Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 82 ~


__ADS_3

Aku terpaku, menerka-nerka kira-kira siapa yang mengirim ini.


Bukan maksudku untuk berburuk sangka, tapi entah kenapa terbersit di pikiranku bahwa ini adalah kiriman dari Gesya. Jajanan yang ku pikir sudah di beri racun.


Pemikiran konyol?


Tapi biar bagaimanapun, aku memang harus hati-hati, sebab ada seseorang yang ingin mencelakaiku dan anak-anakku.


Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh sudut yang masih belum ada manusia kecuali aku, satu persatu para karyawan mulai berdatangan. Aku menatap bu Viona, dan bu Tika yang berjalan beriringan sembarin mengobrol.


"Waah, bu Arimbi hari ini juara, datang paling pagi"


Aku tersenyum atas kalimat bu Viona, kemudian meresponnya.


"Selamat pagi bu Viona, bu Tika"


"Selamat pagi juga bu Arimbi" jawab keduanya kompak.


Sepasang netraku terus memindai tubuh dua wanita yang kini menghampiri meja kerjanya masing-masing.


Aku sendiri berniat menelfon mas Bima untuk menanyakannya. Karena bisa saja dia yang memberiku kejutan ini.


Menunggu sedikit agak lama, sambunganku akhirnya terjawab.


Aku maklum kalau mas Bima tak langsung menjawab ponselnya, sebab dia pasti masih berkendara di jalan raya.


"Assalamu'alaikum" Sapanya.


"Wa'alaikumsalam"


"Ada apa, Bi? Baru saja berpisah, kamu sudah merindukanku? Secinta itu kamu sama suamimu?"


"Ini masih terlalu pagi untuk bercanda mas"


"Suami istri bebas bercanda kapan saja, Bi. Sekarang katakan ada apa menelfon suamimu yang tampan ini"


"Jangan terlalu percaya diri, ketampanan mas itu biasa saja, kalah telak dengan Kang Ha Neul yang selalu terlihat memukau"


"Tapi kamu lebih mencintaiku dari pada Kang Ha Neul"


"Itulah masalahku, mas"


"Jadi mencintaiku adalah masalah?"


"Bercanda, jangan terlalu serius" Sergahku menampik prasangkanya.


"Katakan ada apa?" tanya mas Bima terdengar lembut.


"Apa mas yang mengirimiku jajanan pasar ini?"


"Jajanan pasar? Yang benar saja nona Anggara, aku baru saja mengantarmu ke kantor, aku juga belum sampai di Lanud, kamu pikir aku sempat memesannya"


"Terus ini dari siapa?"


"Jangan di makan, kamu cari tahu dulu pengirimnya, tapi jangan sampai kamu stres, okay nona Sersan. Telfon ibumu, tanyakan apakah ibu yang mengirimnya, hanya ibu yang tahu kamu menyukai jajanan itu"


"Mas tahu, kalau hanya ibu yang tahu aku suka jajanan ini?"


"Ibumu yang crita"


"Oh, jadi saat hubungan kita masih hambar, mas pernah memberiku jajanan ini untuk buka puasa, itu karena mas tahu dari ibu?"


"Hmm"


"Ish.. Ku pikir mas peka sama kesukaanku tanpa ibu memberitahu mas"


"Sama saja kan, karena aku peka, jadi aku membelikan jajanan itu buatmu"

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau telfon ibu"


"Kabari kalau itu dari ibu, dan kalau bukan dari ibu, jangan kamu makan"


"Iya"


"Ingat, jangan stres, ini masalah sepele"


"Iya"


"Assalamu'alaikum. I love you, Bi"


"Hmm, wa'alaikumsalam"


Setelah panggilan ku tutup, aku langsung beralih menelfon ibuku. Dan tak menunggu lama, panggilanku langsung terjawab hanya dalam hitungan detik.


"Assalamu'alaikum, nak"


"Wa'alaikumsalam, bu! Ibu dimana?"


"Di sekolah"


"Ini bu, Arimbi cuma mau tanya, apa ibu yang mengirim jajanan ini?"


"Sudah sampai to?"


"Sudah bu, jadi ini dari ibu?"


"Iya, kemarin ibu nggak sengaja ketemu sama seseorang, dia bilang kalau dia temanmu, dia juga bilang kamu sedang hamil dan katanya pengin makan makanan kesukaanmu, jadi ibu berinisiatif kirim itu ke kantormu"


"Teman Arimbi, bu?" Tanyaku penasaran.


"Iya, katanya teman kuliah. Dia pakai cadar jadi ibu nggak begitu tahu wajahnya seperti apa. Pas kami bertemu, dia langsung mengenali wajah ibu"


Pakai cadar? ada banyak temanku yang pakai cadar, tapi teman yang mana yang bertemu ibu? Dan kenapa tahu kalau aku sedang hamil. Jangankan teman bercadar, Riska saja belum ku beritahu.


Reflek aku menelan ludahku sendiri. Terenung dengan sekelumit prasangka yang tidak-tidak.


"Arimbi?"


"I-iya bu?"


"Ya sudah jangan lupa di makan ya, Bima bilang, nanti kalian akan datang dan menginap, ibu sudah bersihkan kamarmu. Dan kamu harus beritahu ibu sama ayah tentang kehamilanmu, ibu pengin dengar dari mulut kamu sendiri"


"I-iya bu"


"Hati-hati, nak"


"Ibu juga"


"Iya, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Aku kembali mematung usai bicara dengan ibu. Pikiranku kacau, tapi tak separah itu. Ini masalah sepele, aku harus tanya pada satpam. Dia pasti tahu.


Tanpa sadar, aku menjatuhkan pandangan ke tanganku yang masih memegang kartu ucapan.


Detik itu juga aku teringat kenapa nggak menanyakan siapa nama temanku ke ibu, juga soal kartu ucapan ini.


Setelah meletakkan tasku di atas meja, aku bergegas melangkah keluar ruangan lalu mengarahkan kakiku ke post satpam.


"Selamat pagi pak"


"Eh bu Arimbi, selamat pagi bu. Ada yang bisa di bantu bu?"


"Enggak ada pak, saya cuma mau tanya, apa bapak tahu siapa yang mengirim kotak jajanan ke saya?" tanyaku dengan tidak sabar. Aku benar-benar ingin segera tahu.

__ADS_1


"Oh itu bu, tadi ada grabfood yang antar, tapi saya minta mbak Isnaeni buat naruh di atas meja ibu"


"Oh, bapak tahu itu dari siapa pak?"


"Katanya dari ibunya bu Arimbi"


"Terus mengenai kartu ucapannya_"


Belum sempat aku menyelesaikan kalimatnya, Pak No keburu memenggal ucapanku.


"Kalau kartu ucapan itu saya yang nulis bu, soalnya mas grabfoodnya minta di tulisin tadi"


"Oh begitu ya"


"Iya bu, maaf kalau lancang"


"Nggak apa-apa, pak. Kalau begitu saya permisi pak" kataku ramah. "Terimakasih pak No"


"Sama-sama bu"


Mungkin memang ibu yang mengirimnya, tapi kenapa pikiranku menyanggahnya?


Ah sudahlah...


Aku menatap jam di pergelangan tanganku di sela-sela langkahku kembali ke ruang kerja.


"Dari mana, Bi?" Tanya Riska yang sudah duduk di meja kerjanya.


"Dari pos satpam"


"Tumben, ada perlu apa sama pak No?"


"Cuma nanyain soal kotak ini"


"Kotak jajanan?" Riska mengernyit. "Memangnya bukan kamu yang bawa dari rumah?"


Aku menggeleng singkat.


Karena aku sudah kenyang sebab sudah sarapan dan minum susu hamil aku tak memakannya. Aku langsung di sibukkan dengan pekerjaanku yang sudah merengek minta di selesaikan.


Terlalu sibuk bekerja, aku sampai lupa dengan jajanan yang begitu menggoda ini. Ku tengok meja Riska karena aku ingin berbagi dengannya, namun meja Riska kosong, Entah pergi kemana dia, aku tak terlalu memperhatikannya.


Bangkit dari dudukku, aku berniat ke toilet. Saat melangkah melewat beberapa ruangan, aku melihat seekor kucing yang tengah mengeong. Merasa kasihan, aku berbalik untuk mengambil satu lemper dan memberikannya ke kucing mungil yang sepertinya sedang kelaparan.


Hanya berselang dua menit, aku sudah kembali menghampiri seekor kucing.


Pelan, ku buka makanan yang di balut dengan daun pisang lalu meletakannya di lantai tepat di depan mulut kucing.


Aku meninggalkan hewan yang kini tengah menikmati lemper berisi daging, lantas melanjutkan niatku yang ingin ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi, aku tersentak ketika melihat kucing itu sudah tergeletak dengan tubuh yang lemah tak berdaya. Belum mati, tapi cukup membuatku detik itu juga merasakan ketakutan di luar batas normal.


Ketakutanku, berada di level tertinggi.


Ya Rabb.. Apa ini? Lemper yang ku beri baru setengahnya di makan, tapi kucing itu???


Apa ada sesuatu di lempernya?


Menarik napas panjang, aku merasa kesulitan ketika menyalurkan udara ke paru-paru.


Kepanikan dan ketakutan yang datang secara bersamaan, membuat keringat dinginku sepersekian detik seakan langsung membanjiri tubuhku.


Hanya satu nama yang terus terlintas di kepalaku.


Gesya...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2