Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 87 ~


__ADS_3

Dua hari ku lewati dengan begitu menegangkan, pasalnya selain mendapat penolakan dari Hana saat mas Bima mencoba menghubungi ponselnya karena ingin tahu kondisi terkini Lala, surat yang berisi ancaman itupun ternyata bukan dari kantorku.


Surat konfirmasi baru akan di kirim kemarin, dan aku meminta Riska untuk mengirimkannya ke rumahku.


Ya, setelah mendapat surat itu pada dua hari lalu, mas Bima memang langsung menghubungi pihak kantorku untuk menanyakan kejanggalan dari surat yang di sertai ancaman, tapi pak Firman mengatakan jika kantor sama sekali belum mengeluarkan surat edaran untuk para staf yang mengajukan cuti tahunan.


Dan hari ini, Riska akan datang mengantar surat konfirmasi yang asli sekalian menjengukku.


Sementara aku yang kemarin berniat pulang ke rumah orang tuaku, aku mengurungkan niat itu setelah mas Bima dengan susah payah membujuk dan merayuku.


Lagipula aku menyadari kalau masalah tak akan selesai jika aku menghindarinya. Di tambah lagi dengan keamananku yang sedang di pertaruhkan, sudah pasti mas Bima nggak mau aku jauh darinya.


Mengerti dan paham, aku akhirnya mengalah dan menuruti perkataannya.


"Hari ini ada jadwal membimbing anak-anak mas buat latihan menembak kan?" Tanyaku sambil mengupas buah yang akan ku potong kecil-kecil. Aku tahu mas Bima ada jadwal itu karena sempat membaca pesan di WA group khusus anggota Lanud tempat mas Bima dinas.


"Hmm" Jawab mas Bima, fokusnya terus menatap koran yang sedang ia baca di meja makan.


"Mau berangkat jam berapa ke lapangan tembaknya?"


"Nanti siang, tunggu mami sama mbak Za kesini, mereka akan jagain kamu selagi aku nggak ada"


"Nggak usah di jagain juga nggak apa-apa kok"


"Nggak usah protes bisa ngga?" mas Bima menatapku tajam.


"Nggak gitu maksudku"


"Tarus apa maksudmu?"


"Ya kesannya aku kayak anak kecil, kayak tawanan gitu"


"Ini tanggal merah, mas Jim libur, kamu nggak bisa jaga rumah sendiri"


"Tapi aku bisa stay di kamar saja kan?"


"Tapi aku nggak bisa biarin kamu sendiri di rumah"


Bibirku terkatup, tak berani mengeluarkan suaraku lagi.


Mas Bima memang tak pernah kalah untuk urusan sanggah-menyanggah, bahkan Lalapun juga pintar sekali menyanggah setiap kalimat seperti ayahnya ini.


"Jam berapa mami ke sini?" tanyaku setelah menggigit buah kiwi yang sudah ku potong menjadi beberapa bagian, lalu menyerahkan potongan kiwi lainnya pada mas Bima.


"Ba'da dzuhur nanti"


"Mas nggak ikut persiapan?"


"Enggak, aku sudah ijin akan datang saat mulai latihan"


"Oh" Aku menyipitkan mata, menahan rasa asam manis yang ada pada buah kiwi di dalam mulutku.


Ketika ada hening selama beberapa menit, aku dan mas Bima mendengar suara klakson mobil dari luar pintu gerbang.


Aku yakin kalau itu Riska. Dia bilang akan datang sekitar pukul sepuluh, dan saat ini waktu sudah menunjuk pukul sepuluh lewat limabelas menit.


"Kayaknya Riska yang datang, mas"


"Kamu tetap di sini, aku akan membukanya"


Mas Bima langsung berdiri kemudian dengan setengah berlari menerobos ruang tengah dan ruang tamu untuk menuju pintu gerbang.


Sampai beberapa menit berlalu, suara mas Bima tertangkap di inderaku.


"Masuk saja, Ris! Arimbi di dapur"


"Iya mas" sahutan dari Riska yang tahu-tahu berdiri di ambang pintu dapur.


Kami sama-sama melangkah mengikis jarak kemudian saling berpelukan.


"Ibu hamil, apa kabar?" tanyanya.


"Baik, kamu sendiri?"


"Baik juga. Kamu yang kuat ya, yang sabar"


Riska sangat tahu seperti apa suasana hatiku.


"Lala pasti pulang ko, Bi. Dia nggak bisa hidup tanpamu, sama seperti kamu yang juga resah tanpa Lala"


"Makasih Ris"

__ADS_1


"Ini ujian Bi, aku yakin kamu bisa melewatinya. Jangankan dua minggu, dua tahun kamu pun sanggup"


Ucapan Riska spontan memantik air mataku kembali jatuh. Sekelebat perlakuan mas Bima selama dua tahun pun kembali ku ingat. Aku yang masih berada dalam pelukannya sesekali terisak, sementara Riska sendiri pun tertular kesedihanku. Dan sepertinya dia juga turut menangis.


Lewat bermenit-menit, akhirnya pelukan kami terurai.


"Duduk Ris!" perintahku seraya mengusap pipiku. "Kenapa nggak ajak anakmu?"


"Rempong ajak dia" Riska duduk di salah satu kursi makan.


"Sama suamimu di rumah?"


"Iya" Jawabnya. "Suamimu kemana Bi, tiba-tiba ngilang begitu saja?"


"Kayaknya langsung ke ruang fitnes, tadi bilangnya mau lari-larian di treadmil"


"Oh"


"Mau minum apa?" tanyaku to the point.


"Teh aja"


"Okay, aku buatkan"


Aku langsung bergegas membuatkan teh untuknya.


"Gimana suasana kantor setelah mereka tahu aku dapat surat ancaman, Ris?"


"Jelas heboh lah Bi, apalagi kamu primadona nomor dua di kantor, jelas mereka semua kepo"


"Nomor dua? Nomor satunya siapa memangnya?"


"Siapa lagi kalau bukan perawan kinyis-kinyis kesayangan pak Firman"


Aku tersenyum kemudian bertanya. "Terus kamu dapat jatah nomor berapa?"


"Nomor empat, soalnya nomor tiganya oma Lina"


Tawaku pecah mendengar nama bu Lina di sebut. Bu Lina adalah tetua kami di kantor, usianya sudah kepala lima sama seperti pak Firman. Mereka sudah sangat lama bekerja di kantorku, kami menjuluki mereka sebagai oma Lina dan aki Firman, tentu saja itu hanya candaan kami dan tanpa sepengetahuan keduanya.


"Oh ya Bi, soal keamanan di kantor, mulai sekarang baik satpam, cleaning service, dan para staf di larang memberikan informasi apapun mengenai karyawannya ke orang luar" Wanita itu tampak mengeluarkan amplop dari dalam tas yang ku yakini berisi surat untukku. "Dari kejadian yang menimpamu, kantor lebih protect terhadap privasi kita-kita" Imbunya seraya menggeser amplop di permukaan meja. "Ini Bi, suratmu"


"Makasih ya, sudah mau repot-repot mengantarnya ke sini"


Menganggukkan kepala untuk meresponnya, kemudian hening.


Aku lantas mendudukan diri di kursi sebelah Riska setelah selesai membuatkan teh.


"Mas Bima sudah crita kan, kalau sempat ada wanita bercadar yang nanyain kamu ke pak No, kenapa kamu nggak ke kantor?"


"Sudah"


"Dan pak No jawab kalau kamu sudah mulai cuti, terus siangnya kamu terima surat itu, iya kan?c


"Siang menjelang sore aku terima suratnya" balasku meralat.


"Itu artinya hanya dalam satu hari dia mengerjakan surat palsunya, Bi"


Mendesah pelan, kepalaku reflek tergeleng seraya berkata. "Nggak habis fikir, dia melibatkan pakaian syarii yang suci untuk melancarkan rencananya agar wajahnya tak terdeteksi"


"Cerdik pula" Timpal Riska sambil mengupas buah kiwi. "Dia memalsukan kop dan stempel di suratnya. Kamu pasti nggak ngeh waktu baca surat palsu itu kan?"


"Gimana mau ngeh kalau aku sudah keburu panik karena baca tulisan di lembar yang lain"


"Ya aku maklum si, kalau aku di posisimu pasti takut juga dapat ancaman gitu"


"Takut banget, Ris"


"Tapi suamimu juga nggak faham apa, mengenai keaslian surat itu?"


"Dia mana paham, tapi sekarang sudah paham setelah di beri tahu"


Riska tampak mengangguk-anggukkan kepalanya ringan, sepasang netranya fokus menatap mata pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah. "By the way, orang yang ngaku teman kamu ke ibumu juga bercadar kan?"


"Hem" aku mengangguk lengkap dengan dua alisku yang terangkat.


"Ish, benar-benar jahanam pelakunya. Selain membuat orang terancam, dia juga sudah melakukan penghinaan terhadap pakaian syarii dan niqobnya, iya nggak si Bi?"


"Iyalah, meski nggak secara langsung, menurutku malah penghinaan besar, dosa besar"


"Betul"

__ADS_1


Hampir dua jam kami mengobrol, tepat di adzan dzuhur, Riska berpamitan. Karena aku takut membuka gerbang sendiri sebab mas Jim sedang libur karena tanggal merah, aku memanggil mas Bima yang sedang terlelap di kursi dekat kolam.


Dia pasti kelelahan setelah berolah raga, sembari membuang keringat sebelum mandi, dia duduk dan akhirnya tertidur.


****


Tak lama setelah Riska pulang, mami dan mbak Za datang untuk menemaniku.


Sementara saat ini mas Bima sudah siap dengan pakaian olahraga atribut TNI AU. Dia berjalan ke arah lemari tempat penyimpanan helm setelah sebelumnya berpamitan pada mami dan juga mbak Za.


"Mas mau naik motor?"


"Iya"


"Hati-hati"


"Hmm, kamu juga hati-hati di rumah, langsung kabarin kalau ada apa-apa!"


"Iya"


Kami sama-sama melangkah keluar rumah.


"Aku berangkat ya, nanti sebelum maghrib, insya Allah sudah di rumah"


"Iya" Aku menerima uluran tangan mas Bima.


"Hati-hati, jangan ngebut"


"Okay, kamu masuk, aku akan buka dan tutup gerbang sendiri"


Selepas mengantar mas Bima sampai depan pintu, aku kembali memasuki rumah, menghampiri mami dan mbak Za yang sedang asik menonton siaran televisi.


"Istirahat kalau capek, Bi" perintah mami.


"Nggak capek, mih. Dari tadi nggak ngapa-ngapain, mas Bima yang ngerjain semuanya"


Suasana tiba-tiba sunyi. Mami yang tahu-tahu tertidur di sofa, mbak Za sibuk berkutat di depan laptop, sedangkan aku mendadak terasa mengantuk.


***


Hampir satu jam terlelap di sofa, aku terbangun ketika tubuhku merasa kegerahan, padahal AC sudah menyala, akan tetapi keringat tetap merembes melalui pori-pori kulit.


Pandanganku mengedar, ku temukan mbak Za masih di posisi semula.


"Dari tadi mbak nggak istirahat?" tanyaku parau.


"Eh, sudah bangun Bi?" Balasnya alih-alih menjawabku.


"Sudah, mbak"


"Mbak banyak kerjaan kantor, Bi"


"Oh"


Jelas mbak Za sangat sibuk, dia ibu direktur di perusahaan ayah Danu. Membantu mas Ken yang menjabat sebagai pimpinan perusahaan.


Meski sudah menggantikan posisi ayahnya, mas Ken tetap mendapat pengawasan dari ayah Danu dan juga papi sebagai pejuang perusahaannya sejak masih bujangan.


"Aku cari angin keluar ya mbak"


"Kemana?" Mbak Za menoleh ke arahku.


"Ke halaman rumah"


"Jangan keluar gerbang, Bi!"


"Enggak mbak"


"Pelan-pelan jalannya ya!" pesannya lagi yang sudah kembali menatap layar laptop.


Aku bangkit setelah mengangguk, kemudian berjalan ke arah pintu utama.


Dari jendela, ku lihat angin berhembus tak terlalu kencang. Semilirnya pasti terasa sejuk untukku yang dalam kondisi hamil.


Begitu membuka pintu, netraku menatap jauh ke arah gerbang, ada sesuatu berwarna putih tergeletak di lantai paving.


Sebuah amplop?


Karena rasa penasaran, dengan langkah lebar aku segera menuju ke amplop itu untuk mengambilnya.


Jantungku berdebar sangat kencang selagi kaki ini melangkah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2