
Gesya's Pov.
"Nona Gesya, ada surat dari kepolisian" Suara ART membuyarkan lamunanku. Aku yang tadi menatap kosong ke layar tv yang tak menyala, ku alihkan tatapanku pada wanita berusia dua puluh dua tahun yang tengah memegang handle pintu.
"Surat dari kepolisian?"
"Iya nona" Art Bernama Lilis melangkah menghampiriku yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Kemudian menyerahkan amplop berwarna putih ke tanganku.
"Makasih Lis"
"Sama-sama nona, saya permisi"
"Iya" sahutku sambil membuka amplop lalu meraih isinya.
Ku pikir surat ini berisi panggilan interogasi mengenai kasusku, tapi bukan. Surat ini justru berisi tentang pembebasanku karena pelapor telah mencabut laporannya, dan aku di nyatakan bebas tanpa syarat.
Menelan ludah, aku benar-benar tak percaya dengan sikap Arimbi, orang yang ingin aku celakai, dia justru berbuat baik padaku.
Merasa bingung, aku segera menelfon Arimbi. Hampir satu menit menunggu, akhirnya Arimbi mengangkat telfonku.
Suara salamnya yang lembut dan menenangkan langsung tertangkap jelas oleh indera pendengaranku
"Wa'alaikumsalam" jawabku dengan mulut bergetar.
"Iya Gey, ada apa?"
"Bi, kamu mencabut semua tuntutanmu padaku?"
"Hmm, apa kamu sudah mendapat surat dari kepolisian?"
"S-sudah" Tiba-tiba satu titik bening meluncur dari kelopak mataku.
"Kenapa?" tanyaku dengan sorot kosong.
"Aku nggak akan biarin wanita cantik, pintar dan berbakat sepertimu harus mendekam di penjara, karya rancangan gaunmu sangat memukau, bagaimana kalau bakatmu terhenti? Aku nggak mau kehilangan tunas bangsa berbakat sepertimu"
"Tapi Bi, i-ini berlebihan. Aku harus di hukum atas perbuatan kejiku"
"Nggak Gey, kamu cukup menjadikan itu semua sebagai pelajaran hidup. Hanya orang beruntung yang mendapatkan kesempatan kedua, dan ku harap kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Jangan pernah kamu ulangi lagi perbuatanmu itu"
"Kita hanya sementara hidup di dunia, lakukanlah perbuatan baik, karena apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen"
"Rasanya, terimakasih saja nggak cukup, Bi. Aku hutang banyak sama kamu"
"Jangan bilang begitu" Katanya bersamaan dengan suara rengekan bayi. "Gey Ryu nangis, ini ku tutup dulu ya"
"Iya Bi, sekali lagi terimakasih banyak"
"Sama-sama. Assalamu'alaikum Gey"
"Wa'alaikumsalam"
Begitu panggilan terputus, aku meletakkan ponselku di atas nakas, lalu mengusap wajahku penuh sesal.
Arimbi, dia benar-benar orang baik. Dia membalas air tuba dariku dengan air susu yang manis.
Aku janji Bi, aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk membantumu jika kamu mendapat masalah. Aku orang pertama yang akan menolong dan membelamu jika seseorang berbuat jahat padamu.
Saat tengah larut dalam lamunan, tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Ketika aku menoleh ke arahnya, ada sosok pria yang tengah tersenyum miring.
"Nggak sopan main masuk kamar orang" sinisku mencebik.
__ADS_1
Senyum miringnya kian terlihat jelas, alih-alih takut, dia malah main masuk, lalu menarik kursi rias dan ia letakkan di samping ranjang.
Sungguh pria ini membuatku naik darah. Dengan santainya ia duduk di kursi riasku sambil melipat tangan di dada.
"Gesya-Gesya" Dia menggelengkan kepalanya. "Bahkan kamu belum memulai rencanamu tapi sudah gagal duluan"
"Jaga mulutmu, aku belum memulai rencanaku, itu artinya aku nggak gagal, aku memang sengaja membatalkan niat burukku"
"Sama saja, kamu sudah gagal. Dan kamu harus memenuhi janjimu"
"Janji?" Aku memicingkan mata. "Janji apa?"
"Masa lupa si, bukankah kalau rencanamu gagal kamu bersedia menikahiku, janji adalah hutang, dan hutang harus di bayar"
Mendengar kalimatnya aku tersenyum sinis.
"Aku? Menikah denganmu?" Aku bangkit, diapun turut bangkit. "Ogah"
Tepat ketika aku melangkahkan kaki, tiba-tiba kakiku terasa nyeri. Saking nyerinya aku sampai merintih kesakitan dan detik itu juga aku tak bisa menyeimbangkan tubuhku, tapi dengan cepat Yoga menangkap tubuhku yang nyaris terjatuh.
Yoga menahan tubuhku yang setengah rebah, kedua tangannya melingkar di pinggangku, tanganku sendiri mendarat di kedua pundaknya.
Jarak wajah kami mungkin hanya sejengkal, sebab pria di atasku agak sedikit merunduk.
Kami saling diam dengan mata lekat saling menatap. Hanya ada suara detikan jarum jam yang terdengar begitu nyaring dan teratur.
Tik, tok, tik, tok...
Lewat berdetik-detik pandangan kami terkunci, Yoga tiba-tiba bersuara.
"Maukah kamu menikah denganku?"
Menelan saliva, entah kenapa mendadak aku tak bisa mengontrol irama jantungku. Detakannya benar-benar tidak sopan. Tapi tunggu, sepertinya bukan hanya detak jantungku, detak jantung Yoga pun berdetak sangat kencang.
"A-aku"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tahu-tahu bibirnya menempel di bibirku, otomatis mataku membulat sempurna.
Dengan lembut dan luwes, dia melu*mat bibirku, sementara aku tidak bisa menolaknya. Jujur terakhir aku ciuman ketika aku masih kuliah, berarti itu sudah sangat lama.
Sentuhan itu benar-benar membuatku hanyut. Hingga ciuman kami kian menuntut seiring dengan deru nafas dan jantung kami yang bertalu-talu.
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu aku sudah berada di atas ranjang. Ciuman kami semakin dalam.
Hingga detik berganti kami melepas pagutannya, namun hanya sesaat. Setelah mengambil napas, kami kembali berciuman. Ciuman yang kian lama dan kian intens.
Kancing kemejaku bagian atas yang sudah terlepas, membuat sesuatu yang menonjol di dadaku terlihat jelas. Pria di atasku ini lantas menyesap butiran kenyal, sesapan lembut yang membuat otakku berantakan, sesapan yang membuat darahku seketika membeku.
Tanganku reflek mencengkram rambutnya, merasakan sentuhan tangan Yoga yang terus bergerilya di permukaan kulitku. Sentuhan yang membuatku merasakan gelenyar-gelenyar aneh.
Tepat ketika tangan itu jatuh di bagian sensitiveku, kesadaranku tiba-tiba kembali dan aku langsung menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuhku. Dia yang langsung rebah di sampingku dengan posisi terlentang, aku buru-buru bangkit.
"Brengsek kamu, Ga" umpatku sambil merapikan kembali pakaianku.
"Kamu menyukainya kan Gey?" pria itu tersenyum mengejek, tapi wajahnya sangat merah.
"Nikahin aku dulu, baru kamu bisa masuk"
Usai mengatakan itu, aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Sialan, pria itu sudah membuatku basah.
__ADS_1
Sekian menit berada di kamar mandi, aku pun keluar, dan betapa terkejutnya ketika aku menangkap tubuh Yoga yang terlentang di atas ranjangku dengan tanpa pakaian sehelaipun.
Pria ini sudah gila?
Aku menggelengkan kepala.
"Apa-apaan kamu Yoga, cepat pakai bajumu" Perintahku tanpa menatapnya.
"Bantu aku menuntaskannya Gey, kepalaku pusing"
"Nggak mau, enak saja"
Tanpa ku duga, pria itu bangkit lalu menarik tanganku hingga kami terjerembab di atas kasur.
"Bantu aku, aku janji akan menikahimu, aku akan bertanggung jawab"
"T-tapi"
"Please Gey, apa yang kamu cari di usiamu yang hampir kepala tiga, wanita matang sepertimu sudah harus menikah, jadi menikahlah denganku, kita mulai hidup baru, kita bangun rumah tangga yang sakinah"
"Iya, tapi_" dia kembali memenggal kalimatku yang belum selesai dengan mengecup bibirku kilat.
"Aku janji akan membahagiakanmu"
"Tapi Ga"
"Please touch me, sudah lama aku nggak melakukannya"
Bola mata kami bergerak saling mengikuti.
"Aku akan bertanggung jawab Gey, kamu tidak perlu khawatir"
"Benar, kamu akan bertanggung jawab?"
Anggukan kepalanya, membuatku luluh. Dan entahlah, ada sesuatu yang mendorongku juga ingin menikmati itu.
"So?" Yoga berucap.
"Kamu akan menikahiku setelah aku menyerahkan segalanya?"
"Of course" timpal Yoga dengan mantap, sedangkan kepalaku mengangguk seolah setuju dengan tawarannya.
Detik itu, Yoga langsung meraup bibirku, tangannya terus menyentuhku dengan begitu lembut.
Sentuhan yang membuat isi kepalaku acak-acakan dan ruwet, aku tak bisa berfikir jernih, hanya bisa diam sembari menikmatinya dalam-dalam, rasa nyeri yang sempat aku rasakan, perlahan berganti menjadi rasa yang entah, hingga lenguhan panjang membuatku seakan terbang melayang di atas awan.
Yoga yang ambruk menindihku usai mencapai puncak, dia merebahkan kepalanya di ceruk leherku.
"Aku pasti akan menikahimu, Gey" ucapnya serius.
"Makasih, aku mencintaimu" tambahnya tanpa ragu.
****
Setelah aktivitas panas itu, selagi menunggu hari pernikahanku dengan Yoga, kami kerap sekali melakukannya. Seakan-akan, perlakuan dan sentuhannya membuatku kecanduan dan ingin melakukannya lagi dan lagi. Meskipun aku sangat tahu itu zina, tapi kami tetap melakukannya.
Hingga satu bulan berlalu, hari pernikahan pun tiba.
Kata sah dari para hadirin membuatku lega sebab aku tidak harus berbuat zina lagi.
Dan dua minggu setelah menikah, aku di nyatakan hamil satu bulan. Aku sempat khawatir, karena pasti anak ini tumbuh di luar pernikahan, tapi Yoga dengan sabarnya selalu memberiku wejangan untuk melupakannya, dia juga menyadari bahwa anak dalam kandunganku adalah anaknya.
__ADS_1
Jelas, anak ini anaknya, karena aku hanya berhubungan dengannya.
Ku harap ini adalah takdir terbaik untukku, dan kami akan menjadi pasangan sampai maut memisahkan.