
Aku kembali naik setelah mengantar Lala. Teringat dengan rendaman bajuku yang semalam kebasahan karena hujan, aku berniat mencucinya dan akan membawa pulang sebab itu pakaian dinas khas hari sabtu.
Aku bisa mencuci sekaligus mandi, setelah itu akan menyiapkan makan siang untuk mas Bima.
Begitu aku membuka pintu kamar, sepasang irisku langsung mendapati mas Bima duduk di meja kerja sedang bermain game di komputer.
Tak mau mengganggu keasyikannya, aku langsung mengarahkan kaki menuju kamar mandi. Toh mas Bima juga mengabaikanku, jadi untuk apa aku menyapanya.
Aku benar kan?
"Bi" Aku menghentikan langkah ketika mendengar namaku di panggil. Tentu saja pria dingin dan irit senyum yang memanggilku.
Aku berbalik, menatap punggung mas Bima yang masih di posisi semula.
"Iya, mas"
"Kamu mau ngapain?" Tanyanya, tanpa membalikkan badan.
"Mau mandi, kenapa?" Balasku yang terdengar cuek di telingaku sendiri.
"Nggak apa-apa"
Ada sedikit kesal sebenarnya, akan tetapi aku sendiri tak tahu apa yang memantik kekesalanku. Kembali berbalik, aku bergegas memasuki kamar mandi, tak peduli dengan mas Bima yang menoleh heran sebab salah satu tanganku sempat mengepal kemudian menyentakkannya dengan agak sedikit kasar.
Tak ada suara apapun di dalam kamar mandi kecuali kucuran air yang mengalir membasahi tubuh setelah sebelumnya mengucek seragamku.
Cukup lama berada di kamar mandi, aku akhirnya keluar dan langsung membawa ember berisi pakaian yang sudah ku cuci.
Aku sudah mengenakan setelan rumahan tetapi tanpa hijab. Hanya membungkus rambutku yang masih basah dengan handuk.
Tak ada papi kurasa tak masalah, toh hanya sekedar menjemur baju.
Baru saja menyentuh handel pintu, lagi-lagi langkahku di cegah oleh suara mas Bima.
"Mau kemana?" Tanyanya menyelidik.
"Jemur baju"
"Pakai hijabmu!"
"Cuma jemur baju doang mas, nggak ada papi atau siapapun kecuali bik Nani dan mbak Nining"
"Ku bilang pakai penutup kepalamu"
Tak berani membantah, ku letakkan ember di atas keset, kemudian melangkah meraih bergo yang tadi ku taruh di lengan sofa.
Aku memakainya sembari berjalan ke arah pintu.
"Seduh CDR dan bawa kesini, Bi" perintahnya dengan tatapan sepenuhnya ke layar komputer.
"Terus apa lagi?"
Alih-alih menjawab, mas Bima malah melempar tatapan tajam. Menyandarkan punggung di sandaran kursi sementara tanganya langsung ia lipat di dada.
"Apa seperti ini jawabanmu kalau suami memerintahkanmu, hmm?" Pria itu mengangkat dagunya. "Apa selalu ketus saat lagi datang bulan?"
"Maaf" Lirihku tak enak hati. "Mau cemilan juga?" tambahku dengan suara rendah.
"Nggak usah. Seduh vitamin saja"
Baik, ndoro..
Hhhh ... Tentu aku mengatakannya dalam hati.
"Tunggu sebentar"
"Hmm" sahutnya yang sudah beralih menatap monitor.
Aku kembali melangkah, menuruni anak tangga satu persatu.
"Mbak Nining, tolong nanti ingatkan saya sama baju yang saya jemur ini, ya"
"Baik bu"
"Makasih, sebelumnya"
"Sama-sama bu"
Selesai menjemur baju, aku membuatkan minuman yang mas Bima pesan. Saat tengah mengaduk, tiba-tiba aku teringat tentang ucapan Gesya yang mengatakan kalau mas Bima sudah menceritakan kondisi rumah tangga kami. Waktu itu mas Bima janji akan membahasnya di rumah, jadi ku pikir aku perlu menanyakannya sekaligus ingin tahu kenapa mas Bima dengan lancangnya menceritakan masalah keluarga pada orang luar.
Menurutku itu salah, dan aku harus mengingatkan mas Bima untuk itu.
Tanpa nampan, aku membawa gelas berisi minuman bervitamin ke kamar kami.
"Ini mas" Ucapku sambil meletakkan gelas di sebelah PC.
"Makasih"
"Sama-sama"
Melihat seperti apa reaksi pria yang nampak serius dengan permainannya, aku berfikir kembali apakah harus mengatakan apa yang ingin ku sampaikan tadi.
Hampir setengah menit aku berdiri di samping kursi yang ia duduki, aku memberanikan diri untuk bersuara.
"Mas!" Kedua tanganku menyatu dan saling meremat.
"Hmm"
"Mas sibuk?"
"Kenapa?" Nadanya tak sedingin tadi.
"Bisa kita bicara?"
Mendengar ucapanku, mas Bima menoleh ke arahku sesaat, lantas mengklik ikon pause pada permainannya.
"Bicara apa?" Dia mendaratkan kedua tangan di sandaran kursi.
Sementara aku tak langsung menjawab, sebab mendadak ada perasaan gugup campur takut yang singgah secara bersamaan.
Mengusap hidungku menggunakan punggung tangan, tubuhku berjengit ketika pergelangan tanganku di raih oleh tangan mas Bima, detik selanjutnya ia menarikku.
__ADS_1
Otomatis aku langsung duduk menyamping di atas pangkuannya, dan tanganku mendarat di kedua pundak mas Bima.
Posisiku yang lebih tinggi darinya, membuat mas Bima mendongak.
Berkali-kali aku menelan ludahku sendiri dengan amat susah.
Ini tidak baik, terutama untuk kesehatan jantungku.
Entah kesambet setan mana, semenjak pulang dari dinasnya kemarin, mas Bima sering sekali mempermainkanku. Terutama mempermainkan detak jantungku.
"Mau bicara apa?"
Hening, aku gerogi, jantungku ribut, sementara keringat dingin juga merembes.
"Lupa, mau ngomong apa?"
Aku diam, masih enggan merespon.
"Hmm" sepasang manik gelap mas Bima terus terarah ke manik hitamku.
"E-enggak jadi"
Pria ini langsung mengangkat satu alisnya.
"M-maksudku, l-lain kali saja"
Dengan posisi seperti ini, aku sudah yakin kalau mulut, hati dan pikiranku pasti tidak akan mau di ajak bekerja sama.
"Dan tidak di rumah" tambahku.
"Tidak di rumah?" Mas Bima mengernyitkan dahi "Terus dimana?"
"Di luar"
"Di luar?" Ulangnya. "Kenapa di luar?"
Tentu saja supaya mas nggak macam-macam. Kalau di luar, mas nggak akan berani bicara dengan posisi seperti ini. Kita bisa bicara dengan jarak paling tidak satu meter.
"Okay" Imbuh mas Bima karena aku hanya bergeming tanpa membalas ucapannya.
"Kita bicara di mana?"
"Taman kota" Kataku reflek.
"Kapan?"
"Besok-besok"
"Nggak sekarang saja?"
"Enggak" Pikiranku sudah terlanjur bubar, nggak mungkin aku bicara sekarang, yang ada aku kembali kena skak mat.
"Permisi mas" Aku hendak bangkit, namun mas Bima tak mengijinkanku beranjak dari atas pangkuannya.
"Mau kemana?"
"Dapur"
"Siapin makan siang"
Mas Bima melirik jam di dinding setelah mendapat jawabanku. "Baru jam sepuluh. Masih ada waktu satu jam"
Persekian detik aku kembali menelan salivaku.
"Berapa hari tamu bulananmu datang?"
"Satu minggu"
"Masih tujuh hari lagi" Gumam mas Bima melirik ke arah lain, kemudian mengatupkan rahang.
Sejujurnya aku ingin sekali bertanya 'kenapa', tapi tak memiliki keberanian, seujung kukupun tak ada.
"Aku ke kamar mandi dulu mas"
"Mau ngapain?"
"Ganti pembalut"
"Bukankah kamu baru saja mandi?"
Nah kan, bahkan ucapanku sendiri menjadi boomerang untukku.
Satu menit berlalu, tatapan mas Bima terus saja mengarah ke wajahku, kadang jatuh ke bibir, hidung, mata, kadang ke keningku.
Aku sendiri makin salah tingkah di perhatikan seperti itu.
Dengan jarak sedekat ini, aku memberanikan diri mempertemukan netra kami.
Sosok mas Bima yang bagiku masih sangat tampan seperti pertama kali aku melihatnya beberapa tahu lalu, hanya satu yang hilang dari dirinya.
Sifat nakalnya, kini berganti menjadi sikap dewasa dan berubah menjadi sosok ayah yang bijaksana untuk putri semata wayangnya.
Mungkin aku beruntung memilikinya, tapi juga belum sepenuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel milik mas Bima yang teronggok di atas nakas.
"Akan ku ambilkan"
Aku bangkit begitu mas Bima mengerjapkan mata.
Syukurlah, aku selamat.
"Siapa?" Tanya mas Bima ketika ponsel sudah berada di tanganku.
"Mami" Jawabku lalu menyerahkan benda itu ke pemiliknya.
"Assalamualaikum, mih?"
"Mungkin dalam mode silent, jadi nggak dengar, kenapa?"
Aku tak bisa mendengar suara mami.
__ADS_1
"Mami mau bicara" Dia menyodorkan ponsel ke arahku.
Aku menerimanya lantas menempelkan di telingaku.
"Assalamu'alaikum, mih"
"Waalaikumsalam... Sayang, ayah Danu sama bunda Nina mau makan malam di rumah, ayah kan suka daging, tadi bik Nani telfon mami, katanya nggak ada persediaan di kulkas, kamu bisa pergi membelinya, minta di antar Bima nanti"
"Bisa, mih. Ada lagi yang lain?"
"Coba tanya ke bik Nani, butuh apa saja"
"Iya mih"
"Gitu aja ya, Bi"
"Iya"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Ada apa?" Tanya mas Bima setelah panggilan ku tutup.
Aku mengembalikan ponsel mas Bima. "Mami nyuruh beli daging, ayah sama bunda mau makan di sini"
"Sekarang?"
"Iya, aku akan ke supermarket sekarang"
"Ku antar"
Mas Bima langsung melangkah ke arah ranjang, menarik laci nakas, lalu mengambil arloji mewah dengan harga cukup fantastis. Sepasang arloji yang ku tahu hadiah dari mas Ken saat kami menikah.
Satu lainnya sudah ada padaku.
Sama seperti mas Bima yang belum pernah memakainya, akupun tak berani memakai arloji couple itu. Aku menyimpannya di nakas kamarku di rumah mas Bima.
Tapi sekarang? Sekali lagi aku heran, mas Bima kesambet setan apa, sampai-sampai dia mau memakai arloji hadiah pernikahan, padahal di atas nakas ada jam tangan miliknya yang biasa dia pakai.
"Aku tunggu di bawah" ucapnya sambil mengancingkan betul-betul arloji di pergelangan tangannya. Setelah itu meraih dompet serta kunci mobil.
***
Aku sudah membeli semua yang ku butuhkan termasuk daging sapi pesanan mami. Cukup banyak belanjaan kami, aku dan mas Bima saling berbagi membawa belanjaan ke mobil.
Ku letakkan beberapa plastik di bagasi belakang setelah mas Bima berhasil membukanya.
Pria itu mengajakku ke restauran burger king karena memang sudah waktunya makan siang.
Selagi mas Bima memesan makanan, aku mencari tempat duduk yang kosong untuk kami tempati.
Aku kembali ingin mengutarakan niatku membicarakan apa yang mengganjal di hatiku. Di tempat ini ku rasa cukup aman, mas Bima tak berani aneh-aneh karena ini tempat umum.
Beberapa menit berlalu, mas Bima menghampiriku dengan membawa nampan berisi pesanan kami. Makan di tempat ini memang sudah langsung di bayar dan tak menunggu lama pesanan akan siap.
Dua porsi burger king lengkap dengan minum dan kentang goreng. Mas Bima tahu aku dan Lala suka sekali makan makanan cepat saji ini.
Kami makan dalam diam. Karena perutku sesekali terasa nyeri efek datang bulan, aku tak menghabiskan burger yang ukurannya lumayan besar. Mas Bima membantuku menghabiskannya.
"Mas"
"Hmm"
Aku memberanikan diri yang entah dari mana datangnya. "Mas kenapa menceritakan soal rumah tangga kita ke Gesya?" Mas Bima sama sekali tak terkejut dengan pertanyaanku.
"Bukankah itu nggak benar, bahkan mas bilang padanya kalau sampai detik ini kita tidur di kamar yang berbeda"
"Itu karena dulu aku kesal dengan perjodohan kita" Akunya jujur, dan itu membuat dadaku seketika sesak. "Bagiku dulu pernikahan ini adalah sesuatu yang membuatku marah, saking marahnya, aku tanpa sengaja menceritakan semua unek-unekku pada Gesya. Aku bahkan bilang padanya kalau aku tak akan sudi menyentuhmu"
Jantungku seakan tak terima mendengar pengakuannya.
Tanpa basa-basi, air mataku terjun bebas.
"Aku juga bilang pada Gesya kalau aku membuat perjanjian dengan mami sesaat setelah ijab"
Sementara aku, semakin tak bisa mengontrol laju air mataku. Aku terisak dengan kekanak-kanakan.
"Kenapa nangis? Kejujuranku menyakitimu?"
Aku diam, benar-benar tak ingin menjawab pertanyaannya.
Segitunya mas Bima terhadapku. Jika tidak suka pernikahan ini, apa baiknya menceritakan pada orang lain, apalagi pada adiknya mbak Hana.
Tahu-tahu, mas Bima bangkit, lalu meraih tanganku, membawaku keluar dari area restauran fastfood.
Pria dengan tinggi sekitar 183 centi meter itu terus melangkah menuju mobil kami.
Membuka pintu mobil, mas Bima mendorongku lembut supaya aku duduk di kursi penumpang bagian depan.
Dia membantuku menalikan sabuk pengaman, sama seperti saat dia membantu Lala memakaikan seatbelt.
Setelah itu mas Bima menutup pintunya kemudian berjalan memutar, masuk dan duduk di balik kemudi.
Menyalakan mesin, pria di sampingku melirik spion luar kemudian memutar roda kemudi ke arah kanan.
Mobil mas Bima seketika melaju dengan kecepatan sedang.
"Bukankah untuk mengawali suatu hubungan yang lebih baik, kejujuran itu perlu?" Kelakarnya dengan nada kesal.
"Tapi nggak gitu juga" Sahutku asal, sambil mengusap pipiku.
"Lantas, apa aku membiarkan kamu mendengarnya dari mulut Gesya, bukan dari mulutku? Sebelum aku bicara, aku sudah memikirkan matang-matang, dan kamu lebih baik mendengar dari mulutku sendiri. Jika kamu mendengar dari Gesya, tidak menutup kemungkinan kamu akan marah, dan kemungkinan tragedi minggat-minggatan akan terulang lagi"
"Siapa yang akan di salahkan dan di amuk Lala setelah itu?"
Aku diam, benar apa yang mas Bima katakan, aku lebih baik mendengar dari mas Bima meski kejujurannya melukaiku.
"Lain kali" Kata mas Bima setelah hening beberapa detik. "Kalau mau bicara, lebih baik kita bicara di rumah saja. Kamu mau nangis, mau teriak, atau mau ngamuk sekalipun, setidaknya nggak ada orang yang melihatmu"
Tadi memang ada beberapa pasang mata yang memusatkan perhatiannya ke arahku saat keluar dari restauran. Hingga langkah kami sampai di mobilpun masih ada tatapan heran tertuju pada kami.
__ADS_1