Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 42 ~


__ADS_3

"Lukamu perlu di obati, Bi!"


Aku melepas lingkaran tanganku di pinggang mas Bima, lalu mengusap pipiku yang basah.


Dalam pelukannya tadi, aku membayangkan betapa buasnya pria itu, aku tak tahu apa jadinya jika mas Bima tidak datang tepat waktu.


Tapi di sisi lainnya, aku bersyukur sebab Lala tak harus menyaksikan adegan mencengangkan sekitar satu jam yang lalu. Jika anak gadisku melihat, aku yakin dia akan lebih trauma dariku, karena selama ini aku dan Lala hidup di lingkungan yang jauh dari penyiksaan. Meski sikap mas Bima tak menyenangkan padaku, tapi selama tinggal bersama di rumahnya, pria yang masih menghuni hatiku ini sama sekali tak melempar pukulan atau kekerasan lain terhadapku.


Hanya batinku yang tersiksa, akan tetapi putrinya selalu bisa menyembuhkan luka yang ayahnya torehkan, sementara aku ikhlas dengan semua itu.


Pepatah yang mengatakan kalau cinta mampu membungkam logika itu memang benar. Logikaku tertutup oleh rasa cintaku pada mas Bima.


Tangan mas Bima yang tiba-tiba mengangkat daguku untuk di arahkan ke tatapannya, membuatku tersadar bahwa aku baru saja larut dalam pikiranku sendiri.


"Lupakan kejadian tadi, singkirkan jauh-jauh dari ingatanmu, mengerti"


Aku meresponnya dengan kerjapan mata serta anggukan kecil.


"Obatin lukamu dulu ya"


Kedua kali aku mengangguk, dan mas Bima langsung mengecup keningku.


Mas Bima lebih dulu bangun, kemudian membantuku bangkit dan menata bantal di belakangku agar aku lebih nyaman bersandar pada headboard.


"Tunggu ya, aku ambil kotak P3K dulu"


"Iya" Aku membenarkan bajuku yang sedikit berantakan.


Ketika mas Bima berjalan keluar kamar, aku mengumpulkan helaian rambutku menjadi satu kemudian menggulungnya.


Menit berlalu, mas Bima kembali dengan membawa nampan berisi segelas air dan kotak kecil berisi alat-alat P3K.


Pria itu duduk di tepian ranjang dengan posisi menyamping menghadapku.


"Minum dulu!" Perintahnya, ia membantu mendekatkan gelas pada mulutku.


Sekian detik berlalu, aku merintih pelan ketika dinginnya alkohol menyentuh luka di sudut bibir. Sementara mas Bima terus saja menekan kapas tepat pada luka akibat tamparan keras dari pria itu.


"Untung mas cepat pulang" Kataku pelan sebab ada perih yang ku rasakan. "Kalau mas sampai telat, entah kekacauan apa yang terjadi padaku"


"Sstt.. Sudah ku bilang, lupakan kejadian itu"


"Tapi bagaimana mas Bisa pulang secepat ini?"


"Cepat apanya, Bi? Ini termasuk lama bagiku karena tadi sempat ada macet pas menuju ke rumah mami. Andai tadi aku nggak mampir dulu ke masjid dekat rumah untuk sholat maghrib, mungkin kamu nggak sampai di tampar begini"


"Mas kenapa bisa tahu kalau ini luka tamparan?" tanyaku mengernyit heran.


"Tadi pas melewati masjid dekat rumah kita, aku mendengar iqomah, aku memutuskan singgah dulu buat sholat maghrib, biar sampai rumah bisa langsung ngerjain istri, jahilin istri sampai mukanya merah"


"Mas" lirihku mencebik. Aku tahu dia tengah menggodaku, berusaha membuatku tersenyum pasca aku ketakutan.


"Terus" ujarnya yang kali ini membuka kancing bajuku bagian atas, lalu mengusap lembut kapas yang di basahi dengan alkohol pada luka cakar. "Selesai sholat, aku pengin cek kondisi rumah sekalian lihat cewek cantik, tapi pas aku buka ponsel buat cek CCTV, aku melihatmu berlari dan di susul oleh seorang pria, awalnya aku nggak tahu siapa pria yang sudah menarik hijabmu lalu mendorongmu hingga jatuh, tapi saat camera berotasi mengelilingi ruangan, di situ aku tahu pria brengsek itu adalah Yoga, aku langsung pulang ketika melihat dia menamparmu hingga dua kali sekaligus" Terangnya panjang lebar.


"Mana lagi yang sakit?"


Aku menunjukkan pergelangan tanganku yang juga sedikit terluka karena cengkraman dari kukunya.


"Ya ampun!" Desis mas Bima kemudian langsung menuangkan cairan antiseptic ke kapas baru. "Bekas empat kuku, Bi?" Pria di depanku menggelengkan kepalanya. "Sekuat apa dia mencengkrammu?"


"Mas juga pernah mencengkram tanganku seperti ini, meski nggak sekuat itu, tapi cukup meninggalkan bekas merah"


"Maaf" Sesal mas Bima penuh rasa bersalah.


"Nggak apa-apa. Aku ikhlas"


Tetap fokus, mas Bima terus mengobati luka di pergelangan tanganku.


"Sudah" Katanya setelah beberapa menit berlalu.


Mas Bima lantas menatapku dengan sorot penyesalan yang mendalam. "Maaf ya, gara-gara aku, kamu harus mengalami ini"


"Nggak apa-apa, aku sayang sama Lala, jadi aku ikhlas apapun yang mas lakukan padaku"


Mungkin saja mas Bima berfikir jika dia menerimaku sejak awal, aku tak perlu di hina seperti itu oleh Yoga.


"Sebesar apa sayangmu pada Lala?" Mas Bima melipat salah satu kakinya untuk ia daratkan di atas kasur.

__ADS_1


"Nggak terukur" jawabku asal. Memang begitu kenyataannya, aku tak tahu sebesar apa rasa sayangku pada Lala.


"Bukan karena Lala adalah putri dari pria yang kamu cintai sejak kamu masih di Madrasah?"


Keningku membentuk lipatan begitu mendengar kalimat mas Bima.


"Mas tahu?"


"Mami yang crita"


Lalu hening. Mas Bima hanya menatapku penuh intens. Ketika tatapannya kian dalam, aku menunduk sebab tak kuat jika harus beradu pandang begitu lamanya.


"Pilih aku atau Lala?"


Aku yang tadi menunduk langsung mengangkat pandangan, mencari tahu maksud dari pilihan mas Bima.


"Apa maksud mas?"


"Lebih pilih pisah dengan pria yang kamu cintai, atau pisah dengan anak dari pria yang kamu cintai?"


Pertanyaan sederhana, tapi terlalu rumit untukku jawab.


"Bi?" panggil mas Bima ketika aku terus mengunci rapat mulutku.


"Katakan, kamu lebih pilih aku, atau Lala"


"Aku nggak bisa pilih, kalian sama-sama berharga dalam hidupku" Lirih, sangat lirih, sembari kembali menunduk menatap jari jemariku yang tiba-tiba ku mainkan dengan gugup.


Mas Bima mengangkat daguku.


"Harus pilih salah satu, siapa yang akan kamu pilih? Lala, atau aku?"


Menelan ludah, aku menatap bola mata mas Bima yang bagiku sangat menakutkan. Kilat mata yang sama sekali tak ingin ku lihat.


"Hmm?" Pria itu dengan tegas mengangkat dagu serta alisnya secara bersamaan. "Pilih pisah denganku dan hidup dengan Lala, atau pisah dengan Lala dan hidup denganku?"


"Pisah dengan mas, dan hidup dengan Lala" Sahutku sesuai dengan kata hatiku.


"Kenapa?" Tanya mas Bima masih menatapku tajam.


"Rasa sayang dan cintaku pada Lala, jauh lebih besar daripada rasa cintaku pada mas, jika aku mau" Aku menjeda ucapanku untuk diriku sendiri.


Mas Bima menarik napas dalam-dalam, kemudian menarikku ke dalam pelukannya.


"Siapapun itu, aku tidak akan membiarkan mereka memisahkan kalian, meski itu ibu kandung Lala sendiri"


"Aku, kamu, dan juga Lala, akan tetap bersama sampai kapanpun. Aku bisa jamin itu"


Dia mengatakannya masih dalam posisi saling berpelukan. Mas Bima yang tadi memelukku lebih dulu, dia melingkarkan tanganku di pinggangnya saat aku tak kunjung membalas pelukannya.


"Mulai sekarang kita akan hidup seperti pasangan suami istri di luar sana. Pernikahanmu, akan bahagia seperti pernikahan mbak Za dan juga mbak Kanes"


Aku mengeratkan pelukan sebagai respon atas perkataannya.


"Aku belum mandi, mas" kataku setelah berpuluh-puluh menit kami saling melampiaskan rasa. Rasa yang aku sendiri tak tahu rasa apa itu.


Setelah mengurai pelukannya, tanpa aba-aba mas Bima mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar mandi.


Dia mendudukanku di atas kloset seraya berkata.


"Mandilah di sini"


"Tapi bajuku?"


"Akan ku ambilkan" Sahut mas Bima yang kemudian langsung melangkah keluar.


****


Keesokan paginya, usai sarapan, aku dan mas Bima menuju rumah sakit untuk melakukan visum. Sebelumnya, mas Bima sudah menelfon kantorku agar memberiku ijin tidak masuk kerja karena sakit.


Karena Mas Bima sudah mengatur jadwal bertemu dokter dengan bantuan mbak Kanes, kami tak perlu menunggu lama untuk melakukan pemeriksaan itu.


Mbak Kanes, adalah kakak kandung mas Bima yang berprofesi sebagai dokter ahli Fohrensik.


Jika ada mayat yang tak wajar, itu akan menjadi tugas mbak Kanes dan juga mbak Ayu yang sudah ahli dalam mengautopsi jenazah.


Mbak Kanes, bisa menikah dengan mas Rangga yang seorang polisi, itu karena mereka sering sekali terlibat dalam pekerjaan ekstrim itu. Begitu juga dengan mbak Ayu yang dulu sempat merantau ke Jakarta karena mas Bagas, meminta bantuannya untuk mengautopsi jenazah pada kasus pembunuhan beruntun yang pernah terjadi di kota metropolitan, membuat mereka akhirnya jatuh cinta satu sama lain dan memutuskan menikah.

__ADS_1


Hanya mbak Za dan mas Kenan yang mewarisi bisnis orang tuanya.


Setelah dari rumah sakit, kami langsung ke kantor polisi untuk membuat laporan mengenai penganiayaan dan pelecehan seksual yang menimpaku.


Ayahnya Lala yang seorang TNI, memiliki banyak kenalan termasuk polisi. Lagi pula ada mas Bagas yang akan mengawal kasus kami hingga tuntas.


Selain bertemu mas Bagas yang di tugaskan di resor area tempat tinggal kami, aku juga bertemu dengan kak Rosa, pengacara yang di tunjuk mas Bima untuk mengusut kasus ini.


Wanita yang sempat membuat pikiran burukku malang melintang.


"Makasih Ros" ucap mas Bima yang di respon senyuman oleh kak Rosa.


"Tidak perlu berterimakasih, jika klienku adalah kamu dan Elfino, aku akan berusaha keras membantu"


Kak Rosa beralih menatapku. "Semoga lekas pulih, bu Arimbi" tambahnya merujuk padaku.


"Aamiin, terimakasih"


Persahabatan mereka yang terjalin semenjak duduk di bangku MA, bertahan hingga sekarang tanpa konflik apapun.


Salut dengan mas Bima, mas Elfino dan juga kak Rosa.


Usai urusan di kantor polisi selesai, kami tak pulang ke rumah, dia membawaku menikmati tempat rekreasi di kota kami.


Bagiku ini adalah sebuah kencan, kencan pertamaku, dengan cinta pertamaku.


Selama menikmati keindahan tempat ini, tangan mas Bima tak lepas barang sejenak dari tanganku. Dia terus menggenggamnya erat-erat seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku adalah pacarnya.


Bukan pacar, mas Bima terlalu tua untuk berpacaran di usianya yang kini sudah berada di angka tiga puluh empat tahun.


Tapi meskipun sudah kepala tiga, dia masih seperti pria yang usianya hanya terpaut dua atau tiga tahun dari usiaku yang menginjak di angka dua enam.


Puas bersenang-senang, akhirnya kami pulang setelah sebelumnya makan malam di luar. Aku langsung di arahkan ke kamar mas Bima begitu memasuki rumah kami.


"Mandilah, aku akan ambilkan bajumu"


Tak terbantahkan, akupun menurut lalu masuk kamar mandi di kamar mas Bima.


Di sela-sela mandi bersihku yang sudah tuntas dari hadas besar, aku membayangkan malam kemarin saat tidur di kamar mas Bima. Untuk pertama kalinya, aku tidur dalam pelukan pria yang ku cintai. Pelukan yang kurasa begitu nyaman, yang seolah ingin ku ulang lagi dan lagi.


Aku bahkan melupakan Lala karena saking hanyutnya dalam pelukan mas Bima semalaman.


Aktivitas mandiku selesai, aku mengenakan handuk kimono dan langsung membuka pintu kamar mandi.


Begitu pintu terbuka, aku mendapati mas Bima duduk di meja kerja yang sepertinya sedang mengetikkan sesuatu. Dia juga sudah mandi dan mengenakan kain yang sama sepertiku, kalau tidak mandi di kamar mandi Lala, kemungkinnan mandi di kamarku.


Ah ... aku ingin sekali menghilangkan sifat burukku yang selalu menebak-nebak.


"Mas, mana bajuku?" tanyaku sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.


Mas Bima berbalik, tanpa mematikan layar monitor yang menyala terang.


"Sudah selesai?" bukannya memberitahuku dimana meletakkan bajuku, dia malah bertanya balik.


"Bajuku mana?" Ulangku seraya mengedarkan pandangan ke atas tempat tidur dan sofa.


"Aku lupa ambil" Pria itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekatiku.


Dan jantungku, entah kenapa bisa langsung seliar ini.


"Mas mau apa?" Aku menatapnya penuh selidik.


"Memperjelas hubungan kita?"


"M-maksudnya?"


Mas Bima tak menjawab, dia hanya menatapku penuh intens, lengkap dengan senyum yang tak pernah ia tunjukkan padaku selama ini. Senyum yang menyiratkan sebuah keseriusan, perasaan senang, yang memancarkan energi positif untukku. Pria ini lantas membopongku dan membaringkanku di atas ranjangnya.


Sementara otakku, sepersekian detik hanya tertuju dan berkutat pada dua kata..


Malam pertama.


Bersambung...


Part selanjutnya akan terbit sore ini.


Akan ada seleksi editor yang kemungkinnan agak lama, karena aku labeli part khusus dewasa, tapi nggak akan sevulgar cerita-cerita 18+ versi author lain kok 😂😂

__ADS_1


Jadi jangan Shock kalau biasa-biasa aja.


__ADS_2