Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 51 ~


__ADS_3

Pertemuanku bersama para ASN selesai pukul 19:30. Sudah ada mbak Kanes standby di pelataran kantor kabupaten saat aku keluar gedung. Aku langsung mengarahkan kaki menghampirinya ketika kakak iparku melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.


Membuka pintu mobil, aku duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.


"Assalamu'alaikum, mbak"


"Wa'alaikumsalam" Ku kecup takjim punggung tangan mbak Kanes, sama seperti yang selalu mas Bima lakukan pada kakak-kakaknya.


"Sudah selesai kan Bi?"


"Sudah mbak" jawabku sambil memasang sabuk pengaman.


"Okay, kita langsung pulang ya"


"Iya"


Mbak Kanes menyalakan mesin mobil.


"Sepertinya sudah ada perkembangan mengenai hubungan kalian, Bi. Tadi si kaku terus saja telfon mbak buat nggak lupa jemput kamu"


"Alhamdulillah, mbak" Perlahan, mobil mbak Kanes mulai melaju. "Mas Bima sudah mulai perhatian ke aku"


"Syukurlah, kalau mbak Za dengar pasti dia senang deh, dia tuh nggak berhenti buat doain kalian. Pengin banget kalau rumah tangga adik kesayangannya itu normal, Bimbim bisa sayang sama kamu, bisa punya anak, hidup kayak pasangan suami istri di luar sana"


"Keadaan pasti berubah seiring dengan waktu, apalagi di hati kita selalu menanamkan kebaikan, insya Allah mbak"


"Benar Bi, dan ketulusanmu itu nggak sia-sia, kesabaranmu benar-benar membuahkan hasil. Entahlah kalau wanita itu bukan kamu, mbak nggak tahu hidup si preman jadi-jadian itu akan kayak gimana. Bahagia enggak, menderita iya"


Aku tersenyum menanggapi perkataan mbak Kanes. Apalagi saat menyebut mas Bima sebagai preman jadi-jadian. Lucu aja.


"Kita langsung pulang kan, Bi?" tanyanya setelah sempat hening tadi.


"Iya mbak"


"Kamu sudah makan belum?"


"Sudah tadi, di acara memang ada sesi makan malam. Mbak sendiri sudah makan?"


"Belum si, tapi tadi mas Rangga WA katanya dia masak di temani sama Gema"


"Oh ya? Mas Gema gimana mbak, kok di rumah, nggak di ponpes dia?"


"Lagi agak sedikit batuk pilek, makannya dia minta pulang, dia kalau kenapa-kenapa sedikit saja pasti minta pulang, anak cowo tapi cengeng dia"


"Kayaknya harus di kasih adek tu mbak"


"Udah usaha Bi, tapi belum di kasih lagi" Mbak Kanes bicara sambil terus fokus mengemudi.


"Kamu sendiri gimana, kira-kira udah MP belum?" Dia melirikku dengan senyum meledek.


"Wah, dari senyummu, kayaknya udah nih" lanjut mbak Kanes ketika aku hanya tersenyum meresponnya.


"Bentar lagi punya ponakan dong"


"Aamiin mbak"


Aku amini saja ucapan mbak Kanes, setelah pernikahan memang anak yang selalu di nanti, bukan?


Beberapa menit berlalu. Kami akhirnya sampai di rumahku.


"Mbak langsung pulang ya Bi"


"Nggak mampir sebentar mbak?"

__ADS_1


"Enggak, Gema pasti sudah nunggu"


Mobil mbak Kanes berhenti tepat di depan pintu gerbang.


"Bima belum pulang Bi, pagarnya langsung tutup, jangan di bukain kalau ada orang asing ya!" Pesan mbak Kanes. "Hati-hati di rumah"


"Iya mbak, mbak juga hati-hati. Salam buat mas Rangga dan mas Gema" Aku kembali mengecup punggung tangannya. "Assalamu'alaikum, mbak!"


"Wa'alaikumsalam"


Aku turun, lalu menutup kembali pintunya.


"Langsung pulang ya Bi"


"Iya mbak, hati-hati"


***


Ketika aku baru saja selesai membersihkan diri, ku dengar suara ketukan dari balik pintu kamar mandi.


Aku menajamkan pendengaran dan langsung mendengar suara Lala.


"Bunda di dalam ya?" Aku yang tengah menggosok gigi mematikan kran air, usai berkumur.


"Bun!"


"Iya, nak. Bunda di dalam"


"Bunda mandi di kamar mandi ayah?" tanyanya sambil teriak-teriak.


Pintu ku buka begitu selesai beraktivitas di dalam kamar mandi.


Saat pintu sudah terbuka, aku mendapati sosok Lala tengah mendongak menatapku.


"Iya, sayang. Sun tangan bunda dulu dong"


Lalapun dengan patuh menuruti perintahku. "Ayah mana?"


"Tadi lagi tutup pintu gerbang, sama mau kunci-kunci pintu"


"Lala langsung mandi yuk" Ajakku sambil menggendong Lala kemudian membawanya ke atas ranjang.


"Mandi di kamar ayah, bun?"


"Iya, tadi bunda sudah ambil piyama di kamar Lala"


Setelah Lala sudah berdiri di atas kasur, aku membantu melepas tas mungil berkepala Cinamoroll dan kardigannya.


"Senang nggak tadi jalan-jalan?"


"Senang bun, tadi juga ada onty temannya onty Gesya, namanya onty Hana"


"Onty Hana?"


"Iya, orangnya baik dia kasih tempat pensil buat Lala" Mendengar jawabannya, aku tersenyum, tapi jantungku juga mendadak bertalu-talu. Sudah lama jantungku tidak merasakan detakan yang memberikan efek tak nyaman seperti ini.


"Ada bilang makasih, nggak?"


"Ada bun"


Tanganku terus sibuk menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Lala,dengan di iringi pikiran kacau tentunya.


Setelah semua pakaian terlepas, aku kembali menggendong dan membawa Lala masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Ayah ada ngobrol sama onty Gesya? Atau sama temannya onty Gesya?" tanyaku menyalakan kran untuk mempersiapkan air hangat di bathtub. Sementara Lala menunggu di pinggiran bathtub.


"Nggak ada, yang ngobrol malah oma sama onty Hana. Terus Lala ngobrolnya sama onty Gesya. Ayah diam-diam aja. Ayah juga jauh-jauhan sama onty Gesya dan temannya"


"Onty Gesya ada nanya-nanya tentang ayah, atau bunda nggak, ke Lala?"


"Onty Gesya tanya gimana kabar bunda sama ayah, bobonya masih pisah-pisah atau enggak, terus ayah masih diam-diam nggak ke bunda" Jelas Lala, menceritakan tentang ontynya.


Setelah memastikan suhu airnya sudah pas, aku meminta Lala untuk masuk bathtub kemudian berucap.


"Terus Lala jawabnya gimana?"


"Bobonya masih pisah-pisah, tapi ayah udah nggak marahin bunda, ayah udah sayang-sayang bunda"


Aku menyabuni Lala setelah mengguyur tubuhnya serta membasuh mukanya. Dia memang belum tahu kalau aku sudah tidur seranjang dengan ayahnya sejak beberapa hari lalu.


Dari cerita Lala, aku bisa menyimpulkan kalau Gesya mengorek informasi melalui putriku secara up to date. Dan ternyata Lala lah yang sudah memberitahu ontynya kalau aku dan mas Bima masih tidur terpisah.


Tapi tidak saat ini, karena sudah hampir satu minggu aku pindah ke kamar utama di lantai bawah, merasakan hangat pelukan mas Bima.


Satu persatu, kesalahpahaman pun terjawab. Aku yakin kalau Gesya yang sudah mengambil gambarku dengan mas Saka waktu itu. Di saat yang bersamaan, selain memfitnah mas Bima sudah tidur dengannya, Gesya juga memfitnahku kalau aku sering bertemu dengan mas Saka. Mas Bima sendiri yang bilang, sebab dia sudah bertanya ke mas Saka kalau kami hanya bertemu sekali selama mas Bima tugas di Kalimantan.


Ternyata selama ini, Gesyalah yang sudah menjadi sangkuni dalam rumah tanggaku dengan mas Bima. Wanita itu seperti mengadu domba kami.


"Lala tahu nggak oma ngobrolin apa ke onty Hana?" Tanyaku setelah kami diam beberapa detik.


Lala bengong, seperti tengah berfikir. "Oma bilang kalau bunda udah merawat Lala dengan baik, terus sebentar lagi kata oma Lala punya adek, oma juga bilang kalau bunda cantik, kata oma, ayah beruntung punya bunda"


"Oma bilang gitu ke onty Hana?"


Kepala Lala terangguk mantap. "Merem dulu nak, bunda mau bilas kepala Lala"


Kedua tangan mungil Lala menutupi wajahnya. "Nafasnya pakai mulut ya, nak"


"Emm"


Lala mengusap kedua tangan pada wajahnya ketika guyuranku berakhir.


Aktivitas mandi selesai, aku membalut tubuh Lala menggunakan handuk kemudian membopongnya.


Begitu berbalik, aku tersentak ketika tahu-tahu mas Bima berdiri di ambang pintu dengan senyum aneh.


"S-sejak kapan mas di sini?" tanyaku terbata. Lantas melangkah melewatinya.


"Sejak sesi wawancaramu dengan putrimu"


Wajahku mungkin sudah bersemu merah, sebab kepergok tanya-tanya soal Hana.


"Jiwa kepomu, Bi?"


"Kepo itu apa yah?" tanya Lala menyambung.


Mas Bima yang hendak masuk ke kamar mandi membalikkan badan.


"Tanya bunda nak, bunda tahu apa itu kepo"


Lala menatapku penuh tajam.


"Apa bun?"


Tak menjawab, aku terus membantu Lala memakaikan baju. Sementara mas Bima sudah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2