
Bimasena...
"Maaf pak, kami harus mengambil tindakan. Silakan bapak tunggu di luar"
"Tapi sus, saya suaminya"
"Tolong kerja samanya, pak"
Pintu ruang operasipun langsung tertutup sempurna. Aku hanya bisa mematung menatap pintu kaca dengan pandangan kosong.
Sedetik kemudian ku dengar panggilan Lala dari balik punggungku, otomatis aku menoleh ke belakang lalu agak sedikit menundukkan pandangan.
"Lala!"
"Ayah"
Gadis kecilku terlihat begitu menyedihkan dengan deraian air mata dan isakan tangis. Hidung serta mata tampak merah dengan sesekali tersengal ketika mengambil napas.
Dia langsung menghambur ke dalam gendonganku lalu ku bawa ke arah tempat duduk di depan operation room.
"Bisa Lala ceritakan ke ayah kenapa bunda seperti ini?" tanyaku ketika sudah terduduk sambil memangku Lala menghadapku.
"T-tadi bunda lari sebentar terus dorong onty Gesya, onty Gesya sama bunda jadinya jatuh"
"Bunda dorong onty, nak?"Aku menangkup wajah Lala.
Anak yang kini matanya tampak sembab mengangguk mantap, dan anggukannya itu mengundang atensiku untuk mencari wajah Gesya.
Sosok wanita yang juga terlihat sedih itu tak mampu menyembunyikan rasa panik dan takutnya. Jelas sekali dari ekspresi wajah dan tangan yang saling bertaut seperti gemetar menahan sesuatu.
Wajahnya yang tanpa noda membuatku justru ingin memukulinya sampai tiada.
"Apa kamu bisa menjelaskan apa maksud ucapan Lala tadi?" Tanyaku menajamkan mataku.
Belum sempat wanita sialan itu menjawab, sepasang telingaku mendengar suara ibunya Arimbi memanggil namaku.
"Bima" Wanita yang tampak khawatir berlari tergopoh untuk memotong jarakku dengannya. Tak hanya ibu, ayah juga mengikuti lengkahnya dengan raut yang sama paniknya.
Tadi sebelum meluncur ke rumah sakit, aku memang sempat menelfon ibu agar secepatnya menyusulku ke rumah sakit. Aku juga menelfon mami untuk ke rumahku mengambil perlengkapan bayi, sebab ku pikir Arimbi memang akan melahirkan. Tapi saat sampai di rumah sakit, aku justru terkejut mendapati ada cairan merah di bagian kaki.
"Bu!" Aku bangkit dari dudukku masih dengan menggendong Lala.
"Kenapa dengan Arimbi Bim?"
Ku kecup punggung tangan ibu dan ayah mertuaku sebelum menjawab pertanyaannya.
"Arimbi harus di caesar bu"
"Astaghfirullah" desis ibu lirih lalu mendudukkan tubuhnya di bangku panjang yang sebaris dengan tempatku duduk. Sudah pasti ibu melemas mendengar putrinya sedang berjuang di meja operasi.
"Tadi pagi ibu baru saja bicara dengannya, katanya dua mingguan lagi baru melahirkan. Tapi kenapa mendadak harus caesar?"
"Dia terjatuh bu, tapi entah jatuh yang seperti apa, akupun kurang tahu"
__ADS_1
Astaghfirullah... kata itu kembali terucap dari mulut ayah dan ibu, memang tanpa suara. Tapi melihat mimik mulutnya aku yakin itu kalimat istighfar.
"Kita berdoa saja yo bu, semoga Arimbi bisa melewatinya" Ucap ayah menenangkannya.
Aku menyusul ibu duduk di sebelahnya.
"Jangan buat aku tambah takut bu, benar kata ayah, kita harus berdoa"
"Ibu beneran takut Bim, dia anak perempuan ibu satu-satunya, kalau terjadi sesuatu bagaima_"
"Bu, jangan berfikir yang enggak-enggak, ayah nggak suka. Berharap yang baik saja, ayah yakin Arimbi dan bayinya akan selamat, dia itu wanita hebat, dia kuat seperti arti nama pemberianmu"
Ibu mengangguk sambil melepas nafas panjang.
Kemudian hening cukup lama. Saat pandanganku tertunduk seraya menepuk-nepuk punggung Lala yang tahu-tahu tertidur, aku menangkap sepasang sandal heels berada di depanku.
Saat kepalaku terangkat, aku menangkap wajah Gesya yang menyorot penuh sesal.
"Ada apa?" Tanyaku dingin lengkap dengan raut benci.
"Bisa kita bicara, mas"
"Mau bicara apa kamu?"
Ibu yang duduk di sampingku juga turut mendongak dengan semburat keheranan.
"Kita bicara di sana mas" Wanita itu menunjuk kursi yang agak jauh dari kursi yang saat ini ku duduki.
"Kenapa harus di sana?"
"Apa itu pembicaraan yang penting?"
Gesya meresponku dengan anggukan kepala. Sepertinya ia sangat gugup, itu di tandai dengan ekspresi wajahnya serta seperti kesusahan ketika mencoba menelan ludahnya sendiri.
"Kamu ke sana dulu, aku akan menyusul"
Usai mengatakan itu, dia langsung berbalik dan mengarahkan kakinya menuju tempat yang ia tunjuk.
"Bu, titip Lala sebentar"
"Kira-kira apa yang akan dia bicarakan Bim?" tanya Ibu sembari menerima Lala yang ku pindahkan ke atas pangkuannya. Sepasang mata ibu menatapku penasaran.
"Nggak tahu bu, tapi sepertinya dia tahu kenapa Arimbi bisa seperti ini"
"Ya sudah kamu kesana, biar Lala sama ibu"
"Makasih bu"
"Iya" Sahut ibu singkat.
Pandanganku kini beralih menatap ayah.
"Aku tinggal sebentar yah"
__ADS_1
"Iya Bim"
Setelah ayah mengiyakan, ku langkahkan kaki ke arah di mana Gesya duduk.
Butuh sekitar setengah menit untuk aku sampai di hadapannya.
"Mau bicara apa?" tanyaku to the point.
"Mas, a-aku"
Dia seperti ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Aku_"
"Apa kamu berniat menyita waktuku, supaya aku nggak bisa menemani Arimbi di depan ruang operasi?"
"B-bukan begitu mas" sanggahnya gugup.
"Lalu?" Aku memasukkan kedua tangan ke saku celana. Sepasang irisku memicing dengan rahang tekatup rapat.
"Aku minta maaf, mas"
"Maaf? Untuk apa? Apa kamu yang menyebabkan Arimbi seperti ini?"
"Bukan hanya itu" jawabnya kemudian tampak menelan ludah.
"Terus kenapa? Katakan yang jelas!"
"Maaf, karena_" dia menggantung kalimatnya. Bola matanya bergerak gelisah campur takut.
Entah apa yang ingin dia katakan, tapi dari ekspresi serta bahasa tubuhnya menyiratkan sebuah penyesalan yang begitu dalam.
Gesya diam, aku pun sengaja ikut diam, menunggu dengan sabar apa yang ingin di katakan wanita licik di hadapanku ini.
Bersamaan dengan helaan nafas kasarku, dia meneguk ludahnya sekali lagi sebelum kemudian berkata. "Maaf mas, a-aku juga yang sudah mengirim teror ke Arimbi"
"Maksudmu?" jujur aku sangat terkejut dengan pengakuannya. Keterkejutanku ini membuat tanganku keluar dari saku celanaku.
"Aku yang sudah mengirim jajanan pasar ke kantor Arimbi"
"Apa?" Entahlah, mataku memanas, jantungku berdetak tak karuan, ada amarah juga yang meledak-ledak di dalam sana. Rasanya, aku ingin sekali melampiaskan emosiku pada wanita ini.
Andai saja bukan di rumah sakit, aku pasti sudah menghajarnya habis-habisan dengan tanpa ampun.
"Aku yang sudah menyuruh orang untuk menaruh bunga berisi bahan ledakan di depan gerbang rumah mas"
Detik itu juga tanganku reflek terkepal, mengeratkan rahang hingga gigiku gemeritik karena saking geramnya.
Benar dugaanku, dia yang sudah memporak-porandakan hati istriku. Dia yang selama ini nyaris membuat Arimbi tumbang.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika mental Arimbi lemah, imannya tak sekuat itu.
Aku yakin wanitaku pasti sudah depresi karena ketakutannya benar-benar berada di atas puncak.
__ADS_1
*****