Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 36 ~


__ADS_3

Aku bergeming sambil berusaha menormalkan debaran jantung yang ku rasa semakin menjadi.


Ritmenya yang tak bisa ku kendalikan karena posisi kami saat ini, di tambah lagi dengan ulasan ciuman dari mas Bima tadi, seolah menambah kegugupanku kian naik.


Aku tak tahu apa yang membuat pria di atasku ini tiba-tiba membatu. Tapi ku pikir, mungkin dia terkejut dengan nama yang baru saja ku sebut.


Satu detik, dua detik, kami masih bertahan dengan saling menatap dalam diam, sampai di detik ke tiga, tiba-tiba mas Bima kembali menyapu bibirku.


Sapuan yang ku rasakan semakin dalam dan intens, membuat akal sehatku tak bisa berfikir dengan jernih. Aku bahkan lupa dengan keinginanku yang tadi berniat menghindarinya.


Semakin lama, salah satu tangan mas Bima mengeratkan tautan jemari kami kemudian menguncinya, tangannya yang lain mendarat tepat di salah satu bagian dadaku yang menonjol, sementara bibirnya tak berhenti melu*mat bibirku.


Benar-benar tak tahu mimpi apa semalam, karena tanpa peringatan apapun, bibirnya begitu liar menjelajahi bibirku. Untuk ke dua kalinya mas Bima menciumku.


Dan anehnya, aku begitu menikmati ciuman yang terasa semakin hangat dan lembut.


Aku yang tak pernah melakukan kontak fisik seintim ini sebelumnya, baik dengan mas Bima atau laki-laki lainnya, hanya bisa diam sambil memejamkan mata.


Sampai ketika mas Bima menggigit bibir bawahku, otomatis secara reflek mulutku menganga dan aku di kejutkan oleh lidahnya yang tiba-tiba menyusup.


Pikiranku kosong, namun menikmati gerakan lembut dan basah di dalam mulutku.


Setelah satu menit mas Bima bermain-main dengan bibirku, bibir kami terlepas sebab sama-sama kehabisan nafas.


"Mas" Dadaku naik turun, begitu juga dengan mas Bima, sampai-sampai nafas kami saling bertubrukan.


Dari raut wajah mas Bima, sepertinya dia menyimpan amarah, dan feelingku dia memiliki masalah dengan pria bernama Yoga.


"Kalau mas marah, jangan lampiaskan ke aku" Kataku setenang mungkin.


Kedua talapak tanganku mendarat di dadanya mas Bima.


"Jangan temui pria itu" Tukasnya yang persekian detik membuat alisku menukik.


"Mas pikir aku yang datang menemuinya?"


"Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya?"


"Putrinya satu sekolah dengan Lala" Mas Bima menatapku tajam, seakan tak percaya dengan ucapanku.


"Sejak kapan?"


"Sudah satu bulan lebih, dia baru pindah dari Singapura" Aku semakin di buat tak mengerti dengan gurat wajahnya.


"Siapa dia, mas?"


"Dia seorang lawyer, dia yang membela Hana mati-matian saat proses perceraianku dan menuntut hak asuh Lala"


"Jadi benar? Mas tadi sedang melampiaskan kemarahan mas karena ingat masa lalu mas?"


"Kenapa? Cemburu?"


"Minggir!" Sekuat tenaga aku menyingkirkan mas Bima. Saat berhasil, aku langsung berdiri tegap sambil merapikan baju dan rambutku yang sedikit berantakan.


"Jangan terlalu baper jadi orang, nanti sakit hati sendiri" Mas Bima turut bangkit. "Aku hanya teringat masa lalu, dan itu nggak sama sekali mempengaruhi hidupku ke depan"


"Mas masih cinta sama mbak Hana?" Kesalku dengan penuh selidik, dan langsung membuat dahi mas Bima mengernyit tajam.


"Sepertinya iya" Aku menjawab pertanyaanku sendiri sebab mas Bima tak kunjung menjawabnya. "Sepertinya, mas memang nggak pernah peduli sama perasaanku, jadi untuk apa aku buang-buang tenaga untuk bertanya apapun tentang hal yang bersifat privasi"


"Apa kamu bilang?" mas Bima melangkah mendekat. "Tidak peduli dengan perasaanmu?"


"Memang itu kan yang mas lakukan padaku selama ini?"

__ADS_1


"Kalau aku nggak peduli dengan perasaanmu, aku sudah dari dulu menyentuhmu meski aku tak ada perasaan cinta sama sekali, yang terpenting kebutuhan biologisku terpenuhi. Kalau aku tak peduli denganmu, aku sudah sejak dulu memisahkanmu dari Lala"


"Sanggup kamu, pisah sama Lala?" tanyanya sarkastis.


Aku menelan ludah.


"Apa kamu tahu alasanku tetap mempertahankan rumah tangga kita? Apa menurutmu semudah itu membuka hati dan percaya pada orang baru? Setidaknya aku sudah berusaha menerimamu. Kamu pikir aku tak tahu dengan tatapanmu yang hanya mengasihaniku dan Lala? Tapi dengan kamu bertanya seperti tadi, itu sudah menyinggung hatiku, Arimbi"


"Tapi kenapa mas kesal?"


"Sudahlah, Bi.. Ada banyak hal yang harus ku urus selain pekerjaan, kamu dan juga Lala"


"Banyak hal? Apa?"


"Nah kan, kamu yang selalu lebih dulu ingin tahu tentang privasiku"


"Kalau mas sepeduli itu padaku" Ucapku berusaha mengatakan apa yang ada dalam hatiku. "Kenapa seakan mas melarangku untuk tahu kehidupan pribadi mas?"


Belum sempat mas Bima menjawab ku dengar suara Lala dari arah pintu. "Ayah, bunda"


Saat ku palingkan wajah ke arahnya, ku lihat tubuh mungil Lala yang tampak lucu dengan balutan handuk berwarna putih dan rambut di bungkus kain.


"Lala sudah mandi?" tanyaku.


"Sudah, tadi mandi sama oma. Oma suruh Lala minta bunda bantu Lala pakai gamis"


"Sini"


Lala menghambur ke pelukanku, aku membopongnya untuk naik ke atas ranjang lalu mengelap badannya.


Mas Bima yang tadi juga menatap Lala, kini sudah masuk ke kamar mandi yang kemungkinan besar akan membersihkan diri.


"Lala mau ikut opa sama oma ngaji?"


"Mau, bunda. Kata oma nanti ketemu budhe Zara sama oma Nina dan opa Danu, mbak Cia sama mas Alvio juga mau ngaji"


"Tadi telfon budhe Zara, mba Cia yang ngomong di telfon, mbak Cia suruh Lala ngaji, kan besok-besok Lala mau sekolah di tempatnya mbak Cia" Aku diam menyimak seraya membalur tubuh Lala dengan minyak kayu putih.


"Lala mau sekolah di tempatnya mbak Cia? Nggak pulang dong nanti"


"Kata mbak Cia nggak apa-apa nanti ada banyak teman yang bobo di sekolah juga, kan jadi seru kalau bobonya bareng-bareng sama teman, temannya juga banyak-banyak"


Aku tersenyum mendengar jawaban Lala. Mas Bima memang sudah bulat mau menyekolahkan Lala di madrasah, meski aku berat karena Lala harus tinggal di pesantren, tapi keputusan ayahnya tidak bisa di ganggu gugat. Dan itu artinya, nanti aku akan berdua saja dengan mas Bima di rumah.


Aku pasti akan merasa kesepian nanti.


Tapi, apa ada kemungkinan aku punya anak sama mas Bima, kelak?


Melihat bagaimana hubungan kami, aku sudah bisa menggambarkan kalau kemungkinan hamil hanya lima puluh persen.


Ah, kepercayaan diriku diam-diam kian menipis.


Begitu sesi memakaikan baju selesai, aku membantu Lala mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


"Bunda" Panggil Lala ketika aku berdiri di belakangnya.


"Bunda nggak ikut ngaji?"


"Enggak, nak. Tadi ayah bilang badannya pegal-pegal, karena tadi malam ketiduran di sofa, ayah minta di temani istirahat"


Itu hanya alasanku saja, sebab aku masih mau mengobservasi mas Bima mengenai privasinya yang ingin sekali ku ketahui.


"Ayah pasti capek banyak-banyak bun, kemarin pas jemput Lala pulangnya telat, soalnya nunggu taksinya lama-lama, ayahnya juga pulang kerja langsung ke sekolah masih bawa-bawa koper. Terus sampai rumah mandiin Lala sama nyuapin Lala. Terus Lala juga rewel"

__ADS_1


"Maafin bunda ya, nak"


Aku benar-benar menyesal sudah pergi meninggalkan mereka. Meski mas Bima kemungkinan belum ada perasaan apapun padaku, tapi tetap saja aku merasa bersalah.


"Kenapa bunda minta maaf, bunda kan kerja buat Lala"


Ucapan Lala membuat gerakan tanganku melambat. "Ayah yang bilang?"


Lala mengangguk, meski aku berada di balik punggungnya karena masih mengeringkan rambut Lala, tapi bisa ku rasakan anggukan kepalanya.


"Tetap saja bunda harus minta maaf karena nggak telfon ayah"


"Lala sayang bunda"


Aku merespon Lala dengan kecupan di pucuk kepalanya.


"Rambutnya di ikat satu aja ya, terus nanti di pakein hijab"


"Iya" sahut Lala patuh.


Ketika aku sedang membantu Lala menyisir rambutnya, mas Bima keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Aku sempat meliriknya tadi.


Pria itu berjalan ke arahku, dan jantungku lagi-lagi berdetak dengan sangat kurang ajarnya.


Padahal mas Bima hanya mau mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer yang tadi ku pakai tapi belum sempat ku cabut dari stop kontak.


"Ayah mau ikut ngaji?" Lala bertanya dengan sorot serius mendongak menatap mas Bima.


"Enggak, ayah capek"


"Maafin Lala ya, ayah. Kemarin Lala rewel, kata bunda Lala harus minta maaf ke ayah"


"Kenapa Lala yang minta maaf, padahal kan bunda yang pergi, bunda aja nggak ada minta maaf ke ayah"


"Tapi minta maaf ke Lala, kok"


"Tapi enggak ke ayah, La"


"Sudah" Aku menyambar percakapan mereka karena selain sudah selesai membantu Lala berpakaian, aku juga merasa sedang di pojokkan oleh mas Bima.


"Bunda antar ke depan ya"


"Iya, bunda"


"Jangan minta gendong" tegur mas Bima ketika Lala merentangkan tangan.


"Jalan kaki aja ya La" kataku.


"Iya, bun"


****


Aku mengantar kepergian Lala bersama opa omanya sampai depan pintu.


"Mami tinggal ya, Bi.. Nanti pulang dari rumah kakek, mbak Za sama bunda mau makan malam di sini, bilang ke bik Nani buat siapin semuanya"


"Iya mih"


Memasuki rumah, mendadak pikiranku terusik dengan kalimat mas Bima.


Ada banyak hal yang mas Bima urus selain pekerjaan, aku dan juga Lala.

__ADS_1


Urusan apa itu?


Bersambung.


__ADS_2