
Sekali lagi ya, work ini aku buat dengan konflik yang sangat ringan, konflik yang ada di sekitar kita. Norma-normanya aku pake adat ketimuran. ( Sesuai dengan budaya kita di Indonesia). Halunya juga bukan kelasnya orang ningrat seorang CEO yang memiliki pengawal pribadi, asisten pribadi, atau Art yang jumlahnya puluhan 😊😊 (Malah Arimbi nggak punya ART). Jadi yang berkenan baca, silakan baca, yang berkenan dukung silakan dukung cerita ini.
Happy reading...
Aku dan mas Bima duduk, berhadapan dengan mbak Hana serta Gesya yang hanya di batasi sebuah meja.
Ketika mataku berusaha melirik Gesya, dia seperti berulang kali mengusap lehernya. Mungkin keringat dinginnya keluar akibat detakan jantung yang berlebihan.
Sama sepertiku saat tak sengaja melihat mas Bima dan kak Rosa duduk di sebuah restauran cepat saji, akupun merasakan cemburu di iringi dengan debaran jantung dan keringat yang mengucur deras. Bisa di bilang reaksi dan ekspresiku waktu itu sama persis dengan yang kini di rasakan oleh Gesya.
Hatinya pasti memanas melihat kedekatanku dengan mas Bima.
"Kalian mau ajak Lala kemana?" Suara mas Bima tiba-tiba memecah kecanggungan di antara kami. Baik aku, mbak Hana dan Gesya sama-sama tegang berhadapan dengan satu pria yang ketenangan dan ketegasannya luar biasa hebat.
"Aku ibunya Bim, aku ingin ajak Lala jalan-jalan mumpung aku lagi di sini"
Mas Bima tersenyum miring, lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. Membawa tautan jemari kami yang masih saling mengunci ke atas pangkuannya. Priaku seolah sengaja memamerkan kemesraan kami di depan mbak Hana dan juga adiknya.
"Dari empat tahun dan baru sekarang kamu ajak Lala jalan-jalan? Dari dulu kemana nggak mikirin anak?"
"Maaf, aku tiba-tiba merindukan Lala apa aku salah?"
"Nggak salah" sahut mas Bima cepat. "Nggak ada yang salah seorang ibu merindukan putrinya. Hanya merasa aneh saja, wanita yang dulu memaksaku untuk bilang kalau Gesya adalah ibu kandungnya, sekarang tiba-tiba datang merindukannya dan ingin merebut hak asuhnya"
Jujur aku tercenung mendengar kalimat mas Bima. Mbak Hana meminta mas Bima agar memberitahu Lala kalau Gesya ibunya?
Ini benar-benar di luar dugaanku. Mas Bima sengaja nggak crita ke aku, atau memang belum sempat?
"Nggak tahu malu itu namanya Han" Suara mas Bima membuat lamunanku buyar. "Kamu sendiri kan yang meminta agar Lala tak perlu tahu tentang dirimu dan aibmu? Ckkk Berselingkuh di depan bayimu, padahal bayimu sedang menangis kejer tapi kamu tak memperdulikannya?"
Mas Bima berdecak sinis. "Aku nggak habis fikir, ada ya ibu sepertimu. Beda dengan ibu sambungnya, dia bahkan tak rela walau putri sambungnya di gigit nyamuk"
"Mas" Lirihku mengusap lengan kanannya, dari gestur tubuhnya, mas Bima mulai tersulut emosi.
Ayahnya Lala melirikku sekilas, dengan tatapan marah yang kali ini bukan di tujukan untukku.
Sorot mata yang tak ingin ku lihat sebenarnya, sebab kilat mata itu begitu tajam dan menakutkan.
"Kamu nggak tahu apa-apa, Bi. Lebih baik diam"
"Bisa nggak bim, jangan bahas itu" Sela mbak Hana yang memantik sepasang netra mas Bima untuk menatapnya.
"Kenapa? Malu di depan istriku?"
Mbak Hana dan Gesya kompak mengalihkan matanya ke arahku.
"Waktu zina nggak mikir malu?"
"Mas, sudah.. Jangan bahas masa lalu"
Aku sangat paham, nggak akan baik-baik saja kalau kita membahas soal perselingkuhan, pengkhianatan apalagi sampai berzina. Naudzubillah.
"Silahkan kamu bawa dia, aku ijinkan, tapi sebelum pukul empat, Lala sudah harus kembali ke rumahnya, itu jika Lala mau, kalau tidak, aku tidak bisa memaksanya untuk ikut dengan kalian"
Dari wajah mbak Hana, dia seperti menahan geram sekaligus jengkel, berbeda dengan Gesya yang diam saja namun tampak resah. Konsentrasinya seperti berserakan kemana-mana akibat di liputi perasaan cemburu.
"Lala!" Panggil mas Bima dengan intonasi tinggi. Wajahnya berpaling menoleh ke arah ruang tengah.
"Iya ayah?"
"Sini sebentar nak"
Tak menunggu lama, dua anak gadis yang sama-sama menggemaskan berlarian ke ruang tamu.
__ADS_1
"Apa yah"
"Onty Gesya mau ajak Lala jalan-jalan, Lala mau?"
"Sama ayah bunda, enggak?" Secara spontan Lala duduk di atas pangkuan ayahnya, membuat tangan kamipun akhirnya terurai.
"Enggak nak, bunda sama ayah ada urusan"
"Urusan apa? Lala nggak di ajak?"
"Kan onty Gesya pengin ajak Lala, jadi Lala ikut onty dulu, minggu depan ayah janji ajak Lala sama bunda jalan-jalan"
"Tapi ayah jagain bunda ya"
"Pasti dong sayang"
"Lala jalan-jalan sama onty boleh bun?" Lala yang duduk di pangkuan ayahnya memindai wajahku.
"Boleh sayang, tapi Lala janji nggak boleh nakal, harus patuh sama onty ya"
"Iya bunda"
"Anak pintar" Pujiku membelai pipi Lala.
Anak ini tersenyum Lalu beralih pandang menatap Gesya "Mau kemana onty?"
"Sesukanya Lala" Jawab Gesya menahan gugup. Tentu dengan senyum yang di buat-buat.
Dia pasti masih syok dengan sikap manis dan lembutnya mas Bima padaku.
Sementara aku tertawa jahat dalam hati. Maaf Gey... Waktu bisa merubah segalanya, merubah perasaan mas Bima karena ada Dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia.
"Sayang kamu dandani Lala, jangan lupa pakaiin cardigan" Mas Bima memerintahkanku dan aku langsung mematuhinya.
"Boleh gendong bun?"
"Tanya ayah"
"Boleh yah?" Sepasang mata Lala yang di lingkupi bulu-bulu lentik mengerjap menatap ayahnya.
"Nggak boleh si, tapi kali ini ayah ijinin bunda gendong Lala. Tapi kalau di perut bunda sudah ada dedek bayinya, Lala nggak boleh minta gendong lagi ya?"
"Iya" sahut Lala singkat.
Saat mas Bima mengatakan itu, wajah Gesya kian tak menentu, tampak pucat pasi, dan sama sekali tak ada ekspresi. Sang kakak ku rasa sangat mengerti dengan kondisi batin adiknya, buktinya dia mengusap punggung tangan Gesya berulang kali.
Aku bangkit, lalu mengangkat tubuh Lala.
"Naura sayang, tunggu sebentar ya, Lala mau ganti baju dulu" Ucapku pada gadis kecil anak dari pria yang ku tuntut. Meski aku sangat membenci bapaknya, tapi Naura tak tahu apapun. Dia masih polos sama seperti Lala.
"Iya tante"
"Tunggu sebentar ya, mbak Hana sama mbak Gesya"
Baik keduanya tak menyahut.
Saat langkah kakiku berada di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah, aku mendengar suara mas Bima dan langkahku sengaja ku hentikan sesaat.
"Kalian tunggu sebentar! bundanya akan mempersiapkan apa yang Lala butuhkan"
Selang beberapa detik, tahu-tahu mas Bima sudah berjalan di belakangku.
****
__ADS_1
Aku dan mas Bima mengantar Lala sampai depan pintu, aku juga membawakan lotion di tasnya Lala buat jaga-jaga jika timbul bentol-bentol kalau terkena suhu dingin.
Setelah mas Bima membukakan pintu gerbang untuk mobil Gesya, mas Bima kembali menarik pinggangku agar merapat padanya. Sikap mas Bima jelas tak lepas dari lirikan mata Gesya yang diam-diam kepergok olehku tengah mencuri pandang ke arahku dan mas Bima.
"Dadaa ayah, bunda"
"Hati-hati nak"
Ketika mobil itu mulai melaju keluar dari halaman rumah kami, aku menghela napas panjang.
Sejujurnya aku khawatir, takut kalau mbak Hana sama Gesya berhasil menghasut Lala. Tapi kekhawatiranku ini tiba-tiba di tepis oleh suara mas Bima.
"Percayalah, Lala jauh lebih mencintaimu ketimbang ibunya, dia lebih memilih hidup bersamamu dari pada dengan Hana. Berkat didikanmu, dia tumbuh menjadi anak yang pintar, dia tidak akan pernah terpengaruh oleh siapapun"
"Jangankan Gesya dan Hana" Tambahnya berbisik nyaris tanpa suara. "Ayahnya saja sempat di usir saat bundanya nggak pulang-pulang"
Sepertinya mas Bima mengerti arti tatapanku pada mobil yang kian mengecil dari pandanganku.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan sebagai respon atas perkataannya. Detik berikutnya mas Bima menutup pintu gerbang, kemudian kami kembali memasuki rumah.
"Kita manfaatkan waktu kita tanpa orang ke tiga"
"Orang ke tiga?" tanyaku heran.
"Lala"
"Anak sendiri di bilang orang ke tiga?" mataku memicing. "Mas ada-ada saja"
"Aawhh.." Aku terkejut dan langsung melingkarkan tangan di lehernya karena tiba-tiba mas Bima mengangkat tubuhku.
"Aku harus menghibur istriku karena saat ini dia sedang khawatir"
Reflek dahiku mengernyit. "Mas tahu aku sedang khawatir?"
"Kan aku sudah bilang Bi, aku selalu peka seperti apa suasana hatimu, kamu lagi cemburu, lagi marah, sedih, senang, aku tahu"
Kami tahu-tahu sudah berada di dalam kamar.
Mas Bima menurunkanku di dekat meja kerja.
"Apa yang membuatmu khawatir? Kamu takut Lala akan berpaling hati pada ibunya?" Tanya mas Bima dengan sorot penuh menatapku.
"Kalau iya, kenapa?" aku sedikit berjinjit lalu mengalungkan lengan di lehernya. "Aku bundanya, jelas aku khawatir kalau putriku melupakanku"
"Khawatir boleh, tapi jangan berlebihan, faham!"
Bibirku mengatup rapat, sementara kedua alisku terangkat dan kepalaku terangguk pelan.
"Aku membiarkan Lala ikut dengan mereka, karena nggak mau memberi kesempatan buat dia memenangkan hak asuh Lala. Maksudnya, kalau tadi aku melarang, dia pasti akan mengajukan keberatan karena kita sudah mempersulit intensitas pertemuan antara ibu dan anak"
"Kita biarkan saja dia menikmati kebersamaannya dengan Lala, jika terjadi sesuatu yang membuat putri kita tertekan, kita akan catat dalam gugatan" sambung mas Bima.
Dia yang kini duduk di tepian meja, kedua tangannya sudah melingkar di pinggangku.
"Jangan terlalu stres kalau ingin ada bayi di perutmu"
Aku terpaku, berdiri di antara kedua kakinya.
"Nggak akan terjadi apapun dengan Lala, okay"
Usai mas Bima mengatakan itu, kami sama-sama bergeming sambil beradu pandang, sebelum kemudian mas Bima menyatukan bibir kami.
Di tengah-tengah ciuman kami, salah satu tangan mas Bima tahu-tahu menekan punggungku hingga tubuhku kian merapat padanya, sementara ciuman kami kian dalam.
__ADS_1