Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 64 ~


__ADS_3

Setelah menidurkan Lala, aku tak langsung masuk ke kamar mas Bima, Langkahku terarah pada sebuah ruangan tempat khusus menyetrika baju.


Selagi aku melipat dan menyetrika baju-baju yang tadi siang ku jemur dan sudah kering, aku mengingat setiap ucapan Gesya.


Sejujurnya, ada rasa was-was yang menerpa hati dan pikiranku, apalagi saat wanita itu mengatakan akan membuat mas Bima sampai di ranjangnya, rasa khawatirku semakin meningkat sebab orang seperti Gesya pasti tidak akan menyerah begitu saja.


"Astaghfirullahaladzim" Aku sontak terkejut karena tiba-tiba mas Bima menyentuh pundakku. Kebiasaan yang selalu mas Bima lakukan padaku, dia datang secara diam-diam dan selalu mengagetkanku.


"Mas apaan si, kebiasaan deh"


"Kamu yang melamun, kenapa nyalahin orang?"


"Ya mas ngagetin"


"Kalau kamu nggak ngelamun pasti nggak akan kaget, Bi. Kebiasaan buruk masih saja di pelihara" Mas Bima mengambil alih setrika yang tengah ku pegang. "Duduk, biar aku yang lanjutkan"


"Nggak usah, ini tinggal sedikit. Sebentar lagi juga selesai"


"Nggak akan selesai kalau kamu terus saja melamun, duduk dan jangan membantah"


Kalau sudah begini, aku benar-benar tidak bisa membantahnya. Akupun akhirnya menuruti perintah mas Bima, duduk di kursi yang memang tersedia di ruangan ini.


"Lagi menerka soal apa lagi?" tanya Mas Bima setelah ada hening selama beberapa saat. Tangannya terus bergerak maju mundur.


"Tadi siang mas ketemu Gesya?"


"Enggak, aku di Lanud seharian ini. Kamu sendiri? Selain jenguk Lala, cuma stay di kantor kan, nggak ketemuan sama Sang Saka Merah Putih kan?"


"Mas" Aku mencebik lengkap dengan mataku yang memicing. "Sang Saka Dikara, jangan di biasain deh"


"Nggak ada orangnya, masalah? Oh apa kamu nggak terima?"


"Mas apaan si?"


"Sekarang ngomong ke suamimu, hal apa yang sudah membuatmu melamun?" Tanya mas Bima penuh menyelidik.


"Aku ketemu seseorang setelah jenguk Lala"


Mendengar kalimatku, mas Bima langsung menoleh ke wajahku, lalu menaruh setrika di ujung ironing board setelah sebelumnya memutar suhu menjadi lebih rendah untuk kadar kepanasannya.


Mas Bima menarik kursi lainnya dan menaruhnya tepat di depanku, detik berikutnya dia duduk di kursi menghadapku.


"Kamu ketemuan sama siapa? Hana?" tebaknya, yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala.


"Lalu siapa?"


"Gesya" Sahutku dengan tatapan penuh, mengarah ke manik hitamnya.


"Mau apa dia?"


"Mas bisa tolong ambilkan ponselku?" Alih-alih menjawab, aku malah menyuruhnya.


"Dimana?" tatapan mas Bima begitu tajam. Selain ada sorot penasaran yang begitu tinggi, juga ada sedikit emosi yang tergambar di wajahnya.


"Di atas kulkas"


"Okay" Pria itu lantas bangkit, sementara aku terus memindai punggungnya hingga tak lagi terlihat.


Tak kurang dari dua menit, mas Bima sudah kembali dengan membawa ponselku di tangan kanannya.

__ADS_1


Pria itu kembali memposisikan dirinya di depanku lalu menyerahkan ponsel ke tanganku.


"Ada apa si?" Tanyanya penasaran.


Bukannya menjawab, aku malah sibuk membuka folder rekaman dari suara Gesya. Mas Bima sendiri merasa heran bahkan kedua alisnya menukik dengan sangat tajam.


Tak berapa lama, suaraku dan suara Gesya saling bersahutan.


Mas Bima seperti terhenyak, namun hanya sesaat. Ia menggelengkan kepala yang entah apa maksudnya.


"Siapa dia bisa bilang seperti itu?" kata mas Bima setelah selesai mendengar suara yang ku rekam.


"Aku ingatkan pada mas" Aku menangkup wajah mas Bima yang sudah di tumbuhi bulu-bulu tipis di wajahnya. Ah suamiku pasti belum mencukur bulu halus di wajahnya. "Jangan pernah lengah menghadapi Gesya, atau jangan sampai mas ketemuan sama dia tanpaku"


Tak langsung menjawab, mas Bima malah menatapku penuh lekat.


"Jangan temui dia sendirian, apapun kepentingannya, ngerti?"


Tersenyum, sebelum kemudian priaku mengangguk lalu memegang kedua pergelangan tanganku yang masih menangkup wajahnya.


"Ngerti!" jawabnya lalu menarik tanganku untuk ia lingkarkan di pinggangnya. Satu tangan mas Bima berada di belakang kepalaku, dan tangan lainnya mengusap punggungku lembut.


"Setakut itu, Bi?"


"Hmm ... Gesya itu orangnya nekad mas"


"Takut boleh, tapi jangan berlebihan"


Aku langsung mengurai pelukannya begitu mas Bima mengatakan itu.


"Dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang sudah kamu dapatkan dariku, dan akan ku pastikan hanya kamu yang mendapatkannya. Hanya kamu!" Tekan mas Bima seraya mengapit bibirku menggunakan kedua jarinya.


"Memangnya apa yang sudah mas berikan?" jujur aku tak mengerti dengan apa yang mas Bima katakan. Seingatku dia belum pernah memberi apapun padaku.


"Kamu nggak paham apa maksudku, Bi"


"Paham. Gajinya mas kan? Mas nggak akan memberikan gajinya mas pada Gesya"


"Hahaha"


Keningku mengerut mendengar tawanya yang pecah seketika.


"Kenapa? Ada yang lucu?"


"Bukan hanya gaji, tapi_" Mas Bima menatapku dengan sorot jahil. Sementara iris hitamku terus bergerak memindai mata, lalu bibirnya yang sudah menjadi candu untukku.


"Apa?" tanyaku keheranan.


"Mau ku beri sekarang?"


"Beri apa?" aku sedikit was-was sebab wajah mas Bima seperti ingin mengerjaiku.


Tiba-tiba mas Bima bangkit lalu mengangkat tubuhku.


"T-tunggu, aku mau di bawa kemana?" Secara otomatis tanganku langsung melingkar di lehernya.


"Kamar kita" Jawabnya santai sembari terus melangkah.


"Itu setrika belum di cabut"

__ADS_1


"Biarin saja, nggak akan terbakar, suhu panasnya sudah ku off"


"T-tapi selesaikan dulu setrikanya"


"Itu bisa nanti"


"T-tapi_" Aku menggantung ucapanku sebab tiba-tiba mas Bima menempelkan bibirnya di leherku.


Aku menjadi lemah di titik ini, darahku seperti mendidih dan sel-sel dalam tubuhku seketika beku.


Baru saja merebahkanku di atas tempat tidur, aku mendengar ponsel di tanganku berbunyi.


"Siapa yang berani mengganggu kita?" Pria yang sudah berada di atas tubuhku terus menatapku dalam-dalam.


Aku menggeleng. Tapi di detik berikutnya aku tahu kalau mami yang menelfonku.


"Mami"


Satu alis mas Bima terangkat.


"Mami? Ada apa menelfonmu?"


"Nggak tahu"


"Angkat, dan loudspeaker"


Akupun langsung menggeser ikon hijau, tak lupa menyentuh tombol bergambar toa.


"Assalamu'alaikum, mih?"


"Wa'alaikumsalam" Suara papi.


Aku dan mas Bima saling memandang. Merasa heran karena justru suara papi yang kami dengar, padahal nomor mamilah yang beliau gunakan.


"Papi?"


"Iya ini papi"


"Ada apa pi?" Tanya mas Bima.


"Bisa di alihkan ke panggilan Vcall, Bi"


"B-bisa, pih"


"Ada apa dengan papi?" bisik mas Bima yang langsung menyingkir dari atas tubuhku. Dan aku langsung menyandarkan punggung pada headboard.


Aku menggeleng bersamaan dengan wajah papi mami yang mendadak muncul di layar ponselku.


Seperti posisiku dan mas Bima, saat ini papi dan mami juga sedang berada di atas tempat tidur sambil menyandarkan punggung di kepala ranjang.


Melihatku dan mas Bima sedang duduk berdampingan, senyum mami langsung terkembang.


"Kalian lagi ngapain?"


"Lagi tiduran, ada apa mih?" Itu jawaban dari mas Bima. Jawaban yang datar menurutku.


"Kalian benar, tidur satu ranjang?" Mami bertanya dengan ekspresi serius. "Gesya bilang selama ini kalian pisah ranjang. Apa itu benar?"


Aku menelan ludah, sementara mas Bima entah seperti apa ekspresinya.

__ADS_1


"Bima, Arimbi, benar kalian tidur terpisah?" pertanyaan itu kali ini dari papi dengan kilat matanya yang begitu tajam.


Bersambung.


__ADS_2