Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 60 ~


__ADS_3

Aku membawa Lala ke dapur. Masih dengan menggendongnya menggunakan salah satu tanganku, satu tangan lainnya mengisi gelas dengan air mineral.


Setelah gelasnya terisi penuh, aku duduk memangku Lala yang langsung ku hadapkan padaku "Lala mau minum?"


Melihat kepalanya mengangguk, aku mendekatkan gelas yang tadi ku isi air ke mulut Lala.


"Minum dulu ya, Lala pasti haus"


Hening, hanya ada suara cegukan Lala yang tengah menelan air.


"Pelan-pelan, nak" Ingatku sambil mengusap kepalanya saat suara meneguk air terdengar terburu-buru.


Setelah sekian detik berlalu, air di dalam gelas masih tersisa setengahnya, aku lantas mengusap sudut bibirnya yang basah setelah meletakkan gelas di atas meja.


Beberapa saat kemudian isakan Lala mulai reda, namun nafasnya masih tersengal ketika menarik nafas panjang.


Aku mengecup pucuk kepalanya lembut.


"Mau bobo?"


Untuk kesekian kalinya kepala Lala mengangguk, dan aku langsung bangkit dari dudukku.


"Kita ke kamar ayah, ya!"


"Eungh" sahutnya yang kemudian langsung di sambung dengan kalimat berikutnya. "Ay-yah mana bun?"


"Ayah masih di luar, nak. Lagi ngobrol sama onty Hana, kenapa?"


Lala meresponku dengan bahasa tubuh, menggelengkan kepala.


Ketika langkahku sudah berada di dalam kamar, pelan ku rebahkan putriku di atas tempat tidur. Karena aku sendiri juga merindukannya, akupun turut merebahkan diri di sampingnya


Posisi yang kami sukai sebenarnya, tidur miring dengan saling berhadap-hadapan.


Ku peluk tubuh mungil Lala sembari mengusap belakang kepalanya berharap gadis kecilku bisa segera lebih tenang.


Dia yang masih tersendat ketika mengambil napas panjang, sungguh membuat hatiku teriris.

__ADS_1


Ini kedua kalinya aku melihat putriku menangis seperti ini. Pertama, saat ku tinggal pergi ke Semarang untuk urusan pekerjaan. Begitu pulang, Lala yang terus mencariku juga menangis histeris begini, Bahkan sesenggukannya baru bisa menghilang setelah beberapa jam.


Hampir sepuluh menit dalam posisi tak berubah, tiba-tiba mas Bima memasuki kamar, pandangan kami langsung bersirobok dan mas Bima langsung melangkah mendekat.


Pria itu duduk di samping Lala yang membelakanginya. Dengan melipat satu kaki di atas ranjang, tangannya terulur membelai kepala sang putri.


"Gimana dia?" tanyanya dengan sorot lekat ke arahku.


"Ssttt, Lala baru saja tidur"


"Lalanya nggak ngomong apa-apa?" Nada mas Bima merendah.


"Belum, tapi lebih baik jangan terburu-buru menanyakannya, ya! Takut dia sedih lagi"


Bersamaan dengan anggukan kepala mas Bima, nafas Lala kembali tersengal karena isak.


"Tadi mbak Hana ngomong apa?"


"Benar firasatmu, Bi. Hana bilang ke Lala kalau kamu bukan ibunya, dia juga bilang kalau dialah ibunya"


Anak seusia Lala, tahu apa soal ibu kandung. Ku rasa dia hanya tahu tentang siapa yang bersamanya dan menemaninya selama ini, siapa yang memberikan kasih sayang penuh padanya, dan siapa yang merawat dan mendidiknya? Dia belum mengerti apapun soal ibu yang melahirkannya, yang dia tahu akulah ibunya, akulah yang melahirkannya.


"Mbak Hana bilang apa lagi mas?" tanyaku setelah hening beberapa detik.


"Nggak bilang apa-apa lagi, dia cuma minta maaf karena sudah keceplosan ngomong"


"Aku nggak yakin dia cuma ngomong gitu, dia pasti menakut-nakuti Lala dengan ucapan-ucapannya. Kalau enggak" Kataku menelan ludah. "Nggak mungkin Lala sampai menangis hebat seperti tadi"


"Masa si, Bi?"


"Aku cuma menduga-duga saja si mas"


Mas Bima tiba-tiba melirikku dengan mata memicing.


Dia pasti ilfil dengan kebiasaan burukku yang masih saja berprasangka negative.


Aku tersenyum meringis merespon picingan matanya. Sementara priaku mencebik sebal.

__ADS_1


"Nanti kita pelan-pelan tanya ke Lala" Ucap mas Bima setelah puas melirikku.


"Aku yang tanya, jangan mas"


"Kenapa?" dinginnya datar.


"Pokoknya aku saja yang akan nanya nanti. Mas nggak boleh tanya-tanya. Biasanya mas akan pasang wajah seram, kayak mau ngajak tawuran, takutnya nanti Lala malah ketakutan"


"Kamu menyindirku, Bi?"


"Enggak, kan emang faktanya gitu, wajah mas seram kalau lagi serius"


"Lama-lama ku makan kamu, Bi"


"Ku makan balik kamu, mas"


"Mulai berani sekarang"


"Mulai genit kan, masnya?"


"Ish,," desisnya.


Mas Bima lalu ikut merebahkan diri. Posisi Lala yang berada di tengah-tengah kami, seakan kami berdua menjaga putri kecil kami.


Aku tertegun saat tangan kanan mas Bima mendadak terjulur, kedua mataku persekian detik memindai tangan mas Bima yang tengadah.


Tahu apa maksudnya, akupun menerima uluran tangannya menggunakan tangan kiriku. Detik itu juga tangan kami saling berpegangan.


"Tetap seperti ini ya, Bi! Apapun masalahnya, kita akan selalu bergandengan tangan seperti ini"


Aku mengerjap lengkap dengan seulas senyum.


"Jangan pernah lepas dari genggamanku" Pesan mas Bima yang langsung ku respon dengan anggukan kepala.


Detik berikutnya, pria di depanku mengecup punggung tanganku yang ada dalam genggamannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2