Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 90 ~


__ADS_3

Jantungku seperti berhenti berdetak ketika mengetahui kabar Lala bahwa dia di larikan ke rumah sakit. Tak hanya detak jantung, duniaku pun seakan berhenti berputar dan bahkan runtuh dalam waktu sepersekian detik.


Hatiku sesak membayangkan jarum suntik menancap di tangan mungilnya, berbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan lemah tak berdaya.


Dia pintar, dia kuat, tapi tak sekuat itu. Hati dan perasaannya sangat sensitive sama sepertiku.


Tadi setelah mas Bima memutus panggilan dengan Hana, dia langsung menghubungi papi untuk memesankan dua tiket ke Singapura, kemudian dia pergi mencari dokter untuk memeriksa kondisiku secepatnya.


Mas Bima sempat melarangku ikut menjenguk Lala mengingat kondisiku yang masih lemah. Tapi aku terus merayu dan meyakinkan dia kalau demamku sudah turun dan aku sudah baik-baik saja.


Hampir dua puluh menit mas Bima menemui dokter, sampai detik ini dia belum juga kembali. Perasaanku mendadak cemas kala mengingat Lala. Aku berharap pihak rumah sakit memberiku ijin agar bisa keluar dari sini dan bisa pulang hari ini.


Dengan hati berdebar, pandanganku kosong menatap lurus pada layar tv yang sempat mas Bima nyalakan.


Fokusku buyar ketika tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka, otomatis aku memalingkan wajah ke kanan dan mas Bima muncul lalu berjalan mendekatiku dengan raut yang tak ku mengerti.


"Gimana mas? Aku bisa pulang hari ini?" Aku meraih tangan mas Bima, menggenggamnya dengan kedua tanganku.


"Sebenarnya si nggak boleh, Bi" Pria ini duduk di tepian ranjang. "Tapi aku memaksa, dan dokter mengatakan jika hasil test darahnya bagus, kamu bisa pulang dengan catatan aku harus membuat surat pernyataan agar jika terjadi sesuatu padamu, maka bukan lagi menjadi tanggung jawab rumah sakit"


"Aku sudah baik-baik saja kok mas, demamku sudah turun, dan aku akan sembuh kalau bertemu Lala"


"Tapi kamu harus duduk di kursi roda ya, kondisimu masih sangat lemah, tadi dokter juga yang menyarankan?"


"Lalu kursi rodanya?" tanyaku bingung.


"Aku sudah menyewanya dari sini tadi sekalian buat surat pernyataan, makannya agak lama"


"Iya sudah nggak apa-apa, yang penting aku ikut jenguk Lala"


Hening, kami diam saling menatap dalam perasaan luka.


"Tapi test darahnya kapan keluar, mas?"


"Sebentar lagi katanya, nanti mereka akan datang buat cek kondisi kamu sekalian memberitahukan hasilnya"


Aku mengangguk paham.


"Bi" Panggil mas Bima setelah ada hening selama beberapa saat.


"Iya mas" Alisku menukik tajam.


"Nanti kalau hasil darahnya tidak sesuai harapan, kamu nggak di ijinkan pulang, dokter akan mengobservasimu dan menangani lebih lanjut, nggak apa-apa ya kalau nggak ikut ke Singapura?"


"Tapi mas_"


"Bisa jangan membantah kali ini, Bi? Aku mohon jangan keras kepala" Katanya memotong kalimatku. Tatapannya tak teralihkan dariku barang sejenak. "Aku tahu tidak ada wanita sekuat kamu, tapi jika kamu memaksa, dan terjadi sesuatu sama kamu, bagaimana denganku dan Lala nanti? Siapa yang mengurus kami?"


Aku tertegun, sepasang manikku bergerak gelisah mengikuti ekor manik mas Bima.


"Mungkin aku bisa hilang akal, Bi"


Dengan susah payah aku meneguk ludahku sendiri. Sebagian dari diriku memikirkan Lala, sebagian lagi berusaha mencoba menerima keputusan mas Bima.


Aku jadi berfikir kenapa harus sakit di saat Lala membutuhkanku, kenapa kami sakit dan di bawa ke rumah sakit nyaris di waktu yang sama. Andai saja bisa, aku mau menggantikan sakitnya Lala.


Mendengkus lirih, pandanganku tertunduk menatap tangan kami yang saling bertaut.


Ini sangat berat untuk aku terima, bahkan lebih berat ketika aku menjalani hari-hari selama dua tahun yang sudah ku lewati dengan tanpa perhatian ayahnya Lala.


"Oh ya" mas Bima bersuara. "Tadi papi telfon balik katanya sudah dapat tiket di penerbangan pukul sepuluh. Kita masih memiliki waktu sekitar tiga jam lebih untuk siap-siap. Selagi menunggu waktu penerbangan, aku akan pulang untuk menyiapkan dokumen dan pakaian kita selama tinggal di sana, tapi nanti setelah dokter memeriksamu"


"Iya, mas"


"Nggak apa-apa kan aku tinggal pulang sebentar, papi sama mami akan ke sini seteleh berkemas, mereka juga akan ikut kita ke Singapura, dari rumah sakit kita langsung ke Bandara"


"Tapi mas Bisa mengemasi baju-bajuku?"

__ADS_1


"Kamu meremehkan suamimu, Bi? Selama ini aku banyak belajar mengenai kamu, aku tahu pakaian yang pas dan cocok buat kamu, paduan hijab dan pakaian yang sering kamu pakai, baik di malam hari, siang hari, pakaian untuk keluar, bahkan pakaian dinasmu aku hafal"


"Ya ya, mas hebat. Tapi jangan lupa bawain juga_"


"Skincare dan make up mu?" Potong mas Bima, dia tersenyum saat mengatakannya.


Sementara tanganku reflek terulur dan mencubit hidungnya penuh sayang.


"Sakit Bi" Rintihnya manja.


"Apaan, pelan gitu kok sakit"


Kami saling berbalas senyum sebelum kemudian mas Bima mengecup tanganku.


***


Waktu terus bergulir, matahari sudah merangkak naik tepat di ubun-ubun ketika kami sampai di tanah Singa.


Aku, mas Bima, serta papi dan mami mertuaku baru saja exit dari bandara Changi.


Mas Bima mendorong kursi rodaku, sementara papi dan mami menyeret koper. Masing-masing membawa satu koper karena selama beberapa hari kami akan menginap di apartemen milik keluarga.


Ayah Danu dan papi Rio memang memiliki hunian mewah di Singapura sebab dalam satu tahun sekali, tepatnya saat natal dan tahun baru kami selalu berlibur ke sini. Dan beruntung, Singapura adalah negara yang membebaskan visa khususnya untuk WNI, jadi meski dadakan, kami tetap bisa pergi asalkan ada uang dan pasport, serta tak melebihi overstay yaitu dalam jangka waktu tiga puluh hari.


Satu hal yang aku syukuri hari ini. Hasil tes darahku normal, tak ada tanda-tanda penyakit serius yang menyerang tubuhku. Dan aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putriku.


"Pih, aku sama Arimbi langsung ke rumah sakit, papi dan mami ke apartemen saja, kalian istirahat dulu di sana, dan sorenya bisa menyusul kami"


"Iya, temui putri kalian, Lala pasti senang"


"Nanti mami bawakan baju ganti buat kalian" Kata mami menyela.


"Makasih ya, Mi"


"Mami yang harus makasih sama kamu, Bi. Mami bersyukur karena kamu sudah mau hadir di hidup Bima dan Lala"


"Ya sudah, kalian hati-hati" Ucap papi memecah kecanggungan.


Kami berpisah di tempat pemberhentian taxi. Mertuaku menuju apartemen, sedangkan aku dan mas Bima langsung ke rumah sakit.


Dari bandara menuju tempat yang akan kami tuju memerlukan waktu sekitar empat puluh menit. Selama dalam perjalanan, aku dan mas Bima sama-sama enggak bersuara. Mas Bima memejamkan mata, aku sendiri memilih menikmati pemandangan indah kota Singa yang tertata rapi dan bersih.


Hingga tak terasa, tahu-tahu taxi yang kami tumpangi memasuki halaman rumah sakit.


Ketika sepasang netraku membaca tulisan besar yang terpampang dimuka depan gedung, jantungku seketika berontak dan aku tak tahu bagaimana caraku menenangkan debarannya.


Ini benar-benar gila, untung saja aku duduk di kursi roda, entah apa yang terjadi jika aku berjalan menggunakan kakiku, mungkin saja aku akan merangkak memasuki gedung yang di dalamnya ada Lala.


Setelah menanyakan keberadaan bangsal Lala ke receptionist, mas Bima kembali mendorong kursi rodaku. Berjalan lurus lalu belok kiri, kemudian belok kiri lagi yang nanti akan ada lift untuk naik ke lantai tujuan. Begitu keluar dari lift kami harus ambil kanan dan di sana akan kami temukan deretan kamar. Kamar Lala bernama grey room.


Setibanya kami di depan kamar Lala, mas Bima yang baru akan mengangkat tangan hendak mengetuk pintu, ponsel mas Bima berdering membuatnya urung melakukannya.


"Hana, Bi" kata mas Bima.


"Angkat mas"


Mas Bima pun langsung menempelkan gawai di salah satu telinganya. Aku mendongak menatap wajah tampannya.


"Ya, Han? Aku di depan ruangan Lala"


"Apa?"


"Dimana ruangannya?"


"Aku langsung ke sana sekarang"


Setelah itu panggilan di tutup. Aku bingung melihat raut wajah mas Bima yang berubah total. Ia lantas mendorongku dan membawaku entah kemana.

__ADS_1


"Kita kemana mas, bukankah tadi kamar Lala"


Mas Bima tak menjawab, dia malah mempercepat langkahnya menuju ke sebuah ruangan yang membuatku melemas.


"Bima, Arimbi" ucap Hana dengan raut tegang ketika kami mendapati Hana tengah berdiri dengan gesture tak tenang.


"Kenapa Lala masuk ICU?" tanya mas Bima to the point. Wajahnya datar seperti menahan geram.


"Suhu tubuhnya sangat tinggi Bim, t-tadi Lala sempat kejang dan dokter langsung memindahkannya ke ICU. Dia sedang di tangani saat ini"


"Astaghfirullah" lirihku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kalau terjadi sesuatu pada putri kami, kamu akan ku tuntut, Han" ucap mas Bima.


"Maafkan aku, Bim. Aku salah"


Mas Bima tersenyum miring seraya menggelengkan kepala. "Aku nggak nyangka, setelah kamu meninggalkannya, dengan tanpa malu kamu memaksa Lala untuk tinggal bersamamu, padahal kamu tahu bagaimana reaksi Lala saat kamu membawanya pergi. Kamu sama sekali tak mau mengalah dengan putrimu, kamu egois, Han"


"Aku pikir_"


"Kamu pikir apa?" Mas Bima yang sudah berdiri berhadapan dengan mantan istrinya, matanya memerah seperti menahan bendungan air mata.


"Gesya bilang dia_"


"Dia apa?" bentak mas Bima. "Dia bilang akan membantu merebut hati Lala? Asal kamu tahu, yang bisa Gesya lakukan dan beri untuk Lala hanyalah barang-barang mewah, bukan kasih sayang seperti yang Arimbi berikan, Lala bahkan sama sekali tak menyukai Gesya"


"Aku minta maaf Bim"


"Apa maafmu akan bisa mengembalikan suasana hati Lala yang saat ini entah seperti apa hancurnya?"


"Mas" aku menggamit lengannya dengan kepala terdongak. "Tenang mas, ini rumah sakit" Setetes air mataku jatuh. Hatiku sakit, benar-benar sakit.


"Excuse me, is miss Arimbi in here?" tanya dokter menatap kami bergantian. Aku, mas Bima dan Hana.


"Iam Arimbi doctor" sahutku cepat.


Otomatis manik hitam si dokter memindai wajahku dengan pandangan menunduk.


"Lala is looking for you, come in please!"


"Thanyou doctor" jawabku mengangguk.


"Can we come in, too?" tanya mas Bima.


"Of course, but only two person"


"Okay!" balas mas Bima.


Itu artinya, hanya aku dan mas Bima yang boleh masuk.


"Mbak, kami masuk dulu" ucapku merujuk ke Hana setelah kepergian dokter pria tadi.


"Masuklah, Bi! dia terus memanggil namamu"


Tanpa kata, mas Bima langsung mendorong kursi rodaku menuju pintu kaca yang tak bisa di tembus oleh pandangan. Jantungku kembali bertalu-talu saat kursi rodaku semakin mendekati pintu itu.


Salah satu suster membantu kami membukakan pintu.


Begitu aku dan mas Bima masuk, pandanganku dengan Lala langsung bertali.


"Bundaa!"


Air mataku seketika jatuh mendengar Lala memanggilku. Suaranya sangat lemah lengkap dengan wajahnya yang tampak pucat pasi. Sepasang netraku kemudian beralih pada layar monitor yang bersuara mengikuti irama pola yang di bentuk.


Hatiku teriris, dadaku juga sesak, bahkan oksigen yang masuk ke paru-paruku justru terasa seperti sebuah siksaan.


Nyerinya kian menjadi ketika aku mendengar panggilan ulang Lala.

__ADS_1


"Bundaaa!"


__ADS_2