Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 35 ~


__ADS_3

Aku menghela nafas panjang ketika mendengar suara ketukan pintu. Saat perlahan aku membuka mata, mas Bima tahu-tahu sudah bangun dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya.


Dengan mata yang agak sedikit menyipit, aku mendapati mami menggendong Lala yang sedang menangis.


"Lala!" ucap mas Bima.


"Tuh kan, bunda sudah pulang, lagi bobo bundanya Lala" itu kata mami dari ambang pintu, dan seketika tangisan Lala reda begitu sepasang matanya melirik ke arahku.


"Mau bobo sama bunda"


"Cium ayah dulu, karena tadi Lala sudah bentak-bentak ayah" Mas Bima tampak mengambil alih Lala dari gendongan mami, sementara Lala langsung mengecup pipi ayahnya.


"Mami ke kamar lagi, Bim"


"Iya mih" Kembali menutup pintu kamar, lantas membawa Lala dan merebahkannya di depanku yang tidur dalam posisi miring.


Anak gadis ini langsung merangkum wajuhku seraya berkata. "Benar ini bundanya Lala" putri sambungku mengecupi pipiku.


Tak kuasa menahan rindu, akhirnya aku merengkuh tubuh mungil Lala ke dalam pelukanku dan mengecup puncak kepalanya.


"Bunda miss you, nak"


"Bunda bangun?"


Aku mengangguk lengkap dengan seulas senyum.


"I miss you, bunda"


Belum sempat aku merespon kalimat Lala, tiba-tiba ada suara dari arah balik punggungku.


"Ayah juga kangen bunda La, tapi ayah nggak di peluk-peluk tuh sama bunda"


"Ayah, itu suara ayah ya bun" Lala sedikit bangkit agar bisa melihat ayahnya yang tidur di balik punggungku.


Tadi setelah mas Bima merebahkan Lala, dia memang berjalan memutar ranjang dan langsung merebahkan diri di sampingku yang memunggunginya.


Kalau boleh aku menebak, posisi mas Bima sepertinya juga sedang memunggungiku. Sebab suaranya tadi ku dengar tidak terlalu dekat dari telingaku.


"Ayah kangen sama bunda?" tanya Lala, kini posisinya sudah duduk.


Lala kembali rebah ketika mas Bima tak menjawab pertanyaannya.


"Ayah tadi ngigau ya bun?"


"Iya" Sahutku dengan suara lirih. Aku sendiri tak tahu, mas Bima sadar atau tidak saat mengatakan itu.


Tapi yang namanya aku, selalu prasangka buruk yang ku tangkap, jadi aku menganggap mas Bima hanya mengigau.


"Doa bobo lagi yuk, ini masih malam"


"Bunda jangan pergi lagi ya!" Kata Lala dengan mata berbinar. "Kalau bunda pergi, terus ayah ada kerja yang nggak pulang lama-lama kayak kemarin, nanti Lala sama siapa kalau bunda nggak ada"


"Iya sayang, bunda nggak akan pergi lagi, bunda akan selalu temani Lala"


"Janji ya bun"


Aku mengangguk. "Bunda minta maaf ya tadi udah buat Lala sedih, udah buat Lala nangis"


"Eugh" Lala mengangguk tanpa ragu. "Besok-besok kalau bunda pulangnya malam-malam lagi, bunda kabarin Lala ya, bunda telfon Lala, biar Lala nggak cari-cari bunda!"


Untuk kesekian kalinya aku mengangguk merespon pesan Lala. Dalam hati aku menjerit, merasa bersalah karena sudah melukai hati Lala dengan sengaja.


Aku sangat tahu, anak yang ku hadapi ini belum genap lima tahun tapi untuk hal-hal tertentu, kadang-kadang dia bisa berfikir lebih dewasa dari usianya.


"Tapi Lala juga janji sama bunda, kalau bunda belum pulang Lala nggak boleh nangis, harus nurut apa kata ayah, harus makan dan jangan merepotkan ayah banyak-banyak"


"Iya bunda, Lala janji"


"Anak pintar" Aku menoel hidungnya lembut.


Entah mahkluk di balik punggungku mendengar percakapanku dengan putrinya atau tidak. Tapi aku berharap dia mendengarnya dan nggak akan bilang lagi 'Itu Privasi' ketika aku bertanya hal pribadinya.


...****************...


Paginya, aku Lala serta mas Bima terlambat bangun karena kembali tidur usai sholat subuh.


Saat bik Nani membangunkan kami, dia mengatakan kalau papi dan mami sudah menunggu di meja makan.


Aku langsung membangunkan Lala untuk kemudian membantunya cuci muka dan gosok gigi.


Dengan ragu aku juga membangunkan mas Bima.


Aku dan Lala turun lebih dulu, dan tak berselang lama mas Bima menyusul turun.


"Kalau Bima nyakitin kamu ngomong ke mami ya Bi"


"Ngomong apa?" Potong mas Bima yang tahu-tahu sudah di ruang makan dan kini tengah menarik kursi di sebelahku.


"Enggak, mami cuma pesan ke Arimbi, untuk beri tahu papi sama mami jika kamu macam-macam sama bundanya Lala"


"Mami tahu kenapa dia kabur?"


"Mas"


Mas Bima tak mengindahi panggilanku. Padahal aku hanya memberi kode untuk tidak menceritakan permasalahan rumah tangga ke orang tua.


"Dia salah paham karena ulah Gesya"


Papi dan mami kompak menghentikan gerakan tangannya, kemudian menatap mas Bima penuh selidik.


"Gesya?" gumam mami.


"Hmm"


Aku menyerahkan piring berisi nasi untuk mas Bima. Sejujurnya aku geram, tapi nggak bisa berbuat apa-apa.


"Mami kan sudah bilang Bim, jangan lah kamu deket-deket sama dia"


"Aku juga nggak dekat-dekat kok mih, tapi karena Arimbi cemburu, jadi jarak satu meter bagi dia seperti sejengkal"

__ADS_1


Mas Bima seakan tak sadar kalau orang yang sedang dia bicarakan ada di sampingnya.


Secara terang-terangan dia menyindirku.


"Ya kalau kamu tahu istrimu begitu seharusnya kamu jaga sikap" Papi tampak menyalahkan mas Bima.


"Aku jaga sikap yang gimana pih? Aku nggak bisa melarang karena dia selalu menjadikan Lala sebagai alasannya. Aku bisa apa?"


"Dan lagi" Tambah mas Bima sebelum memasukkan kembali sendok ke mulutnya. "cemburunya itu nggak konfirm dulu"


"Mas"


"Apa Bi? Kamu kebiasaan begitu kan, selalu menyimpannya sendiri, sakit hati sendiri jadinya"


"Sudah sudah" Sambar Papi yang kemudian merubah topik pembicaraan. "Nanti Lala ikut opa sama oma ya, kita ngaji di tempat opa Haidar"


"Tapi bunda ikut nggak, opa?"


"Enggak bunda di rumah aja sama ayah"


"Nanti bunda pergi lagi gimana?" Anak itu menatap opanya lekat-lekat. Ada kekhawatiran terukir di wajahnya.


"Bunda nggak akan pergi, nak. Ayah akan jagain bunda, bila perlu ayah ikat biar ngga kabur lagi"


"Nggak boleh, bunda nggak boleh di ikat-ikat" Lala menatap tajam ayahnya.


"Nggak nak, justru ayah mau sayang-sayang bunda" ucap mami membuatku kikuk. Tapi tidak dengan mas Bima yang masih sesantai sebelumnya.


Menit berganti, setelah papi pamit karena sudah selesai makan, giliran mas Bima yang bangkit dari kursi lalu membawa Lala ke ruang tengah. Sementara aku dan mami mengumpulkan piring kotor untuk di bawa ke westafle.


Merasa perutku seperti di remas-remas, aku yakin kalau tamu bulananku datang.


Aku berpamitan pada mami untuk mengecek kondisiku di kamar.


"Mih, mami ada pembalut?" tanyaku sebelum beranjak dari dapur.


"Mami si nggak ada, tapi kayaknya di kamar mbak Kanes ada. Nanti mami cek ya"


"Iya, mih. Aku ke atas dulu"


"Iya sayang, nanti mami antar ke kamar kamu"


"Makasih ya mih"


"Sama-sama" aku langsung pergi ke kamar melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Sudah cukup lama berada di dalam sini, aku akhirnya keluar.


"Astaghfirullah" Desisku, karena begitu pintu terbuka, ada sosok mas Bima berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menyandarkan lengan di kusen.


"Apa? Kaget?"


"Enggak"


"Kalau enggak kenapa terlonjak" tatapan mas Bima benar-benar membuatku nervous.


Alih alih menjawab, mas Bima malah menyodorkan benda yang ku butuhkan.


"Ada titipan dari mami" Aku melirik satu bungkus pembalut di tangan mas Bima, lalu dengan raut datar aku mencoba merebutnya, tapi gagal. Mas Bima lebih tangkas menjauhkan benda itu dari jangkauanku.


"Apa seperti itu menerima bantuan dari orang lain?"


"Sini mas"


"Biasakan tatap aku mulai sekarang!"


Aku mendesah dalam hati, sudah biasa di buat tak berkutik seperti ini olehnya.


Memberanikan diri, ku angkat pandanganku menjatuhkan sepasang netra pada dada bidang mas Bima.


"Lihat mataku" katanya sambil mengangkat daguku untuk di arahkan ke manik tajamnya.


"Kalau saling tatap begini kan enak Bi, iya nggak?"


Tentu saja aku tak berani mengiyakan.


"Hmm??" Pria itu mengangkat dagunya sambil menyerahkan pembalut ke tanganku.


"Makasih" Aku langsung menutup pintu kamar mandi.


Ku pikir mas Bima akan langsung meninggalkan kamar, tapi ternyata dugaanku keliru. Ayahnya Lala masih di sini.


"Kita lanjutkan pembicaraan yang semalam" Mas Bima meletakkan ponselnya di atas meja sofa.


Tangannya langsung masuk ke dalam saku celana sembari berjalan mendekatiku.


"Apa yang mau di bicarakan lagi?" Tanyaku nekad membalas sorot membunuhnya.


"Apa perlu ku tawari untuk mengubah perjanjian di awal?"


"Perjanjian apa?" Aku pura-pura tak mengerti.


"Merubah perjanjian tentang privasi"


"Kenapa? Apa mas mulai penasaran dengan kehidupan pribadiku?" Aku melipat tangan di dada seakan menantang.


Ada senyum miring yang terbit di bibir mas Bima. Mungkin dia sedang menertawakan keberanianku menatapnya "Kenapa nggak mengingat pesan suami dengan benar?"


"Pesan?"


"Lupa, sama pesan yang ku sampaikan sebelum aku pergi?"


"Aku nggak lupa?"


"Kalau nggak lupa" Mas Bima mengeluarkan tangan dari sakunya, kemudian memainkan rambutku yang sudah tak tertutup hijab. Tadi saat makan aku memang memakainya karena ada papi, tapi begitu di kamar aku melepasnya.


"Beri tahu aku berapa kali kamu bertemu saka saat aku nggak ada"


"Ckkk.." Aku berdecak. "Itu privasiku"

__ADS_1


"Aku bertanya seperti itu karena kamu yang lebih dulu mengobok-obok privasiku, Arimbi"


"Tapi aku nggak dapat jawaban yang jelas, mas Bima"


"Bukankah sudah aku katakan, kamu nggak akan percaya dengan jawabanku, jadi untuk apa aku menjawabnya"


"Kalau begitu jangan harap aku memberikan jawaban yang jelas pada mas. Aku beri tahu, menebak-nebak itu menyenangkan mas, ada sensasi yang nggak bisa di jelaskan saat kita sedang menerka-nerka sesuatu"


Senyum miring di bibir mas Bima ku rasakan kian jelas. "Aku bukan kamu yang suka menebak-nebak, aku bisa cari tahu dengan cara lain"


Aku memang selalu kalah telak jika adu debat dengan mas Bima.


Tiba-tiba saja mas Bima berbalik untuk mengambil ponselnya.


Lima detik kemudian dia memperlihatkan layar ponsel yang menampilkan aku, mas Saka serta Lala tengah duduk di sebuah foodcourt.


Aku yang tadi menyimpan marah kini berganti menjadi rasa takut. Namun aku berusaha melebur ketakutanku agar bisa menghadapi makhluk astral ini.


"Aku bisa tanya ke Saka kan?"


"Mas menuduhku selingkuh?"


"Kamu juga menuduhku bermain-main dengan Gesya"


"Menuduh?" aku tersenyum sinis. "Lalu bagaimana tentang Gesya yang juga jemput Lala kemarin?"


Ada jeda sejenak usai aku mengatakan itu karena mas Bima seperti terhenyak.


"Jadi, apa kamu datang ke sekolah Lala kemarin?"


"Menurut mas?"


"Begini nih, kalau menyimpulkan sesuatu dalam keadaan kesal dan cemburu, akal sehat tidak bisa berfikir cemerlang"


"Apa maksud mas?" Pertanyaanku bersamaan dengan bunyi email masuk di komputer mas Bima yang ada di atas meja kerja.


Aku dan mas Bima kompak menoleh ke arah sumber suara.


Tanpa mengatakan apapun, mas Bima menghampiri meja kerja dan membuka email yang masuk tadi.


Dari sini aku menatap layar komputer yang sedang memutar aktivitas di hotel Gemintang.


Berpuluh-puluh menit aku tak mengalihkan pandangan barang sedetik dari layar monitor, di situlah aku tahu, kalau mas Bima memang nggak sampai di kamar Gesya, dan rambutnya juga sudah basah sebelum menemui mas Bima.


Mereka hanya duduk sambil membicarakan sesuatu yang tidak aku tahu, sebab rekaman itu hanya menunjukan aktivitas saja tanpa audio.


"Gimana?" tanya mas Bima dengan senyum dan tatapan penuh kemenangan. "Aku tidak suka menebak-nebak Arimbi, dan soal Gesya ada di sekolah Lala, dia datang sendiri. Bukan aku yang mengajaknya" Mas Bima mengatakan itu sambil melangkah ke arahku.


"T-tapi tetap sa_" Aku menggantung kalimatku karena tanpa aba-aba mas Bima mendorongku hingga aku terjerembab di atas kasur.


Dengan gerak cepat mas Bima memposisikan diri di atasku.


Ini pertama kalinya kami seintim ini.


"Insecurmu, itu karena dirimu sendiri, tapi malah menyalahkan orang lain"


"S-siapa yang menyalahkan orang lain?"


"Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi?"


Jarak kami kian terkikis, aku bahkan bisa merasakan terpaan hangat dari nafasnya.


"Lain kali, jangan main kabur, ngerti?"


"A-aku nggak ka_"


Kalimatku kembali menggantung karena mas Bima persekian detik menempelkan bibirnya di bibirku.


Hanya menempel, tapi sekitar tiga detik kemudian, dia mulai me*lumatnya lembut.


Dan aku hanya bisa diam dengan fokus berantakan.


Mas Bima melepas tautannya ketika aku kewalahan mengatur nafas, dia bertahan menatapku dengan manik bergerak mengekor mengikuti gerakan manik hitamku.


"Sudah tahu siapa biang keroknya?" tanyanya.


"T-tapi aku nggak kabur kok, a-aku hanya menenangkan pikiran sejenak"


"Okay aku terima apapun alasanmu, sekarang katakan berapa kali kamu menemui Saka?"


"Mas dapat foto itu dari siapa?"


"Aku yang tanya, Arimbi" Sergahnya cepat, dan bibirku langsung terkatup rapat.


Mas Bima terus mengunci netraku menuntut sebuah jawaban. Beberapa detik kemudian aku bersuara.


"Hanya sekali"


"Sekali?" Alis mas Bima terangkat satu.


"K-kalau mas nggak percaya, bisa tanya ke Lala"


"Okay, nanti akan aku tanya ke dia"


"Tapi mas, a-da lagi pria yang menemuiku"


Masih di posisi yang sama, mas Bima yang tadi mengangkat satu alis, kini ganti mengernyitkan dahi.


Sebenarnya takut kalau Lala juga akan mengadu soal Yoga, jadi aku berinisiatif memberitahu mas Bima sebelum dia tahu dari Lala.


"Siapa?"


"Y-Yoga, katanya dia temannya mas"


"Yoga?"


Aku mengangguk, mencermati raut mas Bima yang berubah tak senang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2