Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 49 ~


__ADS_3

"Lala sudah tidur?"


Ku pikir mas Bima bersuara untuk menjawab pertanyaanku. Tapi malah bertanya mengenai Lala.


Kepalaku sedikit bergerak untuk melihat wajah Lala. Hembusan nafasnya yang teratur, menandakan kalau putriku sudah terlelap.


"Sudah" Aku kembali mendaratkan kepala pada bantal setelah sebelumnya mengecup pucuk kepala Lala.


Tak berapa Lama, tangan mas Bima yang tadi ada di dalam piyamaku keluar, lalu memutar tubuhku supaya menghadapnya.


Posisi kami memang tengah berbaring di ranjang kamar milik Lala.


Saat sudah miring dengan posisi berhadapan, pandanganku jatuh pada dada mas Bima yang terbalut kaos tipis berwarna putih.


Pria itu menyentuh daguku, kemudian agak sedikit mengangkat agar kami bertemu pandang.


"Sepertinya aku harus stok tenaga ekstra untuk meyakinkanmu, sayang" Katanya dengan kerlingan jahil.


"Ketakutanmu itu" Mas Bima menjeda ucapannya sejenak lalu menelisik wajahku penuh cermat "Kenapa sangat berlebihan, Bi?" Ujarnya dengan kondisi mata kami yang lekat saling menatap.


"Aku nggak tahu berlebihan atau enggaknya, tapi jika masa lalu hadir dalam hidup suamiku, istri mana yang nggak khawatir?"


"Dari sorot dan ekspresi wajahmu, selain insecure, kamu juga cemburu" Mas Bima mengatakannya dengan seulas senyum seolah tengah meledekku.


"Untuk hal apapun, terutama tentang mas dan Lala, ketakutan, kecemasan, dan cemburu pasti selalu hadir"


"Iya, itu bagus. Cemburu kan tandanya sayang, khawatir tandanya peduli" Pria yang masih sering membuat jantungku kebat kebit ini lalu memelukku. Aku bisa dengan bebas menghirup aroma tubuhnya sementara mas Bima mendaratkan dagu di atas kepalaku.

__ADS_1


"Masa lalu itu bagiku tidak ada Bi, untuk semua hal yang sudah ku lewati, jika itu menyakitiku dan membuatku menyesal, aku akan menguburnya dalam-dalam. Tidak ada masa lalu yang hadir kembali di masa datang"


"Seperti ibunya Lala yang sudah membuat hidupku kacau, dan perlakuanku padamu selama ini yang membuatku menyesal, itu semua sudah aku lupakan dan akan mengganti memori buruk itu dengan keindahan serta kebahagiaan"


"Sikap Hana memang menyakitiku, tapi semua itu sudah ku hapus dari ingatanku, jadi jika aku bertemu dengan dia di masa mendatang, aku pasti akan bersikap kalau aku nggak pernah mengenalnya. Itu yang selalu aku terapkan. So, aku tegaskan sekali lagi, kamu nggak perlu khawatir yang berlebihan. Seperti yang kamu bilang malam itu, kamu adalah masa depanku"


Kalimat mas Bima dengan panjang lebar. Aku hanya diam sambil mendengarkan baik-baik.


"Tapi selalu ingat pesanku, jangan pernah memutus tali silahturrahmi anak dengan ibunya"


Tiba-tiba mas Bima melakukan pergerakan besar untuk merubah posisi kami.


"Insya Allah enggak" Jawab mas Bima.


"Terus apa solusinya untuk besok?"


Mas Bima, begitu pandai untuk urusan membalikkan posisiku yang saat ini tahu-tahu berada di bawah kungkungannya.


Pria di atasku ini kemudian bersuara.


"Singkirkan jauh-jauh ketakutanmu, Bi. Im your's!"


"You are my only one, and the first for everything" Balasku yang membuat kening mas Bima seketika mengkerut mendengarnya.


"First, for everything?"


"Mas Pria pertama yang membuatku mengakui bahwa memang benar-benar ada pria yang tampan" Kataku menepis kebingungan mas Bima. Tanganku mengusap keningnya agar garis-garis kerutan di sana menghilang. "Mas pria pertama yang membuatku jatuh cinta, pria pertama yang membuatku patah hati, pria pertama yang membuatku sakit hati, pria pertama yang membuatku cemburu, dan pria pertama yang membuatku bahagia"

__ADS_1


"Apa kamu sangat mencintaiku"


Aku mengangguk jujur. Memang itu kenyataannya, jadi percuma kalau aku mengelak.


"Aku benar-benar menjadi pria beruntung" Mas Bima mengusap bibirku menggunakan ibu jarinya.


"Satu lagi keberuntunganku"


"Apa?" Tanyaku tak mengerti.


"Aku pria pertama yang menidurimu"


"Itu sudah menjadi hak seorang suami. Bagiku suami harus orang pertama yang meniduri istrinya"


"Dan kamu sudah menjaganya untukku" Pria hebatku, dia langsung meraup bibirku dengan begitu lembut. Aku yang sudah terbiasa dengan ciuman mas Bima, sedikit banyak bisa menyesuaikan diri untuk membalas lum*atannya.


Hanyut dalam pertemuan bibir, aku merasa ada sesuatu yang bergerak di sampingku.


Persekian detik, aku langsung mengurai tautan bibir kami lalu menoleh ke samping kanan.


Menyadari ke mana arah pandanganku jatuh, mas Bima mengikuti gerakan bola mataku.


"Kita pindah ke kamarmu"


Dengan gerak cepat, mas Bima mengangkat tubuhku, lalu berjalan keluar dari kamar Lala. Di tengah-tengah langkahnya, kami kembali menyatukan bibir kami.


Entah bagaimana caranya, mas Bima dengan mudahnya membuka pintu kamar yang sudah beberapa hari ini tidak aku tempati, tapi tetap aku bersihkan. Dia menutup pintu itu dengan kakinya, lalu merebahkanku di atas ranjang untuk kembali menikmati manisnya madu.

__ADS_1


Selesai...


__ADS_2