Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 39 ~


__ADS_3

Semalam, kami pulang dari rumah mami sekitar pukul sepuluh. Kami mengendarai mobil sendiri-sendiri dengan mas Bima berada di belakang mobilku seperti mengawalku dan Lala yang melaju di depannya. Lala tidur saat kami sampai di rumah.


Sembari menggendong Lala, mas Bima mengatakan pada mas Jim kalau dia memberikan cuti padanya selama dua minggu.


Aku yang sedang membuka pintu utama dan mendengar sebagian dari pembicaraan mereka, kembali di liputi rasa penasaran.


Kenapa mas Bima menyuruh mas Jim cuti selama dua minggu?


Saat mas Bima mengatakan alasannya, justru aku tidak mendengar sebab sudah lebih dulu masuk rumah untuk menyalakan lampu.


Ah, sesuatu kalau sudah menjadi kebiasaan buruk memang susah untuk di hilangkan. Ingin bertanya pada mas Bima, tapi waktu sudah malam. Alhasil aku hanya bisa menerka dan bertanya dalam hati, ada apakah gerangan?


"Oh ya bun, tadi malam pas Lala di boboin sama ayah, Lala dengar ayah ngucapin selamat tidur buat Lala, terus Lala di cium juga sama ayah"


"Ayah kan memang selalu cium Lala kalau bobo"


"Terus Lala juga kayak dengar ayah ngomong"


"Ngomong apa?" Tanganku terus mengepang rambut Lala.


"Katanya mau antar Lala sama bunda?"


"Antar Lala sama bunda?" tanyaku mengulang separuh dari kalimat Lala.


"Iya bun"


"Lala mimpi, mungkin"


"Nggak tahu, Lala lupa"


"Ya sudah nggak apa-apa"


Mungkin mas Bima memberikan sugesti positif saat merebahkan Lala semalam.


Mas Bima memang kerap sekali melakukan hypnoparenting pada Lala ketika Lala dalam kondisi setengah sadar menjelang tidur.


Terkadang hatiku sampai terenyuh ketika mendapati mas Bima membelai lembut rambut Lala, lalu mengucapkan kata-kata berisi harapan sekaligus mendoakan agar tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, berbudi atau apapun harapan yang dipanjatkannya.


"Nanti siang bunda jenguk Lala?"


"Pasti dong sayang, bunda kan masih kangen Lala, kemarin Lala tinggalin bunda kan sampai sore"


"Lala kan ngaji bun"


"Iya, iya ... Dan bunda senang Lala mau ikut ngaji sama opa oma"


"Kemarin ketemu mbak Cia di sana bun, mbak cia nggak ikut pulang"


"Mbak Cia kan harus belajar. Dulu bunda sama ayah, pas masih kecil juga sekolah di tempatnya nenek Umi. Budhe Zara, budhe Kanes, budhe Ayu, pak dhe Bagas, pak Dhe Ken, oma Nina, oma Irma"


"Jadi, dulu bunda, ayah dan yang lainnya juga sekolah di sana?"


"Iya, sayang"


"Lala mau bun, sekolah di tempatnya bunda sama ayah"


"Okay, Lala bisa ngomong ke ayah"


"Yeeey.. Lala mau sekolah sama mbak Cia, di sekolahnya tempat bunda dulu"


Aku tersenyum merespon seruan Lala.


Rasanya, aku tak menginginkan apapun lagi kalau sudah melihat senyum bahagianya Lala.


"Selesai"


"Makasih bunda, udah bikin Lala jadi cantik"


"Sama-sama sayang" Lala mengecupi pipiku yang langsung ku respon dengan kecupan balik.


"Kita ke kamar bunda dulu yuk, bunda mau ambil tas dan pakai sepatu"


"Ayo" Senyum Lala terkembang sempurna.


Aku menggandeng tangan mungilnya keluar dari kamar Lala.


Setelah siap dengan pakaianku, aku langsung turun menuju meja makan. Aku yakin pasti mas Bima sudah menunggu kami dengan PDH khas TNI AU untuk hari senin.


Saat langkah kami sampai di ruang makan, aku sedikit heran kenapa mas Bima masih dengan pakaian santainya. Dari arah balik punggung mas Bima, aku bisa melihat kalau pria yang sudah duduk di kursi makan sedang sibuk dengan gawainya.


"Selamat pagi ayah!" Sapa Lala riang. Mas Bima langsung menoleh ke samping seraya meletakkan ponselnya di atas meja.


"Selamat pagi anak ayah. Sini duduk!" Seperti biasa pria itu selalu menarik kursi untuk sang putri.


Setelah Lala duduk, mas Bima kembali duduk di tempatnya, dan pandanganku dengan mas Bima bertemu.


"Bibirmu merah gitu, mau pamer sama tukang kebun di kantormu?"


Pria ini benar-benar membuatku harus mengulur sabar panjang-panjang. Bukannya memuji istrinya tampil cantik, malah meledekku seakan mau pamer pada si tukang kebun.


Keterlaluan apa keterlaluan banget??


Tak mau menanggapi sindirannya, aku terus saja menyidukkan nasi untuknya dan juga Lala.

__ADS_1


"Mas nggak ke Lanud?"


"Enggak?" jawabnya datar.


"Ayah libur ya?" Tanya Lala ikut nimbrung.


"Iya sayang, ayah cuti dua belas hari"


Oh, kini prasangkaku terjawab sudah soal mas Jim yang di perintah untuk cuti. Memang sudah menjadi kebiasaan mas Bima setiap tahun. Jika dia cuti, pasti akan menyuruh mas Jim untuk libur. Itu karena mas Bima ada di rumah, mas Bima bisa menjaga rumah kami sendiri. Dan untuk gaji, mas Jim tetap mendapatkan gaji satu bulan penuh.


"Mas cuti?" tanyaku memastikan.


"Kamu budek?" Mas Bima balik tanya.


Reflek bibirku mengerucut, dan itu membuat mas Bima tersenyum miring seraya menggelengkan kepala. Aku merasa kalau mas Bima sekarang hobi mengerjaiku, ledekannya yang di tujukan padaku, seakan menjadi hiburan tersendiri untuknya.


Duduk di tempat biasa aku makan, aku mulai menyidukkan nasi ke mulutku.


"Habis makan, basuh bibirmu!"


Entah ada apa dengan mas Bima, sikapnya benar-benar aneh. Dia yang biasanya tak peduli dengan penampilanku, tapi kali ini seolah dia nggak suka aku tampil seperti ini.


"Warnanya terlalu merah, jadinya malah kayak tante girang"


Aku mencebik kesal. Namun pria itu malah dengan santainya tersenyum sambil terus menyuapkan sendok ke mulutnya.


"Ayah sama bunda berantem ya?"


"Enggak, nak. Bunda cuma ngingetin ayah tadi"


"Cepat sedikit makannya, ayah akan antar kalian" Pungkas mas Bima.


Ternyata benar apa kata Lala, mas Bima mau mengantarku dan juga putrinya.


"Ayah sudah selesai" Kata mas Bima setelah meneguk segelas air. "Ayah tunggu di mobil ya"


"Eungh" Mulut Lala yang masih terisi penuh makanan hanya berdehem kecil sambil mengangguk.


"Mana kunci mobilmu?"


"Mau pakai mobilku, mas?"


"Iya"


"Tapi kan mobilku ada di depan mobil mas, susah ngeluarinnya"


"Itu urusanku Bi, kamu nggak usah mikir ke sana"


Jawaban mas Bima membuat mulutku bungkam.


Mas Bima menerimanya sembari berucap. "Jangan lupa, hapus lipstiknya, warna itu sama sekali nggak cocok di bibirmu"


"Hmm" balasku cuek.


*****


Setibanya di sekolah Lala, mas Bima menyuruhku untuk turun mengantar Lala sampai ke kelasnya, sementara mas Bima sendiri akan tetap berada di dalam mobil.


Setelah Lala berpamitan pada ayahnya, aku dan Lala sama-sama turun. Kami melangkah dengan tangan saling bergandengan.


"Ingat selalu pesan ayah tadi, ya" Aku berlutut di hadapan Lala supaya level kami sejajar.


"Iya bunda"


"Apa coba, bunda pengin dengar"


"Lala harus patuh sama bunda-bunda, nggak boleh nakal sama teman-teman, kalau ada teman yang nakal, yang mukul, harus kasih tahu bunda Lisa"


"Pintar" responku mencubit lembut kedua pipi chuby Lala. Bunda Lisa adalah wali kelas Lala. "Ayo cium bunda dulu, setelah itu Lala boleh masuk kelas"


Lala dengan cepat mengecup kedua pipiku, lalu keningku. Aku pun melakukan hal yang sama usai dia mengecup punggung tanganku.


"Assalamu'alaikum, bunda"


"Wa'alaikumsalam, sayang. Hati-hati ya"


"Iya bunda" Anak itu sambil berlari menuju kelasnya. "Bunda sama ayah juga ya"


"Iya sayang"


Sebelum Lala benar-benar salim sama bundanya yang mendampingi di playgroup, aku tak akan membalikkan badanku.


Setelah anak gadis itu tak terlihat lagi karena sudah memasuki kelas, barulah aku beranjak dari area kelas Lala.


Itu memang kebiasaanku semenjak menjadi ibu sambungnya di moment-moment mengantarkan ke sekolah.


"Sudah?" Tanya mas Bima saat aku sudah kembali duduk di jok samping kemudi.


"Sudah"


Sekarang giliran mas Bima mengantarku ke kantor.


Pelan, ia memutar balik, kemudian mengoper tuas gigi.

__ADS_1


"Nanti pulang seperti biasa kan?"


"Iya"


"Nggak minta cuti saja, biar sama-sama di rumah?" Kalimat mas Bima membuatku menoleh dan memindai wajahnya.


"Nggak bisa. Lagian mau ngapain di rumah sama mas kalau nggak ada Lala"


"Memangnya apa lagi yang di lakukan suami istri saat anaknya ke sekolah dan hanya berdua di rumah?"


Perkataan mas Bima membuatku reflek menelan ludah. Sementara pikiranku mendadak kotor.


"Apa, Bi?" mas Bima bertanya dengan melirikku sekilas.


"Nggak tahu" Ketusku. Aku yakin dia pasti tengah mengerjaiku.


Kecepatan mas Bima dalam mengendarai mobil yang lebih tinggi dari kecepatanku, membuat kami hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di kantorku.


Biasanya aku butuh lima belas menit, karena kecepatanku terbilang lambat.


"Aku turun dulu, mas"


"Hmm"


Aku menyodorkan tangan.


"Nanti siang mas makan apa?" Tanyaku sambil melepas seatbelt usai mengecup punggung tangannya tadi.


"Masih ada sisa sayur sama lauk, kan?"


"Di panasin dulu kalau mau makan"


"Hmm"


"Assalamu'alaikum" pamitku yang kemudian membuka pintu mobil.


"Wa'alaikumsalam"


Begitu aku turun dari mobil, sepasang netraku mendapati mobil Riska memasuki pintu gerbang. Aku sengaja menunggunya supaya bisa bersama-sama masuk ke ruangan kami.


Wanita yang putranya berusia dua tahun itu tersenyum menghampiriku.


"Selamat pagi nyonya besar"


"Pagi" jawabku sambil bersalaman.


"Sepertinya pagi ini ada pelangi setelah semalam hujan badai"


"Maksudnya?" Jujur aku tak mengerti maksud ucapan Riska.


"Kemana saja kamarin malam, suamimu bolak-balik menelfonku. Pria dingin itu mencarimu"


"Pergi"


"Kenapa pergi?" Tanya Riska ingin tahu.


"Kalau kamu di posisiku mungkin juga akan melakukan hal yang sama, dan ternyata itu cuma kesalahpahaman"


"Terus kenapa balik?" Kami sama-sama melangkah menuju ruangan kerja.


"Kamu tahu alasanku, Ris"


"Pasti Lala deh"


"Hmm"


"Arimbi Arimbi, mentang mentang cinta mati sama bapaknya, sampai sesayang itu juga sama anaknya"


"Dia gadis yang lucu, kamu pasti juga akan berat ninggalin dia kalau jadi aku"____________


Sampai waktu bergulir ke dua jam kemudian, aku yang sedang fokus bekerja, mendadak hilang konsentrasi saat pak Raska memperlihatkan foto yang menampilkan mas Bima sedang duduk di dalam caffee and eatery.


Mas Bima tidak sendiri, dia bersama seorang wanita berhijab yang pernah ku lihat waktu Itu.


Siapa wanita ini sebenarnya? Kenapa mas Bima sering sekali menemuinya?


"Aku nggak tahu siapa wanita yang bersama suamimu, Bi. Dan aku juga nggak bermaksud mengadu domba kalian, tapi ku pikir, aku perlu memberitahumu soal ini" Itu kata pak Raskha, setelah memperlihatkan layar ponselnya padaku.


"Aku mengambil gambar itu untuk memastikan padamu kalau kamu juga mengenali wanita itu"


Siapa dia? Aku nggak kenal...


"Tanyakan baik-baik ke suamimu ya, Bi"


Aku mengangguk meski pelan. "Makasih informasinya, pak"


"Sama-sama Bi"


Fotonya di ambil sekitar pukul delapan lebih, itu artinya mas Bima menemui wanita itu setelah mengantarku.


Bersambung.


Bosen nggak??

__ADS_1


Haha aku bosan.


Aku gampang bosenan si, apalagi kalau sibuknya banyak.


__ADS_2