Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 72 ~


__ADS_3

Aku menggandeng tangan mungil Lala setelah kami turun dari mobil di halaman pengadilan. Tak ada mas Bima bersama kami, namun tak membuatku takut barang sedikit. Aku bahkan sangat antusias dengan sidang kali ini, karena aku yakin apa yang sudah ku ceritakan, kalimat-kalimatku yang tersirat sebuah hasutan pada Lala, akan membuat mbak Hana serta Gesya membungkam mulutnya.


Belum lagi soal video saat mas Bima berpamitan, dan juga hasil lab yang menyatakan tentang kehamilanku, itu semua akan kami gunakan untuk menangkis prasangka dari pihak mbak Hana bahwa rumah tanggaku berjalan harmonis, dan Lala hidup di lingkungan keluarga yang sehat, yang di penuhi dengan kasih sayang serta kebahagiaan.


Meski aku merasa keberatan karena urusan privasiku dengan mas Bima terekspos, tapi mau bagaimana lagi, demi Lala aku memang harus membuktikan pada hakim bahwa mereka sudah salah menilai soal rumah tanggaku.


"Ini tempat apa bun? Apa museum?" tanya Lala saat kami melangkah memasuki gedung berlantai tiga.


"Bukan nak, ini namanya pengadilan. Tempat buat ketemu seseorang"


"Memangnya kita mau ketemu sama siapa?"


Aku tak langsung menjawab, aku lebih memilih membawa Lala duduk di sebuah bangku untuk menjelaskan kalau kami akan bertemu Gesya dan mbak Hana.


"Duduk dulu, nak"


Aku dan Lala sama-sama duduk di bangku panjang yang ada di serambi pengadilan.


"Kita mau ketemu sama onty Hana dan onty Gesya, nak" kataku yang membuat Lala langsung mengerjap.


"Bunda mau antar Lala ke onty Hana ya, bunda mau Lala tinggal sama onty Hana? Kan kata ayah, onty Hana mamahnya Lala, onty Gesya juga bilang Lala harus tinggal sama onty Hana"


"Lala mau tinggal sama onty Hana?" aku balik bertanya.


"Lala nggak mau bun" sahutnya menggelengkan kepala dengan nada khas akan menangis.


"Kalau Lala nggak mau tinggal sama onty Hana, Lala ngomong baik-baik ya sama onty Hana"


"Iya bunda"


"Lala jangan takut" Ucapku sambil mengusap pipinya yang sudah basah karena tetesan embun dari kelopak matanya. "Lihat tangan bunda?" kali ini aku menunjukkan tanganku yang menggenggam tangan kecilnya. "Tangan Lala ini, akan bunda gandeng terus seperti ini, biar Lala nggak takut nanti"


"Bunda nggak suruh Lala buat tinggal sama onty Hana kan?"

__ADS_1


"Enggak sayang, malah bunda pengin Lala bisa terus tinggal sama ayah sama bunda"


"Janji" Lala menjulurkan jari kelingkingnya. "Bunda nggak akan suruh Lala tinggal sama mama Hana?"


"Bunda janji nak" Ku tautkan jari kelingkingku dengan jari mungil Lala.


Beberapa detik kemudian, aku tersenyum berharap senyumku ini mampu mengurangi ketakutan yang di rasakan putri kecilku.


"Kita masuk sekarang?"


"Eugh" Lala mengangguk meski ada rasa ragu dan takut.


Baru saja aku dan Lala bangkit dari tempat duduk, tiba-tiba sepasang netraku melihat Gesya berjalan menghampiri kami. Tak berapa lama wanita itu sudah berdiri di hadapanku dan Lala.


"Hai keponakan onty"


"Hai onty" Lala mendongak, kemudian mengecup punggung tangan ontynya.


"Apa kabar anaknya mama Hana?" tanyanya sambil mengecupi wajah Lala.


"Baik onty" Sahut Lala tersenyum. "kata bunda kita mau ketemu ya onty?"


Bukannya menjawab, Gesya terus menghujani wajah Lala dengan kecupan.


"Onty kangen banget sama Lala"


Jujur aku merasa terusik dengan sikapnya, aku nggak suka putriku di hujani ciuman bertubi-tubi seperti itu. Aku cemburu, tapi tak bisa memprotesnya karena hubungan antara Gesya dengan Lala lebih kental jika di bandingkan denganku yang hanya sebatas ibu sambung. Alhasil aku hanya bisa diam sambil memperhatikan keduanya.


Puas mencium wajah Lala, wanita itu berdiri, lalu memusatkan manik tajamnya ke netraku.


"Anak kecil tidak akan pernah bohong, Bi. Dia pasti menceritakan kondisi rumahnya sesuai dengan apa yang dia lihat"


"Saya tahu mbak, dan mari kita lihat, siapa yang Lala pilih"

__ADS_1


"Ini bukan tentang pilihan Lala" potongnya penuh percaya diri. "Ini soal betapa parahnya kondisi rumah tanggamu, dan Lala akan memberitahu kami segalanya"


"Jangan merasa menang sebelum bermain" kataku tersenyum miring. "Dan jangan terlalu percaya diri" Aku menggandeng tangan Lala, sebelum benar-benar mengangkat dan melangkahkan kakiku, aku kembali mempertemukan pandangan kami.


"Oh ya, satu lagi mbak Gesya!" ujarku sinis, dengan tatapan sepenuhnya menyoroti netra wanita yang penuh dengan keangkuhan. "Mencintai suami orang itu sakit, apalagi suami model mas Bima, dia tidak akan pernah tertarik padamu. Jika masih ngotot, akan ada banyak kecaman daripada kebahagiaan. Percayalah padaku, lanjutkan hidupmu dengan baik, dengan tanpa merusak kebahagiaan orang lain. Ingat, bersikukuh merebut mas Bima dari pasangannya hanya akan menganugerahimu cap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya"


"Kamu fikir aku peduli?"


"Enggak heran si, kamu kan memang wanita tak tahu malu" jawabku sesantai mungkin.


"Brengsek kamu, Bi!"


Aku meresponnya dengan senyum miring. "Mari masuk!" Aku melangkah tanpa memperdulikan rautnya yang memerah menahan geram. Membawa Lala yang tampak bingung dengan kalimatku yang tidak ia mengerti.


"Bunda sama onty berantem ya?" cicitnya.


"Apa wajah bunda masam? Kayak ayah yang mau marah?"


"Enggak?" Lala menoleh lalu mendongak, sementara aku menunduk sambil terus melenggangkan kaki. "Ibu tadi senyum pas ngomong sama onty"


"Berarti bunda nggak berantem sama onty sayang"


"Tapi wajahnya onty Gegey tadi seram bun, kayak halloween"


"Hust.. Nggak boleh ngomong gitu nak"


"Tapi Lala benar kan bun. Wajah onty menyeramkan tadi?"


Aku kembali mengulas senyum, lalu menatap lurus kedepan, mengarahkan kaki yang sebentar lagi akan sampai di ruang persidangan.


Sangat menyeramkan nak, ngalahin jelmaan mak lampir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2