Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 43 ~


__ADS_3

Tidak ada hal lain yang ku tebak kecuali_


Oh tidak, apa mas Bima mau melakukannya sekarang?


Aku meneguk ludah dengan setengah mati, mendapat tatapan penuh mesra dari sepasang iris mas Bima.


"Kalau nggak salah" Dia mengatakannya dengan sangat pelan, tapi bahasa tubuhnya membuat jantungku meliar di dalam sana.


"Kamu pernah bilang pada sahabatmu kalau hubungan kita nggak seperti suami istri pada umumnya, betul?"


Mas Bima menahan tubuhnya dengan kedua lutut, ketika dia merendahkan tubuhnya bagian atas, otomatis wajahnya begitu dekat dengan wajahku hingga hidung kami nyaris bersentuhan.


"S-sahabat?"


Aku mengatupkan bibir dan perlahan menekannya ke dalam.


"Riska" Spontan nama itu keluar dari mulut mas Bima.


"I-iya tapi_" Kalimatku terpenggal kerena persekian detik aku menahan napas ketika ku rasakan bibir mas Bima menempel di batang leherku.


Ahh ... bulu kudukku meremang luar biasa.


Bibir itu kemudian beralih ke tulang selangka, mengecupnya lembut, kamudian menyesapnya dengan sangat kuat. Mas Bima tak hanya melakukannya di satu titik tetapi juga di sekujur tubuhku, dan aku yakin tanda merah tercipta di mana-mana.


Bisa ku katakan pria yang saat ini berada di atasku sudah mencumbuku dengan sangat intens, membuatku hanyut merasakan gelenyar aneh seperti kebas atau kesemutan.


Entah kapan mas Bima melepas tali kimonoku yang otomatis langsung memperlihatkan lekuk tubuhku, tahu-tahu tangannya sudah bergerak menjamah di setiap jengkal.


Akal sehatku perlahan menghilang seiring dengan sentuhan dan cumbuan yang membuatku lupa diri.


Aku membuka mata saat sentuhan itu tak lagi ku rasakan. Sepasang netraku langsung terkunci oleh sorot elangnya mas Bima.


Kami saling beradu pandang hingga beberapa menit, sebuah pandangan yang seakan tengah melakukan penawaran, kesepakatan dan persetujuan.


Detik berlalu...


Dengan keberanian yang cukup besar, kedua tanganku yang tadi menggamit pinggang mas Bima, kini ku gerakkan untuk merangkum wajahnya.


Tanpa malu aku menempelkan bibirku lebih dulu kemudian melu*matnya seperti yang selalu mas Bima lakukan padaku.


Ciuman kami semakin intens.


"Bisa kita lakukan sekarang?" Mas Bima sedikit melepas pagutan kami.


Aku meresponnya dengan mengedipkan kelopak mata, sebab aku sendiri bingung namun sangat menginginkannya. Bahkan seluruh tubuhku membeku merasakan desiran rasa yang membuat jantungku berdegup kencang.


Entah bagaimana caranya, tubuh kami sudah tak mengenakan kain sehelaipun.


Mas Bima yang sudah di selimuti kabut gairah, membuatku kewalahan untuk mengimbanginya.


Pria di atasku mulai mengomando apa yang harus ku lakukan, membuatku pun seakan terhipnotis untuk setiap perintahnya.


Setelah sekian menit, akhirnya mas Bima melakukan kegiatan intinya, sementara aku memekik dengan suara tertahan, memejamkan mata cukup erat.


"Tahan Bi!" Bisik mas Bima menghentikan gerakannya dan membiarkanku mendapatkan posisi nyaman, kemudian pria itu mengulum cuping telingaku.


Aku tak bisa membayangkan rasanya bisa sesakit ini, membuatku tanpa sadar menitikkan air mata merasakan sesuatu yang begitu menyiksa.


Apalagi ketika salah satu bagian tubuh kami saling menyatu sempurna, ada gelegak dahaga yang sulit ku jelaskan.


"Bisa di lanjut, Bi?"


Mungkin wajahku sudah sangat pucat, tapi tak mungkin jika ku jawab dengan gelengan kepala.


Akupun mengangguk yang kemudian langsung di beri kecupan lembut di keningku.


"Aku pasti akan pelan-pelan"


Mengabaikan kalimatnya, tanganku melingkar cukup erat di punggung mas Bima selama sekian detik, sebelum kemudian aku merenggangkan pelukan ketika perlahan mas Bima melakukan pergerakan.


Rasa panas dan gelisah yang sempat menyerangku, kini berangsur mereda seiring dengan ritme gerakan yang mas Bima hentakan berulang kali.


Begitu juga dengan sakit yang sebelumnya ku rasakan, kini berganti menjadi sebuah rasa yang membuatku terbang melayang di atas awan.

__ADS_1


Aku ... ingin melakukannya lagi dan lagi, hanya dengan dia, tanpa syarat ataupun paksaan.


"Makasih, Bi!" Nafas kami masih saling memburu, saling menatap dengan perasaan cinta.


Aku mengerjap seraya mengangguk, kemudian melengkungkan bibir untuk membalas senyumannya.


"Mau mandi sekarang apa besok pagi saja?" tanya mas Bima, menyingkirkan anak rambutku yang basah kerena keringat dari mataku.


"Besok pagi saja" Jawabku, menahan nyeri yang masih membekas.


"Ya sudah aku mandi dulu"


Sebelum bangkit, mas Bima mengecup kilat bibirku.


Aku terus menatap priaku yang kini berjalan melangkah ke arah kamar mandi dengan tanpa memakai pakaiannya.


Tersenyum geli, reflek aku menarik selimut dan menyembunyikan wajahku di baliknya.


Ketulusanku pada putrinya, aku yakin tidak akan pernah sia-sia, mas Bima membalasnya di waktu yang tepat. Dia melihatku ada di rumah ini, sebagai istri dan ibu dari anaknya.


Lamunanku buyar ketika ku dengar suara ponsel menggema. Benda yang bergetar itu ada di atas meja kerja milik mas Bima.


Pelan, aku menyingkap selimut kemudian berjalan ke arah lemari. Aku berniat mencari sesuatu yang bisa ku kenakan untuk membungkus tubuhku yang polos. Karena kimono kami sempat terkena noda merah, mas Bima membawanya ke kamar mandi tadi.


Setelah lama mencari, dan karena tak ada pilihan lain, aku terpaksa memakai kemeja yang agak sedikit kebesaran sebab hanya kemeja ini yang mampu menutupi area sensitiveku.


Ponsel yang tadi berbunyipun sudah berhenti sejak beberapa detik lalu.


Ponsel itu kembali mengeluarkan suara tepat ketika aku mengancingkan manik kemeja bagian paling bawah.


Mami Calling...


"Assalamu'alaikum, ayah" Suara Lala dari balik telfon. Dia kira ayahnya yang mengangkatnya.


"Wa'alaikumsalam, anak bunda!"


"Bunda!"


"Telefon ayah ada pada bunda?"


"Telfon ayah di kamar ayah sayang, tapi karena ayah sedang mandi, jadi bunda yang angkat"


"Bunda sudah pulang? Terus kapan jemput Lala?"


Pulang? Aku sedikit bingung dengan pertanyaan Lala.


"Sudah sayang, Lala tahu dari mana kalau bunda kerjanya nggak pulang?"


"Dari ayah, ayah kemarin bilang sama Lala kalau bunda lagi sibuk, bobo di kantor, sibuknya sampai malam-malam kayak waktu itu, jadinya Lala di antar ke rumah oma, biar nggak ganggu bunda kerja "


Dari jawaban Lala, aku bisa menyimpulkan kalau mas Bima memang sengaja memulangkanLala ke rumah mami supaya kami ada waktu berdua untuk membicarakan masalah rumah tangga tanpa gangguan dari Lala. Tapi tanpa mas Bima duga, justru aku harus mengalami tragedi yang cukup menguras ketenanganku.


"Bunda!" Panggilnya dengan suara yang selalu ku rindukan.


"Iya nak?"


"Kapan jemput Lala? Lala udah kangen sama bunda, pengin main sama bunda, kangen juga sama masakan bunda"


"Besok di jemput"


"Iya bunda"


Setelah ada jeda beberapa detik, aku kembali bersuara.


"Lala belum bobo?"


"Lala kangen bunda jadinya nggak bisa bobo, terus oma telfon bunda tapi nggak di angkat, terus jadinya oma telfonin ayah"


Bahasa Lala yang masih belepotan membuat bibirku tersungging.


"Sekarang sudah malam, sudah ngomong sama bunda, Lala mau bobo?"


"Mau, tapi di kiss dulu sama ayah sama bunda"

__ADS_1


"Sini bunda cium, Lala mau cium di bagian mana?"


"Di pipi, di kening, di mata, di mana lagi, ya?" Putriku mengantung kalimatnya dan kalau boleh aku menebak, dia pasti tengah memasang mimik serius untuk berfikir.


"Mmuach, mmuach, muach" aku mencium ponsel mas Bima yang seolah-olah sedang mencium Lala.


Tiba-tiba aku di kagetkan dengan tangan mas Bima yang menyentuh pundaku.


"Bi"


"Astaghfirullah" Suaraku keluar bersamaan dengan suara mas Bima yang menyebut sebagian namaku.


"M-mas!" Aku yang duduk di kursi kerja, tak menyadari kalau mas Bima sudah selesai mandi.


"Telfon dari siapa, pakai cium-cium begitu?"


"Dari Lala"


Aku sampai mengabaikan panggilan Lala karena menjawab pertanyaan mas Bima.


"Ada apa dengannya, apa dia rewel" Mas Bima melangkah menuju tempat tidur kemudian menarik sprei yang tak sebersih sebelumnya.


"Bunda"


Belum sempat aku menjawab, panggilan Lala dari sebrang telfon kembali ku dengar.


"Iya, sayang"


"Itu suara ayah ya?"


"Iya nak"


"Lala mau ngomong sama ayah"


"Sebentar ya, La" Aku berjalan menghampiri mas Bima yang kini sedang mengganti sprei.


"Lala mau ngomong mas"


"Bilang kalau ayahnya lagi sibuk"


Aku kembali menempelkan ponsel di telingaku. "Lala, ayah lagi sibuk nak, Lala bisa tunggu sebentar?"


"Bisa bunda, Lala juga masih mau ngomong sama bunda, masih kangen sama suara bunda"


Aku tahu bagaimana perasaan Lala yang begitu merindukanku, karena aku juga seorang anak, yang sering rindu pada ibu dan juga bapak. Sementara Lala sudah mengira kalau akulah ibu kandungnya.


Banyak hal yang aku bicarakan dengan Lala selagi menunggu mas Bima selesai mengganti sprei.


"La, ayah sudah selesai sibuknya, Lala bisa ngomong sama ayah sekarang"


"Iya bunda" Sahutnya.


"Ini mas" Aku menyodorkan ponsel ke tangan mas Bima.


Sebelum benar-benar bicara dengan Lala, mas Bima berpesan padaku.


"Tidurlah kalau masih nyeri" Ucapnya sambil melirik ke arah ranjang, lantas mengecup puncak kepalaku dan mengusap bekas kecupannya.


Setelah itu dia berjalan keluar sambil mendekatkan ponsel di telinga kirinya.


Mas Bima, banyak hal yang harus mas jelaskan tentang Lala dan gugatan dari mbak Hana.


Ya, kemarin maksud kedatangan Yoga kemari adalah untuk memberikan surat gugatan hak asuh Lala. Gugatan yang di layangkan dari mbak Hana.


Karena mas Bima mengusir Yoga begitu saja, dokumen itu tertinggal di meja ruang tamu. Mas Bima sempat menyembunyikannya dariku, tapi saat aku mencari baju untuk ku kenakan tadi, aku melihat map itu di lemari shaf paling bawah.


Aku kembali membuka lemari ini dan melihat dokumen itu.


Dokumen yang isinya membuatku seketika merasa takut.


Ketakutan di luar batas.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2