Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 80 ~


__ADS_3

Lala bersorak heboh ketika mas Bima memberitahukan padanya bahwa sebentar lagi akan memiliki adek bayi.


Aku yang hampir selesai memasak untuk makan malam, reflek tersenyum mendengar pembicaraan anak dan ayah yang saat ini berada di ruang tv.


Jujur aku masih belum percaya bisa seintim itu dengan mas Bima dan langsung hamil dalam waktu kurang lebih satu bulan. Memang, pertama kali mas Bima menyentuhku, saat itu aku baru saja selesai datang bulan, itu berarti selang tiga hingga lima hari, aku langsung masuk ke masa subur. Kondisiku dan mas Bima yang fit, jadilah tak menunggu lama untuk mendapatkan garis dua. Semua itu tak luput dari campur tangan Dzat yang maha menciptakan.


Senyumku lagi-lagi terkembang ketika telingaku menangkap ucapan Lala yang tak mau di panggil 'mbak' seperti mbak Cia. Anak itu justru minta di panggil kakak.


Kak Lala atau kakak Lala, begitu pintanya.


Memindahkan sambal ke mangkok kecil, setelah itu aku membawanya ke meja makan.


Ada nila goreng, sayur asam yang masih mengepulkan asap, sambal terasi yang baru saja ku uleg dengan tanganku sendiri serta bakwan sayur, sudah tertata rapi di atas meja. Aku lantas menata piring dan sendok untuk makan sebelum kemudian melangkah ke ruang tengah memanggil mas Bima dan juga Lala.


Ketika di ruang tengah, aku mendapati Lala tengah berada di atas pangkuan ayahnya. Posisi mereka yang saling berhadapan, membuatku teringat saat aku pernah duduk di atas pangkuan mas Bima dalam posisi sama persis seperti posisi Lala saat ini. Bedanya, saat itu aku melingkarkan lengan di leher mas Bima sambil menempelkan kening kami, sementara Lala hanya mendaratkan tangan di kedua pundak mas Bima.


Pria itu benar-benar pandai menyenangkan hati siapa saja termasuk istri serta anaknya. Dan sikapnya itu selalu membuatku kikuk bahkan salah tingkah.


"Kita makan yuk" Aku langsung duduk di lengan sofa, satu tanganku berada di bahu mas Bima.


"Bunda sudah selesai masak-masaknya?" Tanya Lala, mengalihkan netranya padaku.


"Sudah"


"Ayo kita makan dulu" Dengan tangkas mas Bima mengangkat tubuh Lala. Sembari berjalan menuju ruang makan, pria itu mengayun-ayunkan tubuh sang putri dalam gendongannya. Lala yang menjerit di iringi gelakan tawa riang, mencengkram lengan ayahnya erat-erat untuk pegangan.


"Jangan kencang-kencang, mas! Kasihan Lalanya" Ingatku dari arah belakang punggungnya.


"Dianya malah kesenengan, Bi"


"Tapi pelan-pelan"


Aku menarik kursi untuk Lala begitu sampai di meja makan.


"Itu apa bun?" tanya Lala menunjuk ke mangkok bening sesaat setelah duduk.


"Sayur asam, nak. Mau?"


"Bukan sop ayam?"


"Bukan" Jawabku sambil meletakkan piring mas Bima yang sudah ku isi nasi ke hadapannya. Untuk lauknya, biasanya mas Bima akan ambil sendiri.


"Lala mau sama ikannya aja"


"Enak loh sayur asamnya, La!" Ucap mas Bima menyela.


"Hati-hati mas, masih panas"


"Lala sukanya sop ayam, bukan sop asam kayak gitu"


"Sayur asam nak" ralatku.


"Tapi kayak sop ayam bun, kuahnya banyak-banyak"


"Tapi isinya beda"


Setelah sebelumnya sudah berdoa, kami makan dengan saling melempar candaan, terutama pada Lala yang mendadak jadi banyak tanya tentang adek bayi.


Sudah tak ada Nining di sini, jadi aku yang memasak, dan mencuci piring.


Untuk pekerjaan rumah yang lain seperti menyapu, mengepel lantai dan mencuci baju serta menjemurnya, mas Bima sendiri yang akan turun tangan, aku dapat jatah membereskan kamar dan memandikan Lala.


Sedangkan untuk mengelap perabotan rumah, kami lakukan bersama-sama setiap satu minggu sekali.


Mungkin kalau mami tahu aku sedang hamil, beliau tak mengijinkan Nining kembali ke rumahnya, karena aku dan mas Bima memang belum mengabarkan kehamilanku.


Kami baru akan datang di hari minggu untuk memberitahu kabar gembira ini.


"Besok setelah ayah jemput bunda sama Lala, kita ke rumah nenek ya, kita bobo di sana, terus dari rumah nenek langsung meluncur ke rumah opa"


Aku menghentikan suapan terakhirku begitu mendengar ucapan mas Bima.


Kerumah nenek, itu artinya rumah orang tuaku.


"Ke rumah ayahnya bunda ya yah?" tanya Lala.


"Hmm, sudah lama kan kita nggak nginep di rumah nenek"


"Iya, Lala kangen sama om Yunus"


"Tapi om Yunusnya kayaknya lagi nggak di rumah, La"


"Kemana bun?" Lala memalingkan wajah ke arahku.


"Om Yunus kan kerja"

__ADS_1


"Kerjanya kayak ayah yah, nggak pulang lama-lama"


"Iya" Jawabku lalu meneguk segelas air.


Kurang lebih delapan bulan yang lalu kami menginap di rumah ibu saat lebaran hari ke dua. Kami memang hanya menginap di sana saat hari raya idul fitri.


Karena rumah orang tuaku berbeda kota dengan rumahku dan juga rumah orang tua mas Bima, ayah dan ibuku yang juga seorang PNS membuat kami terbuai dengan kesibukan dan jarang sekali berkunjung, namun untuk komunikasi lewat udara tetap kami lakukan dua hari sekali atau tiga hari sekali.


Dan setelah hubunganku dengan mas Bima membaik, kami belum pernah datang ke rumah ibu. Tapi mereka sempat menginap di sini beberapa waktu lalu saat mas Bima di Papua.


"Jadi besok nggak pulang ke rumah dulu mas?"


"Nggak perlu, kamu siapkan saja keperluan Lala yang mau di bawa"


"Terus mas sendiri, juga nggak pulang dulu ke rumah?"


"Pulang dulu buat mandi, nanti langsung kebut jemput kalian"


"Pastikan nggak ada listrik yang nyala kecuali lampu teras"


"Iya, aku juga sudah ngomong ke mas Jim buat lembur besok malam"


Aku menekan bibirku ke dalam untuk meresponnya.


Hingga sesi makan malam usai, mas Bima membawa Lala masuk ke kamar setelah membantuku mengelap dan merapikan meja makan.


Aku sendiri membereskan dapur dan mencuci piring.


Irfan Nirwana, adalah sosok ayah yang luar biasa bagiku dan adik laki-lakiku. Dia seorang PNS yang bertugas sebagai pengawas sekolah. Sedangkan ibuku bernama Intan Ning kusuma, beliau juga seorang PNS yang menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu SMP negri di kecamatan dekat tempat tinggalnya.


"Bi, Lala minta minum, tapi pakai gelas chinamorrol. Gelasnya dimana, Bi?"


Aku tiba-tiba mendengar suara mas Bima.


"Ada di lemari situ" Tanganku menunjuk lemari dapur bagian atas di depanku.


"Yang mana chinamorrolnya?"


"Gambar boneka yang telinganya panjang"


"Ini?" Mas Bima menunjukkan gelas yang ku maksud.


"Iya"


"Oh, ini namanya chinamorrol"


Pria ini pun langsung menempatkan tangannya di bawah kucuran air wastafle yang sedang ku gunakan untuk mencuci piring.


"Mas"


"Hmm" Dia meraih tisu untuk mengelap gelas milik Lala.


"Tadi di pengadilan, pas mas bicara sama mbak Hana, Gesya tiba-tiba menghampiriku"


"Aku tahu"


"Mas Tahu?" tanyaku heran sambil menoleh ke kanan, lengkap dengan dahiku yang sudah mengernyit.


"Hmm.. Kenapa?"


"Kok mas nggak ngomong ke aku, kupikir mas nggak tahu"


"Aku kan nggak kepo kayak kamu, Bi"


"Ish, munafik" Desisku mencebik "Pasti mas penasaran kan, mas bertanya-tanya ngapain dia nemuin aku"


"Nanti kamu juga crita sendiri, kan sudah di pesan buat critain semua hal yang mengusikmu"


Aku lagi-lagi mendesis.


"Setelah Lala tidur, kita bicarakan ini" ujar mas Bima sambil menuang air ke dalam gelas. "Jangan sampai apa yang dia katakan membuat moodmu memburuk" lanjutnya kemudian beranjak dari dapur.


****


Malam semakin larut, aku yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, menggosok gigi dan mengganti baju dengan daster selutut, menghentikan aktivitas anak dan ayah yang tengah asik bermain ular tangga di atas kasur.


"Besok lagi mainnya ya, sekarang ayo bubuk"


"Iya bunda, beresin mainan dulu ya"


"Iya"


Setelah selesai membereskan mainannya, Lala mengulurkan tangan agar aku segera menggendongnya.


Mas Bima yang semula menatap layar ponsel, sepasang netranya beralih menatapku ketika Lala berada dalam gendonganku.

__ADS_1


"Eh stop, stop" Cegah mas Bima dengan tatapan menghujam.


Aku dan Lala otomatis saling pandang.


"Turunin bun!"


Akupun langsung menuruti perintah mas Bima, menurunkan Lala di atas kasur.


"Lala sini, ayah mau ngomong"


"Ayah mau ngomong apa?" tanya Lala sambil mendekat ke ayahnya.


"Ayah mau Lala ingat apa yang ayah bilang" Kata mas Bima yang kemudian Lala mengangguk patuh . "Besok-besok, Lala udah nggak boleh minta gendong ke bunda, iya"


"Kenapa?"


"Karena Lala udah gede, sebentar lagi jadi kakak, terus di perut bunda juga ada dedek bayi, kasihan bunda sama dedeknya nanti, ngerti!"


"Ngerti, yah" jawab Lala lesu. "Tapi nanti kalau adek bayinya udah keluar dari perut bunda, Lala masih boleh main sama bunda kan?"


"Tentu saja boleh"


"Lala masih di sayang-sayang sama bunda sama ayah kan?"


Aku tanpa sadar berdehem pelan karena terkejut, sementara mas Bima melirikku sebelum memberikan jawaban.


"Ayah sama bunda akan sayang sama Lala sampai Lala besar nanti"


Mata bulat Lala mengerjap, seperti tengah berfikir.


"Lala dan juga adek, akan terus menjadi kesayangan ayah dan bunda, faham ya"


"Iya"


"Iya apa?" Mas Bima memastikan.


"Nggak boleh minta gendong ke bunda"


"Terus?"


"Ayah sama bunda akan sayang terus ke Lala sama adek"


"Anak pintar, sekarang jalan sendiri ke kamar Lala" Pria itu lantas mengusap puncak kepala putrinya, kemudian mengarahkan matanya padaku.


"Dan kamu!" Dia menudingkan jarinya ke arahku. "Jangan sekali-kali gendong Lala lagi"


"Iya mas"


Raut wajah mas Bima yang menegangkan pasti membuat Lala takut. Pria itu langsung menuju ke kamar mandi dengan tanpa ekspresi usai mengatakan itu.


"Ayah marah ke kita ya bun?" Tanya Lala setelah mas Bima menutup pintunya.


"Enggak, sayang"


"Tapi mukanya ayah galak"


"Muka ayah kan memang galak"


Aku dan Lala sama-sama tersenyum sebelum akhirnya menggandeng tangan Lala menuju ke kamarnya.


****


Pukul 21:30, aku kembali ke kamar setelah Lala tertidur pulas.


Di atas tempat tidur, sudah ada mas Bima yang berbaring terlentang dengan mata terpejam.


Pelan, aku menaiki ranjang kemudian memiringkan badan dengan menopang sisi kepala menggunakan tangan kananku, sementara tangan kiriku mendarat di perut mas Bima.


"Jadi ngomong nggak?"


Persekian detik mata itu terbuka, lalu sedikit menggeser tubuhknya untuk menyerukkan kepala ke dadaku.


"Jadi bahas soal Gesya dan mbak Hana?" tanyaku lagi.


"Soal Hana nggak perlu di bahas, itu hanya omong kosong yang nggak pernah aku tanggepin. Cuma masuk telinga kanan, tanpa ku cerna lalu keluar telinga kiri"


Aku manggut saja meresponnya, aku percaya penuh pada mas Bima. Dia yang tegas, nggak akan goyah pendiriannya. Hanya saja aku harus berhati-hati dengan adik kakak itu.


"Mas tahu nggak, kalau perselingkuhan mbak Hana rencana siapa?"


"Siapa?" tanyanya balik masih menyembunyikan wajahnya sambil menyesap aroma tubuhku.


"Gesya"


Mendengar jawaban singkatku, mas Bima menengadahkan kepala, kemudian termangu menatapku dengan sorot yang tak ku pahami.

__ADS_1


Bersambung.


Masih nungguin sampai tamat kan ya?


__ADS_2