
Setelah mendapat kebahagiaan dengan lahirnya putra kami, kebahagian karena pernikahan Gesya dan Yoga, kebahagiaan berikutnya kembali datang.
Saat aku tengah menyusui Ryu di ruang tengah, tiba-tiba mas Jim datang dari arah belakangku, aku buru-buru menutupi Ryu dengan kerudungku. Tidak terlalu rapat tapi cukup untuk menutupi auratku dari pandangan mas Jim.
Dia lantas menyerahkan sebuah amplop coklat dengan kop surat khas Lanud tempat mas Bima dinas.
"Siapa yang antar, mas Jim?" Tanyaku setelah menerima amplop ini.
"Anggota dari Lanud, bu"
"Makasih ya"
"Sama-sama, bu. Saya permisi"
"Iya" Aku membuka amplop perlahan lalu membacanya dengan teliti.
Setelah ku baca, ternyata surat undangan untuk menghadiri upacara kenaikan pangkat. Dengar-dengar, mas Bima adalah salah satu Bintara yang akan naik pangkat ke perwira.
Mas Bima sendiri telah melakukan pengabdian dengan dedikasi tinggi dan berprestasi selama tiga tahun terakhir ini.
Dua tahun selain mendiamkanku, dia juga diam-diam sekolah penerbangan.
Dan ku dengar, mas Bima akan naik pangkat dari sersan mayor dari kelompok Bintara menjadi kapten di kelompok perwira. Fabulous!! mas Bima bisa melewati beberapa tingkat berkat prestasi serta reputasi amat baik yang mas Bima miliki.
Mungkin ini rezekinya Ryu, tapi dengan naiknya pangkat mas Bima, itu artinya tanggung jawab terhadap tugas yang di emban akan semakin besar, sedangkan aku tentu saja harus mendukung suamiku dan siap dengan tugas-tugasnya yang semakin berat, harus siap juga jika mas Bima dinas di luar kota dalam waktu berbulan-bulan.
Kembali fokus pada Ryu, aku mengusap pipinya lembut kemudian mengecup keningnya.
Dia yang sebentar lagi berusia tiga bulan, sudah bisa merespon candaan dari kami terutama kakak perempuannya.
Lala memang gemas sekali pada Ryu apalagi di bagian pipi. Kadang secara diam-diam anak gadisku mencubitnya lirih, cubitan sayang untuk mengekspresikan rasa gemas pada adiknya.
"Assalamu'alaikum, bunda" Suara Lala agak sedikit teriak, tiba-tiba ku dengar.
"Wa'alaikumsalam"
Tak berapa lama, Lala muncul dengan membawa tas gendong di punggungnya. Setelah berdiri di depanku dia langsung mengulurkan tangan untuk mengecup punggung tanganku.
"Kakak sudah pulang?" tanyaku heran, sebab baru pukul sepuluh.
"Sudah, bunda. Kata ibu guru, bu gurunya mau ada acara hari guru, jadi kakak pulang gasik"
"Terus di antar siapa?"
"Di antar sama pak dhe Rangga, tapi pak dhe Rangga nggak mau mampir, katanya lagi gugup. Titip salam aja buat bunda sama adek katanya"
"Ada bilang makasih, sudah di antar?"
"Ada, bunda"
"Anak pintar" responku tersenyum lalu mengusap puncak kepalanya.
"Adek bubuk, ya bun?" Lala duduk di sebelahku.
"Iya sayang"
"Masih lama-lama bubunya?"
__ADS_1
"Masih sayang, soalnya baru aja bubuk"
"Nggak bisa main dong" balas Lala dengan agak cemberut.
"Biarin adeknya bubuk, kan jadi bunda bisa main-main sama kakak, bunda kangen banget sama kak Lala"
"Bunda kangen kakak?" matanya mengerjap.
Aku mengangguk mantap. "Bunda boboin adek di kamar dulu ya, setelah itu bunda bantu kakak ganti baju, terus kita main"
"Okay bunda"
"Okay, ayo temani bunda bawa adek ke kamar"
"Ayo"
Kami melangkah bersisian.
"Bunda masih lama-lama liburnya?" tanya Lala di tengah-tengah langkah kami.
"Sebentar lagi sayang"
"Terus kalau bunda kerja, adek sama siapa? Apa ikut bunda kerja?"
"Enggak dong kak, nanti ada bik Nani yang datang"
"Bik Nani tinggal di rumah kita?"
"Iya, nanti mbak Niningnya ganti tinggal di rumah opa"
"Bik Nani buat jagain adek ya bun?"
"Terus nanti miminya gimana?" Aku dan Lala sudah berada di kamarku.
Pelan, aku merebahkan Ryu di box bayi. Ketika Ryu menggeliat, aku langsung menepuk-nepuk salah satu bagian tubuh putraku dengan penuh kelembutan.
"Nanti asi bunda di pompa" lirihku agar tak membangunkan Ryu. "Nanti di tinggal di rumah biar si adek tetap bisa mimi asinya bunda. Kayak biasanya itu, kakak pernah lihat bunda pompa asi pakai alat kan?"
"Iya bunda, kakak ingat, tapi emang boleh ya bun?"
"Boleh dong kak, bisa di simpan di frizer terus kalau adeknya lapar bisa di panasin terus di mimiin ke adek"
"Oh gitu"
"Ayo ke kamar kakak, bunda bantu kakak ganti baju" ajakku ketika Ryu sudah tenang dan pulas.
"Ayo" sahut Lala dan aku lantas menggandeng tangan putriku.
Selesai membantu Lala berganti pakaian, kami bermain cukup lama sampai Ryu tahu-tahu merengek bangun.
****
Dua hari berlalu, aku dan mas Bima sedang bersiap untuk menghadiri upacara kenaikan pangkat yang akan di susul dengan acara tambahan berupa tradisi penyiraman air kembang oleh danlanud.
Tentu aku wajib mendampingi mas Bima.
Aku yang sudah siap dengan seragam PIA ku, berdiri di depan mas Bima untuk membantu mengancingkan kemeja TNInya.
__ADS_1
"Ish apaan si mas?" desisku saat mas Bima mengecup keningku.
"Gemes, sayang"
"Apanya yang bikin gemes, udah anak dua, gemesnya sudah ku wariskan ke mereka"
"Gemes sama seragammu, aku suka lihat kamu pakai seragam resmi begini, cantik, anggun dan berwibawa"
"Gemes kok sama baju" gerutuku sambil meraih jam tangan di atas nakas lalu melingkarkannya di tangan mas Bima.
Tak merespon ucapanku, mas Bima malah berkata sesuatu yang membuatku mengernyit keheranan.
"Ya ampun, aku jatuh cinta pada istriku setiap hari, bahkan cintaku semakin besar dan semakin besar lagi"
"Udah deh mas, nggak usah gombal, lebih baik kita berangkat sekarang"
Ku gamit lengan mas Bima keluar dari kamar.
"Aku belum ngaca, Bi"
"Udah tampan, nggak usah ngaca"
"Kalau penampilanku kurang sempurna gimana?" Aku menghentikan langkahku begitu mendengar kalimat mas Bima.
"Mas mau pamer penampilan sempurna ke siapa?"
"Ke ibu-ibu Ardhya yang lain dong, yang masih muda-muda dan cantik"
"Ish" aku mencubit pinggangnya sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahku.
"Sudah siap kalian?" tanya mami sambil menggendong Ryu.
"Sudah mih, kami langsung berangkat ya?"
"Iya Bim, hati-hati kalian"
Usai mengecup tangan mami, mas Bima langsung menarikku yang hendak memberikan kecupan di kening putraku.
"Jangan cium-cium, hari ini kamu milikku"
"Dikit aja kok mas"
"Nggak bisa!" ujar mas Bima dengan nada tegas. "Assalamu'alaikum, mi"
"Wa'alaikumsalam" sahut mami.
Ketika aku menoleh ke belakang, ku lihat mami tengah menggelengkan kepala sambil mengulas senyum.
***
Upacara berlangsung khidmat, ada sebagian dari kami yang menitikan air mata karena tak kuasa menahan rasa haru, termasuk aku sendiri yang merasa bangga terhadap suamiku.
Aku memang tidak menemaninya dari nol, maksudku dari pertama mas Bima berjuang di pangkat terendah, dan mungkin bisa di bilang aku tinggal terima beres, sebab yang menemani mas Bima saat dia masih menjadi prajurit adalah mbak Hana.
Ibarat mbak Hana dapat paitnya, aku dapat manisnya. Mas Bima sendiri mengatakan semenjak menikah denganku, seolah apapun urusan mas Bima selalu di mudahkan dan di lancarkan.
Of course, sebab di balik suami yang sukses ada istri yang luar biasa hebat sepertiku. Istri yang selalu mendoakan kebaikan untuk suaminya.
__ADS_1
Benar kan apa yang aku katakan? Tapi meski begitu, ini bukan sesuatu yang patut untuk aku sombongkan di depan semua orang, karena semua ini hanyalah titipan.