
Sesaat setelah aku mengabarkan tentang kehamilanku, entah apa yang salah, alih-alih memasang wajah senang atau berbinar, mas Bima justru terpaku lalu tiba-tiba menangis.
Sungguh ini pertama kalinya aku melihat ayahnya Lala menangis di hadapanku.
Ya .... Pria ini menangis, kemudian di detik berikutnya dia menghambur ke pelukanku.
Selama menjadi istrinya, sebelumnya aku memang pernah melihat mas Bima terisak di suatu malam, entah karena pengkhianatan istri pertamanya, atau karena merasa putus asa dengan hubungan kami. Aku ingin menghampiri untuk menghiburnya, tapi tak ada keberanian karena pada saat itu mas Bima masih enggan melihatku.
Dan kali ini, gurat sedih itu tertangkap jelas oleh netraku.
Sementara rasa rindu yang semula membalut diriku dengan sangat kuat, kini berubah menjadi panik berbalur takut.
"Mas" Aku melembutkan nada bicaraku agar terdengar tenang. "Mas kenapa?"
Bukannya menjawab, isakan itu kian menjadi bersamaan dengan lingkaran tanganya yang mengerat di sekitar pundaku. Aku sampai merasa sesak karena saking kuatnya dia memelukku.
Tak menjawab pertanyaanku, aku memilih diam sambil mengeratkan pelukan kami. Membiarkan mas Bima meluapkan rasa yang entah, hingga dia merasa tenang kembali.
"Kamu dan bayi kita sehat kan?" tanyanya setelah mengurai pelukan kami. Dari sorot matanya, jelas kalau dia tengah mengkhawatirkanku.
"Akhir-akhir ini si cuma lemas, mudah lelah dan kadang pusing sedi____" Belum sampai kalimatku selesai, mas Bima langsung menggiringku ke arah tempat tidur.
Kami sama-sama duduk di tepian ranjang
"Sejak kapan kamu menyadari kehamilanmu?"
"Sekitar satu minggu yang lalu"
"Satu minggu yang lalu?" ulang mas Bima.
Aku mengangguk.
"Pas baru selesai sidang Lala, aku pingsan di pengadilan"
"Pingsan?" Keningnya berkerut, membuat alisnya menukik tajam.
"Hmm" Sahutku menganggukkan kepala.
"Kamu pingsan karena hamil?"
"Entahlah"
"Jadi ransum yang kamu minta, apa itu ngidam?"
"Mungkin" jawabku lalu mengulum senyum teringat saat beberapa waktu lalu aku meminta di bawakan ransum.
Setelah mendengar jawabanku, kami sama-sama terdiam, dengan pandangan yang saling mengunci.
"Apa sampai sekarang masih pusing?"
"Enggak"
__ADS_1
"Lemas, mual, atau sejenisnya?"
"Enggak" ulangku menggeleng.
"Apa ada keluhan lain?"
Aku bergeming melihat sorot matanya yang kembali khawatir. Sepasang tanganku lalu menangkup wajahnya lantas mengecup bibir mas Bima kilat.
"Ada" kataku sambil menahan senyum.
"Apa?"
"Masih kangen sama mas" Setelah mengatakan itu aku kembali mengecup bibirnya. Kali ini tak sekedar mengecup, tapi sedikit bermain-main dan melu*matnya lembut.
"Stop Bi" Mas Bima menginterupsi pagutanku yang semakin dalam, namun aku tak menghiraukannya. Luma*tanku justru semakin dalam dan intens.
Hingga mas Bima kehabisan nafas, baru aku melepas tautan bibirku.
"Kok jadi agresif gini si Bi?"
Aku tahu mas Bima tengah menggodaku, itu sebabnya aku menekan kedua pipinya sampai bibirnya mengerucut, dengan cepat aku kembali mengecup bibir seksinya sekali lagi.
"Aku nggak tahu agresif itu seperti apa, tapi kalau aslinya, aku kudet, aku nggak tahu apa-apa soal ciuman"
"Sudah ke dokter belum?" tanya mas Bima setelah berhasil melepas satu tanganku lalu menggenggamnya.
"Waktu itu langsung ke dokter terus di kasih obat, sekarang obatnya sudah habis, dokter memintaku mengeceknya setelah dua minggu"
"Belum, aku tunggu mas pulang"
"Kapan cek dokter?"
"Dua minggu lagi" jawabku sambil menuntun tangan mas Bina agar masuk ke lengan piyama.
Mas Bima menghela napas tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Dengar, Bi" Ucapnya serius. "Setahuku ibu hamil biasanya emosinya naik turun, moodynya suka berubah-ubah, gampang marah, gampang tersinggung, apalagi jika kemauannya tidak di turutin. Kamu merasakan apa yang ku sebutkan tadi?"
"Apa saat mbak Hana hamil dia gampang marah dan tersinggung"
"Aku yang tanya Arimbi!"
Bibirku langsung terkatup rapat, lalu menggeleng dengan sorot penuh menatap mas Bima.
"Apa maksud gelengan kepalamu?"
Hening, aku tak kunjung menjawabnya.
"Arimbi!" Suara mas Bima dengan penuh penekanan
"Aku sempat merasa kesal sama Gesya"
"Kesal kenapa?"
__ADS_1
"Dia bikang akan terus berusaha agar Lala ikut mbak Hana"
"Ok, lupakan wanita murahan itu?" mas Bima mengusap bibirku.
"Mas bilang apa? Wanita murahan?"
"Kenapa? Apa kamu memiliki julukan yang lebih mengerikan dari pada itu?"
Aku mengerjap menahan senyum geli.
"Dengarkan aku baik-baik" Mas Bima menatapku lekat-lekat.
"Jangan khawatirkan apapun, tentang apapun, dan mengenai siapapun itu, semuanya" Mas Bima mengatakannya dengan intonasi rendah namun tegas. "Sekarang, kamu cukup fokus pada kesehatan dan kandunganmu. Kalau ada sesuatu yang mengusik ketenanganmu, apapun yang membuat pikiranmu kacau, beritahu suamimu, biarkan aku tahu apa yang ada di kepala dan hatimu. Aku nggak akan pernah tahu apa yang kamu rasakan kalau kamu nggak ngomong. Bagi semuanya dengan suamimu"
"Iya"
"Kamu harus bahagia dan nggak boleh mikir yang macam-macam. Ibu hamil harus santai dan tenang"
"Faham" sahutku mengusap salah satu pipinya.
"Janji ya, harus konfirmasi dulu sebelum, marah, sebelum cemburu atau sebelum kabur dari rumah"
"Mas, kenapa bahas itu"
"Cuma mengingatkan aja, sayang"
Sedikit paham apa yang mas Bima katakan, aku mengangguk, melingkarkan lengan di leher mas Bima sebelum kemudian kami berciuman.
Untuk kesekian kalinya aku menepikan rasa maluku dan berinisiatif menciumnya lebih dulu.
Tersenyum menerima ciumanku, setelah sekian detik berlalu mas Bima lantas membalasnya dengan sangat lembut.
"Sudah jam satu dini hari, kita istirahat"
"Iya"
"Main-mainnya besok saja setelah sholat subuh"
"Okay, tapi tangan sama bibir mas jangan nakal"
"Nggak janji" cicit mas Bima sambil mengedikkan salah satu matanya.
Mengabaikan kejahilannya, aku bangkit lalu menata bantal, sementara mas Bima mengenakan celana dan membawa handuknya ke kamar mandi. Sebelum merebahkan diri di kasur, pria itu meraih remot AC lalu mengatur suhunya.
"Aku pindahkan Lala ke sini ya" kata mas Bima. "Kangen sama itu anak"
"Iya"
"Tata bantalnya, Lala di pinggir dan kamu di tengah" pesannya lalu memutar handle pintu dan membukanya agar bisa keluar dari kamar.
Bersambung
__ADS_1