Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 65 ~


__ADS_3

Yuk ngehalu 😂😂


...🌷🌷🌷...


"Coba kalian jelaskan apa maksud Gesya ngomong gitu ke mami, benar kalian tidurnya pisah-pisah?"


"Gesya temui mami?"


"Mami yang tanya Bima" sambar papi galak. Emang kebiasaan mas Bima selalu begitu, setiap kali di tanya, bukanya memberikan jawaban malah bertanya balik. Nggak cuma ke aku, ternyata ke mami pun juga.


"Itu du_"


"Nggak benar mih" Aku memotong kalimat mas Bima. Dan otomatis kami saling bertukar lirikan. Aku menggeleng sambil meremat jemari kami yang saling bertaut. Sama sekali nggak mau orang lain tahu mengenai kondisi rumah tangga kami dulu. Yang aku mau bagi adalah yang saat ini sedang ku jalani.


"Mami lihat sendiri kan, kami sekarang lagi di mana?" lanjut mas Bima. "Di tempat tidur Mih. Kalau saja tadi mami nggak telfon, pasti Arimbi sudah ku makan"


Aku langsung mencubit permukaan pahanya begitu mendengar kalimat absurt mas Bima.


"Haist.. Apaan si Bi? Sakit tahu" desisnya seraya mengusap bekas cubitan sayangku.


"Ya mas ngomong gitu di depan papi sama mami, jaga privasi dikit, bisa kan?"


"Bercanda doang"


"Eh, kalian di tanya orang tua malah ngrumpi sendiri"


Pandangan kami kembali mengarah ke layar ponsel.


"Mami jangan dengarin omongan Gesya, dia itu penipu. Jangan sampai mami salah paham hanya karena fitnahan darinya. Hubunganku dengan Arimbi baik-baik saja kok"


"Terus kenapa waktu itu Arimbi pergi dari rumah, kamu nyakitin dia kan? Itu gara-gara kamu kan Bim?" cerca mami masih belum mau menyerah.


"Ya itu lah mi, Arimbi kemakan omongannya Gesya, dia bilang aku sudah tidur dengannya, padahal enggak. Arimbi cemburu dan langsung pergi tanpa konfirmasi dulu"


"Udah, udah" potong papi cepat. "Pokoknya papi nggak mau kamu sakiti Arimbi, apalagi diemin dia"


"Iya pi"


"Tahu kan ayah Danu, gimana menyesalnya dia kalau ingat sudah cuekin bunda Nina selama dua tahun lebih, dia bahkan selalu nangis teringat sikapnya ke bunda, kamu tahu itu kan?"


"Hmm" Mas Bima lalu mengecup puncak kepalaku di depan orang tuanya. Seperti ada sesal dari sepasang sorot matanya.


"Mami mau tanya satu lagi" Aku dan mas Bima kompak beralih menatap mami.


"Tadi Gesya kasih tahu mami, dia dan kakaknya mau ambil alih hak asuh Lala karena hubungan kalian nggak baik-baik saja, alasannya takut berdampak buruk bagi Lala?"


"Iya mi, tapi nggak benar kalau hubunganku dengan Arimbi nggak sehat, aku juga akan berusaha supaya gugatannya nggak di kabulin"


"Kalau butuh bantuan, ngomong ke papi"


"Iya pih"

__ADS_1


"Terus kapan sidangnya Lala?"


"Minggu depan pih, lusa mau sidangnya Yoga dulu"


"Bima, Bima" kelakar mami sambil menggelengkan kepala. "Masalahmu ya, dari dulu nggak kelar-kelar, ada saja masalah datang. Kalian yang kuat ya, yang sabar"


"Iya mih" Sahut mas Bima sendu. Aku hanya diam karena memang semua ku serahkan pada mas Bima sebagai kepala keluarga jika ada obrolan seperti ini.


"Ya sudah istirahatlah"


"Iya pih, mih"


"Hmm.. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" Balasku dan mas Bima secara bersamaan.


Setelah panggilan terputus, aku meletakkan ponselku di atas nakas, sementara mas Bima langsung membawaku ke pelukannya.


"Maaf ya Bi, untuk waktu dua tahun yang sudah ku sia-siakan"


"Nggak apa-apa, mas. Mas sudah berkali-kali minta maaf, jangan katakan lagi"


Entahlah sudah berapa kali mas Bima meminta maaf padaku. Setiap mau tidur dan bangun tidur, dia selalu mengucapkan kata itu kemudian di sambung dengan nasehat yang mengingatkanku untuk jangan menyimpan hal sekecil apapun darinya.


"Aku juga minta maaf kalau selama jadi istri mas, aku melakukan kesalahan"


"Aku sudah cukup bangga sama kamu Bi, kamu istri sekaligus bunda yang hebat, kamu sosok yang terbaik, yang sempurna buatku dan juga Lala. Ya, setidaknya, jika aku tiada, aku nggak perlu mengkhawatirkan soal Lala, karena dia sudah berada di tanganmu, di tangan bundanya"


"Yang namanya usia Bi, kita nggak tahu kan?"


"Iya, tapi aku akan terus doain mas, doain keselamatan mas, tidak hanya mas Bima, tapi Lala juga"


"Aku percaya padamu" Mas Bima semakin mengeratkan lingkaran tanganya di pundakku.


"Aku dan Lala akan selalu butuh, mas. Jadi mas harus janji buat temani aku sama putri mas yang cantik itu"


Mas Bima tampak menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Sepasang netraku sama sekali tak teralihkan dari mata elangnya, sementara tanganku sedari tadi mendarat di atas perutnya, sedikit meremas kaos tipis yang mas Bima kenakan.


"Aku lebih butuh kamu, Bi" Mas Bima membalas tatapanku sebelum kemudian kami berciuman.


****


Sampai dua hari berlalu, mas Bima yang ijin tidak bekerja karena akan menghadiri sidang mengenai kasus Yoga, dia mampir ke kantorku usai sidang di laksanakan.


Dan saat ini, aku dan mas Bima tengah duduk berdampingan di sebuah bangku panjang dekat mushola kantorku.


"Cuma sembilan bulan?" Tanyaku menunduk. Memperhatikan tanganku yang berada dalam genggaman tangan mas Bima.


"Hmm, dia seorang pengacara, mungkin saja dia melobi orang dalam untuk meringankan hukumannya. Dia juga bukan orang sembarangan, sudah pasti banyak orang-orang di dekatnya yang mendukungnya"


Aku menghela napas dalam-dalam kemudian membuangnya dengan agak sedikit berat.

__ADS_1


"Jangan terlalu di fikirkan, kamu fokus saja sama pekerjaan dan rumah tanggamu"


"Cuma heran aja, kenapa cuma sembilan bulan, padahal kejahatannya cukup merugikanku" Pandanganku masih tertunduk menyorot kosong.


"Ada yang lebih adil dari pada hukum dunia kan?"


Mengatupkan bibir, aku mengangguk untuk mengiyakan.


"Tapi setelah bebas, mungkinkah dia datang lagi untuk membalasnya?"


"Tidak Bi, karena jika itu terjadi, dia akan langsung di adili oleh rekan-rekanku"


Cukup terkejut, kepalaku reflek mendongak untuk mempertemukan netra kami.


"Rekan yang mana?"


"Teman-teman TNI, teman mas Bagas dan mas Rangga juga. Dia pasti nggak akan berani"


"Kalau dia nekad gimana?" tanyaku yang masih di liputi perasaan was-was.


Bukannya menjawab, pria di sampingku yang tatapannya terus fokus padaku malah tersenyum tipis.


"Enggak. Di rumah ada cctv, aku akan selalu cek situasi rumah. Yang penting jika ada orang asing, jangan pernah kamu bukain pintu untuk alasan apapun. Lagi pula ada mas Jim juga kan, aku juga ada rencana mau bawa salah satu ART mami nanti"


Aku hanya bergeming sambil menatap mas Bima.


"Hilangkan rasa takutmu, kamu pemberani Bi, kamu kuat, mentalmu sudah ku uji selama dua tahun, kamu pasti bisa mengatasinya"


Mendengar perkataannya, kedua mataku persekian detik memicing lengkap dengan dahiku yang berkerut.


"Aku benar kan?" imbuh mas Bima masih dengan senyum tipis yang terulas.


Sadar kalau mas Bima tengah menggodaku, tanganku reflek terulur lalu mencubit pinggangnya.


"Aw" Desisnya sambil melentingkan tubuh ke arah kiri. "Kenapa suka sekali KDRT, si?"


"KDRT apa? cuma di cubit sedikit, itupun pakai sayang"


Tak lagi merespon, dia justru terkekeh geli setelahnya. Tiba-tiba tangannya yang ada di pinggangku membuat gerakan menarik sampai tubuhku bergeser lebih rapat padanya.


"Mas, ihh banyak orang" tegurku sambil melirik sekitar.


"Jangan jauh-jauh"


"Ini tempat umum loh"


"Memangnya kenapa, toh nggak mesum kok, lagian juga sama istri sendiri" Sergahnya membela diri, lalu memberi gigitan kecil di pundakku.


Bersambung...


Lagi berada di zona stuck idea... Masih mau lanjut????

__ADS_1


__ADS_2