
Aku menahan napas. Sementara sepasang tanganku saling bertaut di bawah meja.
Masih dengan menahan geram, ku balas tatapannya yang setajam samurai.
"Jangan mentang-mentang mas Bima sudah menyentuhmu, lantas kamu bisa berbangga hati di depanku" Ucapnya sarkas.
"Kamu nggak tahu kalau selama ini mas Bima melakukan semuanya hanya demi Lala serta orang tuanya"
"Maaf kalau pertanyaanku ini terdengar lancang" Meski hatiku dongkol, tapi aku berusaha untuk menjaga kesopanan. Mengingat ini di tempat umum, dan aku mengenakan atribut ASN, aku tidak boleh terpancing emosi yang justru akan membuat keributan "Apa kamu sangat terobsesi dengan suami saya?"
"Apa aku salah menyukai mas Bima? Asal kamu tahu, sebelum kamu datang ke dalam hidup mas Bima dan juga Lala, hubunganku dengan mereka baik-baik saja, tapi setelah kamu datang, kamu merebut segalanya dariku"
"Merebut? Bukankah kamu yang berniat merebut suami saya? Seharusnya kamu paham, kalau terobsesi pada suami orang itu salah"
"Suami yang tidak memiliki perasaan apapun, hanya terikat oleh perjanjian pernikahan yang di rencanakan orang tua mas Bima, bukan atas keinginannya sendiri"
"Waktu bisa merubah segalanya, Gesya"
Wanita di depanku tersenyum mengejek. "Setelah dua tahun?"
"Karena aku butuh waktu dua tahun untuk mengobati luka di hati mas Bima" Potongku cepat. "Butuh dua tahun pula untuk mendapat kepercayaannya setelah di khianati oleh seorang wanita yaitu kakakmu"
__ADS_1
"Jangan bawa-bawa kakakku"
"Kalau begitu jangan bawa-bawa Lala. Apalagi mengatakan kalau semua demi Lala. Mas Bima tidak seperti itu" Pungkasku menahan diri.
"Apa ada bukti kalau mas Bima menyentuhmu karena benar-benar tulus?"
Mendengar kalimat Gesya, diam-diam aku meraih ponselku dari dalam tas. Aku ingin merekam semua ucapan wanita yang menampilkan gurat kebencian dan amarah.
"Jangan terlalu percaya melebihi batasan, dan jangan merasa kamu sudah memiliki mas Bima seutuhnya" ujarnya dengan nada sinis.
"Melebihi batasan? Apa aku salah mempercayai suami saya?"
"Hanya karena sudah di sentuh oleh mas Bima, kepercayaan dirimu meningkat? Dan perlu kamu ingat, jangan pernah berfikir kalau lelaki bisa hidup hanya dengan satu wanita. Mereka tidak akan pernah bisa berkutik jika sudah berada di atas ranjang, mereka tidak peduli siapa pemilik ranjang itu"
"Jaga ucapanmu, Gesya" Geramku dengan penuh penekanan.
Wanita di hadapanku ini justru menampilkan senyum miring yang seakan meremehkanku, bahkan terkesan merendahkanku.
"Satu pelajaran untukmu" kataku membalas lebih tajam tatapannya.
"Aku tidak khawatir tentang ucapanmu itu, karena apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku, dan aku juga tidak khawatir dengan apa yang akan hilang dariku, karena apapun yang bukan milikku, sekeras apapun aku berusaha mempertahankannya tetap sesuatu itu akan hilang dari hidupku. Begitupun denganmu, jika mas Bima bukan milikmu, sekuat apapun kamu menariknya, dia tidak akan pernah bisa menjadi milikmu"
__ADS_1
"Oh, ya?" Balasnya dengan santai.
"Jangan pernah memintaku untuk menemuimu, karena aku sudah muak berurusan denganmu" Aku berusaha melakukan konfrontasi yang bagiku sangat frontal. "Satu lagi, jangan pernah menceritakan masa lalu suamiku di depan putrinya. Mau bagaimana kamu meracuni Lala, dia tidak akan merubah keputusannya apalagi sampai berpaling dariku, tidak akan pernah bisa"
"Ingat Arimbi, kita masih terlibat urusan mengenai Lala, dan sampai kapanpun aku akan tetap memperjuangkan keponakanku agar bisa tinggal bersama ibu kandungnya"
"Okay, sampai ketemu di pengadilan!" Aku bangkit seraya menahan diri yang kemungkinan sebentar lagi akan meledak.
"Permisi"
Ketika aku hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba dia bersuara.
"Wanita sepertiku tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang ku inginkan"
Tak ingin meresponnya, aku memilih pergi dan beranjak dari hadapannya.
Bersambung
Naikin lagi perfomanya yuk...
Vomentnya jangan lupa...
__ADS_1