Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 53 ~


__ADS_3

"Silakan duduk!" Aku mempersilakannya ketika langkah kami berada di sebuah ruang tamu khusus staf kantor.


Wanita dengan balutan dres berwarna coklat ini duduk tanpa mengatakan apapun.


Sekedar terimakasihpun tidak.


Aku menghela napas panjang. Menyadari raut wajahnya yang datar, aku semakin di rundung kerisauan yang kian lebih. Suasanapun mendadak canggung dan terkesan menegangkan.


"Apa maksud dan tujuan anda menemui saya?" Tanyaku sesantai dan seramah mungkin, setelah sekian detik duduk dengan saling bersebrangan.


"Sudah sejauh mana kamu meracuni hati serta pikiran putriku?"


Alih-alih menjawab, dia malah memberikan pertanyaan yang membuatku tercengang.


"Apa maksud anda?"


"Apa maksud anda?" ulangnya dengan nada yang di buat-buat, di susul dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat.


"Aku tidak masalah jika putriku tidak mengetahui siapa ibu yang sudah melahirkannya, karena aku yang salah sudah meninggalkannya. Tapi aku nggak suka jika kamu terlalu dekat dengan putriku sampai adikku sendiri kesulitan untuk menemui keponakannya"


"Kesulitan yang bagaimana? Baik saya dan ayahnya Lala sama sekali tidak pernah memberikan batasan pada mbak Gesya untuk menemui keponakannya, dia bebas menemui Lala kapanpun dia mau"


Wanita yang rambutnya di buat keriting ini tersenyum miring, wajahnya tampak sinis, sementara tatapannya begitu tajam.


"Sebelum kamu datang ke dalam hidup Lala dan Bima, adik saya selalu memiliki banyak waktu untuk menemuinya, tapi setelah kehadiranmu, waktu kebersamaan itu berkurang bahkan sering sekali tak ada kesempatan untuk adikku bermain dengannya"


"Dan kamu, betapa tidak tahu malunya masih bertahan di rumah itu sedangkan ayahnya Lala sama sekali tidak melihatmu" Sindirnya pedas.

__ADS_1


"Saya di rumah itu karena Lala, bukan karena ayahnya Lala"


"Dan karena kamulah, adik saya kesulitan menemui keponakannya sendiri, seharusnya kamu sadar kalau sikap dan tindakan kamu sudah menjadi penghalang untuk adik saya menjadi ibunya Lala"


Apa? Menjadi penghalang?


Ucapan bernada memojokkan itu terlontar dari mulut wanita yang duduk di depanku dengan begitu ketusnya.


Asumsiku sementara, mbak Hana sangat mendukung Gesya menikah dengan mas Bima.


"Sikap atau tindakan seperti apa yang di anggap menghalangi mbak Gesya untuk menjadi ibu sambungnya Lala?"


Meski emosiku tersulut, tapi aku tidak boleh terpancing, sebab bagaimanapun juga ini adalah kantor. Dia bisa meninggikan nada suaranya, tapi tidak denganku.


"Selama ini, aku tidak pernah menemui putriku karena berharap Bima menikahi adikku. Dan Lala, akan berada dalam pengasuhan ontynya. Dengan begitu, aku bisa lebih tenang karena seorang onty, bisa menjadi ibu yang baik untuk keponakannya, tapi kamu?" mbak Hana tersenyum ironis. "Bahkan Bima tak menganggapmu, tapi kamu tetap bertahan dan tidak mau meninggalkan mereka. Dimana rasa malumu?"


"Ckkk ... Suami? Suami macam apa yang tidak pernah menggaulinya hingga dua tahun lebih? Tidur terpisah, dan tidak saling menyapa padahal tinggal dalam satu rumah. Kamu nggak nyadar kalau kamu hanya di anggap baby sitter oleh Bima? Kalau aku jadi kamu, aku sudah pergi dari dulu, tidak sudi kalau harus bertahan untuk di jadikan babu" Lagi-lagi dia berdecak.. "Hhhh wanita yang mau di perlakukan seperti itu, apa namanya kalau bukan wanita bodoh?"


Dari kalimat mbak Hana, aku yakin dia tahu kondisi rumah tanggaku dari sang adik. Tapi aku sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang dia katakan, sebab kondisi kami saat ini tidak seperti yang mereka kira.


Justru berbanding terbalik dengan apa yang mereka katakan. Sementara aku sendiri akan membiarkan mereka tetap mengira kalau hubunganku dengan mas Bima memang terlihat seperti yang mereka prasangkakan.


Sekalipun mas Bima belum mengatakan cinta padaku, tapi aku yakin kalau dia memang sudah mencintaiku.


"Pasangan macam apa itu?" Suaranya kembali ku dengar. Dari senyumnya terlihat jelas kalau dia tengah mengejekku.


"Pasangan suami istri pada umumnya. Seperti anda dan suami anda" sahutku bermaksud membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Anda sendiri yang meninggalkan Lala, selama ini jangankan menemuinya atau memberikan hadiah di ulang tahunnya, menelfon saja seingat saya tidak pernah. Kini giliran ada wanita yang tulus menyayanginya, dan Lala sudah mengira wanita itu adalah ibu kandungnya, seakan anda malah menyalahkan wanita itu"


"Wah, cukup berani juga ya kamu bicara seperti itu padaku! Ternyata benar apa kata adikku, kamu benar-benar tak tahu malu, you are stupid"


Kini giliran aku memberanikan diri untuk tersenyum smirk.


"Di bagian mana saya harus malu? Saya merawat dan menyayangi anak orang seperti anak saya sendiri. Kenapa saya harus malu kalau suami saya mendukung saya?"


"Mendukung? Mendukung yang seperti apa? melihatmu saja dia enggan"


"Tahu apa anda dan adik anda soal rumah tangga saya? Kalau bisa saya bilang, kalian ini ternyata seperti paparazi yang seakan-akan tahu sekali mengenai kehidupan orang. Mencetak berita yang belum pasti kebenarannya, setelah itu di umbar kemana-mana hingga memberikan persepsi negatif di muka umum"


"Kita lihat saja setelah aku memenangkan gugatan itu, saya orang pertama yang akan menertawakanmu jika kamu di tendang oleh Bima dari rumahnya"


"Cintaku pada Lala, tidak akan pernah bisa membuat mas Bima mengusir saya dari rumahnya"


"Meskipun Lala tidak ada di tengah-tengah kalian?" Ujarnya tersenyum miring.


"Tentu. Meski tidak ada Lala, dan meski mas Bima belum mengutarakan cintanya pada saya, tapi saya sangat yakin kalau suami saya tidak akan pernah melepas saya dari hidupnya"


"Jangan terlalu percaya diri, jangan ketinggian menghalunya, jatuhnya akan ke bawah dan kamu pasti akan kesakitan"


"Saya sudah biasa merasakan sakit, untuk kesekian kalinya, saya pasti tidak akan terluka"


Wanita itu bangkit dari duduknya, aku sendiri mendongak demi untuk mengetahui ekspresinya.


Dia menggelengkan kepala sebelum akhirnya pergi meninggalkanku yang masih duduk mematung.

__ADS_1


__ADS_2