Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 88 ~


__ADS_3

Aku berjongkok, memungut amplop berwarna putih.


Tak sabar, aku lantas membukanya sembari berdiri.


Tanganku bergetar selagi membuka lipatan kertas berisi beberapa bait kalimat.


Kamu ingin tahu siapa aku?


Okay, dari pada kamu menerka-nerka sendiri seperti kebiasaanmu selama dua tahun ini, Baiklah akan ku beritahu.


Kluenya ...


Aku selalu ada di dekatmu, Aku yang pernah tak menyukaimu bahkan sampai detik ini, dan aku pula yang mengirim makanan beracun untukmu.


Klue yang terakhir adalah aroma parfum yang ada di bunga mawar merah depan pintu gerbangmu.


Penasaran?


Ayo ambilah mawarnya, kamu hirup dalam-dalam, nanti kamu akan tahu siapa pemilik aroma parfum itu.


Dan aku yakin kamu akan terkejut mengetahui kenyataan pahit ini.


Dari penggemarmu, sampai maut memisahkan.


"A-astaghfirullah! Siapa dia sebenarnya?"


Menggigit bibir bawah bagian dalam, reflek aku melempar pandangan ke arah pintu gerbang.


"Selalu ada di dekatku? Siapa?"


"Pernah tak menyukaiku sampai detik ini? A-apa mas Bima?"


Aku menggelengkan kepala dengan raut yang jelas menyiratkan ketidakpercayaan.


"Enggak, bukan mas Bima ... Mana mungkin suamiku sendiri "


"Tapi ... bukankah hanya dia yang tahu kebiasaanku menerka-nerka atau menebak-nebak sesuatu?"


"M-mas Bima ingin aku mati?"


"Tidak mungkin, dia mencintaiku, aku sedang hamil anaknya" Segera ku sangkal pikiran buruk yang menyerangku.


"Mawar merah, aku harus tahu siapa pemilik parfum yang ada di mawar itu"


Masih sambil bermonolog, aku berjalan beberapa langkah kemudian membuka pintu gerbang berbahan besi.


"Hanya mas Bima yang tahu aku selalu mengambil cuti bersamaan dengan liburan Lala"


"Apa mas Bima mengkhianatiku, dia mendustakan cintanya?"


Tepat ketika pintu sudah terbuka, Kedua mataku langsung menangkap buket bunga mawar yang tergeletak di tanah.


"B-bunga mawar?" Dengan setengah mati aku menelan ludahku sendiri, tanganku sedari tadi bergerak mengusap dahi serta leher yang di penuhi butiran keringat sebiji jagung. Mataku juga mengedar ke penjuru arah, berharap menemukan sosok yang mengirim ini.


Pelan, ku ulurkan tanganku meraih bunga yang tampak begitu indah, ku cermati lekat-lekat tampilan yang terdiri dari beberapa tangkai. Ketika bunga ini hendak ku dekatkan ke hidung untuk ku hirup, entah dari arah mana datangnya, mas Bima tahu-tahu merebut buket itu dari tanganku kemudian melempar jauh dari jangkauan kami. Pandanganku otomatis mengikuti kemana arah bunga itu terlempar dan jatuh ke tanah.


Satu detik, dua detik, hingga tepat di tiga detik, bunga itu tiba-tiba meledak.


Aku menjerit bersamaan dengan bunyi ledakan itu. Ringan, tapi cukup mematikan. Tak terbayang jika bunga itu meledak tepat di depan wajahku.


Sementara jantungku, sepersekian detik mencelos seperti akan runtuh, kaki dan tanganku juga gemetar dan lemas secara bersamaan, bahkan untuk menopang tubuhku saja aku tak mampu.


Sekian detik kemudian, saking paniknya karena tak bisa mengontrol detak jantung, gemetar di tangan dan kaki, serta keringat dingin, tubuhku ambruk dan langsung di tangkap oleh mas Bima.


Dia lantas memanggil namaku seraya menepuk-nepuk salah satu bagian pipiku.


"M-mas" Gumamku lemah.


Mas Bima terus memanggilku, tapi lambat laun suara panggilannya justru terdengar kian samar. Pandanganku perlahanpun mengabur, sementara pikiranku terombang ambing dan alam bawah sadar tahu-tahu mengambil alih logikaku.


***

__ADS_1


"Bangun Bi" Suara mas Bima kembali bisa ku dengar ketika aku merasakan panas dan bau minyak kayu putih yang menusuk hidung.


"Arimbi" Dan ini suara mami memanggil. Perlahan mataku terbuka, aku langsung menangkap wajah mas Bima yang tampak cemas.


"Astaghfirullah" Aku yang tahu-tahu sudah tidur di sofa langsung terduduk dengan raut panik lalu memeluk mas Bima ketika teringat sesuatu.


"O-orang itu datang lagi mas"


"Iya, Bi.. Aku tahu, aku lihat dia melempar sesuatu lewat celah di bawah pintu gerbang terus naruh bunga di tanah"


"Mas tahu?" tanyaku sedikit terkejut.


Ku rasakan mas Bima mengangguk dalam pelukan.


"Papi sudah datang, mami buka gerbang dulu ya" Sela mami menginterupsi kami. Spontan aku melepas pelukan kami.


"Minum dulu, Bi" mbak Za lantas menyodorkan gelas.


Bukan aku yang menerimanya, melainkan mas Bima. Dia lalu mendekatkan gelas itu ke mulutku.


"Minum dulu ya!"


Aku menurut, meneguk pelan-pelan sambil mengulas kejadian beberapa menit lalu.


"Assalamu'alaikum!" Suara salam dari papi mendadak ku dengar dan kami menjawabnya kompak. Beliau berjalan sambil menggandeng tangan mami memasuki ruang tamu.


"Kamu nggak apa-apa nak?" tanya papi dengan sorot panik.


"Nggak apa-apa pi"


Papi duduk kemudian bertanya. "Siapa lagi ini Bim?"


"Melihat ancaman yang tertulis di kertas itu, pelakunya pasti orang yang sama pi"


"Iya tapi siapa?" Papi seperti menahan geram dengan kilat yang amat tajam.


"Belum tahu, pi"


"Dia menutupi wajahnya mi, dan polisi kesulitan mencari identitasnya"


"Ya setidaknya ada jejak yang di tinggalkan, kan?"


"Apa kalian mengira aku ini bodoh, atau nggak becus mencari pelakunya? Kalian ini bukan Lala yang harus di kasih tahu berulang kali" Dari nada bicara mas Bima, dia sepertinya tengah menahan emosi.


"Kalian tahu kan, wanita yang mengaku teman Arimbi ke ibu, dia menutupi wajahnya, nomor ponsel yang di pakai untuk membatalkan pesanan ibu adalah privat number. Terus kurir yang mengantar makanan itu juga menutupi wajahnya menggunakan masker dan helm. Ada lagi nomor kendaraan motor buatan si pelaku sendiri yang otomatis tidak terdaftar di kepolisian, bagaimana bisa aku mencari orang yang tidak ku ketahui wajah serta identitasnya?"


"Bagaimana aku bisa tahu kalau setiap apa yang ku selidiki dari awal tapi ujung-ujungnya orang itu tidak bisa terdeteksi?"


"Polisi juga kesulitan karena tidak di ketahui seperti apa wajah pelaku itu. Andai saja ibu tahu kalau wanita itu hanya mengaku-ngaku teman Arimbi, maka ibu nggak akan percaya, andai mas Jim yang menerima surat dari kantor Arimbi tapi ternyata surat itu palsu, mas Jim pasti akan langsung menangkap orang yang mengantar surat itu. Lagi, andai satpam di kantor Arimbi tahu tujuan orang yang mencari tahu tentang Arimbi adalah untuk merencanakan kejahatan, pasti satpam itu juga akan mencekalnya. Tapi seperti yang kalian tahu, mereka menyembunyikan wajah di balik penutup wajah. Dan terakhir ini" Kemudian ucap mas Bima dengan panjang lebar. "Surat ini" tambahnya kali ini meraih kertas di atas meja. "Orang itu tahu kalau di tanggal merah mas Jim libur, dengan leluasa dia melempar amplop melalui bawah gerbang dan meletakkan bunga di depan gerbang"


"Dari mana kamu tahu ada orang yang menyelipkan surat dan menaruh bunga, Bim" tanya papi.


"Dari cctv, pi. Tadi pas lagi istirahat saat latihan menembak, aku iseng buka cctv yang terhubung ke ponsel. Dan aku bergegas pulang ketika melihat orang itu"


"Terus kamu tahu bunga itu ada bahan peledaknya?" cecar papi, seakan mewakili pertanyaanku.


"Nggak tahu pi, cuma feeling aja. Yakin kalau bunga itu pasti ada sesuatunya. Entah obat bius, atau racun, tapi ternyata bahan peledak. Walaupun peledak ringan, tapi jika meledak tepat di depan wajah sudah pasti akan membuat kita cidera"


"Astaghfirullah" Desis mami setelah mendengar penjelasan mas Bima.


"Awas saja kalau ku temukan siapa pelakunya, akan ku hajar sebelum ku serahkan ke kantor polisi"


"Sudah mas" aku berusaha menenangkannya, mengusap lembut lengan mas Bima agar sedikit menurunkan emosinya.


"Aku jujur bingung Bi! Orang yang tadi naruh bunga juga menutupi wajahnya dengan masker, kacamata hitam dan topi"


Mas Bima menatapku dengan sorot sendu sekaligus frustasi, namun hanya beberapa detik, karena setelah itu, dia melempar tatapannya ke arah papi.


"Aku tahu pelakunya pi, tapi aku belum memiliki bukti untuk menyeretnya ke kantor polisi"


"Siapa Bim?" tanya papi dan mbak Za kompak.

__ADS_1


"Gesya. Hanya dia yang terang-terangan mengancam Arimbi"


"Apa Arimbi punya bukti ancamannya?" tanya Papi yang kini menatapku serius.


"Nggak pih" jawabku singkat.


"Kalau saja saat dia mengancam, Arimbi merekamnya, tapi satu rekaman yang pernah Arimbi rekam hanya pembicaraan yang nggak ada hubungannya dengan kriminalitas"


"Ini nggak bisa di biarkan, papi akan mengurus semuanya, papi akan suruh orang buat mencurigai gerak-gerik mantan iparmu itu"


"Benar pi, ini sudah ke tiga kalinya, yang kesekian kali kita harus tahu siapa dia" Ucap Mami.


Lalu kami semua terdiam. Hingga beberapa menit, mas Bima meraih ponsel di saku celananya kemudian menghubungi seseorang.


"Halo" Tak ku duga ternyata mas Bima mengeraskan suaranya, aku, mbak Za, serta papi mami otomatis juga mendengar suara seseorang di balik telfon.


"Apalagi yang kamu rencanakan, Gey?" tanya mas Bima dingin.


"Jadi mas sudah membuka blokiranku" Bukannya menjawab, wanita itu malah bertanya balik.


"Kamu pikir aku nggak tahu siapa yang mengancam istriku?"


"Apa maksud kamu, mas? Mengancam apa?"


"Kepura-puraanmu nggak mempan di depanku"


"Kepura-puraan apa?" Gesya seolah-olah bersikap seperti orang yang nggak tahu apa-apa. Atau dia memang tidak tahu apapun. Ah entahlah..


"Kamu kan, yang meneror Arimbi selama ini? Hanya kamu yang tidak suka dengan pernikahanku dan Arimbi, hanya kamu satu-satunya orang yang mengancamnya, kamu tahu Arimbi hamil sebelum kami mengumumkannya, dan kamu juga tahu kalau Arimbi selalu mendapat surat konfirmasi jika dia mengajukan cuti. Aku pernah memergokimu diam-diam membaca surat konfirmasinya"


"Jangan sembarangan menuduh, itu bisa jadi fitnah dan mas, bisa ku pidanakan"


"Halah nggak usah mengelak"


"Nggak mengelak gimana? Mas menuduhku dengan sesuatu yang nggak pernah aku lakukan"


"Bul**sit" sahut mas Bima masih dengan nada dingin dan wajah datarnya. "Aku pasti akan menangkapmu, Gesya. Kamu bisa lolos dan berhasil dengan rencanamu sekarang, tapi pasti akan ada saatnya rencana busukmu terbongkar"


"Hey mas Bima! Aku memang nggak menyukai Arimbi, karena dia sudah merebut hati Lala dariku dan mbak Hana. Tapi ingat, tidak hanya aku yang membencinya. Bisa saja Yoga, yang dendam karena sudah mas penjarakan, atau bisa juga mbak Hana yang marah dengan Arimbi karena sudah membuat Lala melupakan ibu kandungnya"


"Jangan asal bicara kamu, istriku nggak pernah berniat memenjauhkan Lala dari Hana"


"Dan jangan menuduhku kalau tak ada bukti" Sambarnya santai. "Ah sudahlah, aku nggak ada waktu, aku lagi main-main sama Lala. Makasih loh ya, sudah ijinin Lala tinggal sama mbak Hana, dia betah disini, katanya tempatnya indah"


"Bye" Pamitnya yang kemudian langsung menutup panggilannya secara sepihak.


"Yakin dia, Bim?" tanya mami mengerutkan dahi.


"Seratus persen yakin!"


Selang sekian detik, mas Bima bangkit dari duduknya.


"Mau kemana mas?" tanyaku penasaran.


"Menemui Rosa" jawabnya sambil terus berlalu keluar dari ruang tamu.


Bersambung...


Gimana kondisi Lala?


Next part ke dia yuk...


Yang masih penasaran dengan endingnya, hayuk kita lanjut sama-sama.


Jangan lupa vomentnya...


Ratenya juga...


Regard...


Ane

__ADS_1


__ADS_2