Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 96 ~


__ADS_3

Seperti yang mas Bima katakan, aku tidak perlu repot-repot untuk tahu soal aktivitas Gesya. Dia mau kemana dan berbuat apa, aku tak perlu memperdulikannya karena sudah ada para pesuruh ayah dan papi yang mengawasinya. Wanita itu pasti merasa ruang geraknya terbatas semenjak di awasi.


Selama beberapa hari ini dia pun kerap sekali mengirim pesan bahwa dengan serius ingin berbaikan denganku. Dia juga berulang kali memohon maaf atas sikap buruknya padaku selama ini.


Aneh si, semenjak Gesya berkeinginan untuk berteman denganku, teror benar-benar lenyap tanpa meninggalkan jejak, dan hal itu membuat mas Bima semakin yakin bahwa Gesya lah pelakunya.


"Istirahat dulu yuk!" Ucapku menghentikan kegiatan Lala yang sedang berolah raga dengan ayahnya di ruang fitnes.


"Bunda, Lala bantu ayah sit up, Lala duduk di kaki ayah"


Aku tersenyum meresponnya sembari meletakkan nampan di atas meja.


"Berapa kali ayah sit upnya, La?"


"Berapa yah?" Tanya Lala pada mas Bima.


"Loh kok tanya ayah, kan Lala yang ngitung"


"Lala lupa"


Lala yang masih duduk di atas kaki mas Bima sambil berpegangan lutut, menatap ayahnya dengan sorot serius.


"Dua puluh kali. Masa Lala lupa si"


"Tadi bunda ngomong jadinya Lala nggak fokus" Kilahnya membela diri.


"Sudah-sudah, istirahat dulu sini bunda bikin jus alpokat"


Mas Bima langsung menempatkan diri berjongkok di depan Lala dalam posisi memunggunginya, dengan gerak cepat Lala menempel di punggung mas Bima layaknya koala.


"Badan ayah basah"


"Kan habis olah raga nak"


Setelah mas Bima berada di dekatku, mas Bima kembali berjongkok kali ini di hadapanku yang duduk di sofa untuk menurunkan Lala.


Begitu Lala turun, dia langsung putar badan dan meraih jus alpokat di gelas miliknya.


"Ini punya Lala kan bun?"


"Ya iya dong nak, masa ayah pake gelas punyanya Lala"


"Kok cuma dua, punya bunda mana?" tanya mas Bima sebelum kemudian meneguk jus buatanku.


"Sudah di minum tadi pas bikin"


"Ini apa bunda?"


Mendengar pertanyaan Lala, ekor mataku dan mas Bima kompak melirik pada piring yang di tunjuk Lala dengan jarinya.


"Itu pastel nak, ada daging di dalamnya"


"Kalau yang ini apa?" Lala menunjuk piring lainnya.


"Itu lumpia"


"Lala mau, bun"


"Cuci tangan dulu tuh sama ayah" Aku menunjuk mas Bima dengan sepasang irisku yang tahu-tahu sudah berjalan menuju wastafle.


Lalapun mengangguk dan langsung berlari menghampiri ayahnya.


Setelah cuci tangan, Lala kembali ke arahku lalu mengambil satu lumpia.


"Lala mau ke ruang tv bunda" ucapnya sambil melangkah lari.


"Mau ngapain?"

__ADS_1


"Cobain mainan baru yang onty Gesya beli kemarin"


"Nggak boleh main sembarangan ya, mainnya sambil duduk aja" aku sedikit berteriak karena anak itu sudah keluar dari ruangan fitnes.


"Okay, bunda"


Aku menggelengkan kepala sembari menyunggingkan senyum. Kemarin memang Gesya datang, dia membawa mainan baru buat Lala.


"Dia mau coba mainan baru?" tanya mas Bima berlutut di hadapanku. Kedua tangannya mengunci tubuhku dengan berpegangan pada lengan sofa.


"Hmm memangnya kenapa?"


"Kamu nggak terusik gitu sama kehadiran dia yang pura-pura baik?"


"Mungkin dia memang sudah berubah mas. Jangan suuzon jadi orang"


Kurasakan dada mas Bima bergoncang saat dia mendengkus. "Yang aku cemaskan, dia hanya pura-pura saja, Bi. Jadi aku harap kamu jangan buru-buru percaya, dia sangat keras kepala, ambusius dan serakah"


"Aku yang keras kepala untuk percaya padanya, jika dia memang hanya pura-pura" Ujarku menangkup wajah mas Bima. "Ku harap Tuhan merubah kepura-puraanya itu menjadi ketulusan"


Mas Bima tersenyum, sambil menyingkirkan tanganku yang menempel di kedua pipinya, lalu membawa ke atas pangkuanku. Sepasang netranya menunduk menatap tangan kami yang kini saling menggenggam.


"Padahal seharusnya kamu bahagia lahir dan batin, terutama saat sedang hamil begini, tapi malah harus menghadapi berbagai masalah"


"Aku sudah cukup bahagia kok" ucapku menatap mas Bima yang masih menunduk. "Selama mas dan Lala ada di dekatku, dan melihat kalian sehat dan bahagia, bahagiaku sudah lebih dari cukup, lahir dan batin"


"Harus benar-benar bahagia ya, kurangi instingmu maupun welas asihmu terhadap orang lain yang justru akan mengorbankan perasaanmu sendiri"


"Ini aku juga lagi melakukannya kok"


Ucapanku di respon kecupan hangat dikeningku.


"Mau aku beri tahu satu rahasiaku, Bi?" katanya sesaat setelah melepas kecupannya.


"Rahasia?" keningku mengernyit. "Rahasia apa?" tanyaku penasaran.


"Kamu" lirih mas Bima tepat di depan wajahku. Netra kelam mas Bima menelisik mengekori gerakan tangannya yang membelai lembut setiap inchi wajahku. "Satu-satunya yang membuatku akhirnya bisa melupakan rasa sakit hati yang Hana torehkan padaku, kamu satu-satunya wanita yang membuatku benar-benar ikhlas menerima apa yang pernah terjadi dalam hidupku"


"Kamu satu-satunya yang membuatku sadar bahwa semua yang menimpaku adalah yang terbaik menurut Allah, kamu yang selalu aku butuhkan, Bi"


"Terus Lala?"


"Lala?" mas Bima tersenyum seraya menjauhkan kening kami. "Tentu saja dia juga berperan penting dalam hidupku, dia mengembalikan semangatku di saat-saat ibunya meninggalkan kami, Lala yang sudah membuatku bangkit agar bisa melanjutkan hidup. Dan sesuatu yang tak pernah berhenti untukku sesali sampai detik ini, adalah saat aku masih belum bisa menerima pengkhianatan Hana, kamu justru harus menjadi pelampiasanku, tapi kamu tetap mengulurkan tangan dengan ikhlas tidak hanya untukku tapi untuk Lala"


"Kamu bahkan tetap bertahan dan nggak peduli dengan sikap dinginku, kamu tetap sabar dengan kehangatanmu melayani aku dan Lala" Imbuh mas Bima dengan fokus penuh serius.


"Jadi ini rahasianya?"


"Bukan hanya itu"


"Lalu?"


"Ku serahkan hidupku padamu, Bi. Kamu sutradaraku yang akan mengendalikan sebuah cerita. Aku peran dalam ceritamu, berada di bawah kendalimu baik saat ini, besok, dan selamanya, kamu pemilik jiwa dan ragaku, seutuhnya aku serahkan ke tanganmu"


"Aku nggak mau mas, aku cuma mau mas jadi imamku, dan mas yang mengendalikanku bukan sebaliknya"


"Makasih" Ucap mas Bima sendu. "Sudah hadir di hidup kami"


"Sama-sa_"


Kalimatku terpotong oleh ciuman mas Bima.


"Janji ya, harus bahagia, dan jangan sembunyikan apapun dariku" Ujarnya setelah mengurai tautan bibir kami.


"Iya, mas sudah berkali-kali mengingatkanku, aku nggak akan lupa"


"Kamu bosan?"

__ADS_1


"Enggak" Sahutku. Tanganku yang tadi mendarat di pundak mas Bima kini terulur mengusap wajahnya lembut.


Tentu saja aku nggak akan bosan dengan apa yang mas Bima lakukan padaku. Baik aku dan mas Bima sama-sama berusaha membahagiakan satu sama lain.


"Selama mas bersamaku, mendampingiku untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita, aku pasti bahagia. Jadi mas nggak perlu khawatir"


Mas Bima terdiam dengan sorot lekat.


Melihatnya termangu menatapku, naluri seakan mendorongku untuk bergerak dan mencium bibirnya.


Tanpa ragu akupun melakukannya, menempelkan bibirku di bibirnya, kemudian melu*matnya lembut dan dalam hingga mas Bima mulai terhanyut dan terus menuntut seiring deru nafas kami.


Lewat bermenit-menit akhirnya ciuman kami terurai. Selain sama-sama kehabisan napas, mata kami tiba-tiba menangkap sepasang kaki mungil milik Lala.


Tubuhku sontak berjengit, sementara tanganku eflek mendorong dada mas Bima hingga ia terjungkal.


"Lala, ngapain di situ?" pertanyaan yang konyol mungkin.


"Bunda sama ayah yang ngapain?"


"E-nggak ngapa-ngapain, nak"


Lala bergeming setelah pertanyaannya ku jawab. Diamnya itu justru membuatku was-was sebab dia seperti tengah memikirkan sesuatu. Atau mungkin dia belum puas dengan jawabanku.


"Lala ingat kata teman Lala"


"Ingat apa?" tanya mas Bima.


"Teman Lala juga pernah lihat papa mamanya kayak gitu, katanya papa mamanya lagi ciuman"


Aku meneguk ludahku dengan sangat lamban.


"Berarti ayah sama bunda tadi ciuman?"


"Bukan begitu nak" Sanggah mas Bima cepat.


"Terus apa?" Begitu polosnya ekspresi Lala.


"Ya ayah sayang bunda, bunda juga sayang ayah jadi ayah cium bunda"


"Lala sayang sama mas Tera, mas Tera juga sayang sama Lala, boleh nggak Lala cium cium kayak gitu sama mas Tera"


"Boleh, tapi nunggu Lala menikah dulu"


"Menikah kayak ayah sama bunda?"


"Iya, tapi nanti masih lama nikahnya"


"Tunggu Lala dewasa dulu ya yah, tunggu Lala tingginya sebunda?"


"Iya" sahut mas Bima. Sementara aku masih diam menyimak.


"Kalau gitu Lala mau makan banyak-banyak, biar cepat-cepat dewasa, terus cepat nikah biar nanti bisa cium-cium kayak ayah sama bunda"


"No no no" Wajah mas Bima tampak memerah. Aku tersenyum tapi juga khawatir. Biar bagaimanapun memiliki anak perempuan harus benar-benar kritis. Jangan sampai Lala terjerumus ke dalam pergaulan yang bebas.


"Kenapa?" protes Lala.


"Lala nikahnya masih lama-lama, dewasanya juga masih lama, sekarang jadi anak kecil dulu, ayah masih pengin main-main sama Lala" Mas Bima meraih tubuh Lala lantas mengangkatnya. "Lebih baik kita mandi sekarang, ayah pengin mandiin Lala, ayah selalu kangen Lala, pengin main-main terus sama Lala, pengin bersama Lala selamanya"


Pria itu berlalu, berjalan menuju kamar Lala dengan di iringi canda tawa bersama putrinya.


Perkataan mas Bima tadi, seolah mengingatkanku bahwa waktu benar-benar berjalan begitu cepat, tak pernah ragu, apalagi berjalan mundur.


Tak hanya mas Bima, akupun merasa takut Lala akan cepat tumbuh dewasa dan kami akan kehilangan masa-masa itu, sebab setelah dewasa nanti, putri kami akan jarang di rumah, dia pasti sibuk bersama teman-temannya untuk berduskusi menentukan karirnya. Apalagi jika sudah tinggal di ponpes, jelas kami hanya akan bertemu satu minggu sekali.


Waktu terus saja berjalan maju, tanpa ada siapapun yang bisa menghentikannya apa lagi mengembalikannya ke masa lampau.

__ADS_1


Waktulah yang merubah segalanya, waktu pula yang berhak merampas usia.


Sedangkan aku, berusaha memanfaatkan waktu itu dengan sebaik mungkin sampai nafasku terhenti.


__ADS_2