya pas aku bikin dia salah paham kalau aku sudah tidur dengan suaminya, tahu apa yang dia lakukan?"
"Apa?" Kilat mata Yoga begitu ingin tahu.
"Oh ya?"
"Hmm" jawabku mengangguk.
"Jadi nanti setelah aku baikin dia, dan dia percaya, maka di situ secara nggak langsung kita buat kesalahpahaman"
"Kesalahpahaman yang seperti apa?"
"Kita sewa perempuan cantik yang masih muda, nanti seolah-olah wanita itu di tabrak oleh mobil Bima mungkin, terus buat seakan-akan Bima menolongnya, setelah itu kita ambil video atau potonya saat Bima menolong wanita yang dia tabrak. Harapanku wanita itu bisa membuat Bima memasukkan dia ke mobilnya untuk di bawa ke rumah sakit atau gimana, jadi seolah-olah Bima bermain wanita. Atau bisa juga rencana lain. Itu salah satu rencanaky, tapi entahlah belum aku putuskan dan aku rancang"
"Akan aku fikirkan sekali lagi dan matang-matang" lanjutku. "Aku masih memiliki waktu kurang lebih enam bulan sampai Arimbi melahirkan. Jadi santai aja, fokusku saat ini adalah pura-pura baik di depan mereka, dan menjalin hubungan baik juga"
"Kalau seandainya rencanamu gagal" kata Yoga seolah mengejek bahkan meremehkanku.
"Aku yakin nggak akan gagal, karena rencanaku memang jarang sekali gagal"
"Andai gagal!" Tekan Yoga sekali lagi.
"Aku bersedia menikahimu"
Yoga berdecak lengkap dengan senyum miring. "Ckk.. Kamu serius?"
__ADS_1
"Apa aku pernah main-main?" sahutku dengan ekspresi seakan melawannya.
"Tepati itu?"
"Memangnya kamu mau menikahiku?" tanyaku.
"Tidak masalah, jika bosan denganmu bisa ku ceraikan, iya kan?"
"Ternyata kamu lebih licik dariku" Balasku mencebik kesal. "Memangnya aku mainanmu"
"Lah kamu sendiri yang janji, aku si mau-mau aja menikahi wanita sepertimu"
"Jangan halu bisa segampang itu menikahiku, aku ini wanita berkelas, pintar dan cantik, tentu saja ada syarat jika ingin menikahiku"
"Halah kamu sendiri ngiler sama duda anak satu, sok pilih-pilih"
"Itu dulu, sekarang nggak lagi"
Obrolan kami di interupsi oleh salah satu petugas yang mengatakan kalau waktu besuk sudah habis. Aku lantas buru-buru mengakhiri perbincangan kami.
"Kapan-kapan aku datang lagi. Kamu mau di bawain apa untuk next time"
"Bawa hatimu saja" ledeknya tanpa ragu.
"Aku serius bodoh"
"Aku juga serius"
"Apa gara-gara aku bilang bersedia menikahimu, jadi kamu makin berani mengejekku"
Bukannya meresponku, pria itu malah mengusirku.
"Pergi sana, aku muak melihat wajahmu"
"Aku lebih muak" Sahutku kesal.
"Salam buat Nauraku. Makasih sudah membantuku jagain dan hibur putri kesayanganku"
"Kamu hutang banyak padaku, dan kamu harus membayar mahal untuk itu"
"Okay, akan aku nikahi kamu sebagai bentuk balas budi"
"Ogah"
Pria itu tersenyum tanpa rasa bersalah. Aku sendiri entah kenapa mendadak berdebar-debar.
Kami memang sering sekali bercanda dan terlibat kerja sama, tapi candaannya kali ini benar-benar membuatku kikuk sampai tak bisa berkata-kata.
Bersambung..
__ADS_1
Udah pengin cepet2 namatin, tapi kesibukan dunia nyata sedang terus bergejolak.
Voment yuk