Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 44 ~


__ADS_3

Paginya...


Aku terbangun, dengan kondisi badan yang terasa pegal-pegal. Usai sholat subuh tadi, mas Bima kembali menyentuhku dan aku langsung tidur begitu mendapat satu pelepasan.


Saat ku edarkan pandangan ke seluruh titik ruangan, aku tak melihat mas Bima berada di kamar.


Pintu kamar mandi yang tak tertutup rapat dan dalam kondisi gelap, menjadi tanda bahwa tak ada aktivitas di dalam sana.


Pelan, aku menyibakkan selimut kemudian bangkit dan duduk di tepian ranjang.


Rasa pegal dan nyerinya pada salah satu bagian tubuhku membuatku enggan untuk bangkit.


Masih duduk di tepian ranjang, kilas balik tentang percintaan kami semalam tiba-tiba terulas di kepalaku.


Bibirku reflek tersenyum membayangkan betapa lembutnya mas Bima memperlakukanku. Setiap apa yang terjadi tadi malam, seakan terus berputar-putar dalam ingatanku.


Terlambat??


Tidak, dua tahun waktu yang sebentar untuk aku menunggu, sebab ada rasa ikhlas dalam hatiku.


Perihal waktu!


Untuk segala hal yang tertunda, bukan berarti telah usai dan berakhir sia-sia. Hanya saja menunggu waktu yang tepat.


Samar aku mendengar suara dari luar kamar. Aku yakin suara itu berasal dari dapur sebab selain suara sutil dan wajan yang saling beradu, aku juga mendengar suara kitchen hood.


Sepertinya mas Bima sedang memasak untuk sarapan.


Perlahan, aku berusaha bangkit. Meraih kemeja putih milik mas Bima yang semalam sempat ku pakai, namun kembali di tanggalkan sebab tadi pagi, mas Bima kembali meminta haknya.


Kepalaku reflek menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara mas Bima.


"Kenapa?" tanyanya sembari melangkah.


Melihatnya sekilas, aku menunduk sambil menggelengkan kepala.


"Pakai ini, setelah itu sarapan" Ternyata mas Bima membawakan baju untukku.


Baju yang mas Bima ambil dari kamarku.


Tidak hanya satu, dia membawa beberapa tumpukan baju milikku kemudian ia meletakkannya di atas ranjang tepat di sampingku.


"Kenapa mas bawa bajuku sebanyak ini"


"Biar nggak bolak-balik ambil" pria itu membantuku mengenakan pakaian. Akupun menurut seperti Lala yang patuh jika aku membantu memakaikan baju.


"Setelah sarapan, mandi, kita langsung ke Lanud"


"Ke Lanud?" Mas Bima yang tengah membantuku mengenakan pakaian, kepalanya terangguk.


"Mau ngapain?"


"Akan ada parenting mengenai penyalahgunaan narkoba untuk PIA Ardhya Garini. Aku antar kamu ke Lanud, terus aku tinggal jemput Lala, aku langsung balik lagi ke sana bersama Lala nanti"


"Aku mengangguk seperti biasa. Tak bisa membantah apa kata mas Bima.


Wanita yang menikah dengan seorang abdi negara memang diharapkan mampu mendukung tugas-tugas yang diemban oleh suaminya.


Kami para istri juga terikat dengan aturan-aturan yang ada di instansi tempat suaminya bekerja. Secara otomatis juga tergabung dalam organisasi istri anggota TNI.


Dan ini bukan pertama kalinya aku menghadiri acara seperti ini, sudah sering kami melakukan pengembangan diri melalui aktivitas organisasi tersebut.


"Acaranya mulai jam berapa?"

__ADS_1


"Sepuluh sampai jam dua belas"


"Kita nggak makan malam di rumah mami?"


"Enggak, nanti kita langsung ajak Lala ke kebun binatang. Kemarin aku sudah janji buat mengajaknya lihat gajah"


Aku sudah memakai pakaian lengkap.


"Jalan sendiri apa mau gendong?"


"Gendong apanya?"


"Kalau masih nyeri nanti aku gendong ke ruang makan"


"Ish,, aku nggak secengeng itu"


Aku mencebik, namun juga tak menyangka kalau mas Bima bisa semanis ini. Meski kesan dingin belum sepenuhnya lenyap dalam dirinya, nada-nada datar serta senyum iritnya juga masih bertahan, tapi perhatian-perhatian kecilnya mampu meluluhkan hatiku. Rasa sakit yang ku tanggung selama dua tahun seketika pergi tanpa meninggalkan bekas.


"Ayo sarapan"


Bergerak untuk berdiri, entah kenapa kalau jalanku agak sedikit aneh, tapi aku berusaha keras untuk menyesuaikannya.


Dimeja makan, tidak seperti biasanya yang aku tetap bungkam ketika sedang makan bersama mas Bima. Kali ini aku sedikit banyak bicara demi meminta penjelasan soal gugatan yang mbak Hana layangkan.


"Kamu nggak usah mikir itu, semua biar aku yang urus. Kamu cukup fokus sama suami dan anakmu"


"Tapi kalau mbak Hana memenangkan hak asuh Lala, gimana?"


Mas Bima menghentikan gerakan tangannya, netranya langsung tertuju ke arahku.


"Aku nggak akan biarkan Lala hidup dalam lingkungan yang kurang sehat"


"Kurang sehat?" Dahiku mengkerut.


"Anaknya sama baby sister?"


Mas Bima yang sudah kembali fokus dengan sarapannya mengangguk tanpa ragu.


"Aku juga nggak ngurusin Lala. Aku kerja dan malah Lala kita titipkan"


"Lala sekolah, dan sudah menjadi kewajiban kita menyekolahkan anak-anak. Lagi pula kamu kan sering jengukin Lala kalau jamnya makan siang"


Iya juga, bahkan aku rela menunggu Lala di sekolahnya pas aku sakit dan nggak berangkat kerja. Karena aku bosan di rumah, aku ke sekolah Lala dan seharian di sana sampai Lala pulang.


"Suaminya mbak Hana_"


"Selingkuhannya dulu" Kata mas Bima memotong kalimatku. "Kakaknya Yoga"


Aku tercenung mendengarnya. Ternyata mbak Hana berselingkuh dengan kakaknya pria yang kemarin melecehkanku?


"Jadi suaminya mbak Hana itu kakaknya pria itu mas?"


"Iya. Yoga sendiri baru beberapa bulan cerai dengan istrinya, jadi balik lagi ke Indonesia"


"Cerai? Pantas saja dia memintaku buat pisah sama mas dan menikah dengannya, ternyata dia sudah tidak punya istri"


"Dia bilang begitu?"


"Hmm, dia menawariku kehidupan yang mewah. Tapi aku nggak mau, memangnya dia siapa, dengan PD nya ingin menikahiku"


"Kenapa nggak mau, dia tampan kan, tajir juga. Selain pengacara, dia juga pewaris bisnis orang tuanya"


"Tetap enggak"

__ADS_1


"Bukankah hidup dengannya akan lebih indah. Dari pada denganku yang gajinya nggak seberapa"


"Nggak cinta" sahutku datar. "Mas Saka dan mas Raskha yang jelas sudah kenal saja ku tolak, apalagi dia yang sama sekali aku nggak kenal" tambahku lirih.


"Cintanya sama siapa?" Tanya mas Bima dengan nada meledek.


Aku meliriknya tajam. Alih-alih takut, mas Bima justru tersenyum genit.


"Aku nggak perlu jawab, mas Bima kan tahu segalanya tentangku"


"Jadi Saka dan Raskha pernah ngajak nikah?"


Ku pertajam lirikanku karena aku merasa mas Bima sedang meledekku.


"Jangan ngelirik-ngelirik gitu, matamu hampir lepas dari tempatnya"


"Ishh" Desisiku sebal. "Ngomong-ngomong, kok mas tahu kehidupan mbak Hana dan suaminya? Mas masih suka kepo ya, sama mantan istri mas"


"Gesya sendiri yang tiba-tiba cerita. Gesya juga yang menjelek-jelekkan mbaknya"


"Kok Gesya gitu si sama mbaknya sendiri?"


"Dia cuma cari muka di depanku, dia pikir aku akan bisa membalas perasaannya, tapi sama sekali nggak pernah ku ladeni,"


"Sekarang masih suka gangguin mas, telfon malam-malam mungkin?"


"Enggak semenjak ku peringatkan"


"Kapan mas bertemu Gesya?" Entahlah jiwa penasaranku terus meronta-ronta. Bagaimana tidak? seorang wanita menyimpan rasa pada suamiku. Sama sepertiku yang dulu pernah berada di posisi Gesya. Mencintai mas Bima saat mas Bima masih berstatus sebagai suami orang. Bedanya, aku bisa menyimpannya sendiri dan memilih pergi untuk melupakan mas Bima. Tapi setelah beberapa tahun, takdir justru membawaku ke pelukan mas Bima.


"Sekitar tiga hari yang lalu, kenapa?"


"Ketemunya berdua aja?"


"Iya"


Baiklah, ini ujian pertama. Aku sedang di bakar api cemburu saat ini.


"Dimana?" tanyaku belum menyerah.


"Di sekolah Lala"


"Sekolah Lala?"


Mas Bima mengangguk sambil mengunyah makanannya.


"Kok mas nggak ngomong ke aku kalau habis menemui Gesya?"


"Waktu itu kamu lagi diam-diam ke aku, jadi buat apa cerita ke kamu"


Ya, beberapa hari lalu memang aku sengaja bicara seperlunya, sebab pikiranku terusik oleh kak Rosa.


"Aku sudah selesai" Mas Bima lalu meneguk air di gelasnya. "Seragam PIA kamu dimana, aku ambilkan"


"Aku ambil sendiri saja mas"


"Kamu nggak usah naik turun tangga"


Aku langsung diam, sementara mas Bima langsung bangkit dan setengah berlari menaiki tangga hendak ke kamarku.


Padahal aku belum memberitahu dimana baju seragam berwarna biru langit itu, tapi ku rasa tak sulit mencarinya karena sudah ku gantung beberapa stel di lemariku.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2