Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 77 ~


__ADS_3

Tak kurang dari lima menit, mas Bima sudah kembali dengan membawa Lala berada dalam gendongannya.


Begitu masuk, ku lihat dahinya tampak mengernyit ketika mendapatiku merebahkan diri di pinggiran tempat tidur, dan kernyitan dahinya itu sudah pasti kalau pria dengan tubuh proporsional merasa keberatan, sebab sebelumnya mas Bima mengatakan agar aku tidur di tengah.


"Kenapa di situ?" tanya mas Bima datar, masih sambil menggendong Lala.


"Biarkan Lala di tengah, dia juga kangen sama mas, pasti nanti akan senang, pas bangun ada ayah di sampingnya"


"Tapi kan kamu juga kangen aku, Bi"


"Loh, kita kan masih satu ranjang"


"Nggak bisa, Lala di pinggir kamu di tengah"


"Nanti Lala jatuh"


"Nanti di kasih bantal sofa di bawahnya" Sergah mas Bima tak terima. "Biasanya juga gitu, nggak jatuh kan?"


"Tengah aja"


"Geser ke tengah!"


"Nggak mau"


"Huufttt"


Ku dengar helaan napas mas Bima yang sedikit berat. Mengalah, akhirnya dia tak lagi protes dengan keputusanku.


Berjalan memutar ranjang, sikapnya malah membuatku terhenyak. Dia merebahkan putrinya di pinggir, lalu melangkah ke arah sofa untuk mengambil bantal.


"Loh kok di pinggir?"


Pria itu tak meresponku, dia sibuk menata bantal di lantai untuk jaga-jaga jika Lala jatuh, maka bantal itu akan menghalaunya supaya tak terlalu sakit.


"Nanti jatuh aku nggak tanggung jawab" gerutuku.


"Ada ayahnya nggak akan jatuh"


Memilih diam sambil memperhatikan mas Bima, dia merebahkan diri di tengah dengan santainya.


Keningku mengkerut berkali-kali lipat ketika mas Bima memiringkan badannya menghadapku seraya berkata.


"Begini lebih baik, iya kan?" Pria datar ini lantas menaik turunkan kedua alisnya. "Kiri peluk kamu, kanan peluk Lala"


"Kok gi_"


"Keputusanku bersifat mutlak, tak bisa di ganggu gugat" Potongnya seolah tanpa cela. "Dari pada waktumu terbuang buat protes, mending bubuk manis, okay!" Tambahnya kali ini sambil melingkarkan tangan di atas perutku kemudian menarik tubuhku agar merapat padanya.


"Kalau gini kita sama-sama untung, Bi. Kita bisa peluk-pelukan, iya nggak?"


Kepalaku sedikit tengadah "Jangan lupa Lala di awasin"


"Kamu tenang saja" Sahutnya yang kemudian mengecup keningku singkat.


Aku beringsut, mempererat lingkaran tanganku di pinggangnya. Dalam posisi seperti ini, aku bisa dengan bebas menghirup wangi tubuhnya yang menenangkan.


"Tangannya jangan usil, mas"


Dia terkekeh pelan. "Maaf!" Ucapnya, menghentikan gerakan liar di balik punggungku.


Maka, nikmat mana lagi yang aku dustakan? Setiap apa yang sudah ku lalui, bukan hanya mengajarkanku untuk sabar dan ikhlas, tapi juga mengingatkanku agar selalu mensyukuri nikmatnya.


Hingga lewat bermenit-menit, aku mendengar dengkuran teratur dari mas Bima. Itu artinya priaku sudah termakan oleh buaian mimpi indahnya. Aku yang belum bisa memejamkan mata karena tadi sudah sempat terlelap, mencermati wajah mas Bima yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


Priaku tetap tampan meski ada sesuatu yang tumbuh di area atas mulut serta dagunya.


Besok pagi, aku yakin rambut tipis ini sudah lenyap, dia paling risi kalau harus memelihara kumis, cambang ataupun jenggot.


Puas menatap wajahnya, perlahan mataku mulai berat, dan pelan kesadaranku pun menghilang entah kemana.


Sampai waktu bergulir, samar aku mendengar suara adzan subuh.

__ADS_1


Dengan mata yang masih menyipit, aku berusaha mengumpulkan puing-puing kesadaranku yang berserakan.


Butuh sekitar lima menit untuk aku menyadari posisi tidurku saat ini. Aku dan mas Bima yang sebelumnya tidur dalam posisi berpelukan, ketika aku membuka mata sepenuhnya, tahu-tahu dia sudah beralih memeluk putrinya dengan membelakangiku.


Aku tersenyum melihat bagaimana pria ini memeluk sang putri dalam tidurnya. Lala pasti berjingkrak kegirangan saat bangun ayahnya sudah pulang.


Pelan, aku mencoba membangunkan mas Bima untuk melakukan sholat subuh berjamaah. Sebenarnya aku tak ingin mengganggunya, tapi sebagai umat muslim mau tak mau aku harus membangunkannya.


"Sholat subuh dulu mas, nanti bisa tidur lagi"


Pria itu menggeliat pelan.


"Memangnya jam berapa sekarang?" Tanyanya parau.


"Setengah lima kurang sepuluh menit"


"Kamu bangunin aku buat sholat, apa buat main-main" katanya yang tiba-tiba sudah menghadapku dan memelukku.


"Sholat lah"


"Yakin?" Dia menahan tubuhku yang hendak bangun untuk duduk.


"Iya"


"Okay, kita sholat sekarang"


Detik berikutnya kami sama-sama melangkah menuju kamar mandi.


Setelah beberapa saat berlalu, usai sholat mas Bima menggandeng tanganku keluar dari kamar.


"Mau ke mana mas?" tanyaku heran.


"Kamar atas"


"Mau ngapain?"


"Jangan sok polos kamu"


"Yakin nggak paham?"


"Ke dapur dulu ya, haus" ujarku mengalihkan topik.


Mas Bima yang berjalan satu langkah di depanku mengarahkan kakinya ke ruang makan.


Aku menuangkan dua gelas air putih, satu untukku, satu lainnya untuk mas Bima.


"Sudah kan?" Air di gelasnya sudah habis terminum dengan satu kali tegukan. "Kita tuntaskan rindu di kamarmu"


"Tapi Lala?"


Suaraku bersamaan dengan mas Bima yang tahu-tahu berdiri di depanku. Mengapit tubuhku di antara meja makan dan tubuhnya.


"Dia masih tidur, ini baru pukul lima, bangunnya pasti masih lama-lama. Selagi belum bangun, kita bobo panas sebentar, tuntaskan kangenmu yang banyak-banyak itu"


"Ish" aku mendesis sembari tersenyum mendengar mas Bima bicara seperti Lala.


Tiba-tiba, mas Bima mengambil alih gelas yang ada di tangan kananku lalu meletakkannya di atas meja.


Dia lantas menangkup wajahku dan menatapnya penuh lekat.


"Lihat! Wajahmu terlihat menyedihkan karena menahan rindu"


"Jangan menuduhku, mas juga kangen kan?"


Bukannya menjawab dia malah merundukkan kepala lalu menempelkan bibirnya di bibirku.


Tanganku reflek terangkat memegang kedua pergelangan tangannya.


Hanyut dalam ciuman yang ku rasakan kian dalam, dan tangan mas Bima kian intens menyentuh kulit tubuhku di balik piyama yang ku kenakan, telingaku tiba-tiba menangkap suara gesekan pintu yang menghubungkan antara dapur dengan ruang khusus untuk mencuci dan menjemur baju.


"Astaga!"

__ADS_1


Suara Nining membuatku dan mas Bima terpaksa saling melepas pagutan.


"N-Nining!"


"M-maaf bu, saya kira nggak ada orang" Dengan canggung Nining berjalan melewatiku dan mas Bima. Bola mataku terus memindai tubuhnya hingga wanita itu keluar dari area dapur yang menyatu dengan ruang makan.


"Dia di sini?" mas Bima menautkan kedua alisnya setelah tadi sempat tercenung.


"Iya kan mas sendiri yang memintanya buat temani aku dan Lala"


"Kamu nggak ngomong ada Nining"


"Ku pikir mas sudah tahu"


"Tapi ngapain pagi-pagi begini ke tempat penjemuran?"


"Jemur baju mungkin" Sahutku asal.


"Aku tunggu di kamar atas, kamar kamu" Mas Bima langsung melangkah usai mengatakan itu.


****


Senyumku tak kunjung surut setelah puas melampiaskan rasa rindu kami, bahkan sampai aku selesai mandi dan memasak sarapan.


Senyumku justru semakin lebar ketika melangkah memasuki kamar, aku mendengar celotehan serta pekikan riang anak dan ayah yang tengah bersenda gurau di atas tempat tidur.


Saat aku sudah berada di dalam kamar, keduanya langsung memusatkan perhatian padaku.


"Bundaaa"


"Selamat pagi" Aku tersenyum, berjalan ke arah jendela untuk membuka korden sekalian jendela.


"Tadi Lala bubuk di peluk-peluk ayah!"


"Oh ya?" aku menoleh sekilas sambil mengikatkan tali pada korden. Rambut Lala masih terlihat berantakan, tapi wajah ayunya justru tampak semakin jelas.


"Iya, pas Lala buka mata, ayah lagi merem sambil peluk Lala"


"Senang nggak di peluk ayah?" tanyaku menghampirinya.


"Senang dong"


"Senang banyak?"


"Banyak banyak banyak, bunda" Riang Lala lengkap dengan senyum terkembang.


"Mandi dulu yuk!"


"Tapi masih kangen ayah"


"Tapi sudah siang, Lala harus sekolah, kan?" ucap mas Bima menyela kemudian mendudukkan Lala di atas perutnya. Sementara aku duduk di tepi ranjang.


"Mandinya cepat-cepat ya bun"


"Kok cepat-cepat, nggak bersih nanti"


"Nanti ayah pergi"


"Sudah sana mandi dulu" Sambar mas Bima. "Ayah nggak akan kemana-mana"


"Janji ya, tungguin Lala mandi"


"Hmm, apa mau mandi sama ayah?"


"Nggak mau" tolak Lala, aku langsung mengangkat tubuhnya untuk ku gendong lalu mencium pipinya dengan gemas.


"Mandi yang bersih sama bunda, nanti di antar ayah ke sekolah" kata mas Bima yang langsung di iyakan oleh Lala.


Bagiku pagi ini sangatlah sempurna, apalagi akan ada malaikat kecil yang sebentar lagi hadir mengisi hari-hari kami.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2