
Padahal aku berhadapan dengan suamiku sendiri, tapi untuk sesaat aku seperti akan tiada. Andai saja jantungku buatan manusia, sudah pasti akan runtuh detik ini juga.
Akan tetapi, apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Di mana salahnya? Aku hanya ingin dengar kata-kata cinta darinya, itu saja, apa aku salah?
Aku cuma bertanya hal sepele, tapi seolah-olah pertanyaanku ini adalah sebuah kesalahan besar.
Ah, sudahlah, mungkin memang aku salah menuntut ungkapan cinta darinya. Baiklah, aku tidak akan memintanya untuk bilang cinta padaku. Akan ku telan mentah-mentah pertanyaanku ini.
"Kamu beranggapan kalau tubuhmu ini hanya untuk ku jadikan mainan bukan?" katanya membuat jantungku kian bertalu-talu sebab tebakannya benar-benar tepat.
Persekian detik aku jadi teringat ucapan kapten Felix saat upacara sertijab untuk mas Bima. Beliau mengatakan bahwa mas Bima adalah penembak yang jitu, itu sebabnya dia di berikan kenaikan pangkat atas dedikasinya menembak serta melumpuhkan musuh tepat sasaran.
"Itu artinya, kamu sudah su'uzdon pada suamimu sendiri, bukan?"
"B-bukan begitu" sanggahku cepat.
"Lalu apa?" tanyanya tenang, kemudian mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggangku. Sementara aku takut-takut membalas tatapannya karena sadar aku sedang berada di bawah kendalinya.
"M-mas, bisa kita b-bicara baik-baik?" Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"E-Maksudku tidak berdiri seperti ini"
"Terus mau gimana? Duduk?"
Aku mengangguk untuk meresponnya. Mas Bima lalu membawaku duduk di atas ranjang, tapi kali ini posisinya justru kian memberatkanku.
Bagaimana tidak dengan posisi aku duduk di pangkuannya, jelas membuatku semakin tak bisa berfikir jernih.
Aku mencoba bangkit dari atas pangkuannya.
"Kenapa lagi, Arimbi? Apa kamu tidak bisa duduk tenang?"
"Iya, tapi bukan seperti ini mas"
Mas Bima mendengkus lirih. "Dari pada kamu komplain terus, lebih baik katakan maafmu karena sudah berprasangka buruk pada suamimu sendiri"
"Tapi apa aku salah bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak salah dengan pertanyaanmu, bunda Arimbi, yang salah adalah prasangka di balik pertanyaan itu"
"M-memangnya ada apa d-di balik pertanyaanku?"
"Kamu sudah menganggapku hanya main-main denganmu, iya kan"
Ku telan salivaku susah payah.
"Ayo katakan!"
"Maaf" Ucapku melempar lirikan ke langit-langit kamar.
"Lihat wajahku, ulangi permintaan maafmu dengan baik dan benar!" Mas Bima menyentuh daguku dan membuatku menatapnya.
"Maaf" lirihku setelah beberapa detik.
"Aku maafkan" Balas mas Bima tersenyum penuh kemenangan.
Ah, kenapa aku jadi merasa mas Bima sudah mengerjaiku.
"Aku mencintaimu, Arimbi selamanya, aku mencintaimu"
"Sungguh?"
"Apa ada dusta di mataku?"
Aku menggeleng untuk menyangkalnya.
"Padahal kita sudah lebih dekat dari pada ini loh, Bi" tiba-tiba mas Bima menyusupkan tangan ke dalam piyama di balik punggungku.
Melepas kaitan pakaian dalamku, lalu membuat getaran dengan jarinya yang memantik sesuatu dalam diriku.
Ah.. Kenapa aku menginginkan yang lebih dari ini.
"Kamu sudah mendapatkan semuanya dariku, aku tidak pernah main-main dengan cinta. Aku memang sangat sulit untuk jatuh cinta, tapi kalau sudah mencintai, aku akan setia selamanya"
"Maaf" Sesalku dengan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Sekali lagi aku menyadari kalau aku memang tidak akan pernah bisa menang melawannya.
"Apa perhatian, serta sikapku kurang meyakinkanmu kalau aku benar-benar mencintaimu?"
"Tidak, hanya saja aku ingin dengar mas bilang cinta ke aku"
"I love you" Sahutnya ringan, seperti tanpa beban.
Aku tersenyum, kali ini tak mampu lagi untuk berkata. Memang, aku sering mendapatkan pernyataan cinta dari seorang pria, tapi pria itu bukan pria yang ku cintai. Dan pernyataan cinta mas Bima ini, sungguh membuat hatiku berbunga-bunga.
"Untung saja aku mencintaimu, Bi. Kalau tidak, aku pasti sudah menembakmu"
"Tapi bukankah mas sendiri yang memintaku untuk mengutarakan apa yang ada dalam hati dan pikiranku"
"Iya, dan itu bagus. Lain kali jangan sungkan untuk memberi tahu suamimu apa yang mengusik hatimu, karena suamimu ini tidak mau istrinya terbebani oleh asumsi-asumsi yang membuat pikirannya menjadi tidak tenang, faham?"
"Faham!"
"Sekarang katakan, ngapain Hana menemuimu?"
"Dia bilang seandainya dia memenangkan hak asuh Lala, mas akan mengusirku dari rumah karena sudah tidak ada alasan untuk mas mempertahankanku di rumah ini"
"Dan kamu percaya?"
Sebelum menjawab, aku memberanikan diri untuk mengalungkan lengan di leher mas Bima lalu menempelkan keningku di keningnya.
"Enggak" Lirihku berbisik.
"Kamu harus bahagia, Bi! Jangan simpan bebanmu sendirian. Ngerti ya!"
"Iya, sayang" Sedikit merunduk, tanpa malu aku mencium pipi kiri mas Bima lalu bergeser hingga ke bibir.
Aku melu*matnya sampai-sampai pria hebatku ini kehabisan nafas. Mengurai sejenak, lalu kembali menciumnya.
Satu tanganku berpindah menyentuh batang lehernya, sementara bibirku masih memberikan sesapan-sesapan lembut yang ku yakini membuat salah satu bagian tubuh kami menegang.
Bersambung dulu lanjut besok lagi.
__ADS_1