
Happy reading...
Ini adalah hari ke empat kami sekeluarga di Singapura. Semenjak aku dan mas Bima berada di sini menemaninya setiap waktu, kondisi Lalapun berangsur membaik. Apalagi ketika tahu kalau opa omanya juga datang, ia merasa sangat bahagia sekaligus merasa di sayangi.
Anak yang sebentar lagi berusia lima tahun ini sempat marah sama mas Bima gara-gara tidak mau menolongnya saat sang ibu menculiknya. Ya Lala memang menyebut dirinya sudah di culik oleh mama Hana.
Kejadian itu membuat Lala terang-terangan mengatakan bahwa dirinya membenci sang ayah, namun aku selalu bisa membuat dia mengerti.
Dan tak butuh waktu lama, ayah dan anak ini akhirnya berbaikan.
Lala yang sudah keluar dari rumah sakit kemarin siang, sempat merasa kecewa ketika ayahnya berpamitan kalau di esok harinya akan kembali ke Indonesia.
Sementara mas Bima langsung memberi pengertian pada Lala kalau dirinya harus bekerja mencari uang. Susah payah aku dan mas Bima menasehatinya, akhirnya dengan berat hati Lala pun menerimanya.
Aku, Lala serta papi mami memang tidak langsung pulang sebab kondisi Lala masih belum pulih. Kami sanksi jika harus membawa Lala menaiki pesawat. Selain itu, papi mami juga mengajakku dan Lala liburan untuk menikmati indahnya destinasi wisata di Singapura selagi kami menghabiskan masa cutiku dan liburan Lala.
Karena mas Bima hanya di beri ijin libur selama tiga hari, dan subuh pagi ini ia harus melakukan perjalanan udara agar bisa sampai di Lanud setelat-telatnya pukul delapan.
Usai sholat subuh berjama'ah, aku melangkahkan kakinya ke dapur, menyiapkan sarapan untuk mas Bima yang akan berangkat ke bandara menuju Indonesia.
"Boarding pasnya jam berapa mas?" tanyaku seraya mongoleskan selai nanas pada roti tawar lalu meletakkan irisan buah kiwi dan tomat di atasnya sebelum menangkupkan dengan roti kedua.
"Jam 5:05"
"ini rotinya" Mas Bima menerima uluran roti dari tanganku.
"Mas kenapa bengong?"
"Aku lega sekaligus bersyukur bisa melalui masalah seberat ini bersamamu Bi, aku bersyukur Lala baik-baik saja, dan semua karena wanita sepertimu"
"Jangan bilang mas teringat dengan perbuatan mas padaku di saat-saat dulu"
"Jelas bohongnya kalau aku bilang tidak, iya kan?"
"Jangan di ingat-ingat terus! dari dulu, tepatnya sejak aku mengenal mas di bangku MA sampai detik ini, aku akan selalu cinta mas, akan selalu temani hari-hari mas"
"Janji ya Bi!"
"Aku janji mas"
"Kalau ada yang mengusik hati dan pikiranmu, kamu harus beritahu aku!"
"Iya" Aku tersenyum Lalu menggeser secangkir kopi ke hadapan mas Bima.
"Kamu tahu, Bi" Kata mas Bima setelah menggigit roti. "Aku tidak bisa melewati kegilaan ini sendirian, aku pasti tidak akan bisa kembali pada pemikiran yang waras melihat Lala seperti kemarin. Aku pesan sama kamu dan kamu harus selalu mengingatnya Bi"
"Mau pesan apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu harus bisa melawan diri sendiri ya, Jangan kalah dengan dorongan alam bawah sadar, karena jika tidak, kamu akan hilang kendali dan pasti kewarasanmu terancam"
"Jangan menerka-nerka, atau berspekulasi yang tidak-tidak. Kita harus saling percaya dan saling mendukung" tambah mas Bima dengan sorot serius.
"Itu pasti mas"
Mas Bima lantas menyeruput kopi di cangkirnya lalu bertanya. "Terus kapan rencananya kalian pulang?"
"Kata papi nuntasin sisa cutiku"
"What?! Itu enam hari lagi, Bi. Mana bisa aku bobo sendiri"
Aku tersenyum merespon kalimat mas Bima. "Cuma enam hari mas, masa nggak bisa, mas kan pemecah rekor bisa melewati malam selama dua tahun, padahal ada gadis yang sangat bersedia menghangatkan ranjang mas"
Mendengarku mengatakan itu, mas Bima mengerucutkan bibirnya.
Merasa lucu, dengan cepat aku memberikan kecupan singkat pada bibir mas Bima.
"Ah.. hambar Bi, nggak ada rasanya" respon mas Bima mencebik.
__ADS_1
Ucapannya itu seakan mendorongku untuk kembali mengulang kecupanku. Kali ini sedikit tak sekedar mengecup, tapi juga mel*umatnya lebih lama, mas Bimapun langsung membalas ciumanku dengan memagut bibirku lembut dan luwes.
Kami yang duduk saling berhadapan dengan di batasi sebuah meja makan, sama-sama memajukan kepala hingga dada kami menyentuh sisi meja.
Saat tengah menikmati ciuman kami, tiba-tiba kedua telingaku menangkap suara bas dari seorang pria.
"Ehemm" Otomatis aku langsung menarik diri sambil mendorong dada mas Bima.
"P-papi, s-sejak kapan papi di situ?" tanya mas Bima dengan raut gugup.
"Sejak kalian saling memakan" jawab papi konstan.
"Berati papi sudah sejak tadi berdiri di situ?"
"Hmm"
Sungguh ini pertama kalinya aku merasa malu pada papi mertuaku. Aku bahkan tak berani menampakkan wajahku di hadapannya. Aku terus menunduk selagi mas Bima bertanya padanya.
Mau di taruh mana mukaku setelah ini?
"Kalian kalau lapar jangan makan di sini, ini tempat umum, siapa saja bisa melihatnya" kata papi yang entah seperti apa ekspresinya.
Ku lirik tangan mas bima mengusap keningnya. Pasti dia sama malunya denganku karena kepergok papi sedang berciuman di ruang makan.
"Pergilah ke kamar, kalian bisa melanjutkannya di sana. Barangkali ada sesi selanjutnya"
Ya ampun, sefrontal itu papi melempar candaan. Tapi nggak heran si, karena cuma papi yang berani mengatai ayah Danu yang tak lain adalah bosnya dengan kata lemot.
****
Pagi tepat pukul delapan lebih lima belas menit, kami sarapan tanpa mas Bima karena saat ini dia sudah berada di Lanud.
Sekitar setengah jam yang lalu, ayahnya Lala mengirim pesan bahwa dia telah sampai di bandara Juanda sekitar pukul 07:15. Dia langsung menuju Lanud dengan mengenakan pakaian dinas harian yang sudah mas Bima persiapkan dan di bawa ke sini.
Usai sarapan, aku yang tengah mencuci piring bekas makan, tiba-tiba mami menghampiriku dan berkata bahwa Hana menungguku di ruang tamu.
"Aku temui dia mih?" tanyaku mengernyit yang langsung di anggukan kepala oleh mami.
"Tadi papi sama mami sudah berbincang sebentar dengannya, dia mau ngomong sama kamu katanya"
"Maaf ya mih, jadi mami yang harus lanjutin cuci piringnya"
"Nggak apa-apa, Bi. Tapi mami minta kamu bilang ke Hana supaya nggak bawa Lala kayak kemarin lagi ya"
"Iya mih, nanti aku bilang" Aku mengelap tanganku yang sebelumnya ku bilas. "Terus Lala di mana mi?"
"Dia sama papi, dia sepertinya takut soalnya tadi menolak buat ketemu Hana, takut di culik lagi katanya"
"Ya sudah kalau gitu aku keluar dulu mih"
"Iya"
Aku melangkah keluar dapur. Begitu langkahku sampai di ruang tengah, Lala langsung berlari menghampiriku dan mencegah langkahku
"Bunda mau kemana?" tanyanya sambil melingkarkan tangan di pinggangku. Kepalanya mendongak kerena perbedaan level mata kami yang cukup jauh.
"Bunda mau temui mama Hana, mau ngomong supaya mama Hana jangan pisahin Lala sama bunda lagi"
"Bilang juga, kalau Lala nggak mau tinggal sama mama Hana"
"Iya nak, nanti bunda bilang ya"
"Iya" Sahut Lala singkat.
"Lala lanjutin lagi main-main sama opa"
Setelah di anggukan olehnya, dan tangan Lala terlepas dari pinggangku. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Mbak" Sapaku.
Mbak Hana seketika berdiri ketika sepasang mata kami saling bertemu pandang.
"Bi"
"Duduk saja mbak!"
"Tidak Bi, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi bisakah kita bicara di lantai tujuh, aku tadi sempat melihat peta kalau di lantai tujuh ada taman tempat untuk santai"
"Harus di sana ya mbak?"
Mbak Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah, mari"
Kami sama-sama melangkah keluar rumah, lalu berjalan menuju lift.
Sesampainya di lantai tujuh, aku membawa mbak Hana duduk di meja yang ada dua kursi.
Kami duduk bersebrangan dengan di batasi meja bundar.
"Mau ngomong apa, mbak?" Tanyaku meski agak ragu setelah kami sama-sama sudah dalam posisi duduk.
"Ehem" dia berdehem seperti merancang kalimat yang pas untuk mengawali pembicaraan kami.
"Sebelumnya aku minta maaf ya Bi, aku sudah membuat Lala seperti itu"
"Iya mbak"
Lalu sunyi. Kami terjerat kebisuan yang entah kenapa membuatku kebingungan mau ngomong apa.
"Aku sudah di hasut oleh adikku sendiri buat merebut hak asuh Lala dan membawanya untuk tinggal bersamaku, dia bilang akan bantu aku buat merebut hati Lala, tapi dia malah sibuk dengan teman-temannya untuk menaikan popularitas mengenai butik dan rancangan gaun-gaunnya"
Benar kan dugaanku, ini pasti akal-akalan si Gesya.
"Aku menyesal Bi" Lanjutnya sendu lengkap dengan raut sedih. "Dan aku benar-benar minta maaf, aku sadar, ternyata Lala begitu dekat dengan kamu, dia sayang banget sama kamu, aku nggak nyangka ikatan batin di antara kalian begitu kental"
"Aku merawat Lala sejak usianya dua tahun mbak, aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Bahkan setahu Lala, akulah ibu yang melahirkannya. Mbak tahu, dia selalu nggak terima jika teman-temannya bilang kalau di antara aku dan Lala sama sekali nggak mirip" Ujarku mengingat saat-saat Lala mengadukan tentang teman yang mengoloknya. "Tapi aku selalu bilang kalau Lala justru lebih mirip ayahnya"
"Iya Bi, dia sangat mirip dengan Bima"
"Hmm, nggak cuma fisiknya saja, tapi sikap dan tingkahnya benar-benar menurun dari mas Bima"
"Aku terimakasih sama kamu sudah memberikan kasih sayang yang nggak pernah aku berikan buat Lala" Raut wajah mbak Hana penuh sesal.
"Dia putriku, adalah hal yang wajar seorang ibu memberikan kasih sayang penuh ke anak-anaknya. Dan ketakutan mbak soal pilih kasih antara Lala dan anak kandungku, itu nggak akan kejadian. Aku tidak akan pernah membedakan Lala dengan anak-anakku kelak. Kasih sayangku ke Lala akan sama besarnya dengan kasih sayangku ke anak kandungku. Jadi mbak nggak perlu khawatir"
"Sekali lagi makasih, Bi" mbak Hana meraih tanganku untuk ia genggam. "Lala beruntung memiliki bunda sepertimu. Aku nggak akan merebut Lala darimu lagi"
"Makasih mbak"
Mbak Hana tampak mengangguk seraya mengatupkan bibirnya penuh rapat.
"Aku titip Lala, ya"
"Iya mbak, aku sayang Lala melebihi diriku sendiri, aku pasti akan menjaganya"
Mbak Hana kembali mengangguk sebelum kemudian menghela napas panjang.
Tangan mbak Hana yang masih menggenggam tanganku, membawaku untuk berdiri. Di detik berikutnya aku dan mbak Hana saling berpelukan.
"Ku serahkan Lala padamu, Bi"
"Iya mbak, tapi kalau ada waktu, mbak main ke rumah buat jengukin Lala. Kapanpun mbak kangen sama Lala, pintu rumah mas Bima kan selalu ku buka lebar untuk menyambut embak"
"Iya Bi, makasih banyak"
__ADS_1
Pelukan kami terurai setelahnya kami saling tersenyum menguatkan.