
Dengan tangan gemetar, aku memungut sisa lemper di lantai menggunakan tisu kamar mandi bekas mengelap tangan basahku yang hendak ku buang tadi. Aku melemparnya ke tempat sampah dan kembali ke kamar mandi untuk mencuci tangan kemudian langsung berlari ke ruanganku.
Pikirku, jangan sampai Riska memakannya. Karena hanya Riskalah yang tak pernah sungkan denganku. Aku harus mengamankan makanan itu dan akan ku buang saja. Setelah makanan itu masuk ke tong sampah, aku akan langsung menghubungi mas Bima untuk memberitahukan semuanya.
Namun, baru saja aku memasukkan kotak jajanannya ke kantong plastik, dan hendak membawanya untuk ku buang, ponselku tiba-tiba berdering.
Otomatis, secara spontan sepasang netraku langsung jatuh pada layar ponselku.
Mas Bima calling ...
Tak menundanya, aku langsung menggeser ikon hijau, lantas menempelkannya di telingaku.
Kondisi hati dan pikiranku yang masih di liputi panik berbaur takut, membuat otak dan mulutku tak bisa berjalan dengan sinkron.
"Bagaimana, Bi? Siapa yang mengirimnya, kenapa nggak mengabariku?" Tanya mas Bima setelah sebelumnya kami sudah saling memberi salam.
"J-jajanan" Aku tergagap, mengontrol detak jantung yang terasa kian tak nyaman.
"K-kucingnya, mungkin m-mati"
"Apa maksudmu, Bi"
"Jajanannya beracun mas?"
"Beracun?" Aku yakin mas Bima sangat terkejut. "Ngomong yang jelas Bi!"
"T-tadi aku coba kasih kucing lemper dan setelah memakannya kucing itu melemas tak berdaya, mas"
"Masa si?"
Belum sempat bersuara untuk merespon mas Bima, aku mendengar pak Firman mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang dan reflek menelan ludah. "Iya itu pak No lagi ngubur kucingnya"
"Astaghfirullah" Desisku lirih.
"Kenapa, Bi?"
"K-kucingnya mati mas"
"Mati? Maksudmu setelah kamu kasih lemper?"
"Iya" Entah seperti apa raut wajahku saat ini, yang jelas ketakutanku semakin memuncak.
"Ya sudah jangan di makan"
"Aku belum memakannya"
"Memangnya dari siapa jajanannya, bukan dari ibu meh?"
"Dari ibu mas"
"Masa iya ibu ngeracuni putrinya sendiri, ini pasti ada yang nggak beres Bi" Nada mas Bima terdengar panik. "Sekarang jajanannya di mana"
"Ini mau ku buang"
"Jangan di buang. Nanti aku selidiki, aku akan telfon mbak Ayu buat ambil jajannya untuk di bawa ke lab"
"Kenapa bukan mbak Kanes saja?"
"Mbak Kanes lagi di luar kota, ada beberapa jenazah yang harus di autopsi"
"Nggak apa-apa mas, merepotkan mbak Ayu?"
"Nggak apa-apa, mbak Ayu mbak ku juga kan"
Aku mengangguk, seperti sedang bicara secara tatap muka saja.
"Kamu jangan stres ya, jangan takut. Yang penting selalu hati-hati"
"Iya mas"
"Mulai sekarang jangan ambil keputusan sendiri, beritahu aku apa yang kamu alami, ngerti"
"Iya"
"Jangan sampai pikiranmu kacau, hatimu nggak tenang yang nantinya akan berdampak nggak baik pada si adek"
"Iya" Sahutku mengiyakan untuk kesekian kali.
"Fokus sama kerjaanmu, jangan beli makanan dari luar, nanti aku minta anak-anak kirim ransum buat makan siang kamu"
"Nggak usah mas, nanti ngerepotin anak-anak mas"
"Nggak apa-apa, kalau Gesya bisa menyabotase kiriman makanan dari ibu, nggak menutup kemungkinan dia juga menyuruh kantin di kantormu buat melancarkan strateginya kan? Kalau memang dia pelakunya, sudah jelas dia berusaha membuatmu celaka"
Aku menghela napas panjang setelah mendengar ucapan mas Bima.
__ADS_1
"Kali ini kamu selamat, tapi next time? Nggak tahu kan, makannya untuk antisipasi kamu jangan sembrono"
"Ya sudah mas, aku sibuk"
"Hmm.. Aku akan telfon mbak Ayu ya, suruh ke kantormu sekarang"
"Iya"
Begitu panggilan terputus, aku berusaha bersikap tenang, melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat terjeda.
Tak menampik dengan rasa panikku yang masih melekat dalam diri, dan terus naik level.
Hamil anak pertama, aku justru harus di kejutkan dengan kejadian yang begitu ironis.
Menurut orang jawa, jika sedang hamil di larang membunuh hewan, dan aku tanpa sadar malah sudah membunuh seekor anak kucing.
Aku berharap tidak ada hal buruk yang menimpa calon anakku di kemudian hari.
****
"Kamu bisa nak, kerja sambil ngurus rumah, anak, serta suami dalam kondisi hamil?"
Aku yang sedang mengupas apel, reflek menoleh ke ibu yang sedang mengaduk teh.
Aku, Lala dan mas Bima, sudah berada di rumah ayahku, kami baru saja selesai makan malam dan akan bercengkrama sambil melihat tv.
Lala jelas senang bisa menginap di rumah orang tuaku karena ayah dan ibuku begitu menyayangi layaknya cucu sendiri.
"Maksudnya, ibu kasihan lihat kamu, sudah ngurus Lala dan Bima, belum lagi harus kerja seharian dan mengurus rumah"
"Mas Bima banyak bantu kok bu, malah dia yang seringnya menyelesaikan pekerjaan rumah"
"Nggak cari ART saja buat bantu ngurusin rumah?"
"Untuk saat ini belum dulu, pekerjaan rumah masih bisa kami handle"
"Bagaimana baiknya terserah kalian" kata ibu mengalah. "Kalian sudah sama-sama dewasa, pasti tahu bagaimana caranya memecahkan masalah rumah tangga. Tapi pesan ibu, kalau memang perlu ART, segera cari, jangan nunggu sudah repot baru kelimpungan nyari"
"Iya bu, Arimbi ngerti kok"
"Bundaa" Seru Lala yang tiba-tiba menghampiri kami di dapur.
"Kenapa, La?" tanyaku menunduk.
"Ayah minta di bawain air putih hangat"
"Iya, makasih nenek"
"Sama-sama" anak itu kembali berlari ke ruang tengah, tempat mas Bima dan ayahku berada.
"Hamil anak pertama jangan ceroboh ya Bi, ibu pesan sekali kamu harus terus mengingatnya. Kalau nggak paham, atau nggak tahu, tanyakan pada ibu atau mami mertuamu, jangan beli perlengkapan bayi sebelum usia kandunganmu tujuh bulan"
"Iya bu"
"Dan harus hati-hati, banyak orang jahat yang pura-pura baik di depan kita"
Sebelum beranjak membawa nampan berisi teh, ibu mengusap kepalaku lembut. "Bagi semua bebanmu pada suamimu, soal makanan yang ibu kirim tadi pagi serahkan pada Bima, biar dia yang selidiki semuanya"
"Iya"
"Jangan sampai stres, karena stres sedikit bisa berdampak buruk pada bayimu"
"Hmm" responku seraya mengangguk.
Apa yang ibu katakan, sama persis dengan apa yang selalu mas Bima pesan padaku.
Beberapa menit berlalu, kami berkumpul di ruang tengah sambil melihat tv, membicarakan banyak hal salah satunya mengenai pekerjaan mas Bima
Adikku yang juga bekerja sebagai TNI di AU membuat ayah begitu antusias mendengar cerita mas Bima tentang dunia TNI.
Berkat mas Bima pula Yunus akhirnya di nyatakan lulus sebagai prajurit atau dengan kata lain, Yunus adalah anak mas Bima. Maksudnya anak buahnya.
Mas Bima tak suka jika menyebut bawahannya sebagai anak buah. Ia lebih luwes menyebut mereka sebagai anak-anaknya.
Dan meski rekomendasi dari kakak iparnya, tetapi adiku tetap berjuang sendiri mengikuti serangkaian tes hingga dia bisa menjadi bagian dari angkatan bersenjata.
Sama dengan mas Bima, dulu di awal-awal karirnya, dia juga seperti adikku. Berjuang dari pangkat terendah hingga kegigihannya itu mendapat penghormatan dan terus naik pangkat.
Sudah hampir lima belas tahun berkecimpung di dunia militer, semenjak mas Bima berusia delapan belas tahun hingga tiga lima, ku dengar mas Bima di gadang-gadang akan naik pangkat menjadi kapten menggantikan kapten lama yang sebentar lagi akan pensiun.
Sementara Lala, menjadi pusat perhatian kami terutama ayah dan ibuku ketika anak kecil itu menceritakan tentang kegiatannya di sekolah.
Malamnya, usai aku dan mas Bima sudah berada di dalam kamar, pria yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya, dia langsung naik ke atas ranjang sembari berkata.
"Kamu yakin, biarin Lala bubuk sama ibu dan ayah?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, toh juga masih satu rumah, kalau nanti nangis atau kebangun bisa di antar ke sini kan"
Terdiam sejenak, mas Bima akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Saat aku dan ayahnya Lala saling tatap, terdengar bunyi ponsel yang tergeletak di atas nakas
Otomatis, pandangan kami terputus sebab sama-sama menoleh ke arah suara bersumber.
"Siapa mas?" Tanyaku setelah mas Bima berhasil meraih benda pintarnya.
"Mbak Ayu, dia pasti akan memberitahu hasil lab jajanan itu"
Pria di depanku langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, mbak!"
Mas Bima sengaja mengeraskan suara agar aku bisa turut mendengarnya.
"Wa'alaikumsalam, Bim?"
"Iya mbak?"
"Mbak ada ganggu?"
"Enggak, justru telfon mbak ayu lagi aku tunggu" Aku hanya diam tanpa bersuara.
"Arimbi mana?"
"Ini di depanku. Gimana hasilnya mbak?"
"Sebelum mbak kasih tahu, mbak mau tanya dulu"
"Tanya apa?" aku dan mas Bima sama-sama mengernyitkan dahi.
"Apa Arimbi sedang hamil?"
"Kenapa memangnya mbak?"
"Enggak, soalnya di kleponnya ada zat kimia yang bisa menggugurkan kandungan, dan itu nggak tanggung-tanggung, Bim. Berupa bubuk, dosisinya sangat tinggi"
"Astaghfirullah" gumamku sangat lirih. Mas Bima langsung menatapku mendengar aku beristighfar.
"Arimbi lagi hamil ya Bim?" ulang mbak Ayu.
"Iya mbak"
"Untung saja nggak di makan sama istrimu, nggak tahu deh kalau sampai kemakan. Soalnya selain penggugur kandungan pada klepon juga kue bikangnya, ada racun tikus di lemper, obat bius dosis tinggi yang sengaja di suntikkan di ote-otenya"
"Mbak serius?"
"Ya seriuslah, mbak juga kaget" Balasnya serius. "Memang siapa yang kirim gituan? Jahat banget si?"
"Belum tahu mbak, awalnya ibunya Arimbi yang pesan makanan itu ke temannya yang buka stand di area taman kota. Tapi pas ku cek, katanya ibu membatalkan pesanannya lewat ponsel. Padahal ibu sama sekali nggak batalin. Ya udah akhirnya jajanan dari ibu nggak kekirim"
"Ada yang menyabotase? Kalian punya musuh?"
"Nggak tahu juga mbak"
"Ya sudah, mbak akan bicarakan ini sama mas Bagas, biar dia yang selidiki"
"Makasih mbak"
"Hmm,, pesan mbak, kalian hati-hati. Terus selamat juga buat Arimbi atas kehamilannya, mbak ikut senang"
"Makasih mbak"
"Di tutup dulu ya Bim, Arimbi"
"Iya, mbak"
Usai panggilan berakhir, mas Bima langsung membawaku ke dalam pelukannya. Jelas dia tahu kalau aku sedang merasa tertekan.
"Selalu hati-hati ya Bi, ini masalah serius. Tapi kamu jangan over afraid, aku akan coba cari tahu"
"Mas juga hati-hati, jaga Lala juga"
"Dia nggak akan mencelakaiku dan Lala, karena targetnya itu kamu. Musuhmu cuma Gesya yang mengancammu juga dia, jadi kamulah yang pasti akan kena teror"
"Tapi mas juga hati-hati, takutnya dia nyulik mas, terus nyekokin sesuatu ke mulut mas"
"Aku nggak akan bisa di culik, suamimu ini jago perang, jago bela diri, jago nembak juga, apalagi kalau nembak kamu pasti tepat sasaran langsung kena dan jadi si adek"
Aku menggerutu dengan umik-umik dari mulutku. Sementara mas Bima langsung mengapit bibirku dengan kedua jarinya gemas, sebelum kemudian mengecupnya dengan sangat intens dan penuh gairah.
Ini pertama kali kami melakukan penyatuan tubuh di rumah orang tuaku.
__ADS_1
Bersambung