
Sama sekali tidak pernah ada dalam anganku kalau hidupku akan semenakutkan ini. Apalagi dalam kondisi sedang hamil, tapi untungnya baik keluargaku maupun keluarga mas Bima begitu protective. Mereka menjagaku seakan tak pernah lengah.
Setelah semua keluarga tahu tentang kehamilanku, dan juga teror dari seseorang yang belum di ketahui identitasnya, mereka ancang-ancang agar aku tetap berada dalam posisi aman.
Jika di kantor ada Riska yang sudah di mintai bantuan oleh mas Bima, maka di rumah ada mas Bima, papi, mami, orang tuaku, dan kakak-kakak iparku. Tapi sejauh mas Bima ada di rumah, aku akan ada dalam penjagaannya.
Sedangkan mengenai siapa yang mengirim makanan beracun itu, mas Bima yang di bantu oleh mas Bagas menyelidikinya sama sekali tak mendapatkan hasil, sebab pelakunya begitu apik melakukan aksinya, sama sekali tak ada bukti barang satupun yang mas Bima temukan.
Seorang kurir yang mengantar jajanan itupun benar-benar tak bisa di lacak keberadaannya. Mengingat saat itu si kurir memakai masker dan helm, membuat wajahnya tak terlihat dengan jelas. Sementara plat nomor kendaraan yang tertangkap pada camera CCTV pun tak terdaftar di kepolisian. Plat itu di buat sendiri dengan nomor asal karangan si pelaku sendiri.
Gagal, kami tak bisa menemukan dan menghukum pelakunya.
Gesya sendiri saat hari kejadian, berada di Singapura di tempat mbak Hana dan baru kembali ke Indonesia beberapa hari yang lalu.
Tak ada sesuatu yang bisa membuat kami mencurigainya. Tapi meski begitu, mas Bima tetap menduga bahwa Gesyalah pelakunya, hanya saja kami tak memiliki bukti yang bisa menjerat dia ke dalam penjara.
Andai aku memakan jajanan itu kemudian terjadi sesuatu padaku, pasti pelakunya tertawa jahanam merayakan kemenangannya tanpa di ketahui oleh siapapun.
Pintar sekali dia, melakukan kejahatan tanpa meninggalkan jejak.
"Bi" Panggilan mas Bima membuat lamunanku seketika buyar. Aku yang tengah menatap diri di cermin dengan pandangan kosong, terus saja mengkhawatirkan sesuatu karena merasa diri ini terancam.
"Minum susu, setelah itu istirahat" Pandangan kami bertali melalui pantulan cermin.
Mas Bima yang berdiri di belakangku tampak memegang segelas susu di tangan kanannya.
"Lala sudah tidur?" tanyaku bangkit dari dudukku lalu berbalik dan mengambil alih gelas di tangan mas Bima.
"Sudah"
"Nggak rewel?"
"Sedikit bandel tadi karena minta di nina boboin sama bundanya, tapi aku bilang kalau bunda lagi capek"
Mas Bima mengatakannya seraya berjalan ke arah ranjang, sementara aku meneguk susu sambil mendengarnya. Sepasang ekor mataku tak lepas dari pria yang kini tengah menata bantal pada headboard.
"Harusnya mas panggil aku, kasihan kan Lalanya"
__ADS_1
"Dia harus terbiasa, Bi. Sebentar lagi akan punya adek, biarkan dia mandiri" Mas Bima duduk di tepi ranjang sambil membuka laptop yang di raihnya di atas nakas. "Jangan terlalu memanjakannya, bundanya akan sibuk dengan bayinya. Jika membiasakan Lala terus bergantung pada kita, dia tidak akan bisa melakukan apapun. Perlakuan yang berlebihan, akan membuatnya nggak bisa mengambil keputusan sendiri nanti"
"Cuma nemenin bobo aja sebentar kan nggak apa-apa" Gerutuku, kemudian kembali meneguk sisa susu yang masih setengahnya.
"Boleh, tapi jangan setiap malam di bantu bobo"
"Dia masih kecil-kecil mas, wajarlah"
"Terus saja di bela" Ketus mas Bima melirikku sekilas.
"Aku bukannya membela, tapi lihat usianya belum genap lima tahun_"
"Beberapa bulan lagi sudah lima tahun, jadi belajar membiasakan diri dari sekarang, okay"
Aku mengatupkan bibir lalu memanyunkannya.
Aksiku ini tertangkap oleh sepasang manik gelap mas Bima.
"Kenapa dengan bibirmu?" Tanyanya datar, dengan tatapan tajam seperti tengah mengintimidasi.
"Memangnya kenapa dengan bibirku?"
"Mas juga gitu kan?"
"Kamu kalau di bilangin suami gitu ya, nyolot terus" Pria itu menatapku tajam, tapi sama sekali tak membuatku takut. Aku bahkan menyunggingkan senyum saat mas Bima tak berkedip.
"Lama-lama pengin ku makan habis-habis tuh bibir"
"Ish" Gerutuku, menarik salah satu sudut bibir ke arah kiri.
Aku langsung keluar dari kamar berniat ke dapur untuk meletakkan gelas, setelahnya aku mengarahkan kaki menaiki tangga, menuju ke kamar putriku untuk mengucapkan selamat tidur.
Putri kecilku, yang selalu aku rindukan di setiap detik. Bahkan tak pernah teralihkan dari ingatanku barang sejenak.
Puas mengecupi pipi Lala, aku membetulkan selimutnya dan mengatur suhu AC. Mas Bima memang tak tahu berapa suhu AC yang nyaman untuk Lala. Dia mengaturnya terlalu dingin 24°C, padahal Lala terbiasa di suhu 27°C.
Kembali ke kamar, aku mendengar mas Bima tengah berbicara melalui sambungan telfon. Entah apa yang mereka bahas, tapi jantungku tiba-tiba mencelos ketika mendengar nama Lala di sebut.
__ADS_1
Siapa yang menelfon mas Bima?
Aku bertanya-tanya sembari melangkah mendekati tempat tidur.
Duduk di tepi ranjang samping mas Bima duduk, aku mengambil laptop yang berada di atas pangkuannya.
Menunggu dengan sabar sampai pria ini selesai bicara di telfon.
"Ada apa mas?" tanyaku begitu sambungan tertutup.
Alih-alih menjawab, mas Bima malah menatapku dengan sorot sendu, membuat keningku mengernyit karena heran sekaligus resah.
"Mas, jangan buat aku deg-degan, siapa yang telfon mas, kenapa mas bawa-bawa Lala?"
Mas Bima tampak menarik napas panjang, namun berat. Tangannya bergerak meletakkan ponsel ke atas nakas lalu menggenggam tanganku erat.
"Mas" protesku karena pertanyaanku tak kunjung di jawab.
"Ada apa?"
"Begini Bi" Mas Bima menjeda kalikatnya untuk menghela napas. "Minggu depan kan Lala sudah mulai masuk liburan akhir tahun, Hana akan jemput dia buat liburan di Singapura"
Kalimat mas Bima entah kenapa membuatku ingin berontak. Padahal aku sudah mengajukan cuti tahunan supaya bisa menemani hari-hari Lala selama libur panjangnya. Tapi apa ini?
Lala malah akan di bawa pergi oleh ibu kandungnya. Nggak tanggung-tanggung, Lala akan di bawa ke luar negri, lantas bagaimana jika aku merindukannya.
Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya, dia kekuatanku, penyemangatku, dialah satu-satunya alasan yang membuat bibirku tersungging.
Menelan ludah, aku menunduk menyembunyikan raut sedihku.
"Kapan mbak Hana jemput Lala?" Tanyaku tak berani menatap kilat elang mas Bima.
"Beberapa hari lagi. Dia juga membawa surat pengantar dari pengadilan yang menyatakan bahwa Lala akan di bawa oleh ibunya selama dua minggu"
Ya, jika mbak Hana ingin membawa Lala, memang harus memperoleh ijin dari pengadilan. Apalagi ini ke luar negri, jelas pihak pengadilan harus tahu agar bisa di pertanggung jawabkan.
Dua minggu mungkin waktu yang singkat untuk mbak Hana, tapi waktu yang lama bagiku tanpa Lala.
__ADS_1
Bersambung