
Ada banyak respon yang menanggapi story di WA ku, sebagian besar dari mereka adalah rekan dari anggota Ardhya Garini atau istri para TNI khususnya angkatan udara. Mereka berpesan untuk berhati-hati dalam bertugas, tak lupa mendoakan keselamatan para pejuang lainnya. Mbak Za dan mbak Kanes pun tak mau ketinggalan dan turut mengomentari video dengan durasi satu menit itu.
Kedua kakak iparku seakan ikut senang melihat hubunganku dan mas Bima sudah lebih baik dari sebelumnya. Terutama mbak Zara, kakak kesayangan mas Bima. Apa yang menjadi perintah dan permintaan mbak Za, detik itu juga mas Bima pasti akan memenuhinya.
Mami : "Hati-hati nak, doa mami selalu untukmu" (15:30) Wib.
Sudah pasti mami tahu kalau mas Bima akan bertugas kembali. Nilai plus dari ayahnya Lala, meskipun dia sudah menikah, tapi tetap mengutamakan orang tuanya. Seperti kali ini, sebelum mas Bima berpamitan padaku, dia pasti sudah lebih dulu berpamitan pada papi serta maminya, meski hanya via telfon.
"Pulang yuk Bi" Suara Riska tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku.
"Ayo"
Aku bergegas merapikan meja kerja, tak lupa mematikan komputer. Setelahnya menyambar tas dan memasukkan ponsel ke dalamnya.
Baru saja akan melangkah, aku di kejutkan oleh suara ponsel yang tiba-tiba bergetar. Sebuah tanda bahwa ada pesan yang baru saja masuk.
Kuraih kembali ponsel itu dan ku tatap layar pop up, nama mas Bima muncul sebagai nomor pengirim pesan.
Mas Bima : "Aku pergi dulu ya Bi. Semoga urusan di sana cepat selesai, bisa cepat pulang, dan kumpul lagi bareng kamu sama Lala" (15:40)
Belum sempat membalasnya, pesan selanjutnya kembali masuk, membuatku tanpa sadar menyunggingkan senyum
Mas Bima : "YANG SABAR, YANG KUAT. I LOVE YOU 😘" (15:40)
Terharu? Jelas! bahkan hatiku menghangat. Padahal sama sekali tak pernah berkhayal mas Bima akan semanis ini.
Menit berlalu, aku menghentikan laju mobil yang kebetulan sudah sampai di halaman luas sekolah Lala.
Ku lihat anak-anak baru saja keluar, tapi kelasnya Lala pintunya masih tertutup.
Tak berapa lama, sepasang netraku mendapati bunda Lisa membuka pintu kelas A. Satu persatu anak-anak pun keluar.
Ketika aku tengah menunggu Lala, sosok Gesya berjalan melewatiku dengan menggandeng tangan Naura. Ia sempat menghentikan langkahnya tepat di samping kananku. Memang tak ada sepatah kata yang terucap untuk menyapa, namun tatapannya entah kenapa begitu sinis dan penuh amarah serta kebencian.
Mungkin dia lagi PMS, atau terbakar karena unggahan mas Bima.
Masa bodoh!
Aku sendiri memilih acuh tanpa ekspresi, lalu mengalihkan pandangan ke arah Lala yang tengah berlari dengan senyum riangnya.
"Bundaaa!" Serunya seraya berlari dengan tangan terlentang.
Gadis kecilku menghambur ke pelukan saat dirinya tinggal tiga langkah dariku.
Aku langsung membalas pelukan tangannya yang melingkari pinggangku.
"Lala kangen bunda" ucapnya setelah mengecup punggung tanganku.
__ADS_1
"Bunda juga" Balasku sambil tersenyum. "Kita pulang sekarang?"
"Iya"
****
"Ayah pulangnya lama-lama ya bun?" Tanya Lala, saat kami dalam perjalanan pulang.
Aku baru saja memberi tahu kalau ayahnya pergi berdinas. Tadi sempat ada raut sedih terlukis di wajahnya, tapi putriku yang cerdas ini selain pandai bercerita juga pintar sekali menyembunyikan perasaan sedihnya. Terkadang malah mampu berfikir melebihi pemikiran anak seusianya.
"Kalau lancar, insya Allah cepat pulang, nak" Jawabku menoleh ke samping kiri sejenak, sebelum kembali fokus ke arah depan.
"Ayah kok nggak pamit sama Lala, biasanya ayah datang ke sekolah buat pamit"
"Ayah nggak sempat, soalnya tadi perginya buru-buru, bunda juga di pesan sama ayah buat bilang maaf ke Lala karena nggak pamit"
"Terus kenapa nggak telfon?"
"Sekarang ayah lagi di pesawat, nanti kalau sudah turun, pasti telfon Lala"
"Turunnya kapan?"
"Hmm kira-kira kalau Lala sudah selesai makan malam" Jawabku setelah melirik jam pada dashboard. Ku pikir memang mas Bima akan sampai sekitar empat hingga lima jam, itu artinya akan mendarat di Papua sekitar pukul delapan malam waktu Indonesia bagian barat.
"Berarti ayah telfonnya habis makan nanti ya bun?"
Lala mengerjap, kemudian menatapku penuh minat dan penasaran.
"Jauh ya bun, kerjanya ayah"
"Hmm. Lala doain ayah terus ya"
"Euggh"
Setibanya di rumah, sudah ada mbak Nining yang tengah membuka pintu. Tadi mami memang memberitahuku kalau sopirnya papi dalam perjalanan mengantar Nining kemari, sementara sesaat setelah menerima pesan singkat dari mami, aku meminta mas Jim untuk membukakan pintu dan menyuruhnya masuk kalau Nining datang.
"Sudah lama Ning?"
"Sekitar lima belas menit yang lalu, Bu"
Aku langsung menunjukkan kamar untuk Nining tempati. Kamar di sebelah ruang makan yang memang kami sediakan kalau suatu saat kami memiliki ART.
Malam harinya usai makan malam, Lala tak berhenti menanyakan kapan ayahnya menelfon, dia bahkan tak mau jauh-jauh dari ponselku demi menunggu sang ayah menelfonnya.
Aku duduk di sebelah Lala yang tengah asik menyatukan puzzle bergambar strowberry. Hingga lewat pukul sembilan malam, akupun mulai bertanya-tanya kenapa mas Bima belum juga menghubungiku. Saat ku coba memeriksa kapan terakhir mas Bima online, ternyata keterangannya masih sama, yaitu pukul 15:43.
"Biasanya ayah udah telfon, bun. Kenapa sampai sekarang belum telfon?"
__ADS_1
Ya, biasanya mas Bima memang selalu menelfon kami setelah makan malam, tapi karena kali ini situasinya berbeda, mungkin saja dia sedang siaga menjaga pertahanan di daerah Jayapura yang konfliknya tak ada habisnya.
"Biasanya ayah hanya patroli di udara, La. Tapi tugas kali ini ayah harus benar-benar siaga, jadi ayah belum bisa telfon"
Lala mendongak, lantas mengerjap. "Lala bubuk dulu ya bun, nanti kalau ayah telfon bilang ke ayah suruh hati-hati"
"Iya sayang" Sahutku mengusap belakang kepala Lala. "Nanti bunda pasti ngomong ke ayah supaya hati-hati"
"Bilang juga kalau Lala kangen ayah, pengin main sama ayah"
"Iya"
Mendengar kalimat Lala, mataku justru memanas dan siap meluncurkan titik bening. Sejujurnya aku juga kangen sama mas Bima, tapi aku berusaha bersikap tenang di depan putriku.
"Ayah pasti juga kangen Lala, pengin ngomong sama Lala, tapi kita maklumin ya nak, ayah memang kerjanya kayak gitu, Apalagi yang kerja bareng ayah banyak yang masih om-om, yang juga jauh dari orang tuanya, jadi untuk sementara ini, ayah jadi ayahnya om-om tentara yang lain"
"Iya" Lirih Lala sendu, kemudian mengeratkan pelukannya seraya menyurukkan wajah di dadaku.
Setelah beberapa menit, ku rasakan nafas Lala kian tak teratur, saat ku tengok wajahnya, dia seperti tengah menahan diri untuk tidak menangis.
"Bunda"
"Iya nak"
"Bilang ke ayah Lala sayang ayah"
"Iya, nanti bunda sampaikan semua pesan Lala"
Sampai Lala tertidur setelah aku menceritakan kisah timun emas, mas Bima belum juga menelfon.
Kecemasanku kian meningkat, tubuhku pun entah kenapa terasa lemas dengan perut yang terasa seperti mual.
Sementara suara dengkuran dari Lala menandakan kalau dia sudah benar-benar terlelap. Aku mencermati wajah Lala penuh lekat, ada bekas air mata di pipinya.
"Sedih banget karena ayah nggak pamit ya, nak? Maafin ayah ya" Bisikku mengusap pipi yang basah lalu mengecup keningnya.
Melepas kecupan, aku mencoba memahami seberapa dalam perasaan putri kecilku.
Puas menatap wajahnya, pelan aku bergerak bangkit kemudian melirik jam dinding di kamar mas Bima yang menunjukan jarum pendek berada di angka sepuluh.
Aku keluar kamar berniat mencari Nining.
"Ning, bisa tolong kerokin saya? Badan saya berasa nggak enak"
"Bisa, bu!"
Bersambung
__ADS_1