
Aktivitasku dan Lala di setiap harinya tak ada perubahan, kami melakukan rutinitas seperti biasa kalau mas Bima sedang bertugas.
Pagi memasak, membantu Lala bersiap-siap dan mengantarkannya ke sekolah, siang menjenguk sebentar sekaligus makan siang bersamanya, lalu sore hari sepulang kerja aku langsung menjemputnya. Sementara di malam hari aku serta Lala makan malam dengan di temani mbak Nining yang masih menginap di rumah.
Begitulah rutinitasku selama lima hari belakangan ini.
Mengenai sidang yang akan di adakan besok pagi, pun di tunda atas permintaan mbak Hana, sebab ia harus ke Singapura entah untuk urusan apa, aku tak tahu.
Yang jelas keputusannya menunda sidang sangat menguntungkan bagiku, karena mas Bima hari ini akan pulang dan itu artinya dia akan mendapat kesempatan menghadiri sidang yang di tunda dua hari ke depan.
Malam, sekitar jam Sembilan lebih dua puluh menit, Lala baru saja tidur dan aku langsung beranjak turun sesaat setelah menidurkannya.
Saat langkahku sudah di anak tangga terakhir, aku mendapati Nining berjalan hendak menuju ke kamarku dengan membawa setumpukan baju yang sudah di setrika. Dia menghentikan langkahnya saat pandangan kami bertemu.
"Bu, ijin ke kamar ibu buat naruh ini" Katanya menunjukkan baju di tangannya.
"Iya Ning, tolong letakkan di atas sofa, kalau pekerjaanmu sudah selesai kamu bisa istirahat"
"Baik bu, terimakasih" Sahutnya kemudian melanjutkan langkah menuju kamarku dan mas Bima yang pintunya terbuka setengahnya.
Tak langsung masuk ke kamar, aku justru mengarahkan kaki ke ruang tengah untuk menunggu mas Bima.
Siang tadi, ayahnya Lala mengabarkan kalau dia akan tiba di rumah pada malam hari. Lala sangat senang ketika ku beritahu, dia bahkan bersikukuh ingin menunggu ayahnya yang tidak ku tahu jam berapa akan sampai di rumah.
Perlu beberapa jurus untuk meyakinkan anak itu agar tak usah menunggu ayahnya, sampai kemudian dia kelelahan dan akhirnya alam mimpipun merenggut kesadarannya.
"Bu" Panggil Nining sopan. Dia berjalan menghampiriku.
"Iya, Ning?"
"Perlu saya temani?"
"Nggak usah, kamu istirahat saja, seharian penuh kamu bekerja, tidurlah!"
"Iya bu, tapi sebelumnya apa ibu butuh sesuatu"
"Tidak, nanti aku akan ambil sendiri"
"Kalau begitu, saya permisi bu. Selamat malam!"
"Selamat malam" balasku menerbitkan senyum.
****
Entah berapa lama aku tertidur, tahu-tahu aku merasa separti ada yang membelai wajahku. Selain itu, aku juga merasakan hembusan nafas dari seseorang yang menyapu menerpa wajahku.
Pelan, ku coba membuka mata, detik itu juga aku mendapati wajah mas Bima yang begitu dekat tepat di depan wajahku tengah tersenyum sambil menatapku penuh intens.
Sekian detik berlalu bayangan itu tak kunjung hilang, sekuat tenaga aku berusaha membuka mata lalu mengumpulkan kesadaran yang berserakan dimana-mana.
Ketika mataku terbuka sempurna, aku memindai mas Bima dengan cermat meski sedikit remang-remang. Pria ini duduk di sisi sofa yang ku tiduri.
__ADS_1
"Kenapa tidur di luar?"
Aku mengerjapkan mata, tak langsung menjawab, sebab akal sehatku masih belum sepenuhnya terkumpul.
"Mas?"
"Hmm"
Wajah kami yang tak terkikis, membuatku sesekali menahan napas.
Aku menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan.
Aku merasa kalau wajah mas Bima teksturnya kasar, seperti ada rambut yang mulai tumbuh di area kelelakiannya. Aku yakin mas Bima pasti tak mencukur janggut dan kumisnya selama bertugas.
"Sudah pulang?" Kataku dengan nada khas bangun tidur.
"Sudah" jawabnya lalu mengecup kilat bibirku.
"Kita pindah ke kamar?"
"Iya" Aku lantas bangkit untuk duduk dengan mata yang masih setengah menyipit.
"Mau gendong"
"Enggak"
Aku dan mas Bima sama-sama berdiri, dia menuntunku melangkah menuju kamar.
"Sudah. Aku mau langsung mandi ya" Ucapnya saat kami sudah berada di dalam kamar dan berdiri saling berhadapan.
"Iya"
"Kalau masih ngantuk, kamu tidur saja, biar aku ambil baju ganti sendiri"
"Aku sudah nggak ngantuk"
"Atau mau main-main dulu?"
Mendengar godaannya, aku melirik mas Bima dengan tatapan memicing. Dia lalu melingkarkan lengannya di pinggangku kemudian menarik tubuhku agar menempel ke tubuhnya, bibirnya tersenyum tanpa rasa takut sedikitpun.
"Apa?" Ujarnya dengan intonasi sangat rendah.
"Mas usil tahu nggak?"
"Usilin istri nggak apa-apa kan?"
"Ish" Desisku menoel balik punggungnya.
"Aku mandi dulu"
"Mau ku siapkan air hangat?"
__ADS_1
"Nggak usah, makasih. Kamu tidur saja, setelah bersih-bersih aku akan menyusul tidur"
"Aku akan tunggu mas"
"Okay" Dia mengecup keningku sekali lagi sebelum beranjak dari hadapanku.
Pria itu lalu melangkah ke kamar mandi sementara aku ke arah lemari untuk mengambilkan piyama dan pakaian dalam bersih milik mas Bima.
Selagi menunggu dia selesai membersihkan diri, aku menata baju-bajuku ke dalam lemari, yang tadi di letakkan di atas sofa oleh Nining.
Sepasang mataku menangkap kemeja mas Bima yang menggantung.
Mengulurkan tangan, aku meraih kemeja itu lalu mengurainya dari hanger, ku hirup dalam-dalam parfum lembut yang melekat, kemudian ku peluk erat-erat.
Tepat ketika aku tengah hanyut dengan aroma bajunya, lengan kokoh mas Bima tahu-tahu melingkari pinggangku dari arah belakang.
Aku terlonjak karena terkejut. Sepasang mataku juga membelalak ketika pandangan kami bertemu.
Perlahan, mas Bima memutar tubuhku untuk menghadapnya, aroma baju tadi kini berganti menjadi aroma wangi sabun dan sampo yang menguar dari tubuhnya.
Aroma mas Bima yang mendadak sangat aku sukai.
Bagaimana tidak, wanginya begitu menenangkan, aku bahkan tanpa sadar melingkarkan lengan di perutnya yang hanya mengenakan handuk setengah pinggang.
Kami hanya saling tatap tanpa sepatah kata, sebelum akhirnya aku mengeratkan pelukan dan menempelkan salah satu sisi wajahku di dadanya yang bidang.
Mas Bimapun seakan tahu betapa besar rinduku padanya sehingga dia membiarkanku menuntaskan rasa rinduku.
Ku tarik napas panjang ketika mas Bima mengeratkan lingkaran tangannya lalu mengecupi puncak kepalaku.
Puas dengan puncak kepala, ia melepaskan pelukannya, kedua tangannya tak lagi melingkar melainkan menyentuh sisi-sisi pinggangku. Sementara bibirnya mengecupi leher jenjangku yang terekspose.
Tubuhku meremang merasakan sentuhannya yang semakin liar.
"Mas"
Merasa panggilanku di abaikan, dengan paksa aku merangkum wajahnya menggunakan kedua tanganku.
Sepasang netra kami akhirnya saling bersirobok.
Hening...
Aku bergeming sembari menatapnya lekat-lekat, mengikuti gerakan bola matanya yang begitu tajam.
"Ada kabar bahagia buat mas"
"Apa?" tanya mas Bima tanpa ekspresi.
"Aku hamil"
Bersambung.
__ADS_1