Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 38 ~


__ADS_3

"Tapi mas nggak harus bilang kalau kita masih tidur terpisah, kan" Lirihku mengutarakan keberatan.


"Aku hanya mengatakan sekali dan itu dulu"


"Lalu kenapa dia tahu soal kita yang nggak sekamar sampai sekarang?"


Mas Bima mengedikkan bahunya.


"Jangan bohong!" Aku menoleh ke samping kanan.


"Terserah mau percaya atau tidak"


"Mas nggak berusaha melakukan sesuatu biar aku percaya, begitu?"


"Untuk apa? Setelah aku membuktikan soal kejadian di hotel, apa kamu meminta maaf padaku karena sudah menuduhku tidur dengannya?"


Aku tergagap. Ya aku memang belum minta maaf. Tapi apa aku salah? Yang salah kan Gesya karena sudah memberi informasi yang membuatku kesal.


"Kenapa diam?" cicit mas Bima.


Aku menelan ludah.


Setelah ku pikir-pikir, aku memang tak pernah bisa menang melawannya.


"Apa Lala tersangkanya?" selidikku penuh curiga.


"Ckkk" Mas Bima berdecak sambil menumpukan siku kanannya di sisi jendela mobil sebelah kanan, jari jemarinya menutupi sebagian hidung ke bawah sementara satu tangan lainnya memegang roda kemudi "Bahkan kamu mencurigai putrimu"


"Aku bukan mencurigai Lala, aku hanya_"


"Menebak-nebak" Potong mas Bima memenggal kalimatku yang belum tuntas.


Aku selalu saja di buat mati kutu olehnya.


"Apa Gesya bertanya pada Lala?" gumamku menerka-nerka.


Saat aku menyadari ada senyum smirk yang terbit dari sudut bibir mas Bima, aku menatapnya penuh emosi.


"Arimbi, Arimbi. Jiwa kepomu, rasa penasaranmu, serta prasangkamu benar-benar luar biasa. Bisa nggak si, kamu nggak usah bahas omongan orang, kalau suamimu mengatakan tidak, itu artinya tidak, nggak usah berprasangka buruk pada orang lain. Kalau memang iya dia mencari tahu pada Lala, ya sudah biarkan saja. Asal kamu nggak terpengaruh dengan ucapannya, semua akan baik-baik saja, kan"


"Bagaimana aku nggak terpengaruh, kalau apa yang di bilang orang lain mengenai masalah rumah tangga kita itu fakta"


"Okay, setelah dari sini, kita buat mulut dia bungkam, boyong semua pakaianmu ke kamarku"


What?? Jantungku tiba-tiba saja berdebar sangat kencang.


Apa maksud mas Bima? Apa dia serius? Dia mau berbagi lemari denganku? Apa secara tersirat mas Bima mengajakku tidur satu kamar?


No,, kalau mas Bima mengatakannya secara gamblang dan jelas, baru aku percaya, kalau hanya tersirat seperti ini, mungkin saja itu jebakan.

__ADS_1


"Masalah yang kamu hadapi itu" Kalimat mas Bima membuatku tersadar dari lamunan. "Sebenarnya datang dari pikiranmu sendiri, karena kamu suka sekali menebak-nebak. Coba kamu nggak usah pikirkan orang lain, pikirkan keluargamu saja, hidupmu pasti akan tenang" Tambah mas Bima seakan mengolokku.


"Dan lagi" Katanya memantik sepasang netraku untuk mencermati wajahnya lekat-lekat. "Biasakan mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu menggunakan mulutmu"


Kemudian hening....


Beberapa saat kemudian, aku kembali menyerukkan suaraku.


"Terus mas dapat fotoku dan mas Saka dari siapa? Gesya?"


"Menurutmu?"


"Jadi benar Gesya? Dia yang sudah mengadu domba kita?"


"Silakan menduga-duga, itu kan pekerjaanmu"


"Mas!" Geramku menyentak nafas kasar. "Aku serius"


"Ya terus?" Mas Bima menarik rem tangan sebab terjebak lampu lalu lintas dan seketika mobil berhenti. "Sudah nggak nangis?" Dia menatapku.


Aku hanya bisa diam menanggapi sindirannya seraya meliriknya tajam.


Manusia datar kayak mas Bima memang enaknya di sledding.


"Besok kalau bicara jangan di luar rumah, malu-maluin" Celetuk mas Bima, dia pasti tengah menggodaku.


"Jadi, apa mas cemburu melihat foto itu? kalau tidak salah, tadi malam mas juga bilang bisa tanya ke mas Saka soal berapa kali aku bertemu dengannya"


Tapi baiklah, skor dua kosong.


"Mas cemburu sama mas Saka, kan? Ngaku aja deh"


"Silakan menerka-nerka" Sahutnya melepas rem tangan kemudian menginjak pedal gas, sebab traffic light sudah berubah hijau.


Tanpa sadar, aku menarik sudut bibirku ke kiri.


Kalah lagi.


Pria ini benar-benar membuat emosiku kian memuncak. Bisa-bisanya aku cinta mati padanya.


Mendesah pelan, aku melempar pandangan ke arah kiri. Mencoba menikmati pemandangan di tepian jalan untuk meredakan emosiku.


"Mas" panggilku lirih setelah kami sama-sama tak bersuara.


"Hmm"


"Jangan terlalu cuek"


"Terus?"

__ADS_1


Aku menatap mas Bima dengan sorot tak percaya.


"Apa maksudnya, terus?"


"Ya terus apa lagi komplainmu, utarakan saja"


"Banyakin senyum"


Mas Bima tak lagi merespon. Aku pun tak lagi mengatakan apapun.


Banyak hal yang kami bicarakan, tahu-tahu mobil yang mas Bima kemudikan telah sampai di rumah mami, sebelum menekan klakson agar satpam membukakan gerbang, mas Bima tiba-tiba menaikkan kaki kirinya ke jok mobil lalu melipatnya. Tangan kanannya meraih tisu di atas dashboard.


Tanpa ku duga, pria ini mengusapkan tisu itu pada mataku yang masih sedikit sembab.


"Jangan sampai Lala tahu bundanya nangis, nanti aku yang kena marah. " Katanya dengan tatapan penuh ke bola mataku. "Katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu, jangan di pendam, mengerti?"


"Pada siapa?" tanyaku tanpa sadar.


"Pada Saka" Mas Bima mencebik setelah mengatakan itu.


"Kok ke Saka?"


"Ya terus ke siapa kalau bukan suamimu?"


Tiba-tiba saja kami terjerat kebisuan, kami sama-sama canggung.


Tanpa ku duga, mas Bima mendekatkan wajahnya hingga jarak wajah kami tak kurang dari sejengkal.


Pria itu semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan.


Aku diam, memejamkan mata rapat-rapat seraya menahan napas, merasakan aroma mas Bima dan menormalkan detak jantung yang semakin liar tentunya.


Tik...


Ayahnya Lala menjentikkan jari di keningku.


"Pikiran kamu pasti jorok"


Aku membuka mata, dan seketika langsung gugup sekaligus malu.


Ku pikir mas Bima hendak menciumku tadi.


Saat aku meliriknya, dia tampak tersenyum jahil.


Untuk ke sekian kalinya aku seperti di lempari bom oleh ayahnya Lala.


Dan pikiranku kembali menerka-nerka atas semua ucapan serta sikap mas Bima selama dalam perjalanan tadi.


Aku belum bisa mengambil kesimpulan apakah ini tanda-tanda mas Bima sudah bisa menerimaku.

__ADS_1


Semuanya masih belum jelas.


Bersambung...


__ADS_2