Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 78 ~


__ADS_3

Hari ini sidang mengenai hak asuh anak kembali di laksanakan, dan agendanya adalah memberikan putusan hakim berdasarkan dari sidang-sidang sebelumnya.


Kemarin, pihak pengadilan mengundang mas Bima dan mbak Hana untuk datang ke pengadilan dengan tujuan mediasi, mereka hanya di dampingi oleh pengacara masing-masing, karena mediasi itu khusus teruntuk mas Bima dan mbak Hana selaku orang tua kandung Lala.


Di pertemuan itu, ada mediator yang akan menuntun mereka untuk berdamai demi kepentingan anak.


Karena bagaimanapun, keduanya memiliki hak yang sama dalam mengurus anak kandung mereka.


Mas Bima sendiri menerima saran dari mediator, namun pihak mbak Hana tetap kekeuh ingin merebut hak asuh Lala agar sepenuhnya menjadi tanggung jawab dirinya dan suaminya saat ini.


Mbak Hana terus menguatkan keinginannya dan meyakinkan para hakim bahwa Lala akan hidup dengan baik seperti saat bersama ayahnya, bahkan dia berjanji bahwa kehidupan Lala akan jauh lebih baik sebab tinggal bersama ibu kandungnya. Karena menurut mbak Hana, kasih sayang seorang ibu sambung hanyalah setengah-setengah, dalam tanda kutip tidak sepenuhnya menyayangi anak sambung setulus hati.


Mbak Hana menuturkan jika dirinya khawatir Lala akan di nomor duakan oleh ibu sambungnya, apalagi saat ini sang ibu sambung tengah mengandung.


Mendengar pernyataan mbak Hana, mas Bima bilang padaku dia sempat emosi saat mediasi, karena secara tersirat mbak Hana menuduhku kalau aku bukan ibu yang baik. Padahal selama ini, meski aku bukan ibu kandung, tapi Lala merasa senang, bahkan menganggap kalau akulah ibu yang melahirkannya, sampai-sampai dia ingin tetap tinggal bersamaku dan mas Bima.


Satu bukti bahwa Lala bahagia dan nyaman tinggal bersamaku sesuai dengan yang dia ungkapkan di sidang sebelumnya.


Setelah melalui perjalanan dari kantorku menuju pengadilan, akhirnya mobil mas Bima telah sampai di halaman gedung yang sebenarnya tak ingin ku kunjungi. Tapi karena mas Bima memaksaku untuk menemaninya, dengan berat hati, namun tetap ikhlas akupun ikut hadir untuk mendengarkan keputusan hakim.


Kalau boleh jujur, jantungku seperti mau runtuh, sebab detakannya benar-benar tak bisa ku kontrol.


Begitu aku turun dari mobil, mas Bima yang keluar lebih dulu, dia sudah menyambutku dengan berdiri di luar pintu yang tengah ku buka. Tangan kokohnya langsung menggenggam erat tanganku.


"Tanganmu dingin sekali, Bi" tanya mas Bima dengan tatapan fokus ke manik bulatku. "Kamu sakit?"


"Enggak, aku cuma gugup"


"Nggak usah gugup, istri seorang prajurit nggak boleh takut" hiburnya mengusap punggung tanganku dengan tangan mas Bima yang lain.


Aku mengangguk sebelum kemudian sama-sama melangkah beriringan.


Di tengah-tengah langkahnya, mas Bima merenggangkan tautan tangan kami lalu bergerak mengunci dengan jari jemarinya, di detik berikutnya dia mengecup punggung tanganku yang berada dalam gandengannya.

__ADS_1


Mungkin karena sidang kali ini adalah sidang putusan, jadi jantungku sulit untuk aku kendalikan. Takut kalau Lala jatuh ke tangan mbak Hana, itu artinya aku akan kehilangan hari-hariku bersama peri kecilku.


Saat langkah kami kian dekat dengan ruang sidang, entah kenapa perutku mendadak terasa mual. Apalagi saat memasuki ruangan ber AC ini, keringatku justru muncul bersamaan dengan sepasang netraku yang bertemu pandang dengan netra sinis milik Gesya.


Tatapan bencinya kian menjadi ketika ekor matanya melirik ke tanganku dan mas Bima yang saling menyatu, lalu pandangannya beralih jatuh di perutku.


Entah apa yang ada dalam pikirannya, yang jelas mendadak aku merasa takut kalau-kalau dia memiliki niat yang tidak baik pada bayiku.


Namun dengan cepat pikiran itu segera ku tepis.


Tidak mungkin dia bertindak konyol seperti dalam pemikiranku. Kami hidup di dunia nyata, bukan di dunia pernovelan ataupun sinetron, dimana pemeran antagonis selalu nekad melakukan hal-hal yang keji demi mewujudkan keinginanannya ataupun balas dendam.


Aku meyakinkan diriku sekali lagi bahwa Gesya tak akan senekad itu.


"Duduk, Bi" Perintah mas Bima. Akupun duduk dengan perasaan entah. Mas Bima langsung duduk di sebelahku, pria ini sama sekali tak menatap Hana ataupun Gesya. Dia hanya beralih pandang padaku, kak Rosa dan juga tangan kami yang kembali bergandengan setelah tadi sempat terurai sekilas.


Menit berlalu, sidang pun tengah berjalan saat ini.


Perdebatan para pengacara untuk menguatkan pendapat serta argumentasinya kembali ku dengar. Akan tetapi, aku tak begitu fokus memperhatikan jalannya sidang ini.


Anak kecil yang selalu bisa melupakan perlakuan ayahnya terhadapku dulu, dan anak yang membuatku merasakan menjadi seorang ibu meski aku belum pernah mengandung atau melahirkan.


Lala ...


Siapun dia, terlepas dari anak kandungku atau bukan, dia tetaplah putriku, putri cantikku, putri dari pria yang bersemayam dalam hatiku sejak lama. Putri yang tak ingin aku bedakan dengan anak kandungku nanti.


Kasih sayangku terhadap Lala, akan sama seperti kasih sayangku terhadap anak-anak yang akan aku lahirkan nanti.


"Baiklah, setelah melewati perdebatan yang sedikit alot, kami akan memutuskan dalam waktu lima belas menit ke depan. Untuk itu kami akan jeda sejenak, namun tetap pada tempatnya masing-masing" Begitulah kata salah satu hakim yang duduk di sebelah kirinya sang hakim ketua.


Aku menghela napas pelan, sembari menetralisir ataupun melebur rasa takut yang terus bergelayut begitu manjanya. Tanganku dengan tangan mas Bima tak lepas barang sejenak selama proses persidangan berlangsung.


Berkali-kali pria tampanku bertanya apakah aku baik-baik saja.

__ADS_1


Namun meskipun aku berbohong dan mengatakan kalau aku fine, mas Bima pasti tak percaya, sebab dari raut wajahku, jelas dia tahu seperti apa kondisi batinku.


Itu di tandai dengan genggamannya yang kian mengerat dan terus memberikan usapan lembut di punggung tanganku menggunakan ibu jarinya.


Berbeda denganku, mas Bima benar-benar selalu bisa tenang dalam kondisi apapun. Meski bahaya atau nyawa mengancamnya, dia sama sekali tak memiliki rasa takut.


Tentu saja orang seperti ayahnya Lala sangat faham bahwa tak ada sesuatu yang perlu di takuti kecuali Sang Khalik.


Benar memang, tapi bagiku itu hal yang tak pernah bisa ku lakukan. Perasaan takut di hati manusia pastilah ada, hanya bagaimana caranya kita menyikapi ketakutan tersebut.


Setelah lima menit berlalu, kami kembali pada waktu dan tempat dimana sudah tak ada lagi perdebatan. Hanya hakim yang bersuara untuk membacakan rekap sidang yang sudah di lalui hingga beberapa kali termasuk pertemuan untuk mediasi.


Kini saatnya yang mendebarkan bagiku karena sang hakim mulai membacakan keputusannya.


"Mengenai mediasi tertanggal pada hari tersebut, Amar Wijayanto selaku mediator tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak sebagaimana laporannya. Namun mengenai tuntutan hak asuh anak dapat di sepakati antara pemohon dan termohon yang di tuangkan dalam surat kesepakatan mediasi. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan membacakan putusan akhir"


Hakim itu tampak menjeda bacaannya sejenak, sebelum kembali bersuara.


"Dengan di dasari dalil-dalil yang pada pokoknya, bahwa pemohon dan termohon telah bercerai dan di karuniai satu anak perempuan bernama Syahla Athalia Anggara, dimana hak asuh tersebut di pegang oleh ayah"


"Sedangkan mengenai peralihan hak asuh anak yang di layangkan oleh pemohon, dengan ini majelis hakim memutuskan untuk tidak mengabulkan gugatan dari pemohon. Dalam hal ini hak asuh anak tetap berada dalam pengawasan sang ayah yang bernama Bimasena Anggara. Namun meskipun hak asuh berada pada termohon, pemohon tidak di perkenankan untuk mengurangi hak dan kewajiban terhadap anak tersebut sebagai ibu kandungnya. Begitupun sebaliknya, pihak termohon tidak di perkenankan melarang pemohon untuk turut serta mendidiknya. Adapun pemohon di perkenankan untuk membawa anaknya tinggal bersama maksimal dua minggu dalam kurun waktu tiga bulan sekali"


"Keputusan tersebut di ambil berdasarkan pada proses sidang serta mendengarkan kesaksian dari kedua belah pihak dan juga sang anak"


"Demikian keputusan kami buat untuk di jalankan sebagaimana mestinya"


Finaly ... Lala tetap berada dalam dekapan kami, namun dari putusan yang di bacakan barusan, dalam waktu tiga bulan sekali, mbak Hana berhak membawa Lala menginap di rumahnya selama maksimal dua minggu.


Apa aku bisa berpisah dengan Lala selama itu jika mbak Hana memintanya menginap di rumahnya?


Sebaliknya, apakah Lala bisa hidup tanpaku selagi tinggal bersama ibunya?


Bersambung.

__ADS_1


Jangan bingung antara pemohon dan termohon ya! Di sini pihak pemohon adalah Hana, dan pihak termohon adalah ayah Bima.


SE YOU again...


__ADS_2