
Agenda kali ini akan di adakan secara tertutup, tidak begitu menegangkan, dan akan di lakukan di tempat yang mirip seperti sebuah ruangan mediasi. Karena kami menghadirkan seorang anak yang masih di bawah umur untuk mengikuti jalannya sidang.
Dan kini Lala sudah duduk di tengah-tengah antara kak Rosa dan pengacara dari pihak mbak Hana. Di depan sudah ada dua hakim yang duduk menghadap Lala dengan di batasi sebuah meja panjang.
Hakim yang akan bertugas mengajukan pertanyaan pada Lala, dan akan memberikan putusan di akhir sidang nanti.
Sementara aku, mbak Hana serta Gesya duduk di kursi lain yang ada di belakang Lala.
Sebelum di mulai, salah satu hakim menyapa kami, setelah itu suasana sempat hening sejenak sebelum kemudian hakim pria bernama Panca menyerukan suaranya.
"Pemohon memohon kepada Ketua Pengadilan Agama Surabaya agar hak asuh anak yang bernama : Syahla Athalia Anggara, umur 4 tahun 8 bulan, beralih kepada Pemohon, karena hubungan termohon beserta istri tidak saling bertegur sapa, sehingga berdampak buruk pada sang anak dan anak tersebut sering diterlantarkan atau di abaikan oleh Termohon"
Mendengar kalimat yang di bacakan oleh hakim, rasanya aku ingin sekali marah, aku ingin berteriak untuk menyangkalnya, tapi tak memiliki kuasa, sebab mereka melarang kami bersuara.
Memang aku dan mas Bima sempat tak pernah saling bicara, kalaupun bicara hanya seperlunya, tapi soal Lala, kami tidak pernah mengabaikannya apalagi menterlantarkan seperti yang mereka tuduhkan.
Justru kami selalu menempatkan Lala pada urutan pertama, kebahagiaan Lala adalah yang utama bagi kami.
"Adek cantik, namanya siapa?" Pertanyaan hakim Andara mampu membuyarkan konsentrasiku. Lala yang di tanya, tapi jantungku yang berdebar-debar.
"Namaku Syahla, onty"
"Panggil bu hakim, nak" Sela kak Rosa cepat.
"Tidak apa-apa bu Rosa, senyamannya anak saja, jangan sampai kita membuat anak di bawah umur menjadi tegang dan merasa tertekan"
"Baik bu hakim, mohon maaf"
Sang hakim pun mengangguk lengkap dengan seulas senyum, kemudian kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Syahla sudah sekolah?"
"Sudah, tapi di Playgroup, kata bunda sebentar lagi mau masuk TK kecil"
"Oh ya?"
Lala mengangguk mantap.
"Anak pintar!"
Aku tak tahu seperti apa ekspresi Lala, tapi melihat bagaimana dia begitu lancar menjawab pertanyaan dari hakim, membuatku menyadari kalau keberaniannya benar-benar mewarisi sang ayah. Padahal orang di hadapannya termasuk orang asing bagi Lala.
Dan sifat beraninya itu patut di acungi jempol.
"Berarti Lala tinggalnya sama ayah Bima dan bunda Arimbi, dong"
"Iya"
"Senang nggak, tinggal sama ayah bunda?"
"Senang onty, bunda kan baik, suka masakin makanan kesukaan Lala, bunda juga udah bantu Lala mandi, antar Lala ke sekolah, main-main sama Lala, sama temani Lala bubuk. Ayah juga suka main sama Lala, ajarin Lala berenang, main basket, sama main piano"
"Apa ayah sama bunda bubuknya pisah-pisah, sayang?"
"Iya onty, ayah sama bunda bubuknya pisah-pisah, sekarang juga pisah-pisah, Lala sedih jadinya"
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lala, membuatku melirik Gesya yang juga tengah melirikku dengan senyum mengejek. Dia pasti merasa puas dengan jawaban Lala. Wanita yang rambutnya kini di cat pirang itu lantas mendekatkan mulutnya ke telingaku yang duduk di sebelahnya.
"Lihat Arimbi! Anak kecil tidak akan pernah berbohong" bisiknya sinis.
Aku memilih diam tak merespon.
"Kenapa ayah bunda bubuknya pisah-pisah?" tanya sang hakim lagi.
"Kan ayah lagi kerja, jadinya bunda bubuk sendiri di kamar ayah, ayah bubu di pesawat, jadinya pisah-pisah kan?"
__ADS_1
"Oh begitu ya maksud Lala"
"Iya onty"
Kini giliranku tersenyum dengan penuh kemenangan. Ku tengok wajah Gesya kemudian membisikan kalimat.
"Tepat sekali, Gesya... Anak kecil akan berkata sesuai dengan apa yang mereka lihat dan rasakan" Lirihku sesantai mungkin, sementara dia mencebik dengan raut masamnya.
"Ayah bunda suka berantem?" Pertanyaan dari hakim membuatku kembali fokus.
"Ayah sama bunda nggak berantem, tapi ayah negur bunda, soalnya bunda bandel. Lala kalau bandel juga di tegur sama ayah. Kata ayah kalau ayah marahin bunda, tandanya ayah sayang bunda, kalau ayah marahin Lala, tandanya ayah sayang Lala"
"Lala pernah lihat ayah marahin bunda?"
"Bukan marah onty, tapi negur" tegas Lala. "Tapi habis marahin bunda, ayah langsung minta maaf ke bunda"
"Ayah sayang banyak sama bunda, sama Lala juga" Anak itu benar-benar tak ada rasa takut atau canggung sedikitpun.
Pintar kamu nak, bunda bangga sama Lala. Tapi... Apa secara tidak langsung aku sudah menjauhkan Lala dari ibu kandungnya?
Tidak!!
Aku segera menepis prasangkaku sendiri.
Baik aku dan mas Bima tidak pernah menjauhkan mbak Hana dari Lala, jika dia ingin menemui putrinya, kami pun tidak akan melarang.
"Apa Lala pernah bubuk bertiga? Lala, ayah, sama bunda?"
"Pernah"
"Jadi Lala senang ya, bahagia juga, tinggal sama ayah bunda?"
"Iya onty, bunda sayang Lala, Ayah juga. Lala nggak mau pisah sama bunda sama ayah"
"Mau tinggal sama mama Hana atau sama bunda?"
"Baiklah" Sahut hakim Andara kemudian menyuruh ajudannya untuk membawa Lala keluar.
Sebelum keluar dari ruangan, Lala menghampiriku untuk bermanja.
"Lala haus bun, mau mimi" Anak ini bersandar di pangkuanku. Dia benar-benar tak mengindahi keberadaan ibu kandung dan ontynya.
"Bunda antar keluar ya, nanti sama om Sakti minta antar ke mobil pak Herman, minum sama camilan Lala ada di tas dan tasnya ada di mobil"
"Kanapa sama om Sakti? nggak sama bunda?"
Alih-alih menjawab, aku justru meminta Lala untuk berpamitan pada mbak Hana dan juga Gesya. Lala pun menuruti perintahku lantas langsung menghampiri dua wanita cantik di sebelahku.
Setelahnya, aku menggandeng tangan Lala dan melangkah ke arah pintu.
Setelah berada di luar ruangan, aku berlutut di depan Lala, level mata kami yang sejajar, tak membuat Lala harus mendongak.
"Lala sama om Sakti ya" Tanganku memegang kedua sisi lengannya.
"Bunda mau kemana?"
"Bunda mau ke dalam lagi, mau ngomong ke mama Hana supaya Lala tetap tinggal sama bunda, iya"
Anak itu mengngguk dengan raut yang tak bisa ku tebak.
"Lala tunggu di mobil sambil mainan hapenya bunda, mau?"
"Mau bunda"
"Anak pintar" aku mengecup kedua pipinya. Sebelum berdiri, ku ambil ponselku dari dalam tas dan menyerahkannya ke tangan Lala.
__ADS_1
"Bunda jangan lama-lama ya!"
Aku tersenyum seraya mengusap puncak kepalanya. "Iya sayang"
Kembali berdiri, aku mengarahkan atensiku ke wajah pria yang menjadi asisten kak Rosa.
"Mas Sakti, tolong antarkan Lala ke mobil"
"Baik bu!"
Aku kembali masuk setelah menatap kepergian Lala sejenak.
Saat aku sudah berada di dalam ruangan kembali, ku dengar mereka sudah mulai saling beradu argumen.
Aku menempatkan diriku duduk di samping kak Rosa yang tengah bersitegang dengan pengacara dari pihak mbak Hana yang juga menjadi rekannya Yoga.
Kalau boleh ku tebak, sepertinya Gesyalah yang lebih ngotot merebut Lala dari kami di bandingkan mbak Hana yang justru hanya diam tanpa kata.
"Saya rasa alasan bu Hana meminta hak asuh Lala itu tidak masuk akal pak dan bu hakim" Ujar kak Rosa dengan penuh percaya diri. "Bu Hana bisa mengalihkan hak asuh anak ke tangannya jika pak Bima sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani putrinya, atau pak Bima berselingkuh dan sibuk dengan dunianya sehingga tidak ada waktu untuk memberikan perhatian dan kasih sayang untuk Lala, tapi semua itu tak pernah pak Bima lakukan. Bu Arimbi dan pak Bima justru selalu memprioritaskan kebahagiaan serta kenyamanan putrinya. Tapi mbak Hana, justru menuduh bahwa rumah tangga klien saya tidak baik, apalagi sampai mentelantarkan anak. Itu sangat tidak benar, pak hakim"
"Saya yakin itu hanya pura-pura karena klien saya tahu persis seperti apa rumah tangga mereka" Sambar pak Frans.
"Apa yang anda ketahui pak Frans? Apakah anda hanya mendengar dari klien anda? Kalau ya, biar saya beri tahu seperti apa kebenaran mengenai pernikahan klien saya" Kak Rosa mengambil ponselnya di sela-sela tumpukan dokumen kemudian memperlihatkan rekaman itu pada hakim.
"Lihatlah, ini adalah salah satu keromantisan dari pak Bima dan bu Arimbi"
Jelas video yang sedang kak Rosa tunjukan adalah video yang Riska ambil saat mas Bima berpamitan padaku.
"Itu pasti hanya rekayasa, tidak mungkin mereka secepat itu membuat hubungan menjadi sebaik itu" sangkal Gesya seakan tak terima.
"Baiklah kalau anda masih belum percaya, akan saya tunjukan bukti lain mengenai keharmonisan keluarga dari klien saya"
Kali ini kak Rosa mencari selembar kertas di tumpukan berkas miliknya. Kertas yang ku pastikan adalah hasil lab mengenai kehamilanku. Aku sungguh keberatan mengenai ini sebenarnya, tapi apa boleh buat, kami memang harus menyangkal. Harus membuktikan pada hakim kalau tuduhan mereka tidaklah benar.
"Istri dari klien saya saat ini sedang hamil" Pungkas kak Rosa. Ia menyerahkan kertas ke hakim Andara. Saat kertas itu beralih ke tangan pak Frans setelah sebelumnya para hakim melihatnya, Gesya langsung merebut kertas itu lalu mencermatinya dengan saksama.
"T-tidak mungkin, ini pasti palsu"
"Anda bilang ini palsu?" wanita berhijab yang menjadi pengacara mas Bima tersenyum miring. "Silahkan anda bisa konfirmasi keasliannya ke RSU, nona Gesya! Oh, atau apa perlu klien saya ini menunjukkan adegan ranjangnya?"
"Itu konyol!" Tatapan Gesya tajam mengarah ke netraku, namun aku hanya diam tanpa membalas tatapannya. Tubuhku sudah sangat letih karena mungkin efek dari kehamilanku, tenagaku sepertinya juga terkuras, aku ingin sidang ini segera berakhir.
"Seperti yang tertuang dalam pasal 34 ayat (2) undang-undang mengenai perkawinan, bahwa seorang ibu yang berselingkuh, hak asuh bisa jatuh ke tangan ayah, dan saat perceraian, klien sayalah yang memenangkan hak asuh tersebut. Ketika memenangkan gugatan itu, klien saya sama sekali tidak pernah melarang ibunya untuk menemui putrinya, tapi pak hakim, harus anda ketahui bahwa selama anak itu berada dalam pengasuhan pak Bima, ibunya yang bernama Hana Wulandari, sama sekali tidak pernah menemui ataupun menelfonnya, Apa saya benar, bu Hana?"
Mendengar pertanyaan yang kak Rosa lontarkan, reflek sepasang mataku langsung mengarah ke wajahnya. Tidak hanya aku, kedua hakim itu pun beralih menatap Hana yang saat ini wajahnya tampak pucat pasi. Saat mbak Hana tak kunjung menjawab, kak Rosa kembali berucap.
"Lalu bagaimana bisa anda ingin merebut hak asuh itu? Apa ada yang menghasut anda demi untuk kepentingan pribadinya?" saat mengatakan itu kak Rosa melirik Gesya.
Tadi malam, pesan panjang dari Gesya memang ku teruskan padanya, mungkin kak Rosa menangkap gelagat liciknya yang berniat menghancurkan rumah tanggaku dengan mas Bima.
"Pak hakim, klien saya hanya meminta agar hak asuh tetap berada di tangannya, jika bu Hana atau tantenya ingin menemui anak itu, kami tidak akan melarang. Terimakasih"
"Saya keberatan, pak Hakim dan bu hakim" Pengacara mbak Hana bersuara. "Klien saya sudah cukup sabar menahan keinginan untuk bisa tinggal dengan putrinya, dan kali ini saya meminta hak asuh tersebut beralih ke tangan ibu kandungnya. Sesuai dengan undang-undang bahwa anak berusia di bawah dua belas tahun berada dalam asuhan sang ibu"
"Saya tidak setuju, pak Hakim" Sambar kak Rosa kilat. "Mendengar ungakapan hati Lala beberapa menit yang lalu, apakah kita tega mematahkan keinginannya agar tetap tinggal bersama ayah bundanya? Anak itu sudah sangat bahagia dan nyaman dengan ayah bundanya. Kami akan terima kalau mbak Hana meminta putrinya untuk tinggal bersamanya, tapi hanya sehari atau dua hari. Kalau untuk tinggal seterusnya kami keberatan"
"Dia tinggal bersama ibu kandungnya, yang nantinya juga akan mendapat kebahagiaan serta kenyamanan dari kasih sayang seorang ibu kandung, bukan ibu sambung, dan kami meminta kesempatan untuk bisa mendapatkan hak asuhnya, pak hakim"
"Itu tidak bisa pak Frans, kami yang memenangkan hak asuh itu, dan mbak Hana bisa mengambil putrinya jika pak Bima terbukti tidak membahagiakannya"
"Baiklah, sidang hari ini saya rasa sudah cukup. Setelah mendengar Argumentasi dari kedua belah pihak, saya dan hakim Andara akan mengevaluasi hasil sidang hari ini. Kita bisa melanjutkan sidang setelah lima hari kedepan dengan agenda memberikan putusan, dan sidang kali ini saya tutup" Kelekarnya.
Aku menghembuskan napas lega. Akhirnya sidang yang di adakan secara tertutup ini sudah selesai. Semoga sidang selanjutnya mas Bima sudah pulang dan bisa menghadirinya.
Tapi apakah mungkin? Ini baru dua minggu, mustahil mas Bima dinas secepat itu. Biasanya paling cepat itu tiga minggu.
__ADS_1
Mendengkus pelan, Aku berharap konflik di sana segera berakhir, kondisi bisa aman terkendali, dan mas Bima bisa pulang.
Bersambung...