
Kondisi Lala sudah membaik seratus persen pasca tiga hari keluar dari rumah sakit. Dia tak lagi mengeluh pusing ataupun lemas, nafsu makannya juga sudah kembali lahap, serta sudah beraktivitas meski belum sepenuhnya normal.
Aku yang menemani dan merawatnya, benar-benar harus mengontrol aktivitas Lala selagi masa pemulihan beberapa hari lalu.
Tepat di hari ke lima ini, Lala sudah kembali riang, wajahnya sudah tak lagi kuyu, serta senyum cemerlangnya selalu terbit setiap kali sang opa melucu.
Sedangkan aku yang sempat sakit pun sudah sembuh. Hanya saja rasa mual terutama di pagi hari masih terus bergelayut. Aku maklum karena memang wanita hamil pada umumnya mengalami morning sickness.
Nah, karena mas Bima terus saja memintaku untuk segera pulang, kami yang baru bisa menikmati liburan satu hari di hari kemarin, akhirnya membatalkan jadwal bepergian ke Universal di hari ini.
Dan kami akan kembali ke Indonesia pada siang nanti.
"Ayah katanya mau jemput, kok belum sampai bun?" Lala yang tengah membantuku mengemasi pakaian, sedikit banyak tanya tentang apa saja.
"Ayah jemputnya nanti di bandara yang dekat rumahnya Lala"
"Nggak jemput ke sini?"
"Enggak nak"
"Kenapa?" Anak ini mengerjap.
"Mungkin ayah bosan soalnya sering naik pesawat, jadinya nggak jemput ke sini"
"Lala juga nggak suka naik pesawat" Celetuknya sambil meletakkan baju yang sudah ku lipat ke dalam koper.
"Bunda juga" balasku.
"Bunda juga nggak suka?"
"Hem" Bibirku terkatup, sementara kedua alisku terangkat. Tentu aku sedikit was-was menaiki pesawat dalam keadaan hamil, apalagi ketika pesawat landing, benar-benar masa-masa kritis saat penerbangan. Membayangkan kemarin saat landing di bandara Changi, aku sampai mengedikkan bahu sekaligus menggelengkan kepala ngeri. Untung saja ada mas Bima. Tapi nanti saat mendarat di Juanda, tangan siapa yang ku pegang?
Lala??
Aku berdecak dalam hati, kemudian berdoa agar semuanya lancar dan selamat sampai rumah.
"Bunda nggak suka kenapa?" tanya Lala memecah lamunanku.
"Bunda takut, La"
"Sama, Lala juga" Ekspresi Lala saat mengatakan itu membuatku gemas, aku lantas menarik tangannya lalu ku tangkup wajahnya dan ku kecupi pipinya bertubi-tubi.
Tawa Lala terus menggelegar ketika aku melakukannya.
"Bunda love you, nak"
"Lala juga" balasnya sesaat setelah tawanya reda. "Lala sayang bunda, nggak mau lama-lama enggak lihat bunda"
Aku tersenyum sendu, mencoba mengulang ucapan Lala dalam hati.
"Kalau nggak lihat bunda memangnya kenapa, La?" tanyaku pelan, dengan sorot tak lepas dari wajah Lala.
__ADS_1
"Lala takut bunda pergi"
"Kan ada ayah!"
"Tapi kalau ayahnya kerja nggak pulang lama-lama, gimana?"
Aku terdiam, membayangkan saat mbak Hana meninggalkan Lala dan sebelum ada aku hingga usia Lala dua tahun, Lala kerap sekali di titipkan pada papi dan mami kalau mas Bima ada tugas di luar kota hingga berbulan-bulan.
Kelopak mataku tiba-tiba menghangat, ada genangan air mata yang mulai memenuhi sepasang mataku. Tepat ketika aku mengerjap, setetes air mataku jatuh membasahi pipi.
Cepat Lala mengusapnya dengan raut agak cemas.
"Bunda nangis kenapa, apa tadi Lala salah ngomong, jadinya bunda sedih?"
"Enggak nak, bunda bangga punya anak kayak Lala"
"Janji ya bun, bunda jangan pergi, jangan kasihkan Lala ke mama Hana, bunda jangan tinggalin Lala. Lala takut kalau nggak ada bunda"
"Hemm" Aku menggangguk dengan bibir bergetar kemudian membawa Lala ke pelukanku.
****
"Ayaahhhh!" Lala berteriak membuatku, papi serta mami melengos ke wajahnya. Sedetik kemudian, pandangan kami mengikuti kemana arah pandangan Lala jatuh.
Ternyata begitu keluar dari area boarding pass, sepasang mata Lala menangkap mas Bima yang tengah berdiri sambil melambaikan tangan di batas tempat penjemputan.
Pria itu masih mengenakan pakaian dinasnya, itu artinya dari Lanud mas Bima langsung ke sini dan belum pulang ke rumah. Tak hanya mas Bima, di sampingnya juga ada pak Agus, sopirnya papi.
Mungkin Lala begitu senang bertemu ayahnya setelah beberapa hari tak berjumpa. Kerinduannya tak terbendung sama sepertiku yang juga merindukan belaian mas Bima.
Ku lihat pria itu berjongkok, dengan bertumpu pada salah satu lututnya. Kedua tangannya terlentang sementara senyum mas Bima terkembang begitu lebar.
"Ayah! Lala kangen ayah!" seru Lala ketika keduanya sudah berpelukan, dan mas Bima mengecup pipi serta kening putrinya setelah pelukan mereka terurai.
"Ayah juga kangen sama Lala"
"Ayah ganteng hari ini" Seloroh Lala yang membuat tawa kami seketika pecah. Aku dan mertuaku yang juga sudah berada di antara mereka kompak menggelengkan kepala melihat Lala menggoda ayahnya.
"Lala senang lihat wajah ayah yang ada senyumnya kayak gini, Lala suka" Candanya lagi.
Mas Bima melebarkan senyum kikuk mendapat godaan dari putrinya. Dia kembali menciumi pipi Lala dengan gemas, sebelum kemudian berdiri dan mengulurkan tangan untuk mengecup punggung tangan orang tuanya. Setelahnya, giliranku mengecup punggung tangan mas Bima.
"Yakin, Lala nggak ikut ke rumah opa? Masih ada libur tiga hari lagi loh" tawar papi Rio.
"Enggak, Lala udah kangen bobo sama ayah bunda, udah nggak sabar pengin bobo di kamarnya ayah"
Papi dan mami tersenyum merespon Lala.
Kami berpisah setelah berbasa-basi sejenak, kemudian sama-sama melangkahkan kaki menuju mobil masing-masing.
Aku yang sudah menempatkan diri duduk di kursi depan sebelah kemudi, mendengar suara ponselku berdering. Tanda pesan masuk, tapi aku tak langsung membukanya sebab lebih memilih mendengar mas Bima bersuara.
__ADS_1
"Kita pulang ke rumah, mandi, setelah itu ayah mau ajak bunda sama Lala makan di luar"
"Makan di luar yah?" Tanya Lala memastikan.
"Iya" jawab mas Bima memutar roda kemudi ke arah kiri.
"Yeyyy, udah lama Lala nggak makan di luar. Makan di restauran bu dhe Jennaira ya yah"
"Di restaurannya budhe Jennaira?"
"Iya, Lala kangen sama mas Lentera, Lala senang lihat senyumnya"
"Memangnya kenapa dengan senyumnya mas Lentera, La" tanyaku menengok ke belakang.
"Pipinya masuk ke dalam jadinya suka"
"Tapi kalau pas mas Teranya nggak ada di resto gimana?" tanya mas Bima sambil fokus mengemudi.
"Ayah telfon dulu, suruh mas Tera ke restoran, bisa kan?"
"Okay, bisa! Kita makan di restorannya Budhe Jen"
Lentera, adalah anak ketiganya mbak Jenaira Anak dari pak dhe Haidar, kakaknya bunda Nina. Jadi mbak Jen adalah kakak sepupunya mas Ken.
Lentera yang memiliki lesung pipi di salah satu pipinya, kadang-kadang Lala suka iseng menyentuh lesung itu.
Suasana hening, Lala diam sambil melihat-lihat jalanan melalui kaca jendela, mas Bima masih tetap fokus dengan roda kemudinya.
Aku sendiri teringat dengan ponselku yang tadi sempat bergetar.
Meraihnya dari dalam tas, keningku mengerut saat nama Gesya terpampang di layar pop up sebagai pengirim pesan.
Gesya : "Lala sudah kembali ke Indonesia ya, Bi? Boleh aku main ke rumah? Aku mau minta maaf sama Lala, sekalian pengin menjalin hubungan baik dengan kamu" (16:30) Wib.
"Siapa?" tanya mas Bima melihatku termenung.
Aku menoleh ke kanan. "Gesya kirim pesan"
"Mau apa dia?" tanyanya menatap lurus ke depan.
"Dia bilang mau main ke rumah, katanya mau minta maaf ke Lala sekalian mau berteman denganku"
"Benar-benar nggak tahu malu ya, dia! Setelah menerormu, tanpa merasa bersalah dia mengajakmu berteman"
"Memangnya sudah jelas pelakunya Gesya? Mas punya buktinya?"
"Meski aku nggak punya buktinya, Bi" Mas Bima melirik spion luar di samping kanannya sekilas. "Tapi aku yakin dia pelakunya"
"Jangan menuduh tanpa bukti"
"Entah kapan, tuduhanku yang tanpa bukti ini pasti terbukti dengan sendirinya"
__ADS_1
Seakan mas Bima sangat yakin kalau Gesya pelakunya. Aku terdiam, ikut berspekulasi tentang Gesya, apalagi setelah dia mengirim pesan dan ingin menjalin hubungan baik denganku.