
"Kalau mau main buat nemuin Lala, kita nggak bisa larang dia kan?" kataku memainkan jemariku di dada mas Bima yang polos tanpa kaos.
"Boleh saja dia datang, tapi kalau pas aku di rumah. Kalau aku nggak di rumah, jangan kasih celah buat dia masuk ke rumah kita"
"Kenapa jadi mas yang berprasangka buruk sekarang?"
"Karena faktanya memang begitu, Gesya nggak sebaik covernya?"
Setelah mas Bima mengatakan itu, kami sama-sama diam. Ingatanku langsung kembali pada teror-teror yang sempat menghantuiku. Tapi entah kenapa kini teror itu mendadak reda.
Mas Bima yang tengah memelukku usai aktivitas panas kami beberapa menit sebelumnya, menghembuskan napas panjang.
"Kenapa teror itu sekarang mendadak hilang, mas?" tanyaku sedikit ragu.
"Tentu saja, Bi. Pelakunya mendapat pengawasan ketat, dia nggak bisa berkutik lagi. Jangankan membuat rencana teror selanjutnya, menemui para pesuruhnya saja dia nggak bisa"
"Apa orang suruhan ayah dan papi benar-benar melakukan tugasnya?"
"Hmm" sahutnya kalem. Tangan kirinya yang melingkar di balik punggungku membuat gerakan mengusap yang memberiku efek geli.
"Kalau boleh tahu apa tugasnya?"
"Mengawasi kemana Gesya pergi"
Kepalaku yang salah satu sisinya menempel di dada mas Bima terangkat untuk menatap sosok pria yang berbagi selimut denganku.
"Tapi sepertinya mas" kataku menempelkan satu telapak tangan di dada mas Bima lalu menumpukkan daguku di punggung tanganku. "Mbak Hana sepertinya orang baik, kenapa adiknya gitu?"
"Gesya itu ambisius, aku kenal mereka sejak jaman sekolah jadi tahu Gesya seperti apa, dan Hana gimana"
"Apa karena hasutan Gesya juga mbak Hana lepas hijab, karena setahuku saat mas Bima ngenalin mbak Hana ke almarhum kakek abi, dia pakai hijab, kenapa sekarang enggak?"
"Aku nggak tahu kalau soal itu Bi, seingatku saat kami proses cerai dia masih berhijab. Tapi mungkin karena dia tinggal di Singapura terus kebawa suasana di sana jadinya di lepas"
"Tapi Gesya juga yang menghasut mbak Hana buat rebut hak asuh Lala"
"Ya kalau itu sesuai dengan dugaanku"
"Tadinya aku takut Lala juga akan kehasut oleh Gesya, dan mbak Hana nggak bisa terima kalau Lala begitu menyayangiku. Tapi ternyata mbak Hana justru menyadari dan meminta maaf atas tindakannya"
"Seharusnya memang seperti itu, seorang ibu harus turut bahagia dengan kebahagiaan anaknya. Bukankah kamu juga berfikir demikian? Kamu akan bahagia jika anak-anakmu bahagia kan?"
__ADS_1
"Hmm"
Aku menyerukkan kepala di dada mas Bima, menghirup aroma tubuhnya yang mendadak ku sukai semenjak tahu kalau aku hamil.
"Sekarang jangan pernah merasa takut, Bi. Gesya nggak akan pernah bisa memilikiku, dan Hana, dia adalah ibu yang melahirkan Lala, tapi Bunda Arimbilah yang membesarkannya, dia nggak butuh siapapun karena bundanya sudah memberikan apa yang Lala butuhkan, bahkan sudah memberikan apa yang nggak sempat Hana beri buat Lala. Kamulah bunda yang dia miliki, bunda yang sudah memberikan cinta dan kasih sayang, perhatian yang nggak ada habisnya, waktu serta tenagamu juga terkuras demi untuk kebaikan Lala" ucap mas Bima lalu mengecup ujung kepalaku dalam-dalam.
"Dia punya bunda yang luar biasa hebat" Tambahnya berbisik tepat di telinga kananku. "Begitu juga denganku, kamu yang selalu aku butuhkan"
Mendengar ucapannya, hatiku menghangat seolah ada perasaan haru yang meletup-letup dalam diriku.
"Dari pada ngomongin dia, mending ngomongin bayi kita. Gimana si adek? Dia rewel?"
"Rewelnya kalau pagi doang" Jawabku merubah posisi menjadi memunggungi mas Bima.
"Rewelnya gimana?" Ayahnya Lala lantas melingkarkan lengan di purutku lalu mengusapnya lembut.
"Cuma muntah doang"
"Itu hal yang wajar buat setiap ibu hamil kan?"
"Hmm" Jawabku mengusap lengan mas Bima.
"Sudah berapa minggu, Bi? Kapan cek ke dokter lagi?"
"Okay kalau sudah waktunya, ingatkan lagi! Aku temani ke dokter nanti"
"Terus gimana soal Gesya yang ingin menjalin hubungan baik denganku?" tanyaku kembali ke topik utama.
"Nggak usah berhubungan baik dengannya, Berhubungan sewajarnya dan biasa aja. Kalau dia mau datang tunggu pas aku di rumah"
Tak berani membantah, akupun patuh dengan keputusan mas Bima.
***
Paginya, aku yang masih cuti, membawa Lala berbelanja ke pasar tradisional setelah sarapan.
Mas Bima yang sudah berangkat ke Lanud, memberikan kebebasan padaku karena ada pesuruh papi yang menjadi pengawal untuk mengawalku kemanapun aku pergi, namun tanpa sepengetahun siapapun.
Aku dan Lala berusaha bersikap cuek pada pengawal kami seakan-akan kami tak mengenalnya. Akupun tak merasa terganggu karena menganggap dia adalah orang asing.
Selesai berbelanja, tepat ketika mampir di fastfood karena Lala minta es krim khas McD, sepasang netraku menangkap Gesya keluar dari arah toilet di restauran fastfood ini.
__ADS_1
Dia tak melihatku sebab pandangannya lurus menatap ke depan, sementara aku tengah menunggu pesanan di depan kasir.
Wanita yang tampak elegan dengan busana yang dia kenakan terus melangkahkan kaki keluar melewati pintu kaca.
Ku lihat dari balik kaca restauran, dia menggerakkan tangan seperti menerima telfon lalu menempelkan ponsel di telinganya. Detik berikutnya, ia membuka pintu mobil kemudian memasuki mobilnya.
Aku yang masih terpaku menatapnya, di kejutkan oleh suara dari petugas bahwa es krim Lala sudah siap.
Karena mobil Gesya masih bertahan di area parkir, aku keluar dengan sembunyi-sembunyi supaya dia tidak melihatku, sebab aku berencana membuntutinya.
Beberapa menit berlalu, saat mobil Gesya mulai bergerak, aku terkesiap dengan kemudiku. Mobil mewah berwarna putih susu itu perlahan melaju, aku pun turut melajukan mobilku, berjalan di belakang mobil Gesya dengan jarak yang lumayan jauh.
Karena tak ingin Gesya curiga, aku sedikit mengurangi kecepatan dan membiarkan mobil pesuruh papi menyalip mobilku.
Terhitung ada dua mobil dan satu motor yang ku pastikan mengikuti kemana mobil designer cantik itu melesat.
Mobil perusuh papi yang kini berada tepat di belakang mobil Gesya, lalu ada mobilku, dan di urutan paling belakang ada pengawalku yang mengendarai sepeda motor.
Hingga sekian menit berlalu, aku tertegun saat mobil Gesya memasuki area rutan tempat Yoga di tahan.
Pikiranku otomatis berkecamuk dengan di penuhi tanda tanya.
"Bunda kenapa?" aku terlonjak kaget ketika mendapat pertanyaan dari Lala. Reflek aku beralih menatap Lala di samping kiriku "Ini tempat apa bun?"
"Bukan apa-apa sayang"
Belum surut rasa deg-deganku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Mas Bima menelfonku di waktu yang menurutku kurang tepat.
"Assalamu'alaikum, mas" Sapaku setelah menggeser ikon terima.
"Wa'alaikumsalam. Ngapain di rutan Bi?" Tanyanya frontal. Aku sangat yakin pasti pengawal kami yang sudah memberitahu mas Bima.
"Kita bicarakan di rumah saja ya mas, ini aku juga mau pulang, habis belanja tadi"
"Hmm ... hati-hati, nggak usah ngebut"
"Iya"
Ku tutup panggilan begitu membalas salam mas Bima.
Ada banyak pertanyaan sebenarnya, tapi hanya satu pertanyaanku yang ingin sekali segera terjawab.
__ADS_1
Gesya mau menemui Yoga? Kalau iya, ada urusan apa dia?