
Aku menghabiskan waktu seharian bersama Lala sebelum mbak Hana membawanya ke Singapura.
Tanpa sepengetahuannya, aku sudah menata koper kecil milik Lala yang berisi semua perlengkapan termasuk baju dan peralatan mandi. Lotion untuk alergi dingin pun sudah ku selipkan.
Dia akan di jemput oleh mbak Hana besok siang.
"La" Panggilku setelah aku selesai membantunya memakaikan baju. "Bunda mau ngomong ke Lala, tapi Lala janji harus dengarkan bunda dan selalu ingat apa yang bunda sampaikan"
Dia yang berdiri di atas ranjang, tinggi level kami nyaris sama, membuat Lala tak perlu mendongak dan aku tak harus merunduk. Lala mengerjap, sepasang mata indahnya tak teralihkan dariku dan menatapku begitu dalam.
"Kalau bunda nggak sama Lala, nggak temani Lala liburan, Lala tetap harus bahagia ya, harus makan tepat waktu, dan nurut sama ayah"
"Kenapa? Apa bunda sibuk kerja? Biasanya kalau Lala libur lama-lama, bunda nggak kerja"
"Tapi kali ini bunda sibuk"
"Bunda nggak sayang lagi sama Lala?"
"Bukan begitu, nak" Sanggahku cepat "Bunda selalu sayang Lala, nggak cuma bunda, ayah juga, mama Hana juga sayang banyak ke Lala"
"Tapi kenapa bunda nggak temani Lala liburan?"
"Bunda sibuk, nak. Tapi bunda janji, kalau sudah nggak sibuk, bunda pasti temani Lala"
"Kalau gitu Lala ikut ke kantor bunda, Lala janji nggak nakal, nggak ganggu bunda kerja"
Ya Rabb, apa ini? Aku berusaha untuk tidak menangis, tapi anak ini malah memancingku untuk meluncurkan air mata.
"Lala mau dekat-dekat bunda, boleh ya bun?"
"Boleh, tapi anak kecil nggak di bolehin ke kantor orang dewasa"
"Tapi kenapa, Lala kan nggak ganggu"
Ku hela napas dalam-dalam, berusaha menyusun kalimat yang pas untuk menjelaskan pada anak yang belum genap lima tahun ini.
"Lala sayang sama bunda, kan? Lala anak baik kan? Anak penurut?"
Lala mengangguk tapi sangat pelan.
"Bunda tahu Lala nggak akan ganggu bunda, tapi anak sekecil Lala kasihan kalau nunggu bunda selesai kerja. Bunda kan kerjanya dari pagi sampai sore, nanti Lala capek, terus Lala sakit, bunda jadi sedih lihat Lala sakit, apalagi kalau tangannya di tusuk jarum kayak pas Lala bobo di rumah sakit. Lala ingat kan?"
Anak itu kembali meresponku dengan bahasa tubuh, mengangguk.
"Lala mau bunda sedih? Mau bunda nangis?" tanyaku menahan laju air yang hendak meluncur.
"Enggak"
"Kalau gitu, Lala harus nurut sama bunda, iya!"
"Tapi bunda sayang Lala terus kan?"
"Iya, bunda sayang Lala selalu, bunda nggak mau pisah sama Lala, Lala harus ingat itu"
Aku langsung merengkuh tubuh mungil Lala tepat ketika air mataku jatuh. Benar-benar tak ingin membiarkan dia mengetahui air mataku.
"Jadi nanti pas libur kalau bunda kerja, ayah kerja, Lala di rumah sama siapa?" Tanyanya, masih dalam pelukanku.
"Sama mama Hana dulu ya, mama Hana kangen Lala"
Reflek Lala melepas pelukan kami.
"Sama mama Hana?"
"Hmm" Sahutku seraya mengangguk.
Anak ini terdiam, dari sepasang netranya seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Kalau sama oma di rumah, boleh?" ujar Lala bertanya, setelah nyaris satu menit hanya bergeming.
"Boleh, tapi oma juga sibuk. Cuma mama Hana yang nggak sibuk. Mau ya?"
"Tapi habis bunda pulang kerja, bunda temani Lala main, temani bobo juga"
Aku terpaku tak bisa menjawab pertanyaannya.
Mau jawab iya, takut Lala kecewa karena nanti memang tak bisa menemaninya. Jawab tidak, aku yakin dia pasti akan bersedih.
"Kalau bunda ada waktu, bunda pasti temani Lala"
"Kalau bunda pulang kerja kan waktunya banyak-banyak, nanti ayah yang masak, bunda sama Lala main"
__ADS_1
Duh, sepertinya semakin sulit. Kalau aku jujur mamanya akan membawanya pergi, jelas dia akan menolak mentah-mentah.
"Begini La" Pungkasku dengan nada serendah mungkin. Tanganku menangkup wajahnya yang mulus. "Pokoknya kalau bunda nggak sibuk, pasti main-main sama Lala, bunda sayang Lala, dan akan selalu temani Lala"
"Lala juga sayang bunda, Lala mau sama bunda terus, nggak mau sama mama Hana. Kalau milih sama ayah apa sama bunda, Lala juga pasti pilih bunda" Putri kecilku kembali memelukku. Sementara perkataannya membuatku terharu.
Mengusap punggung Lala, aku berusaha menguatkan diri, sembari menikmati pelukan hangat dari putriku. Pelukan yang pasti akan selalu ku rindu, pelukan yang tidak akan kami lakukan selama dua minggu.
"Sudah selesai mandinya?" pertanyaan mas Bima membuat pelukan kami otomatis terurai.
"Opss.. Ayah ganggu ya?"
"Enggak, Ayah kalau mau ikutan peluk-peluk juga boleh" Balas Lala menatap ayahnya. "Iya kan bun?"
"Iya" Aku tersenyum.
"Ya udah, sekarang giliran Lala sama ayah, bunda harus mandi dulu soalnya"
"Ayah sudah selesai masak-masak memangnya?"
"Belum, tadi kan ayah cuma cuci cuci sama potong-potong sayuran" Mas Bima sudah berdiri di samping ranjang. Aku sendiri memungut handuk bekas Lala yang basah untuk ku gantung di kamar mandi.
"Masaknya nanti setelah sholat maghrib"
"Bunda mau mandi dulu ya" ucapku menyela obrolan mereka. Tanpa menatap mas Bima dan juga Lala, aku lantas berjalan keluar dari kamar Lala.
***
Besok siangnya, sebuah mobil memasuki halaman rumahku setelah mas Jim membukakan pintu gerbang.
Pemiliknya adalah mbak Hana. Aku yang tengah merawat tanaman bungaku, menggunting daun-daun yang kering, sedikit heran sebab dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama seorang pria dan juga Gesya.
Melihat bagaimana pria itu menggandeng tangan mbak Hana, aku yakin kalau pria itu adalah Yudha, suaminya.
Kalau di lihat dari segi fisik, mas Bima lebih unggul, tapi untuk kekayaannya mungkin mas Bima jauh tertinggal di bawahnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Seumpama aku dan mas Bima yang berada di posisi mbak Hana dan Yudha, mungkin aku tak sudi menginjakkan kaki di sini, sebab rumah ini menjadi saksi perselingkuhan mereka. Meski demi menjemput putrinya, aku lebih memilih menyuruh Gesya untuk datang mengambil Lala.
"Mbak Hana" Kami saling bersalaman hanya untuk sekedar ramah tamah. "Mari masuk"
"Lala lagi ngapain Bi?" tanya mbak Hana di tengah langkah kami memasuki rumah setelah dari halaman.
"Lagi tidur siang mbak, tapi sepertinya sebentar lagi bangun"
"Aku ijin bawa Lala ya Bi, aku juga bawa surat pengantar, dan selama dua minggu Lala menjadi tanggung jawabku"
"Iya mbak, mbak kan ibu kandungnya, mbak berhak membawa Lala" Aku berusaha tenang, padahal sebenarnya aku ingin menjerit, ingin membawa Lala kabur supaya dia tidak bisa membawa putriku pergi.
"Silakan duduk mbak, mas, Gesya"
"Makasih Bi"
Aku tersenyum mengangguk, kemudian berkata. "Aku panggil mas Bima dulu sebentar"
"Iya"
Setelah di iyakan oleh mbak Hana, aku meninggalkan ketiga tamu yang salah satu di antara mereka, duduk dengan menyilangkan kaki. Tangannya sibuk memainkan gawai, sementara wajahnya terkesan angkuh dan sombong. Dia Gesya, wanita yeng terobsesi dengan mas Bima.
Selang beberapa menit, aku kembali ke ruang tamu bersama mas Bima sekaligus membawa nampan berisi empat cangkir teh.
Tak ada rasa canggung dalam diri mereka, sebab aku yakin baik mas Bima, mbak Hana dan Yudha sudah melupakan kejadian beberapa tahun lalu. Itu karena mereka sudah sama-sama hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
Saat aku meletakkan cangkir satu persatu ke atas meja, aku sempat melirik mas Bima yang tengah menyalami Gesya. Mas Bima sama sekali tak memandang wajah wanita yang kemungkinan besar adalah pelaku pengiriman jajanan beracun ke kantorku.
"Mau bawa Lala sekarang, Han?" tanya mas Bima sesaat setelah duduk.
"Lala sedang tidur, apa nggak ganggu"
"Tidak, sama sekali tidak. Lebih cepat lebih baik"
Entah apa maksud mas Bima, tapi dari kalimatnya seakan dia ingin sekali mbak Hana bisa segera pergi dari rumah kami.
"Tunggu sebentar, kami akan membangunkannya" Mas Bima berdiri, akupun turut berdiri.
"Di minum dulu tehnya mbak, kami akan bantu Lala siap-siap"
"Iya, Bi"
__ADS_1
Ayahnya Lala yang sudah lebih dulu masuk, menungguku di depan kamar kami.
"Nggak apa-apa ya?" tanya mas Bima saat aku sudah berdiri di depannya.
"Nggak apa-apa mas, mbak Hana juga berhak atas Lala"
Mas Bima mengusap salah satu pipiku lembut. "Kamu ke kamar, aku nggak mau lihat dramamu dan Lala"
"Tapi mas_"
"Sudahlah, nurut sama suamimu, jangan sampai kamu menampakkan diri di depan Lala, mengerti"
"Tapi kenapa? Lala pasti nggak mau pergi kalau nggak pamit ke aku"
"Ini yang terbaik buat kamu sama Lala, jangan membantah, okay!"
Pria ini lantas mendorong tubuhku pelan agar aku masuk ke kamar.
Di dalam kamar, aku kebingungan dengan gestur tubuh yang tak tenang. Memikirkan bagaimana sedihnya Lala ketika tahu-tahu ibunya akan membawanya pergi. Tak terbayang tangisan anak itu pasti akan pecah sejadi-jadinya, jeritan memilukan juga akan menggema di seluruh ruangan. Tak hanya itu, Lala pasti berontak karena di paksa oleh kami.
Lima menit berlalu, sepuluh menit, hingga lima belas menit, tiba-tiba telingaku menangkap obrolan Lala dan mas Bima.
"Tadi bunda bubu sama Lala, sekarang sudah pergi?" itu kata Lala. Mas Bima pasti sedang membohongi putrinya.
"Iya, bunda sibuk, tadi bunda pesan supaya Lala jangan nangis, dan harus nurut sama ayah"
"Terus sekarang bunda dimana?"
Suara keduanya kian samar, bahkan aku tak bisa lagi mencuri dengar percakapan mereka, namun setelah tiga menit, aku mendengar tangisan Lala menguar memekakan telinga.
Aku keluar, bersembunyi di samping lemari yang ada di ruangan khusus untuk bermain piano.
"Lala nggak mau ikut mama Hana, yah. Lala nggak suka, Lala mau di sini nunggu bunda pulang"
"Bunda pulangnya lama, nak. Bunda sangat sibuk"
"Enggak, pokoknya Lala mau sama bunda" Nafas Lala kian terengah-engah menahan sesenggukan.
"Sudah di pesan sama bunda kan, supaya Lala jangan nangis, harus nurut juga"
"Lala janji nggak nangis, tapi ayah bilang mama Hana biar nggak bawa Lala"
"Mama Hana kangen sama Lala, mau ajak Lala jalan-jalan nanti"
"Nggak mau"
"Lala!" pekik mas Bima. Mungkin pria itu sudah mulai kewalahan mengatasi putrinya yang terus menunjukkan penolakan.
"Bawa saja, Han. Nanti akan reda sendiri"
"Ayo sayang, ikut mama. Bunda Arimbi lagi sibuk, untuk sementara Lala sama mama dulu, okay anak pintar"
"Enggak" Entah seperti apa reaksi Lala, yang jelas aku disini berusaha mengendalikan diri agar kaki ini tak terangkat untuk menghampirinya.
Mendengarnya meraung hingga tersengal, dadaku terasa sesak, tanpa sadar air mataku pun kian mengalir dengan begitu deras.
"Bundaaa!" teriak Lala langsung membuatku tersentak. "Tolong Lala, bunda! ayah sama mama Hana jahat, mama Hana mau bawa Lala pergi. Tolongin bunda, Lala mau di sini aja, tunggu bunda, Lala janji nggak nakal-nakal"
"Cuma sementara aja sama mama Hana nak, nanti kalau bunda sudah nggak sibuk, bunda sama ayah jemput Lala"
"Lala nggak mau, Lala mau ke kamar bunda"
"Sudah di bilang bunda nggak di rumah"
"Bunda pasti di kamar, bunda nggak ke kantor, tadi bubuk sama Lala. Ayah pasti bohong"
"Ayah nggak bohong, sayang"
"Ayah bohong" sambarnya Kilat.
Tangis Lala kian kencang tapi aku hanya bisa mematung mendengar raungannya yang kian jauh dari jangkauanku, mungkin mereka sudah membawa Lala keluar menuju mobil.
"Ayah jahat, ayah nggak sayang Lala, Lala benci ayah. Bunda Arimbi, tolong Lala bunda. Lala nggak mau pergi sama mama Hana, Lala mau sama bunda, nggak apa-apa Lala temani bunda kerja, nggak apa-apa Lala capek, Lala senang bisa temani bunda kerja, Lala janji kalau capek, Lala nggak akan sakit nungguin bunda kerja di kantor" Suara Lala semakin serak, sesenggukannya juga pasti sangat kentara. "Bunda, tolongin Lala bunda, Lala mau di bawa pergi sama mama Hana. Tolong bundaaa!"
"Sudah nak, anak pint_"
"Lala nggak mau nurut, Lala bukan anak pintar"
Aku mengintip dari jendela ruang tamu, mengamati Lala yang berontak dan terus memberikan perlawanan. Mas Bima sendiri ku lihat berdiri dengan raut tak tenang bercampur sedih.
Mobil itu perlahan bergerak, sementara Lala terus menggedor-gedor kaca mobil dengan wajah yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
Ekspresi Lala, entah kenapa seperti mencubit sesuatu yang ada di dalam diriku, yang membuat sepasang kakiku sepeesekian detik terasa lemas .... Dan aku jatuh terduduk di lantai dengan pikiran kosong.