Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 66 ~


__ADS_3

Happy reading... (¤_¤)


Tiga belas hari pasca putusan sidang atas kasus Yoga sudah lewat, dan baru beberapa hari yang lalu mas Bima kembali mendatangi pengadilan untuk mengurus gugatan mengenai hak asuhnya Lala.


Sementara hasil sidang kemarin hanya membacakan gugatan tentang permohonan peralihan hak asuh anak. Akan ada beberapa proses persidangan yang harus kami lalui, namun baru satu kali ku jalani seakan kepercayaan diriku menurun drastis. Jujur ada rasa khawatir yang bersarang di benakku, kekhawatiran itu bahkan berada di level paling atas.


Ketakutan akan berpisah dengan Lala entah kenapa pun kian menjadi, padahal sudah berulang kali mas Bima mengatakan akan memperjuangkan Lala, tapi tetap saja tak mampu membuat hatiku lega.


Menghempaskan punggung di sandaran kursi kerja, aku melipat kedua tanganku di dada, mengarahkan pandangan ke luar jendela, kepalaku mendongak menatap arakan awan putih yang berjalan lambat dengan latar belakang langit berwarna sky blue.


Tubuhku seketika tersentak saat tiba-tiba mendengar bunyi ponsel di atas meja. Otomatis memantik sepasang netraku mengarah ke layar ponsel yang berkedip.


Mas Bima...


Ada apa dia menelfonku? Tidak biasanya telfon di jam kerja seperti ini.


Tak ingin terus bertanya-tanya dalam hati, akupun segera meraih benda itu lalu mengangkat panggilannya.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, Bi aku ada di depan kantormu, kamu keluar sekarang ya"


"Ada apa mas?"


"Kamu keluar dulu"


Mengerutkan kening, ku pikir pertanyaanku akan terjawab, tetapi tidak. Rasa penasaran justru kian merongrong dan membuatku semakin merasa gelisah.


Dari nada suaranya yang terdengar sangat serius, mau tak mau aku harus bergegas menemuinya kalau ingin tahu apa maksud kedatangan mas Bima di jam sibukku.


Karena memang pekerjaan bisa ku tinggal sebentar, akupun segera bangkit dari dudukku dan langsung melangkahkan kaki keluar dari gedung kantor.


Tak kurang dari tiga menit, aku sudah berdiri di hadapan mas Bima.


Dia yang tadi berdiri dengan menyandarkan punggung pada pintu mobil, dan mengenakan kacamata hitam plus jaket kulit berwarna hitam pula, langsung berdiri tegap saat melihatku berjalan terburu-buru melewati halaman kantor.


"Ada apa mas?" tanyaku setelah mencium punggung tangannya.


Aku melirik anak buah mas Bima yang tetap berada di dalam mobil tepatnya di kursi bagian kemudi.


Melepas kaca mata, mas Bima kemudian bersuara "Aku harus bertugas menggantikan sersan Aditya"


Sontak saja aku kaget mendengar kalimat mas Bima.


"Sekarang?"


Pria di hadapanku mengangguk, meski ringan tapi tanpa ragu sedikitpun. Sementara alisku seketika menukik bersamaan dengan dahi yang mengernyit tajam.


"Kok mendadak?"


Entahlah, ini benar-benar mengejutkanku, karena sebelumnya tak ada omongan apapun tentang rencana tugasnya.


"Sersan Aditya mengalami luka tembak di bagian lengan"


"Astaghfirullah, kok bisa"


"Itu hal biasa di dunia militer Bi"


"Hal biasa, mas Bilang?" Mataku mungkin sudah berkaca-kaca, sebab ku rasakan pandanganku menghangat dan mulai mengabur.


"Beliau terkena tembakan sebanyak tiga kali, dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit, aku harus menggantikan tugasnya"


"Kenapa harus mas, bukankah mas belum lama pulang tugas"


"Ini sudah konsekuensi dari pekerjaanku, Bi. Aku sudah mengucapkan sumpah untuk mementingkan urusan pekerjaan di atas kepentingan pribadi"


"Daerah mana?"


"Papua"


"Berapa bulan?"

__ADS_1


"Belum tahu, tapi insya Allah nggak akan lama, kalau dalam satu minggu suasana sudah lebih kondusif, aku pasti akan cepat pulang"


Aku terdiam, menatap sosok mas Bima yang kini mengusap pipiku yang basah. Baru satu bulan aku menikmati kebersamaan dengan mas Bima dan Lala, tapi dia sudah harus pergi lagi.


"Nggak sampai berbulan-bulan kok Bi"


Aku masih bungkam, mengarahkan atensiku sepenuhnya ke manik hitam milik mas Bima.


"Sudah pamit ke Lala?" tanyaku akhirnya.


"Belum"


"Kenapa belum?"


"Nggak ada waktu"


"Jangan lupa sempatkan diri buat telfon"


Dia mengangguk untuk meresponku.


"Sampaikan salamku buat Lala, bilang ayah minta maaf karena nggak sempat pamit"


Kini giliran aku yang mengangguk, setelah itu kami sama-sama diam dengan pandangan sama-sama lekat. Hingga beberapa menit berlalu, aku memutus kontak mata kemudian menunduk sebab tak sanggup lagi membalas tatapan tajamnya.


Berusaha menelan ludah sambil meremat jemari tangan, aku melihat bayangan tangan mas Bima terulur, persekian detik kemudian ku rasakan tangannya mengusap sisi kepalaku sebelah kiri.


"Semoga nggak sampai sebulan ya" ucap mas Bima seolah menenangkanku.


"Titip Lala, dan jaga diri kalian baik-baik. Aku sudah meminta mami ngirim Nining ke rumah buat temani kalian selama aku nggak ada. Kalau kamu mau, kamu dan Lala bisa menginap di rumah mami, ibu, atau bunda Nina"


Aku mendongak, kembali mempertemukan netra kami.


"Kenapa? Takut?" tanyanya ketika aku hanya bergeming sambil memandanginya.


"Gimana nggak takut kalau situasi di sana ku dengar semakin memanas"


"Nggak usah takut, doain saja suamimu agar selalu dalam lindungan-Nya. Demi kamu dan Lala, aku akan selalu hati-hati, aku pasti akan jaga diri supaya bisa pulang dengan selamat"


"Mau bibirnya ku cium?"


"Ish, apaan si" gerutuku yang langsung di balas dengan ukiran senyum darinya.


"Selasa depan ada sidangnya Lala, nanti Rosa akan jemput kamu buat menghadirinya. Aku percayakan urusan ini sama kamu, ya"


"Apa aku bisa mas?"


"Kamu pasti bisa, sayang. Seorang ibu, nggak perlu di ajarin untuk memperjuangkan anak-anaknya. Mereka bahkan bertaruh nyawa, iya kan? Meski bukan kamu yang melahirkan Lala, tapi kasih sayangmu melebihi kasih sayang ibu yang melahirkannya, aku yakin meski tanpa aku, kamu bisa melawan Gesya dan Hana"


"Tapi mas_"


"Apapun keputusan sidang nanti, kamu harus kuat dan bisa menerimanya, okay"


Menarik nafas perlahan, aku mengeluarkan secara perlahan pula. Andai saja ini bukan di tempat umum, pasti aku sudah menghambur ke pelukannya. Aku merasa selain akhir-akhir ini sering merasa pusing dan gampang letih, aku juga ingin selalu berada di dekatnya, menciumi aroma tubuhnya. Tapi apa ini? Dia justru harus pergi berdinas.


"Bi?"


"Hmm" Aku sedikit terlonjak.


"Aku pergi ya" Pamitnya lalu mengulurkan tangan.


Aku menerima uluran tangannya kemudian ku kecup sedikit agak lama.


Meski berat, tapi tidak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mas Bima untuk berjuang di medan perang.


"Mas"


"Iya"


"Hati-hati, jangan lupa sholat"


"Pasti, Bi"

__ADS_1


Aku ingin di peluk, tapi sepertinya keinginanku harus ku telan mentah-mentah. Mas Bima nggak mungkin mau memeluk apalagi menciumku di tempat seperti ini.


Tapi dugaanku keliru. Menepikan rasa malu, tahu-tahu mas Bima merengkuhku ke dalam pelukannya.


"Jaga diri baik-baik, aku pasti akan telfon kalau ada waktu"


"Mas juga, jaga diri, jaga kesehatan" Suaraku sedikit teredam sebab masih berada dalam dekapannya.


"Iya, Bunda"


Setelah beberapa detik, pelukan kami akhirnya terurai, pria itu mengusap puncak kepalaku, lantas tersenyum lembut.


Sebelum membalikkan badan, mas Bima mengecup keningku lumayan lama.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Aku disini menatap nanar kepergian mas Bima yang kini sudah duduk di bangku penumpang sambil tersenyum dan melambaikan tangan.


Doaku selalu menyertaimu, mas!!


Mendesah pelan, mobil itu perlahan bergerak menjauh.


Berat, ini sangat berat, tapi aku harus kuat demi Lala. Aku harus mempersiapkan jawaban karena anak itu pasti akan melontarkan banyak pertanyaan perihal kepergian ayahnya yang mendadak.


...****************...


"Bi, lihat deh!" Riska menyodorkan ponselnya.


"Apa?" tanyaku penasaran.


"Lihat saja sendiri"


Begitu aku memusatkan perhatian pada ponsel milik Riska, satu alisku reflek terangkat, sebab adegan mas Bima saat berpamitan tadi begitu mengharukan, apalagi di menit terakhir, dimana mas Bima tengah memelukku kemudian mengecup keningku.


"Ini kamu yang rekam, Ris?"


"Hmm. Aku tadi lihat kalian momentnya kok sweet, jadi aku ambil posisi paling bagus buat ambil adegan kalian"


"Kirim ke ponselku dong"


"Kirim saja sendiri"


Setelah mendapat persetujuannya, aku langsung menekan ikon share dan memilih nomorku. Video yang sangat bagus menurutku.


Detik itu juga, sesaat setelah aku menerima video itu, aku mengeditnya namun hanya di bagian saat mas Bima memeluk dan mencium keningku, tak lupa ku sisipkan sebuah lagu romantis. Hasil editan itu ku kirim ke nomor WA mas Bima.


Memang si kekanak-kanakan, tapi bodo amat, apapun penilaian mas Bima, aku merasa senang melakukan ini. Aku sendiri tak tahu kenapa bisa menjadi alay begini.


Tak berapa lama, aku mendapat balasannya.


Mas Bima : "Bagus" (14:23) Wib.


Aku tersipu, alih-alih membalas pesannya, aku sibuk menggunggah video itu di wa Storyku. Di waktu yang sama, hanya selang satu menit, mas Bima pun mengunggahnya di wa Storynya.


Ada caption yang melengkapi video itu.


Anna Uhibbuki Fillah, Lillah...


Selama menjadi istri mas Bima, ini ke empat kalinya aku melihat storynya.


Dia memang tak pernah mengunggah apapun di media sosial, karena memang tak suka membagikan apapun apalagi tentang privasinya. Dan setiap kali mengunggah foto, yang dia publish pasti selalu tentang udara.


Tapi kali ini, unggahannya membuatku menghangat dan malah semakin merindukannya.


Bagaimana aku mengatasi rinduku setelah ini?


Tiba-tiba saja pikiranku justru jatuh pada Gesya. Aku yakin dia pasti langsung melihat story mas Bima. Karena sama sepertiku, dulu saat hubunganku dengan mas Bima masih hambar, jika mas Bima membuat story di Whatsapp, mungkin aku adalah orang pertama yang melihatnya, tapi karena ponselku aku setting sedemikian rupa, jadi mas Bima tak menyadari kalau aku sudah melihat storynya.


Tapi by the way ... kok jadi penasaran sama reaksi Gesya atas unggahan mas Bima!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2